<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199</id><updated>2012-02-06T23:06:52.411+07:00</updated><category term='ReNunGaN'/><category term='GoresanAkhwatLM'/><category term='HaDiTs'/><category term='Pernikahan'/><category term='IsLamDunia'/><category term='artikel'/><category term='unit dakwah'/><category term='TIPS'/><category term='Shahabiyah'/><category term='kegiatan'/><category term='SUnNaH_RaSuL'/><category term='KaJiAN'/><category term='unit kaderisasi'/><category term='PendidikanAnak'/><category term='DariKami'/><category term='DaPuR_MuSLiMaH'/><category term='BuLeTiN'/><category term='MuSLiMaH'/><category term='AL-QuR&apos;aN'/><title type='text'>Muslimah Wahdah Bandung</title><subtitle type='html'>Hidupkan Generasi Qur'ani</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>297</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-964530281659284141</id><published>2011-04-03T05:21:00.000+07:00</published><updated>2011-04-03T05:21:23.293+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernikahan'/><title type='text'>Kiat-Kiat Mempererat Cinta Suami-Istri</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://kejujurancinta.files.wordpress.com/2009/05/bunga.gif?w=115&amp;amp;h=115" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://kejujurancinta.files.wordpress.com/2009/05/bunga.gif?w=115&amp;amp;h=115" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Ada kejadian, seorang laki-laki sebelum menikah menginginkan istri  yang cantik parasnya dan beberapa kriteria lainnya. Tetapi pada saat  pernikahan, dia mendapatkan istrinya sangat jauh dari kriteria yang ia  tetapkan. Subhanallah! Inilah jodoh, walaupun sudah berusaha keras,  tetapi jika Allah menghendaki lain, semua akan terjadi. Pada awalnya ia  terkejut karena istrinya ternyata kurang cantik, padahal sebelumnya  sudah nazhar (melihat) calon istrinya tersebut. Sampai ayah dari pihak  suami menganjurkan anaknya untuk menceraikan istrinya tersebut. Tetapi  kemudian ia bersabar. Dan ternyata ia mendapati istrinya tersebut  sebagai wanita yang shalihah, rajin shalat, taat kepada orang tuanya,  taat kepada suaminya, selalu menyenangkan suami, juga rajin shalat  malam.&lt;span id="more-580"&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Pada akhirnya, setelah sekian lama bergaul, sang suami ini merasa  benar-benar puas dengan istrinya. Bahkan ia berpikir, lama-kelamaan  istrinya bertambah cantik, dan ia sangat mencintai serta menyayanginya.  Karena kesabaranlah Allah menumbuhkan cinta dan ketentraman. Ternyata  faktor fisik tidaklah begitu pokok dalam menentukan kebahagiaan dan  keharmonisan rumah tangga, walaupun bisa juga ikut berperan menentukan.&lt;br /&gt;Berikut ini kami bawakan kiat-kiat praktis sebagai ikhtiar merekatkan  cinta kasih antara suami istri, sehingga keharmonisan bisa tercipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertama. Saling memberi hadiah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah bersabda:&lt;br /&gt;“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling cinta  mencintai.” (HR. Bukhari dlm Adabul Mufrad, dihasankan oleh Syaikh al  Albani)&lt;br /&gt;Memberi hadiah merupakan salah satu bentuk perhatian seorang suami  kepada istrinya, atau istri kepada suaminya. Terlebih bagi istri, hadiah  dari suami mempunyai nilai yang sangat mengesankan. Hadiah tidak harus  mahal, tetapi sebagai simbol perhatian suami kepada istri.&lt;br /&gt;Seorang suami yang ketika pulang membawa sekedar oleh-oleh kesukaan  istrinya, tentu akan membuat sang istri senang dan merasa mendapat  perhatian. Dan seorang suami, semestinya lebih mengerti apa yang lebih  disenangi oleh istrinya. Oleh karena itu, para suami hendaklah  menunjukkan perhatian kepada istri, diungkapkan dengan memberi hadiah  meski sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kedua. Mengkhususkan waktu untuk duduk bersama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jangan sampai antara suami istri sibuk dengan urusan masing-masing,  dan tidak ada waktu untuk duduk bersama. Ada pertanyaan yang diajukan  kepada Syaikh bin Baaz. Ada seorang pemuda tidak memperlakukan istri  dengan baik. Yang menjadi penyebabnya, karena ia sibuk menghabiskan  waktunya untuk berbagai pekerjaan yang berhubungan dengan studi dan  lainnya, sehingga meninggalkan istri dan anak-anaknya dalam waktu lama.  Masalah ini ditanyakan kepada Syaikh, apakah diperbolehkan sibuk  menuntut ilmu dan sibuk beramal dengan resiko mengambil waktu yang  seharusnya dikhususkan untuk isteri?&lt;br /&gt;Syaikh bin Bazz menjawab pertanyaan ini. Beliau menyatakan, tidak  ragu lagi, bahwa wajib atas suami untuk memperlakukan istrinya dengan  baik berdasarkan firman Allah:&lt;br /&gt;“Pergaulilah mereka dengan baik.” (QS. An Nisa’:19)&lt;br /&gt;Juga sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam kepada  Abdullah bin ‘Amr bin Ash, yaitu manakal sahabat ini sibuk dengan shalat  malam dan sibuk dengan puasa, sehingga lupa dan lalai terhadap  istrinya, maka Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam berkata:&lt;br /&gt;“Puasalah dan berbukalah. Tidur dan bangunlah. Puasalah sebulan  selama tiga hari, karena sesungguhnya kebaikan itu memiliki sepuluh kali  lipat. Sesungguhnya engkau memiliki kewajiban atas dirimu. Dirimu  sendiri memiliki hak dan engkau juga mempunyai kewajiban terhadap  isterimu, juga kepada tamumu. Maka, berikanlah haknya setiap orang yang  memiliki hak.” (Muttafaqun ‘alaihi).&lt;br /&gt;Banyak hadits yang menunjukkan adanya kewajiabn agar suami  memperlakukan isteri dengan baik. Oleh karena itu, para pemuda dan para  suami hendaklah memperlakukan isteri dengan baik, berlemah lembut sesuai  dengan kemampuan. Apabila memungkinkan untuk belajar dan menyelesaikan  tugas-tugasnya di rumah, maka lakukanlah di rumah, sehingga disamping  dia mendapatkan ilmu dan menyelesaikan tugas, dia juga dapat membuat  isteri dan anak-anaknya senang. Kesimpulannya, adalah disyari’atkan atas  suami mengkhususkan waktu-waktu tertentu, meluangkan waktu untuk  isterinya, agar sang isteri merasa tentram, memperlakukan isterinya  dengan baik; terlebih lagi apabila tidak memiliki anak.&lt;br /&gt;Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:&lt;br /&gt;“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik di antara kalian terhadap  keluarganya. Dan saya adalah orang yang terbaik di antara kalian  terhadap keluargaku.”&lt;br /&gt;Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam juga bersabda:&lt;br /&gt;“Orang yang paling sempurna imannya adalah yang tebaik akhlaknya di  antara mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap  isteri-isteri kalian.” (HR. Tirmidzi)&lt;br /&gt;Sebaliknya, seorang istri juga disyari’atkan untuk membantu suaminya,  misalnya menyelesaikan tugas-tugas studi ataupun tugas kantor.  Hendaklah dia bersabar apabila suaminya memiliki kekurangan karena  kesibukannya, sehingga kurang memberikan waktu yang cukup kepada  isterinya. Berdasarkan firman Allah, hendaklah antara suami dan istri  saling bekerjasama :&lt;br /&gt;“Tolong menolonglah kalian di atas kebaikan dan takwa.” (QS. Al Maidah :2)&lt;br /&gt;Juga berdasarkan keumuman sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:&lt;br /&gt;“Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu menolong  saudaranya.” (Muttafaqun ‘alaihi, diterjemahkan dari buku Fatawa  Islamiyyah)&lt;br /&gt;Nasihat Syaikh bin Baaz tersebut ditujukan kepada kedua belah pihak.  Kepada suami hendaklah benar-benar tidak sampai melalaikan, dan kepada  istri pun untuk bisa bersabar dan memahami apabila suaminya sibuk bukan  untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Untuk para isteri, bisa juga  mengoreksi diri mereka. Mungkin diantara sebab suami tidak kerasan di  rumah karena memiliki isteri yang sering marah, selalu bermuka masam dan  ketus apabila berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ketiga. Menampakkan wajah yang ceria&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di antara cara untuk mempererat cinta kasih, hendaklah menampakkan  wajah yang ceria. Ungkapan dengan bahasa wajah, mempunyai pengaruh yang  besar dalam kegembiraan dan kesedihan seseorang. Seorang isteri akan  senang jika suaminya berwajah ceria, tidak cemberut. Secara umum Nabi  Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:&lt;br /&gt;“Sedikit pun janganlah engkau menganggap remeh perbuatan baik,  meskipun ketika berjumpa dengan saudaramu engkau menampakkan wajah  ceria.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;Begitu pula sebaliknya, ketika suami datang, seorang isteri jangan  sampai menunjukkan wajah cemberut atau marah. Meskipun demikian,  hendaknya seorang suami juga bisa memahami kondisi isteri secara  kejiwaan. Misalnya, isteri yang sedang haidh atau nifas, terkadang  melakukan tindakan yang menjengkelkan. Maka seorang suami hendaklah  bersabar. Ada pertanyaan dari seorangb isteri yang disampaiakan kepada  Syaikh bin Baaz, sebagai berikut:&lt;br /&gt;Suami saya-semoga Allah memaafkan dia-, meskipun dia berpegang teguh  dengan agama dan memiliki akhlak yang tinggi serta takut kepada Allah,  tetapi dia tidak memiliki perhatian kepada saya sedikitpun. Jka di  rumah, ia selalu berwajah cemberut, sempit dadanya dan terkadang dia  mengatakan bahwa sayalah penyebab masalahnya. Tetapi Allah lah yang  mengetahui bahwa saya-alhamdulillah-telah melaksanakan hak-haknya. Yakni  menjalankan kewajiban saya sebagai isteri. Saya berusaha semaksimal  mungkin dapat memberikan ketenangan kepada suami dan menjauhkan segala  hal yang membuatnya tidak suka. Saya selalu sabar atas  tindakan-tindakannya terhadap saya.&lt;br /&gt;Setiap saya bertanya sesuatu kepadanya, dia selalu marah, dan dia  mengatakan bahwa ucapan saya tidak bermanfaat dan kampungan. Padahal  perlu diketahui, jika kepada teman-temannya, suami saya tersebut  termasuk murah senyum. Sedangkan terhadap saya, ia tidak pernah  tersenyum; yang ada hanyalah celaan dan perlakuan buruk. Hal ini  menyakitkan dan saya merasa sering tersiksa dengan perbuatannya. Saya  ragu-ragu dan beberapa kali berpikir untuk meninggalkan rumah.&lt;br /&gt;Wahai Syaikh, apabila saya meninggalkan rumah dan mendidik sendiri  anak-anak saya dan berusaha mencari pekerjaan untuk membiayai anak-anak  saya sendiri, apakah saya berdosa? Ataukah saya harus tetap tinggal  bersama suami dalam keadaan seperti ini, (yaitu) jarang berbicara dengan  suami, (ia) tidak bekerja sama dan tidak merasakan problem saya ini?&lt;br /&gt;Di jawab oleh Syaikh bin Baaz: “Tidak diragukan lagi, bahwa kewajiban  atas suami isteri ialah bergaul dengan baik dan saling menampakkan  wajah penuh dengan kecintaan. Dan hendaklah berakhlak dengan akhlak yang  mulia, (yakni) dengan menampakkan wajah ceria, berdasarkan firman  Allah:&lt;br /&gt;“Pergaulilah mereka dengan baik.” (QS. An Nisa:19)&lt;br /&gt;Juga dalam surat Al Baqarah ayat 228:&lt;br /&gt;“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya  menurut cara yang ma’ruf, akan tetapi, para suami mempunyai satu  tingkatan kelebihan daripada isteri.” (QS. Al Baqarah :228)&lt;br /&gt;Arti kelebihan disini, secara umum laki-laki lebih unggul daripada  wanita. Tetapi nilai-nilai yang ada pada setiap individu di sisi Allah,  tidak berarti laki-laki pasti derajatnya lebih tinggi. Sesungguhnya yang  paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.  Dan berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:&lt;br /&gt;“Kebaikan itu adalah akhlak yang baik.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;Dan berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:&lt;br /&gt;“Sedikitpun janganlah engkau menganggap remeh perbuatan baik,  meskipun ketika berjumpa dengan saudaramu engkau menampakkan wajah  ceria.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;Juga berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:&lt;br /&gt;“Orang yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya di  antara mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap  isteri-isteri kalian.” (HR. Tirmidzi)&lt;br /&gt;Ini semua menunjukkan, bahwa motivasi berakhlak yang baik dan  menampakkan wajah ceria pada saat bertemu serta bergaul dengan baik  kepada kaum Muslimin, berlaku secara umum; terlebih lagi kepada suami  atau isteri dan kerabat. Oleh karena itu, engkau telah berbuat baik  dalam hal kesabaran dan ketabahan atas penderitaanmu, yaitu menghadapi  kekasaran dan keburukan suamimu. Saya berwasiat kepada dirimu untuk  terus meningkatkan kesabaran dan tidak meninggalkan rumah di karenakan  hal itu. Insya Allah akan mendatangkan kebaikan yang banyak. Dan akibat  yang baik, insya Allah diberikan kepada orang-orang yang sabar. Banyak  ayat yang menunjukkan, barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka  sesungguhnya balasan yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa. Dan  sesungguhnya Allah akan memberi ganjaran yang besar tanpa hisab kepada  orang-orang yang sabar.&lt;br /&gt;Tidak ada halangan dan rintangan untuk bercanda dan bergurau, serta  mengajak bicara suami dengan ucapan-ucapan yang dapat melunakkan  hatinya, dan yang dapat menyebabkan lapang dadanya dan menumbuhkan  kesadaran akan hak-hakmu. Tinggalkanlah tuntutan-tuntutan kebutuhan  dunia (yang tidak pokok) selama sang suami melaksanakan kewajiban dengan  memberikan nafkah dari kebutuhan-kebutuhan pokok, sehingga ia menjadi  lapang dada dan hatinya tenang. Engkau akan merasakan balasan yang baik,  insya Allah. Semoga Allah memberikan taufik kepada dirimu untuk  mendapatkan kebaikan dan memperbaiki keadaan suamimu. Semoga Allah  membimbingnya kepada kebaikan dan memperbaiki akhlaknya. Semoga Allah  membimbingnya untuk dapat bermuka ceria dan melaksanakan  kewajiban-kewajibannya kepada isterinya dengan baik. Sesungguhnya, Allah  adalah sebaik-baik yang diminta, dan Dia adalah pemberi hidayah kepada  jalan yang lurus. (Dinukil dari buku Fatawa Islamiyyah).&lt;br /&gt;Ini menunjukkan, bahwa seorang wanita diperbolehkan untuk mengeluh  dan menyampaikan problemnya kepada orang yang alim, atau orang yang  dianggap bisa menyelesaikan masalahnya. Hal ini tidak sama dengan  sebagian wanita yang sering, atau suka menceritakan rahasia rumah  tangganya, termasuk kelemahan dan keburukan suaminya kepada orang lain,  tanpa bermaksud menyelesaikan masalahnya.&lt;br /&gt;Sehubungan dengan permasalahan ini, Syaikh Utsaimin mengatakan, bahwa  apa yang disampaikan oleh sebagian wanita yang menceritakan keadaan  rumah tangganya kepada kerabatnya, bisa jadi (kepada) orang tua isteri  atau kakak perempuannya, atau kerabat yang lainnya, bahkan kepada  teman-temannya, (hukumnya) adalah diharamkan. Tidak halal bagi seorang  wanita membuka rahasia rumah tangganya dan keadaan suaminya kepada  seorangpun. Karena seorang wanita yang shalihah adalah yang bisa menjaga  dan memelihara kedudukanmartabat suaminya. Nabi Shalallahu ‘Alaihi  Wassalam telah memberitakan, seburuk-buruk manusia kedudukannya disisi  Allah pada hari Kiamat ialah seorang laki-laki yang suka menceritakan  keburukan isterinya atau seorang wanita yang menceritakan keburukan  suaminya.&lt;br /&gt;Meski demikian, jangan dipahami bahwa secara mutlak seorang wanita  tidak boleh menceritakan keburukan seorang suami. Karena, pada masa Nabi  Shalallahu ‘Alaihi Wassalam pun ada seorang wanita yang datang kepada  Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan berkata: “Ya, Rasulullah.  Suami saya adalah orang yang kikir, tidak memberi nafkah yang cukup bagi  saya. Bolehkah saya mengambil darinya tanpa sepengetahuannya untuk  sekedar mencukupi kebutuhan saya dan anak saya?”&lt;br /&gt;Mendengar penuturan orang ini, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menjawab:&lt;br /&gt;“Ambillah nominal yang mencukupi kebutuhanmu dan anakmu.” (Muttafaqun ‘alaih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keempat. Memberikan penghormatan dengan hangat kepada pasangannya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Memberikan penghormatan dengan hangat kepada pasangannya, baik ketika  hendak pergi keluar rumah ataupun ketika pulang. Penghormatan itu  hendaklah dilakukan dengan mesra. Dalam beberapa hadits diriwayatkan,  ketika hendak pergi shalat, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam  mencium isterinya tanpa berwudhu lagi dan langsung shalat. Ini  menunjukkan, bahwa mencium isteri dapat mempererat hubungan antara suami  isteri, meluluhkan kebekuan ataupun kekakuan antara suami isteri.  Tentunya dengan melihat situasi, jangan dilakukan di hadapan anak-anak.&lt;br /&gt;Perbuatan sebagian orang ketika seorang isteri menjemput suaminya  yang datang dari luar kota atau dari luar negeri, ia mencium pipi kanan  dan pipi kiri di tempat umum. Demikian ini tidak tepat. Memberikan  penghormatan dengan hangat tidak mesti dengan mencium pasangannya.  Misalnya, seorang suami dapat memanggil isterinya dengan baik, tidak  menjelek-jelekkan keluarganya, tidak menegur isterinya dihadapan  anak-anak mereka. Atau seorang isteri, bila melakukan penghormatan  dengan menyambut kedatangan suaminya di depan pintu. Apabila suami  hendak bepergian, isteri menyiapkan pakaian yang telah disetrika dan  dimasukkannya ke dalam tas dengan rapi.&lt;br /&gt;Suami hendaknya menghormati isterinya dengan mendengarkan ucapan  isteri secara seksama. Sebab terkadang, ada sebagian suami, jika  isterinya berbicara, ia justru sibuk dengan handphonenya mengirim sms  atau sambl membaca Koran. Dia tidak serius mendengarkan ucapan  isterinya. Dan jika menanggapinya, hanya dengan kata-kata singkat. Jika  isteri mengeluh, suami mengatakan “hal seperti ini saja dipikirkan!”&lt;br /&gt;Meskipun sepele atau ringan, tetapi hendaklah suami menanggapinya  dengan serius, karena bagi isteri mungkin merupakan masalah yang besar  dan berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kelima. Hendaklah memuji pasangannya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di antara kebutuhan manusia adalah keinginan untuk di puji- dalam  batas- yang wajar. Dalam masalah pujian ini, para ulama telah  menjelaskan, bahwa pujian diperbolehkan atau bahkan dianjurkan dengan  syarat-syarat: untuk memberikan motivasi, pujian itu diungkapkan dengan  jujur dan tulus, dan pujian itu tidak menyebabkan orang yang dipuji  menjadi sombong atau lupa diri.&lt;br /&gt;Abu Bakar As Siddiq radhiallahu amhu pernah di puji, dan dia berdoa  kepada Allah: “Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku dengan apa yang  mereka ucapkan. Jangan jadikan dosa bagiku dengan pujian mereka, jangan  timbulkan sifat sombong. Jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka  sangka, dan ampunilah aku atas perbuatan-perbuatan dosa yang mereka  tidak ketahui.”&lt;br /&gt;Perkataan ini juga di ucapkan oleh Syaikh Al Albani ketika beliau di  puji-puji oleh seseorang dihadapan manusia. Beliau rahimahullah menangis  dan mengucapkan perkataan Abu Bakar tersebut serta mengatakan: “Saya  ini hanyalah penuntut ilmu saja”.&lt;br /&gt;Seorang isteri senang pujian dari suaminya, khususnya dihadapan orang  lain, seperti keluarga suami atau isteri. Dia tidak suka jika suami  menyebutkan aibnya, khususnya dihadapan orang lain. Jika masakan isteri  kurang sedap jangan dicela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keenam. Bersama-sama melakukan tugas yang ringan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di antara kesalahan sebagian suami ialah, mereka menolak untuk  melakukan sebagian tugas di rumah. Mereka mempunyai anggapan, jika  melakukan tugas di rumah, berarti mengurangi kedudukannya, menurunkan  atau menjatuhkan kewibawaannya di hadapan sang isteri. Pendapat ini  tidak benar.&lt;br /&gt;Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam melakukan tugas-tugas di rumah,  seperti menjahit pakaiannya sendiri, memperbaiki sandalnya dan melakukan  tugas-tugas di rumah. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dan  terdapat dalam Jami’ush Shaghir. Terlebih lagi dalam keadaan darurat,  seperti isteri sedang sakit setelah melahirkan. Terkadang isteri dalam  keadaan repot, maka suami bisa meringankan beban isteri dengan  memandikan anak atau menyuapi anak-anaknya. Hal ini disamping  menyenangkan isteri, juga dapat menguatkan ikatan yang lebih erat lagi  antara ayah dan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ketujuh. Ucapan yang baik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kalimat yang baik adalah kalimat-kalimat yang menyenangkan. Hendaklah  menghindari kalimat-kalimat yang tidak menyenangkan, bahkan  menyakitkan. Seorang suami yang menegur isterinya karena tidak berhias,  tidak mempercantik diri dengan celak dimata, harus dengan ucapa yang  baik. (Nasihat untuk akhwat yg berkeluarga atau ibu-ibu. Hendaknya  wanita mempercantik diri dan berhias untuk suaminya. Yang terjadi,  umumnya berdandan dan mempercantik diri kalau mau keluar rumah, atau  kalau ada walimah, misalnya. Sedangkan di rumah, ia enggan mempercantik  diri dan tampil seadanya. Padahal berdandan dan mempercantik diri untuk  keluar rumah hukumnya haram.)&lt;br /&gt;Misalnya dengan perkataan “Mengapa engkau tidak memakai celak?”  Isteri menjawab dengan kalimat yang menyenangkan: “Kalau aku memakai  celak, akan mengganggu mataku untuk melihat wajahmu”.&lt;br /&gt;Perkataan yang demikian menunjukkan ungkapan perasaan cinta isteri  kepada suami. Ketika ditegur, ia menjawab dengan kalimat yang  menyenangkan. Berbeda dengan kasus lain. Saat suami isteri  berjalan-jalan di bawah bulan pernama, suami bertanya:”Tahukah engkau  bulan purnama di atas?” Mendengar pertanyaan ini, sang isteri  menjawab:”Apakah engkau lihat aku buta?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kedelapan. Perlu berekreasi berdua tanpa membawa anak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Rutinitas pekerjaan suami di luar rumah dan pekerjaan isteri di rumah  membuat suasana menjadi keruh. Sekali-kali diperlukan suasana lain  dengan cara pergi berdua tanpa membawa anak. Hal ini sangat penting,  karena bisa memperbaharui cinta suami isteri. Kita mempunyai anak,  lantas bagaimana caranya? Ini memang sebuah problem. Kita cari  solusinya, jangan menyerah begitu saja.&lt;br /&gt;Bukan berarti setelah mempunyai anak banyak tidak bisa pergi berdua.  Tidak! kita bisa meminta tolong kepada saudara, kerabat ataupun tetangga  untuk menjaga anak-anak, lalu kita dapat pergi bersilaturahmi atau  belanja ke toko dan lain sebagainya. Kemudian pada kesempatan lainnya,  kita pergi berekreasi membawa isteri dan anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kesembilan. Hendaklah memiliki rasa empati pada pasangannya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:&lt;br /&gt;“Perumpamaan kaum mukminan antara satu dengan yang lainnya itu  seperti satu tubuh. Apabila ada satu anggota tubuh yang sakit, maka  anggota tubuh yang lain pun ikut merasakannya sebagai orang yang tidak  dapat tidur dan orang yang terkena penyakit demam.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;Ini berlaku secara umum kepada semua kaum muslimin. Rasa empati harus  ada. Yaitu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, termasuk  kepada isteri atau suami. Jangan sampai suami sakit, terbaring ditempat  tidur, isteri tertawa-tawa disampingnya, bergurau, bercanda. Begitu pula  sebaliknya, jangan sampai karena kesibukan, suami kemudian kurang  merasakan apa yang dirasakan oleh isteri.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kesepuluh. Perlu adanya keterbukaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Keterbukaan antara suami dan isteri sangat penting. Di antara problem  yang timbul di keluarga, lantaran antara suami dan isteri masing-masing  menutup diri, tidak terbuka menyampaikan problemnya kepada pasangannya.  Yang akhirnya kian menumpuk. Pada gilirannya menjadi lebih besar,  sampai akhirnya meledak.&lt;br /&gt;Inilah sepuluh tips untuk merekatkan hubungan suami isteri, sehingga  biduk rumah tangga tetap harmonis dan tentram. Semoga bermanfaat,  menjadi bekal keharmonisan keluarga.&lt;br /&gt;Dikutip dari Majalah As Sunnah Edisi Khusus 7&amp;amp;8 Thn IX/1&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-964530281659284141?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/964530281659284141/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2011/04/kiat-kiat-mempererat-cinta-suami-istri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/964530281659284141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/964530281659284141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2011/04/kiat-kiat-mempererat-cinta-suami-istri.html' title='Kiat-Kiat Mempererat Cinta Suami-Istri'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-7114362954102228752</id><published>2011-01-30T11:49:00.010+07:00</published><updated>2011-02-02T12:14:28.038+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kegiatan'/><title type='text'>Coaching Materi Ta'rifiyah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://cdn-users1.imagechef.com/ic/stored/2/100224/sampbdd820f5ca4fd09b.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://cdn-users1.imagechef.com/ic/stored/2/100224/sampbdd820f5ca4fd09b.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Alhamdulillah, pada hari Sabtu, 29 Januari 2011, Departemen Dakwah &amp;amp; Kaderisasi DPC Wahdah Islamiyah Bandung, telah menyelenggarakan 'Coaching Materi Ta'rifiyah', bertempat di Masjid Nur Madinah, Jalan Asri Ciparumpung no 02 Rt 07/07, Padasuka Cimenyan Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara ini diikuti oleh seluruh murabbi &amp;amp; murabbiyah serta calon murabbi/yah DPC Wahdah Bandung. Dan diisi oleh beberapa ustadz diantaranya ustadz Wawan Kurniawan, Ust. Rahmat Sutiman, serta Ust. Rusmin dari Jogja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara ini bertujuan untuk memberikan pendalaman materi bagi para murabbi &amp;amp; murabbiyah, sekaligus pembentukan Korps Da'i &amp;amp; Murabbi/yah (KDM). Selain itu juga dalam rangka menyukseskan  program SKS, yang nantinya diharapkan dari hasil coaching materi ini  akan menghasilkan halaqah-halaqah tarbiyah dengan jumlah yang semakin  meningkat.[nk]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-7114362954102228752?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/7114362954102228752/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2011/01/coaching-materi-tarifiyah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/7114362954102228752'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/7114362954102228752'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2011/01/coaching-materi-tarifiyah.html' title='Coaching Materi Ta&apos;rifiyah'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-635417359140240268</id><published>2011-01-23T11:23:00.005+07:00</published><updated>2011-02-02T11:46:52.273+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kegiatan'/><title type='text'>Pelatihan Al Qur'an dan Bahasa Arab</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/TUjgoBvhwHI/AAAAAAAAAGg/LDiQ4VMyFpA/s1600/logo_alYusro.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="160" src="http://1.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/TUjgoBvhwHI/AAAAAAAAAGg/LDiQ4VMyFpA/s400/logo_alYusro.gif" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam  rangka turut menyebarkan &amp;nbsp;Islam  dan usaha untuk mendekatkan ummat ini  kepada Al Quran dan As sunnah,  maka kami memandang perlunya  menyebarluaskan Al Quran dan bahasa Arab  ini “hingga memasuki setiap rumah”.&amp;nbsp; Namun,  kita sering mendengar pula  banyaknya kaum muslimiin yang ingin  mempelajari Al Quran dan bahasa  Arab tetapi tidak tahu bagaimana memulainya atau  banyak yang telah  belajar dan menghafal bahasa ini namun akhirnya merasa  gagal, bahkan  banyak pula yang “takut” memulai belajar karena  memandangnya  sulit.Untuk sebab-sebab itulah maka Al Yusr0 mencoba menghadirkan &lt;b&gt;cara belajar Al Quran dan bahasa Arab dengan mudah dan menyenangkan. S&lt;/b&gt;ecara   teknis, program ini telah berjalan di Bandung lebih dari 3 tahun, maka   metode yang di gunakan telah teruji dan mendapat perbaikan disana  sini.&lt;span id="more-393"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kami, Al Yusro menawarkan beberapa  program kepada antum sekalian yang berdomisili di Bandung dan ingin  mempelajari Al-Quran dan Bahasa Arab. program tersebut yaitu:&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://al-yusro.blogspot.com/p/baca-al-quran.html"&gt;Baca Al-Quran&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://al-yusro.blogspot.com/p/program-bahasa-arab.html"&gt;Bahasa Arab&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Terjemah Lafdziyah&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;untuk informasi lebih lanjut dan pendaftaran :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sekertariat Al Yusra&amp;nbsp; : Jl. Asri ciparumpung No. 02 Rt 07/07 Padasuka  Cicaheum Bandung 40192 telp. 7279987 (khusus pada jam kerja selain  waktu shalat)&lt;br /&gt;CP :&amp;nbsp;&amp;nbsp; Rahmat Tena (022 9289 9396)&lt;br /&gt;http://al-yusro.blogspot.com/p/pendaftaran.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-635417359140240268?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/635417359140240268/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2011/01/pelatihan-al-quran-dan-bahasa-arab.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/635417359140240268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/635417359140240268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2011/01/pelatihan-al-quran-dan-bahasa-arab.html' title='Pelatihan Al Qur&apos;an dan Bahasa Arab'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/TUjgoBvhwHI/AAAAAAAAAGg/LDiQ4VMyFpA/s72-c/logo_alYusro.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-3685982983777625055</id><published>2010-12-26T10:13:00.004+07:00</published><updated>2010-12-26T10:13:00.305+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PendidikanAnak'/><title type='text'>Kiat Pendidikan Islami Sejak Dini pada Anak</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://sanggemintang.files.wordpress.com/2010/06/flowers_025.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://sanggemintang.files.wordpress.com/2010/06/flowers_025.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Anak adalah amanah yang diberikan Allah Swt pada para orang tua.  Karenanya, orang tua berkewajiban mengasuh, mendidik, melindungi dan  menjaga amanah Allah itu agar menjadi generasi muslim yang bukan hanya  sukses di dunia, tapi juga di akhirat kelak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keseharian, para ibulah yang memegang peranan penting dalam  pengasuhan dan pendidikan putra-putrinya. Pernahkah para ibu merenungkan  sejauh mana peranan yang mereka mainkan akan berpengaruh dalam  perjalanan hidup si anak? Kita semua tahu bahwa semua perbuatan manusia  selama di dunia dicatat dalam sebuah buku yang akan dimintai  pertanggungjawabannya di hadapan Allah Swt. Begitu pula anak-anak kita  kelak, dan isi catatan buku mereka selama di dunia sangat tergantung  dengan bagaimana cara kita mendidik mereka, apakah kita menerapkan pola   pengasuhan dan pendidikan yang cukup Islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, apakah anak-anak kita sekarang sudah memahami tentang  hubungannya dengan Sang Pencipta? Nasehat apa yang akan kita berikan  pada anak-anak ketika kita menjelang ajal, sehingga ketika kita dimintai  pertanggungjawaban oleh Allah Swt tentang anak-anak kita, kita mampu  menjawab, "Ya Allah, aku  membesarkan anak-anakku dengan ihsan  (sempurna) semampu yang saya bisa, agar taat dan tunduk pada ajaran-Mu."&lt;br /&gt;Di tengah perkembangan zaman seperti sekarang ini. Tugas mendidik,  menjaga dan melindungi anak dari pengaruh buruk arus globalisasi dan  modernisasi, bukan perkara yang ringan. Bekal pendidikan dari sekolah  berkualitas, menanamkan rasa tanggung jawab dan disiplin serta moral  tidak cukup, jika tidak diimbangi dengan bekal pendidikan agama yang  baik.&lt;br /&gt;Bekal pendidikan rohani yang harus para ibu tanamkan sejak dini  adalah membangun keyakinan yang kuat dalam hati mereka tentang ke-esa-an  Allah Swt, mengajarkan rasa cinta yang besar pada Nabi Muhammad Saw dan  mengajarkan mereka nilai-nilai serta ketrampilan yang akan bermanfaat  bagi kehidupan mereka saat dewasa nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dini, tanamkan pada diri anak-anak tentang konsep Tiada tuhan  Selain Allah. Allah tidak ada sekutu bagi-Nya dan tidak ada yang  menyerupai-Nya.  Selalu mengingatkan pada anak-anak bahwa Allah Mahatahu  apa yang ada di bumi dan di langit, agar anak-anak selalu menjaga  ucapan dan tindakannya. Beritahukan pada anak-anak, apa sesungguhnya  tujuan hidup ini dan arahkan mereka agar tetap fokus dan memiliki visi  yang jelas tentang konsep hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah tantangan bagi para ibu untuk menghasilkan generas-generasi  muslim yang hebat dan bermanfaat bagi umat. Generasi yang tidak hanya  cerdas intelektual tapi juga cerdas dari sisi sosial, emosi dan  spiritual.  Tentu saja untuk melakukan itu semua, para ibu harus  memiliki pengetahuan dan ketrampilan untuk mendidik dan berinteraksi  dengan anak-anak. Tips-tips berikut bisa menjadi acuan bagi para ibu  dalam menerapkan pola asuh dan pendidikan bagi anak-anak di rumah, agar  menjadi generasi yang Islami:&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Setiap anak itu unik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kita harus memahami bahwa setiap anak terlahir unik. Pahami bahwa setiap  anak lahir sebagai individu yang mewirisi kualitas kepribadian yang  berada di luar kendali orang tua. Itulah sebabnya, orang tua harus mampu   mengidentifikasi karakteristik yang unik dan perilaku anak-anak kita,  tanpa harus mencetak dan mendorong anak-anak  ke arah yang orang tua  sukai. Jika kita memahami hal ini, kita akan memberikan pengasuhan,   bimbingan dan dukungan yang anak-anak butuhkan untuk melengkapi potensi  yang telah Allah berikan pada mereka.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Membangun dan menanamkan tentang kasih sayang Allah Swt pada anak-anak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Allah Swt berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu  dan keluargamu dari api neraka" (Surat At-Tahrim;6). Tanamkan pada  anak-anak bahwa tentang kecintaan dan keyakinan bahwa segala sesuatu  terjadi adalah atas kehendak Allah. Ajarkan mereka selalu mengucapkan  "La illaha illah Allah; jika anak meminta sesuatu, katakan pada mereka  untuk berdoa, meminta pada Allah karena Allah yang memiliki segala  sesuatu.  Ajarkan kecintaan pada Allah saat santai dan  berbincang-bincang dengan anak, agar mereka mudah memahami mengapa  manusia beribadah, harus taat dan  melaksanakan ajaran-Nya.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Salat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saw berkata, "Ajarilah anak-anakmu salat ketika mereka  berusia tujuh tahun, dan ketika mereka berusia sepuluh tahun, hukumlah  jika mereka melalaikan salat.".  Orang tua harus membiasakan mengajak  anak salat tepat waktu. Jadikah salat berjamaah sebagai kebiasaan dalam  keluarga, bahkan jika anak masih di bawah umur, tak ada salahnya selalu  mengajak mereka salat. Jika kewajiban salat sudah melekat kuat dalam  diri anak, maka anak-anak akan terlatih untuk salat dengan khusyuk.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Kegiatan Sosial&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ajaklah anak-anak sesering mungkin untuk melakukan aktivitas sosial,  berjalan-jalan ke taman, berkunjung ke kebun binatang atau museum,  belajar berenang, bertaman, mengamati matahari tenggelam, dan kegiatan  lainnya. Sebisa mungkin, jauhkan anak dari kebiasaan nonton tv dan isi  waktu luang mereka dengan aktivitas fisik, misalnya melakukan olahraga  yang mereka sukai.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. Berkumpul dengan Keluarga&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Biasakan berkumpul dengan seluruh keluarga, mendiskusikan berbagai isu  yang merangsang semua anggota keluarga mengemukakan pendapatnya.  Kebiasaan ini melatih rasa percaya diri anak dan kemampuannya  bicara di  muka umum dan akan mengakrabkan sesama anggota keluarga. Kebiasaan  berkumpul ini juga bisa dilakukan dengan cara memainkan permainan yang  melibatkan seluruh anggota keluarga  atau memanfaatkan waktu makan,  dengan membiasakan makan bersama.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. Membangun kesadaran pada anak-anak akan pentingnya kebersihan dan menjaga lingkungan hidup &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran ini harus dimulai dari rumah sendiri, dengan melibatkan  anak-anak dalam urusan pekerjaan rumah. Mintalah anak memilih pekerjaan  rumah apa yang bisa ia lakukan, apakah menyapu, mengepel, mencuci  piring, untuk membantu meringankan tugas ibu di rumah.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;7 Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi adalah ketrampilan yang paling penting yang akan dipelajari  anak-anak. Bicaralah pada anak sesuai dengan tingkat pemahaman anak.  Rasulullah Saw mencontohkan, saat bicara dengan anak-anak menggunakan  bahasa yang sederhana dan jelas sehingga anak-anak mau mendengarkan dan  bisa memahami apa yang disampaikan.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;8. Disiplin&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu bahwa disiplin dan pengendalian diri merupakan karakter utama  seorang muslim. Kita belajar dan melatih diri tentang kedisiplinan dan  pengendalian diri melalui ibadah puasa dan perintah Allah itu menjauhkan  diri dari hal-hal yang dilarang dalam Islam. Orang tua harus  menjelaskan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan anak-anak, dan  apa konsekuensinya jika hal itu dilanggar. Tentu saja larangan itu  dalam batas-batas yang wajar. Misalnya, orang tua tidak melarang anak  nonton tv sama sekali, tapi memberi batasan berapa lama anak boleh  nonton televisi, misalnya cuma 30 menit. Orang tua juga harus menepati  janji jika menjajikan sesuatu pada anak, karena jika tidak, anak akan  menganggap orang tuanya tidak bisa dipercaya.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;9. Rutin&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Membiasakan anak-anak melakukan tugas-tugasnya dengan rutin, misalnya  salat tepat waktu, membaca dan menghapal Al-Quran, membaca hadis,  membiasakan membaca doa-doa Rasulullah sebelum tidur, beramal meski cuma  dengan senyum, dan kebiasaan lainnya yang akan menjadi kegiatan rutin  bagi anak kelak.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;10. Memberikan Teladan yang baik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saw. adalah teladan terbaik bagi kaum Muslimin. Bacakanlah  kisah-kisah tentang Rasulullah Saw, pada anak-anak agar anak-anak  mengikuti Sunah-Sunahnya dengan rasa cinta. Bacakan pula kisah-kisah  tentang para nabi, sahabat-sahabat Nabi, dan pahlawan-pahlawan dalam  sejarah Islam sehingga tumbuh rasa cinta anak pada Islam.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;11. Melakukan perjalanan yang menyenangkan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan yang menyenangkan bersama keluarga tidak harus selalu  mengunjungi tempat-tempat wisata, tapi bisa juga mengunjugi  masjid-masjid lokal. Kunjungan ke masjid sekaligus mengajarkan anak  tentang bagaimana etika berada di dalam masjid dan menumbuhkan rasa  cinta pada masjid, terutama bagi anak lelaki. Selain masjid, ajaklah  mereka berkunjung ke tempat-tempat bersejarah Islam agar mereka tahu  warisan-warisan budaya dan sejarah Islam.&lt;br /&gt;Tips-tips di atas cuma menjadi acuan bagi para orang tua, khususnya  para ibu untuk menanamkan pendidikan yang Islami sejak usia dini. Tentu  saja ikhtiar ini harus didukung oleh doa orang tua yang tak putus-putus  untuk anak-anak mereka, agar harapan akan anak-anak yang bertakwa pada  Allah Swt terkabul. (ln/Khafayah Abdulsalam-ProdMuslim)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-3685982983777625055?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/3685982983777625055/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/kiat-pendidikan-islami-sejak-dini-pada.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/3685982983777625055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/3685982983777625055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/kiat-pendidikan-islami-sejak-dini-pada.html' title='Kiat Pendidikan Islami Sejak Dini pada Anak'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-2818376394670386377</id><published>2010-12-24T06:30:00.000+07:00</published><updated>2010-12-24T06:30:14.825+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Mengucapkan Selamat Natal Dianggap Amalan Baik?</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://sketsadinihari.files.wordpress.com/2009/12/21lilin-natal.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://sketsadinihari.files.wordpress.com/2009/12/21lilin-natal.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;Oleh&lt;/i&gt; &lt;b&gt;Muhammad Abduh Tuasikal&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada  Nabi kita Muhammad, keluarga,  para sahabat dan orang-orang yang  mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.&lt;br /&gt;Ucapan selamat natal sejak beberapa tahun ini menjadi kontroversi.  Sebagian kalangan membolehkan  kaum muslimin untuk mengucapkan selamat  natal pada nashrani karena dianggap sebagai bentuk ihsan  (berbuat  baik). Dalil yang digunakan dalam membolehkan hal ini adalah firman  Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt;,&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil  terhadap orang-orang yang tiada  memerangimu karena agama dan tidak  (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah  menyukai  orang-orang yang berlaku adil.”&lt;/i&gt; (QS. Al Mumtahanah [60] : 8).&lt;br /&gt;Inilah di antara alasan untuk  melegalkan mengucapkan selamat natal  pada orang nashrani. Mereka memang membawakan dalil,  namun apakah  pemahaman yang mereka utarakan itu membenarkan mengucapkan selamat  natal?&lt;br /&gt;Semoga Allah menolong kami untuk menyingkap tabir manakah yang benar  dan manakah yang keliru.  Hanya Allah yang beri pertolongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sebab Turun Ayat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Untuk siapa sebab diturunkannya ayat di atas? Dalam hal ini ada  beberapa pendapat di kalangan ahli  tafsir [1]. Di antara pendapat  tersebut adalah yang menyatakan bahwa ayat ini turun pada Asma’ binti  Abi  Bakr —&lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhuma&lt;/i&gt;—, di mana ibundanya —Qotilah binti ‘Abdil ‘Uzza— yang musyrik [2] dan ia diperintahkan oleh Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; untuk tetap menjalin hubungan dengan  ibunya. Ini adalah pendapat dari ‘Abdullah bin Az Zubair. [3]&lt;br /&gt;Imam Bukhari membawakan Bab dalam kitab Shahihnya &lt;i&gt;“Menjalin hubungan dengan orang tua yang  musyrik”&lt;/i&gt;. Kemudian beliau membawakan riwayat berikut, Asma’ mengatakan,&lt;br /&gt;“Ibuku mendatangiku dan ia sangat ingin aku menyambung hubungan  dengannya4. Kemudian aku  menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa  sallam, bolehkah aku tetap menjalin hubungan dengannya?  Beliau pun  menjawab, “Iya boleh”.” Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan bahwa setelah itu  Allah  menurunkan firman-Nya (yang artinya), &lt;i&gt;“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil  terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama.”&lt;/i&gt; (QS. Al Mumtahanah [60] : 8)” [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Makna Ayat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Jarir Ath Thobari —&lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;— mengatakan, “Allah  tidak melarang kalian untuk berbuat baik,  menjalin hubungan dan berbuat  adil dengan setiap orang dari agama lain yang tidak memerangi kalian   dalam agama. Karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), &lt;i&gt;“Allah  tiada melarang kamu untuk berbuat  baik dan berlaku adil terhadap  orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula)   mengusir kamu dari negerimu”&lt;/i&gt;. Setiap orang yang mempunyai sifat  dalam ayat ini patut bagi kita berlaku  ihsan (baik) padanya. Tidak ada  yang dispesialkan dari yang lainnya.” [6]&lt;br /&gt;Ibnu Katsir —&lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;— menjelaskan, “Allah tidak  melarang kalian berbuat ihsan (baik) terhadap  orang kafir yang tidak  memerangi kaum muslimin dalam agama dan juga tidak menolong mengeluarkan   wanita dan orang-orang lemah, yaitu Allah tidak larang untuk berbuat  baik dan berbuat adil kepada  mereka. Karena sesungguhnya Allah  mencintai orang-orang yang berbuat adil.” [7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Loyal (Wala’) pada Orang Kafir itu Terlarang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Wala’ (loyal) tidaklah sama dengan berlaku ihsan (baik). Wala’ secara  istilah bermakna menolong,  memuliakan dan loyal dengan orang yang  dicintai. [8] Sehingga wala’ (loyal) pada orang kafir akan  menimbulkan  rasa cinta dan kasih sayang dengan mereka dan agama yang mereka anut.  Larangan loyal  terhadap orang kafir ini sudah diajarkan oleh kekasih  Allah —Nabi Ibrahim &lt;i&gt;‘alaihis salam&lt;/i&gt;— dan kita pun  selaku umat Islam diperintahkan untuk mengikuti jalan beliau. Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt; berfirman,&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada  Ibrahim dan orang-orang yang bersama  dengan dia; ketika mereka berkata  kepada kaum mereka, &lt;/i&gt;&lt;u&gt;&lt;i&gt;"Sesungguhnya kami berlepas diri  daripada  kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami  ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara  kami dan kamu permusuhan  dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah  saja."&lt;/i&gt;&lt;/u&gt;(QS. Al Mumtahanah [60] : 4)&lt;br /&gt;Di samping ini adalah ajaran Nabi Ibrahim, larangan loyal (wala’) pada orang kafir juga termasuk ajaran  Nabi kita Muhammad &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;. Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt; berfirman,&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil  orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi  pemimpin-pemimpin(mu);  sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa  di  antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya  orang itu termasuk golongan  mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi  petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”&lt;/i&gt; (QS. Al Maidah [5] : 51)&lt;br /&gt;Bahkan Ibnu Hazm telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa  loyal (wala’) pada orang  kafir adalah sesuatu yang diharamkan. [9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Perlu Dibedakan antara Ihsan (Berbuat Baik) dan Wala’ (Loyal)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Perlu kiranya dipahami bahwa &lt;i&gt;birr&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;ihsan&lt;/i&gt; (berbuat baik) itu jauh berbeda dengan &lt;i&gt;wala’&lt;/i&gt; (bersikap  loyal). &lt;i&gt;Ihsan&lt;/i&gt; adalah sesuatu yang dituntunkan. &lt;i&gt;Ihsan&lt;/i&gt; itu diperbolehkan baik pada muslim maupun orang  kafir. Sedangkan bersikap &lt;i&gt;wala’&lt;/i&gt; pada orang kafir tidak diperkenankan sama sekali.&lt;br /&gt;Fakhruddin Ar Rozi —&lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;— mengatakan, “Allah tidak  melarang kalian berbuat baik (birr) kepada  mereka (orang kafir). Namun  yang Allah larang bagi kalian adalah loyal (wala’) pada mereka. Inilah   bentuk rahmat pada mereka, padahal ada permusuhan sengit dengan kaum  muslimin. Para pakar tafsir  menjelaskan bahwa boleh kaum muslimin  berbuat baik (birr) dengan orang musyrik. Namun dalam hal  loyal (wala’)  pada mereka itu tidak dibolehkan.” [10]&lt;br /&gt;Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Berbuat baik, menyambung hubungan  kerabat dan berbuat ihsan  (terhadap non muslim) tidaklah melazimkan  rasa cinta dan rasa sayang (yang terlarang) padanya.  Sebagaiman rasa  cinta yang terlarang ini disebutkan dalam firman Allah,&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah  dan hari akhirat, saling berkasih  sayang dengan orang-orang yang  menentang Allah dan Rasul-Nya”&lt;/i&gt; (QS. Al Mujadilah [58] : 22). &lt;i&gt;Ayat ini umum  berlaku pada orang yang sedang memerangi dan orang yang tidak memerangi kaum muslimin. Wallahu  a’lam.&lt;/i&gt; [11]&lt;br /&gt;Syaikh Musthofa Al ‘Adawi menjelaskan dalam kitab tafsirnya, “Berbuat  baik dan berlaku adil tidaklah  melazimkan rasa cinta dan kasih sayang  pada orang kafir. Seperti contohnya adalah seorang anak tetap  berbakti  dan berbuat baik pada orang tuanya yang kafir, namun ia tetap membenci  agama yang orang  tuanya anut.” [12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Contoh Berbuat Ihsan pada Non Muslim&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;: Memberi hadiah kepada saudara non muslim agar membuat ia tertarik pada Islam.&lt;br /&gt;Dari Ibnu ‘Umar —&lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhuma&lt;/i&gt;—, beliau berkata, “Umar pernah melihat pakaian yang dibeli  seseorang lalu ia pun berkata pada Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, “Belilah pakaian seperti ini,  kenakanlah ia pada hari Jum’at dan ketika ada tamu yang mendatangimu.” Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa  sallam&lt;/i&gt;  pun berkata, “Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini tidak  akan mendapatkan  bagian sedikit pun di akhirat.” Kemudian Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;  didatangkan beberapa  pakaian dan beliau pun memberikan sebagiannya  pada ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Mengapa aku  diperbolehkan memakainya  sedangkan engkau tadi mengatakan bahwa mengenakan pakaian seperti ini   tidak akan dapat bagian di akhirat?” Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;  menjawab, “Aku tidak mau  mengenakan pakaian ini agar engkau bisa  mengenakannya. Jika engkau tidak mau, maka engkau jual  saja atau tetap  mengenakannya.” Kemudian ‘Umar menyerahkan pakaian tersebut kepada  saudaranya [13] di Makkah sebelum saudaranya tersebut masuk Islam. [14]&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;: Menjalin hubungan dan berbuat baik dengan orang tua dan kerabat non muslim.&lt;br /&gt;Dari Asma’ binti Abu Bakr —&lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhuma&lt;/i&gt;—, ia berkata, “Ibuku mendatangiku, padahal ia seorang  musyrik di masa Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;. Kemudian aku ingin meminta nasehat dari  Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;.  Aku berkata, “Sesungguhnya ibuku mendatangiku, padahal ia  sangat benci  Islam. Apakah aku boleh tetap menyambung hubungan kerabat dengan  ibuku?” Nabi  &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; menjawab, “Iya boleh. Silakan engkau tetap menjalin hubungan  dengannya.” [15]&lt;br /&gt;Allah melarang memutuskan silaturahim dengan orang tua atau kerabat  yang non muslim dan Allah  tetap menuntunkan agar hak mereka sebagai  kerabat dipenuhi walaupun mereka kafir. Jadi, kekafiran  tidaklah  memutuskan hak mereka sebagai kerabat. Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt; berfirman,&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku  sesuatu yang tidak ada  pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu  mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di  dunia dengan baik.”&lt;/i&gt; (QS. Luqman [31] : 15)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan)  nama-Nya kamu saling meminta satu sama  lain, dan (peliharalah) hubungan  silaturahmi.”&lt;/i&gt; (QS. An Nisa [4] : 1)&lt;br /&gt;Jubair bin Muth’im berkata bahwa Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda,  .&lt;br /&gt;“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali silaturahmi (dengan kerabat).” [16]&lt;br /&gt;Oleh karenanya, silaturahim dengan kerabat tetaplah wajib, walaupun  kerabat tersebut kafir. Jadi,  orang yang mempunyai kewajiban memberi  nafkah tetap memberi nafkah pada orang yang ditanggung  walaupun itu non  muslim. Karena memberi nafkah adalah bagian dari bentuk menjalin  silaturahim.  Sedangkan dalam masalah waris tidak diperkenankan sama  sekali. Karena seorang muslim tidaklah  mewariskan hartanya pada orang  kafir. Begitu pula sebaliknya. Karena warisan dibangun di atas sikap   ingin menolong (nushroh) dan loyal (wala’). [17]&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketiga&lt;/b&gt;: Berbuat baik kepada tetangga walaupun non muslim.&lt;br /&gt;Al Bukhari membawakan sebuah bab dalam Adabul Mufrod dengan &lt;i&gt;”Bab Tetangga Yahudi”&lt;/i&gt;dan  beliau  membawakan riwayat berikut.  Mujahid berkata, "Saya pernah  berada di sisi Abdullah ibnu 'Amru sedangkan pembantunya sedang   memotong kambing. Dia lalu berkata,   !  &lt;i&gt;”Wahai pembantu! Jika anda  telah selesai (menyembelihnya), maka bagilah dengan memulai dari  tetangga  Yahudi kita terlebih dahulu.”&lt;/i&gt; Lalu ada salah seorang yang berkata,  .!  &lt;i&gt;"(Anda memberikan sesuatu) kepada Yahudi? Semoga Allah memperbaiki kondisi anda.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;”Abdullah bin ’Amru lalu berkata,&lt;br /&gt;'Saya mendengar Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;/i&gt; berwasiat terhadap tetangga sampai kami  khawatir kalau beliau akan menetapkan hak waris kepadanya.” [18]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Perkara yang Termasuk Loyal pada Orang Kafir dan Dinilai Haram&lt;/b&gt; [19]&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;: Mencintai orang kafir dan menjadikan mereka teman dekat. Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt; berfirman,&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari  akhirat, saling berkasih-sayang dengan  orang-orang yang menentang Allah  dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak   atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.”&lt;/i&gt; (QS. Al Mujadilah [58] : 22).&lt;br /&gt;Wajib bagi setiap muslim  memiliki rasa benci pada setiap orang kafir  dan musyrik karena mereka adalah orang-orang yang  menentang Allah dan  Rasul-Nya. Dikecualikan di sini adalah cinta yang bersifat tabi’at  seperti kecintaan  seorang anak kepada orang tuanya yang musyrik. Cinta  seperti ini dibolehkan.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;: Menetap di negeri kafir. Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt; berfirman,&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan  menganiaya diri sendiri, (kepada  mereka) malaikat bertanya, "Dalam  keadaan bagaimana kamu ini ?". Mereka menjawab, "Adalah kami   orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata,  "Bukankah bumi Allah itu luas,  sehingga kamu dapat berhijrah di bumi  itu ?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam  itu  seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik  laki-laki atau wanita ataupun anak- anak yang tidak mampu berdaya upaya  dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), mereka itu, mudah-mudahan  Allah mema'afkannya. Dan adalah Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun.”&lt;/i&gt; (QS. An Nisa’ [4] : 97- 98)&lt;br /&gt;Ada dua rincian yang mesti diperhatikan:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Jika orang kafir yang baru masuk Islam, lalu tinggal di negeri  kafir dan tidak mampu menampakkan  keislaman (seperti mentauhidkan  Allah, melaksanakan shalat, dan berjilbab –bagi wanita-) dan ia  mampu  berhijrah, maka saat itu ia wajib berhijrah ke negeri kaum muslimin. Hal  ini berdasarkan  kesepakatan para ulama. Dan tidak boleh muslim  tersebut menetap di negeri kafir kecuali dalam  keadaan darurat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika muslim yang tinggal di negeri kafir masih mampu menampakkan  keislamannya, maka berhijrah  ke negeri kaum muslimin pada saat ini  menjadi mustahab (dianjurkan). Begitu pula dianjurkan ia  menetap di  negeri kafir tersebut karena ada maslahat untuk mendakwahi orang lain  kepada Islam  yang benar.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;b&gt;Ketiga&lt;/b&gt;: Diharamkan bepergian ke negeri kafir tanpa  ada hajat. Namun jika ada maslahat (seperti untuk  berobat, berdakwah,  dan berdagang), maka ini dibolehkan asalkan memenuhi tiga syarat  berikut:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Memiliki bekal ilmu agama yang kuat sehingga dapat menjaga dirinya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Merasa dirinya aman dari hal-hal yang dapat merusak agama dan akhlaqnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mampu menampakkan syi’ar-syi’ar Islam pada dirinya.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;b&gt;Keempat&lt;/b&gt;: Menyerupai orang kafir (tasyabbuh) dalam  hal pakaian, penampilan dan kebiasaan.  Tasyabbuh di sini diharamkan  berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama   (ijma’). [20] Di antara dalilnya, Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda,&lt;br /&gt;”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” [21]&lt;br /&gt;Oleh karena itu, perilaku tasyabuh (menyerupai orang kafir) dalam  perkara yang menjadi ciri khas  mereka adalah diharamkan. Contohnya  adalah mencukur jenggot dan mengikuti model pakaian yang  menjadi ciri  khas mereka.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kelima&lt;/b&gt;: Bekerjasama atau membantu merayakan perayaan  orang kafir, seperti membantu dalam acara  natal. Hal ini diharamkan  berdasarkan kesepakatan para ulama. Dan Allah Ta’ala pun berfirman,&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”&lt;/i&gt; (QS. Al Maidah [5] : 2)&lt;br /&gt;Begitu pula diharamkan menghadiri perayaan agama mereka. Allah Ta’ala menceritakan mengenai sifat  orang beriman,&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Dan orang-orang yang beriman adalah yang tidak menyaksikan  perbuatan zur, dan apabila mereka  bertemu dengan (orang-orang) yang  mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka  lalui  (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.”&lt;/i&gt; (QS. Al Furqon [25] : 72).&lt;br /&gt;Di antara makna “tidak  menyaksikan perbuatan zur” adalah tidak  menghadiri perayaan orang musyrik. Inilah yang dikatakan  oleh Ar Robi’  bin Anas. [22] Jadi, ayat di atas adalah pujian untuk orang yang tidak  menghadiri perayaan  orang musyrik. Jika tidak menghadiri perayaan  tersebut adalah suatu hal yang terpuji, berarti melakukan  perayaan  tersebut adalah perbuatan yang sangat tercela dan termasuk ‘aib. [23]&lt;br /&gt;Begitu pula diharamkan mengucapkan selamat pada hari raya orang  kafir. Bahkan diharamkannya hal ini  berdasarkan ijma’ atau kesepakatan  para ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ulama Sepakat: Haram Mengucapkan Selamat Natal&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Perkataan Ibnul Qayyim dalam Ahkam Ahlu Dzimmah,&lt;br /&gt;&lt;i&gt;”Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang  khusus bagi orang-orang kafir (seperti  mengucapkan selamat natal, pen)  adalah &lt;u&gt;sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para  ulama&lt;/u&gt;.  Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka  seperti mengatakan,  ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’,  atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan  semacamnya.”  Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran,  namun dia  tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan  selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja  dengan kita  mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan  perbuatan seperti  ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat  semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding  seseorang memberi  ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa,  berzina,  atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut.  Orang-orang semacam ini tidak  mengetahui kejelekan dari amalan yang  mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan  selamat  pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia  pantas mendapatkan  kebencian dan murka Allah Ta’ala.”&lt;/i&gt; [24]&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al ’Utsaimin mengatakan, ”Ucapan selamat  hari natal atau ucapan  selamat lainnya yang berkaitan dengan agama  kepada orang kafir adalah haram berdasarkan  kesepakatan para ulama.”  [25]&lt;br /&gt;Herannya ulama-ulama kontemporer saat ini [26] malah membolehkan  mengucapkan selamat Natal. Alasan  mereka berdasar pada surat Al  Mumtahanah ayat 8. Sungguh, pendapat ini adalah pendapat yang  ’nyleneh’  dan telah menyelisihi kesepakatan para ulama. Pendapat ini muncul  karena tidak bisa  membedakan antara berbuat ihsan (berlaku baik) dan  wala’ (loyal). Padahal para ulama katakan bahwa  kedua hal tersebut  adalah berbeda sebagaimana telah kami utarakan sebelumnya.&lt;br /&gt;Pendapat ini juga sungguh aneh karena telah menyelisihi kesepakatan  para ulama (ijma’). Sungguh  celaka jika kesepakatan para ulama itu  diselisihi. Padahal Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, &lt;u&gt;dan mengikuti jalan yang bukan  jalan orang-orang mu'min&lt;/u&gt;,  Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu  dan Kami  masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk  tempat kembali.”&lt;/i&gt; (QS. An Nisa’ [4] : 115).&lt;br /&gt;Jalan orang-orang mukmin inilah ijma’ (kesepakatan) mereka.  Dari  sini, kami merasa aneh jika dikatakan bahwa mengucapkan selamat natal  pada orang nashrani  dianggap sebagai masalah khilafiyah (beda  pendapat). Padahal sejak masa silam, para ulama telah  sepakat  (berijma’) tidak dibolehkan mengucapkan selamat pada perayaan non  muslim. Baru belakangan  ini dimunculkan pendapat yang aneh dari Yusuf  Qardhawi, cs. Siapakah ulama salaf yang sependapat  dengan beliau dalam  masalah ini?Padahal sudah dinukil ijma’ (kata sepakat) dari para ulama  tentang  haramnya hal ini.&lt;br /&gt;Hujjah terakhir yang kami sampaikan, adakah ulama salaf di masa silam  yang menganggap bahwa  mengucapkan selamat pada perayaan non muslim  termasuk bentuk berbuat baik (ihsan) dan  dibolehkan, padahal  acara-acara semacam natalan dan perayaan non muslim sudah ada sejak masa   silam?! Di antara latar belakangnya karena tidak memahami surat  Mumtahanah ayat 8 dengan benar.  Tidak memahami manakah bentuk ihsan  (berbuat baik) dan bentuk wala’ (loyal). Dan sudah kami  utarakan bahwa  mengucapkan selamat pada perayaan non muslim termasuk bentuk wala’ dan   diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama (ijma’). Dan namanya ijma’  tidak pernah lepas dari  dari Al Qur’an dan As Sunnah sebagaimana  seringkali diutarakan oleh para ulama. &lt;i&gt;Hanya Allah yang  memberi taufik&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bentuk Interaksi yang Dibolehkan dengan Non Muslim&lt;/b&gt; [27]&lt;br /&gt;Agar tidak disalahpahami, sekarang kami akan utarakan beberapa hal  yang mestinya diketahui bahwa  hal-hal ini tidak termasuk loyal (wala’)  pada orang kafir. Dalam penjelasan kali ini akan dijelaskan bahwa  ada  sebagian bentuk muamalah dengan mereka yang hukumnya wajib, ada yang  sunnah dan ada yang  cuma sekedar dibolehkan.  Namun sebelumnya kita  harus mengetahui lebih dulu bahwa orang kafir itu ada empat macam:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Kafir &lt;i&gt;mu’ahid&lt;/i&gt; yaitu orang kafir yang tinggal di negeri mereka sendiri dan di antara mereka dan kaum  muslimin memiliki perjanjian.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kafir &lt;i&gt;dzimmi&lt;/i&gt; yaitu orang kafir yang tinggal di negeri kaum  muslimin dan sebagai gantinya mereka  mengeluarkan jizyah (semacam  upeti) sebagai kompensasi perlindungan kaum muslimin terhadap  mereka.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kafir &lt;i&gt;musta’man&lt;/i&gt; yaitu orang kafir masuk ke negeri kaum  muslimin dan diberi jaminan keamanan  oleh penguasa muslim atau dari  salah seorang muslim.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kafir &lt;i&gt;harbi&lt;/i&gt; yaitu orang kafir selain tiga jenis di atas.  Kaum muslimin disyari’atkan untuk memerangi  orang kafir semacam ini  sesuai dengan kemampuan mereka. [28]&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Adapun bentuk interaksi dengan orang kafir (selain kafir harbi) &lt;b&gt;yang diwajibkan&lt;/b&gt; adalah:&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;: Memberikan rasa aman kepada kafir dzimmi  dan kafir musta’man selama ia berada di negeri  kaum muslimin sampai ia  kembali ke negerinya. Dalilnya adalah firman Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt;,&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta  perlindungan kepadamu, maka lindungilah  ia supaya ia sempat mendengar  firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya.   Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.”&lt;/i&gt; (QS. At Taubah [9] : 6)&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;: Berlaku adil dalam memutuskan hukum antara  orang kafir dan kaum muslimin, jika mereka  berada di tengah-tengah  penerapan hukum Islam. Dalilnya adalah firman Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt;,&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang  yang selalu menegakkan (kebenaran)  karena Allah, menjadi saksi dengan  adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum,   mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil  itu lebih dekat kepada takwa. Dan  bertakwalah kepada Allah,  sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”&lt;/i&gt; (QS. Al  Maidah [5] : 8)&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketiga&lt;/b&gt;: Mendakwahi orang kafir untuk masuk Islam.&lt;br /&gt;Ini hukumnya fardhu kifayah, artinya jika sebagian  sudah mendakwahi  mereka maka yang lain gugur kewajibannya. Karena mendakwahi mereka  berarti  telah mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Hal ini  bisa dilakukan dengan menjenguk  mereka ketika sakit, sebagaimana  pernah dilakukan oleh Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; ketika  menjenguk anak kecil yang beragama Yahudi untuk diajak masuk Islam. Akhirnya ia pun masuk Islam.&lt;br /&gt;Dari Anas bin Malik —&lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt;—, ia berkata, “Dulu pernah ada seorang anak kecil Yahudi yang  mengabdi pada Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, lalu suatu saat ia sakit. Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;   lantas menjenguknya. Beliau duduk di dekat kepalanya, lalu beliau  mengatakan, “Masuklah Islam.”  Kemudian anak kecil itu melihat ayahnya  yang berada di sisinya. Lalu ayahnya mengatakan, “Taatilah  Abal Qosim  (yaitu Rasulullah) —&lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;—”. Akhirnya anak Yahudi tersebut masuk  Islam. Kemudian Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; keluar dari rumahnya dan berkata, “Segala puji bagi  Allah yang telah menyelamatkan anak tersebut dari siksa neraka.” [29]&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keempat&lt;/b&gt;: Diharamkan memaksa orang Yahudi, Nashrani dan kafir lainnya untuk masuk Islam.Karena  Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt; berfirman,&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada  jalan yang sesat.”&lt;/i&gt; (QS. Al Baqarah: 256).&lt;br /&gt;Ibnu Katsir mengatakan, “Janganlah memaksa seorang pun  untuk masuk  ke dalam Islam. Karena kebenaran Islam sudah begitu jelas dan gamblang.  Oleh karenanya  tidak perlu ada paksaan untuk memasuki Islam. Namun  barangsiapa yang Allah beri hidayah untuk  menerima Islam, hatinya  semakin terbuka dan mendapatkan cahaya Islam, maka ia berarti telah   memasuki Islam lewat petunjuk yang jelas. Akan tetapi, barangsiapa yang  masih tetap Allah butakan  hati, pendengaran dan penglihatannya, maka  tidak perlu ia dipaksa-paksa untuk masuk Islam.” [30]&lt;br /&gt;Cukup dengan sikap baik (ihsan) yang kita perbuat pada mereka membuat mereka tertarik pada Islam,  tanpa harus dipaksa.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kelima&lt;/b&gt;: Dilarang memukul atau membunuh orang kafir (selain kafir harbi). Karena Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi  wa sallam&lt;/i&gt; bersabda,  .&lt;br /&gt;“Siapa yang membunuh kafir mu’ahid ia tidak akan mencium bau surga.  Padahal sesungguhnya bau surga  itu tercium dari perjalanan empat puluh  tahun.” [31]&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keenam&lt;/b&gt;: Tidak boleh bagi seorang muslim pun menipu  orang kafir (selain kafir harbi) ketika melakukan  transaksi jual beli,  mengambil harta mereka tanpa jalan yang benar, dan wajib selalu memegang  amanat  di hadapan mereka. Karena Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; pernah bersabda,&lt;br /&gt;“Ingatlah! Barangsiapa berlaku zholim terhadap kafir Mu’ahid,  mengurangi haknya, membebani mereka  beban (jizyah) di luar kemampuannya  atau mengambil harta mereka tanpa keridhoan mereka, maka akulah   nantinya yang akan sebagai hujah mematahkan orang semacam itu.” [32]&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketujuh&lt;/b&gt;: Diharamkan seorang muslim menyakiti orang  kafir (selain kafir harbi) dengan perkataan dan  dilarang berdusta di  hadapan mereka. Jadi seorang muslim dituntut untuk bertutur kata dan  berakhlaq  yang mulia dengan non muslim selama tidak menampakkan rasa  cinta pada mereka. Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt;  berfirman,  .&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.”&lt;/i&gt; (QS. Al Baqarah: 83).&lt;br /&gt;Berkata yang baik di sini umum  kepada siapa saja.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kedelapan&lt;/b&gt;: Berbuat baik kepada tetangga yang kafir (selain kafir harbi) dan tidak mengganggu mereka.  Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda,&lt;br /&gt;“Jibril terus menerus memberi wasiat kepadaku mengenai tetangga  sampai-sampai aku kira tetangga  tersebut akan mendapat warisan.” [33]&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kesembila&lt;/b&gt;n: Wajib membalas salam apabila diberi salam oleh orang kafir. Namun balasannya adalah wa  ‘alaikum. [34] Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda,  .&lt;br /&gt;“Jika salah seorang dari Ahlul Kitab mengucapkan salam pada kalian,  maka balaslah: Wa ‘alaikum.” [35] Akan tetapi, kita dilarang memulai  mengucapkan salam lebih dulu pada mereka. Alasannya adalah sabda  Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;,&lt;br /&gt;“Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashrani dalam ucapan salam.” [36]&lt;br /&gt;Adapun bentuk interaksi dengan orang kafir (selain kafir harbi) &lt;b&gt;yang dibolehkan dan dianjurkan&lt;/b&gt; adalah:&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;: Dibolehkan mempekerjakan orang kafir dalam pekerjaan atau proyek kaum muslimin selama  tidak membahayakan kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;: Dianjurkan berbuat ihsan (baik) pada orang  kafir yang membutuhkan seperti memberi sedekah  kepada orang miskin di  antara mereka atau menolong orang sakit di antara mereka. Hal ini  berdasarkan  keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;“Menolong orang sakit yang masih hidup akan mendapatkan ganjaran pahala.” [37]&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketiga&lt;/b&gt;: Tetap menjalin hubungan dengan kerabat yang  kafir (seperti orang tua dan saudara) dengan  memberi hadiah atau  menziarahi mereka. Sebagaimana dalilnya telah kami jelaskan di atas.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keempat&lt;/b&gt;: Dibolehkan memberi hadiah pada orang kafir  agar membuat mereka tertarik untuk memeluk  Islam, atau ingin mendakwahi  mereka, atau ingin agar mereka tidak menyakiti kaum muslimin.   Sebagaimana dalilnya telah kami jelaskan di atas.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kelima&lt;/b&gt;: Dianjurkan bagi kaum muslimin untuk  memuliakan orang kafir ketika mereka bertamu  sebagaimana boleh bertamu  pada orang kafir dan bukan maksud diundang. Namun jika seorang muslim   diundang orang kafir dalam acara mereka, maka undangan tersebut tidak  perlu dipenuhi karena ini bisa  menimbulkan rasa cinta pada mereka.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keenam&lt;/b&gt;: Boleh bermuamalah dengan orang kafir dalam  urusan dunia seperti melakukan transaksi jual  beli yang mubah dengan  mereka atau mengambil ilmu dunia yang bernilai mubah yang mereka miliki   (tanpa harus pergi ke negeri kafir).&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketujuh&lt;/b&gt;: Diperbolehkan seorang pria muslim menikahi  wanita ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) selama  wanita tersebut adalah  wanita yang selalu menjaga kehormatannya serta tidak merusak agama si  suami  dan anak-anaknya. Sedangkan selain ahli kitab (seperti Hindu,  Budha, Konghucu) haram untuk dinikahi.  Dalilnya adalah firman Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt;,&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan  (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab  itu halal bagimu, dan  makanan kamu halal pula bagi mereka. &lt;u&gt;(Dan dihalalkan mengawini)  wanita-wanita  yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang  beriman dan wanita-wanita yang menjaga  kehormatan di antara orang-orang  yang diberi Al Kitab sebelum kamu&lt;/u&gt;.”&lt;/i&gt; (QS. Al Maidah [5] : 5).&lt;br /&gt;Ingat, seorang  pria muslim menikahi wanita ahli kitab hanyalah  dibolehkan dan bukan diwajibkan atau dianjurkan. Dan  sebaik-baik wanita  yang dinikahi oleh pria muslim tetaplah seorang wanita muslimah.&lt;br /&gt;Adapun wanita muslimah tidak boleh menikah dengan orang kafir mana  pun baik ahlul kitab (Yahudi  dan Nashrani) dan selain ahlul kitab  karena Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt; berfirman,&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Mereka (wanita muslimah) tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula  bagi mereka.”&lt;/i&gt; (QS. Al Mumtahanah [60] : 10)&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kedelapan&lt;/b&gt;: Boleh bagi kaum muslimin meminta  pertolongan pada orang kafir untuk menghalangi  musuh yang akan  memerangi kaum muslimin. Namun di sini dilakukan dengan dua syarat:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Ini adalah keadaan darurat sehingga terpaksa meminta tolong pada orang kafir.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang kafir tidak membuat bahaya dan makar pada kaum muslimin yang dibantu.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;b&gt;Kesembilan&lt;/b&gt;: Dibolehkan berobat dalam keadaan darurat ke negeri kafir.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kesepuluh&lt;/b&gt;: Dibolehkan menyalurkan zakat kepada orang  kafir yang ingin dilembutkan hatinya agar  tertarik pada Islam,  sebagaimana firman Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt;,&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir,  orang-orang miskin, pengurus-pengurus  zakat, orang-orang yang ingin  dibujuk hatinya.”&lt;/i&gt; (QS. At Taubah [9] : 60)&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kesebelas&lt;/b&gt;: Dibolehkan menerima hadiah dari orang  kafir selama tidak sampai timbul perendahan diri  pada orang kafir atau  wala’ (loyal pada mereka). Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa  sallam pernah  menerima hadiah dari beberapa orang musyrik. Namun ingat,  jika hadiah yang diberikan tersebut  berkenaan dengan hari raya orang  kafir, maka sudah sepantasnya tidak diterima.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Inti dari pembahasan ini adalah tidak selamanya berbuat baik pada  orang kafir berarti harus loyal  dengan mereka, bahkan tidak mesti  sampai mengorbankan agama. Kita bisa berbuat baik dengan hal- hal yang  dibolehkan bahkan dianjurkan atau diwajibkan sebagaimana yang telah kami  sebutkan di atas.&lt;br /&gt;Semoga Allah selalu menunjuki kita pada jalan yang lurus. Hanya Allah yang beri taufik.&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.&lt;br /&gt;Al Faqir Ilallah: &lt;b&gt;Muhammad Abduh Tuasikal&lt;/b&gt; (&lt;a href="http://rumaysho.com/"&gt;rumaysho.com&lt;/a&gt;/&lt;a href="http://muslim.or.id/"&gt;muslim.or.id&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;Panggang, Gunung Kidul, 25 Dzulhijah 1430 H&lt;br /&gt;&lt;i&gt;footnote:&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Sebagian ulama pakar tafsir (seperti Qotadah) menyatakan bahwa  surat Al Mumtahanah ayat 8 berlaku untuk semua orang kafir. Jadi kita  diperintahkan untuk berlaku baik dengan orang kafir. Namun menurut  pendapat ini, ayat tersebut telah mansukh (dihapus) dengan surat At  Taubah ayat 5 yang memerintahkan untuk memerangi orang kafir (Lihat  Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, 6/19,Mawqi’ Al Islam). Akan tetapi, pakar  tafsir lainnya tetap menyatakan bahwa surat Al Mumtahanah ayat 8 adalah  ayat yang tidak mansukh dan mereka berdalil dengan kisah Asma’ binti Abu  Bakr (Lihat Tafsir Juz Qod Sami’a , Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, hal.  170, Maktabah Makkah, cetakan pertama, tahun 2003 ).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kebanyakan ulama mengatakan bahwa ibu Asma’ mati dalam keadaan  musyrik. Sebagian ulama mengatakan bahwa ibunya mati dalam keadaan  Islam. Nama ibu Asma’ ada yang menyebut Qoylah dan ada pula yang  menyebut Qotilah. (Lihat Syarh Muslim, An Nawawi, 7/89, Dar Ihya’ At  Turots Al Arobi, Beirut, cetakan kedua, 1392). Qotilah adalah istri Abu  Bakr yang sudah dicerai di masa Jahiliyah. (Lihat ‘Umdatul Qori Syarh  Shahih Al Bukhari, Badaruddin Al ‘Aini Al Hanafi, 20/169, Asy Syamilah)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, 8/236-237, Al Maktab Al Islami Beirut, cetakan ketiga, tahun 1404 H.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Makna ini berdasarkan riwayat Abu Daud. Al Qodhi mengatakan bahwa  makna lain dari roghibah adalah benci dengan Islam. Jadi, ibunda Asma’  sangat benci dengan Islam, sehingga ia pun bertanya pada Rasul  shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah masih boleh ia menjalin hubungan  dengan ibunya. Lihat Syarh Muslim, An Nawawi, 7/89.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;HR. Bukhari no. 5798.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jaami’ul Bayan fii Ta’wilil Qur’an, Ibnu Jarir Ath Thobari,  Muhaqqiq: Ahmad Muhammad Syakir, 23/323, Muassasah Ar Risalah, cetakan  pertama tahun 1420 H.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Muhaqqiq: Sami bin  Muhammad Salamah, 8/90, terbitan Dar At Thoyibah, cetakan kedua, 1420 H.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lihat Al Wala’ wal Baro’, Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qahthani, hal. 307, Asy Syamilah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lihat Al Muhalla, Ibnu Hazm, 11/138, Mawqi’ Ya’sub.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mafatihul Ghoib, Fakhruddin Ar Rozi, 15/325, Mawqi’ At Tafasir.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Fathul Bari Syarh Shohih Al Bukhari, Ibnu Hajar Al ‘Asqolani Asy Syafi’i, 5/233, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tafsir Juz Qod Sami’a , Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, hal. 166, Maktabah Makkah, cetakan pertama, tahun 2003.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Saudara ‘Umar ini bernama ‘Utsman bin Hakim, dia adalah saudara  seibu dengan ‘Umar. Ibu ‘Umar bernama Khoitsamah binti Hisyam bin Al  Mughiroh. Lihat Fathul Bari, 5/233.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;HR. Bukhari no. 2619.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;HR. Bukhari no. 2620.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;HR. Muslim no. 2556.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lihat pembahasan Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qahthani dalam Al Wala’ wal Baro’, hal. 303, Asy Syamilah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Adabul Mufrod no. 95/128. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat  ini shahih. Lihat Al Irwa’ (891): [Abu Dawud: 40-Kitab Al Adab, 123-Fii  Haqqil Jiwar. At Tirmidzi: 25-Kitab Al Birr wash Shilah, 28-Bab Maa  Jaa-a fii Haqqil Jiwaar]&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kami olah dari Tahdzib Tashil Al ‘Aqidah Al Islamiyah, Prof.  ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al Jibrin, hal. 224-229, Maktabah Al Mulk  Fahd Al Wathoniyah, cetakan pertama, 1425 H.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lihat penukilan ijma’ (kesepakatan ulama) yang disampaikan oleh  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidho’ Ash Shirotil Mustaqim,  1/363, Wazarotu Asy Syu-un Al Islamiyah, cetakan ketujuh, tahun 1417 H.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ (1/269)  mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani  mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no.  1269&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 4/484, Mawqi’ Al Islam.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lihat Iqtidho’ Ash Shiroth Al Mustaqim, 1/483.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ahkam Ahli Dzimmah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/441, Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1418 H.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin, 3/28-29, no. 404, Asy Syamilah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Semacam Yusuf Qardhawi, begitu pula Lembaga Riset dan Fatwa Eropa.  Juga yang melegalkan ucapan selamat natal pada Nashrani adalah Quraish  Shihab.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kami olah dari Tahdzib Tashil Al ‘Aqidah Al Islamiyah, hal. 232-242.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lihat Tahdzib Tashil Al ‘Aqidah Al Islamiyah, hal. 232-234.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;HR. Bukhari no. 1356.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 1/682, Dar Thoyyibah, cetakan kedua, tahun 1420 H.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;HR. Bukhari no. 3166.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;HR. Abu Daud no. 3052. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini  shahih. Lihat penjelasan hadits ini dalam Muroqotul Mafatih Syarh  Misykatul Mashobih, Al Mala ‘Ala Qori, 12/284, Mawqi’ Al Misykah Al  Islamiyah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;HR. Bukhari no. 6014 dan Muslim no. 2625, dari ‘Aisyah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Namun sebagian ulama menjelaskan bahwa jika ahlul kitab mengucapkan  salamnya itu tegas “Assalamu’’alaikum”, maka jawabannya adalah tetap  semisal dengannya yaitu: “Wa’alaikumus salam.” Alasannya adalah firman  Allah Ta’ala (yang artinya), “Apabila kamu diberi penghormatan dengan  sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih  baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).”  (QS. An Nisa’: 86). Sebagaimana hal ini adalah pendapat Syaikh Muhammad  bin Shalih Al ‘Utsaimin.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;HR. Bukhari no. 6258 dan Muslim no. 2163, dari Anas bin Malik.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;HR. Tirmidzi no. 1602 dan Ahmad (2/266). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;HR. Bukhari no. 2466 dan Muslim no. 2244.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-2818376394670386377?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/2818376394670386377/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/mengucapkan-selamat-natal-dianggap.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/2818376394670386377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/2818376394670386377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/mengucapkan-selamat-natal-dianggap.html' title='Mengucapkan Selamat Natal Dianggap Amalan Baik?'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-5082484667147157165</id><published>2010-12-21T13:26:00.008+07:00</published><updated>2010-12-24T05:23:05.029+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kegiatan'/><title type='text'>Musyawarah Tahunan Wahdah Bandung</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://nasihatuntukwahdah.files.wordpress.com/2010/01/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="179" src="http://nasihatuntukwahdah.files.wordpress.com/2010/01/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="goog_398303384"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="goog_398303385"&gt;&lt;/span&gt;Mari kita sukseskan Musyawarah Tahunan DPC Wahdah Islamiyah Bandung, yang insya Allah akan digelar sabtu, 25 Desember 2010 Pukul.08.00 WIB – selesai, bertempat di Komp. Markaaz Wahdah Islamiyah Bandung Jl. Asri Ciparungpung RT.07/07 Kel. Padasuka Kec. Cimenyan Kab. Bandung.  &lt;br /&gt;Acara ini akan diikuti seluruh unsur DPC Wahdah Islamiyah Bandung,  terdiri atas pengurus harian, kader, dan simpatisan.&amp;nbsp; Adapun agenda yang  akan dibahas pada musyawarah tahunan tersebut berupa program kerja  tahun 2011, laporan pertanggungjawaban kepengurusan pada tahun 2010,  serta strategi-strategi dakwah yang akan dikembangkan menyongsong  Muktamar 2011 di Makassar dan Muktamar 2015 yang rencananya digelar di  Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharapkan tahun 2011 ini menjadi tahun kaderisasi,&amp;nbsp; yang mana  setiap kegiatan ataupun program kerja mengacu kepada bertambahnya jumlah  kader secara signifikan, yang dapat mengemban amanah kerja dakwah.  Contact Person : 0838 2206 6869&amp;nbsp; (bud)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-5082484667147157165?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/5082484667147157165/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/musyawarah-tahunan-wahdah-bandung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/5082484667147157165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/5082484667147157165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/musyawarah-tahunan-wahdah-bandung.html' title='Musyawarah Tahunan Wahdah Bandung'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-967949998839175016</id><published>2010-12-18T10:42:00.004+07:00</published><updated>2010-12-18T10:42:00.149+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PendidikanAnak'/><title type='text'>Anak Nakal, Bagaimana Mengatasinya? (3/3): Beberapa Contoh Cara Mendidik Anak yang Nakal</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.ecosalon.com/wp-content/uploads/2009/03/baby-hands.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="234" src="http://www.ecosalon.com/wp-content/uploads/2009/03/baby-hands.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Beberapa contoh cara mendidik anak yang nakal&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Syariat Islam yang agung mengajarkan kepada umatnya beberapa cara  pendidikan bagi anak yang bisa ditempuh untuk meluruskan penyimpangan  akhlaknya. Di antara cara-cara tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="more-293"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertama, teguran dan nasihat yang baik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ini termasuk metode pendidikan yang sangat baik dan bermanfaat untuk  meluruskan kesalahan anak. Metode ini sering dipraktikkan langsung oleh  pendidik terbesar bagi umat ini, Nabi Muhammad &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, misalnya ketika beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; melihat seorang anak kecil yang ketika sedang makan menjulurkan tangannya ke berbagai sisi nampan makanan, maka beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda, “&lt;i&gt;Wahai  anak kecil, sebutlah nama Allah (sebelum makan), dan makanlah dengan  tangan kananmu, serta makanlah (makanan) yang ada di hadapanmu.&lt;/i&gt;“&lt;a href="http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/#_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Serta dalam hadits yang terkenal, Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda kepada anak paman beliau, Abdullah bin ‘Abbas &lt;i&gt;radhiallahu ‘anhuma&lt;/i&gt;, “&lt;i&gt;Wahai anak kecil, sesungguhnya aku ingin mengajarkan beberapa kalimat (nasihat) kepadamu: jagalah (batasan-batasan/&lt;/i&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;i&gt;syariat) Allah maka Dia akan menjagamu, jagalah (batasan-batasan/ &lt;/i&gt;&lt;i&gt;syariat) Allah maka kamu akan mendapati-Nya dihadapanmu&lt;/i&gt;.”&lt;a href="http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/#_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kedua, menggantung tongkat atau alat pemukul lainnya di dinding rumah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ini bertujuan untuk mendidik anak-anak agar mereka takut melakukan hal-hal yang tercela.&lt;br /&gt;Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; menganjurkan ini dalam sabda beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, “&lt;i&gt;Gantungkanlah cambuk (alat pemukul) di tempat yang terlihat oleh penghuni rumah, karena itu merupakan pendidikan bagi mereka&lt;/i&gt;.”&lt;a href="http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/#_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bukanlah maksud hadits ini agar orangtua sering memukul anggota  keluarganya, tapi maksudnya adalah sekadar membuat anggota keluarga  takut terhadap ancaman tersebut, sehingga mereka meninggalkan perbuatan  buruk dan tercela.&lt;a href="http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/#_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnul Anbari berkata, “Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; tidak memaksudkan dengan perintah untuk menggantungkan cambuk (alat pemukul) untuk memukul, karena beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;  tidak memerintahkan hal itu kepada seorang pun. Akan tetapi, yang  beliau maksud adalah agar hal itu menjadi pendidikan bagi mereka.”&lt;a href="http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/#_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak cara pendidikan bagi anak yang dicontohkan dalam sunnah Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;. Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu&lt;a href="http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/#_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt;  menyebutkan beberapa di antaranya, seperti: menampakkan muka masam  untuk menunjukkan ketidaksukaan, mencela atau menegur dengan suara  keras, berpaling atau tidak menegur dalam jangka waktu tertentu, memberi  hukuman ringan yang tidak melanggar syariat, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bolehkah memukul anak yang nakal untuk mendidiknya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda, “&lt;i&gt;Perintahkanlah  kepada anak-anakmu untuk (melaksanakan) shalat (lima waktu) sewaktu  mereka berumur tujuh tahun, pukullah mereka karena (meninggalkan) shalat  (lima waktu) jika mereka (telah) berumur sepuluh tahun, serta  pisahkanlah tempat tidur mereka.&lt;/i&gt;“&lt;a href="http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/#_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini menunjukkan bolehnya memukul anak untuk mendidik mereka  jika mereka melakukan perbuatan yang melanggar syariat, jika anak  tersebut telah mencapai usia yang memungkinkannya bisa menerima pukulan  dan mengambil pelajaran darinya –dan ini biasanya di usia sepuluh tahun.  Dengan syarat, pukulan tersebut tidak terlalu keras dan tidak pada  wajah.&lt;a href="http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/#_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin ketika ditanya, “Bolehkah  menghukum anak yang melakukan kesalahan dengan memukulnya atau  meletakkan sesuatu yang pahit atau pedis di mulutnya, seperti cabai/  lombok?”, beliau menjawab, “Adapun mendidik (menghukum) anak dengan  memukulnya, maka ini diperbolehkan (dalam agama Islam) jika anak  tersebut telah mencapai usia yang memungkinkannya untuk mengambil  pelajaran dari pukulan tersebut, dan ini biasanya di usia sepuluh tahun.&lt;br /&gt;Adapun memberikan sesuatu yang pedis (di mulutnya) maka ini tidak  boleh, karena ini bisa jadi mempengaruhinya (mencelakakannya). Berbeda  dengan pukulan yang dilakukan pada badan maka ini tidak mengapa  (dilakukan) jika anak tersebut bisa mengambil pelajaran darinya, dan  (tentu saja) pukulan tersebut tidak terlalu keras.&lt;br /&gt;Untuk anak yang berusia kurang dari sepuluh tahun, hendaknya dilihat (kondisinya), karena Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;  hanya membolehkan untuk memukul anak (berusia) sepuluh tahun karena  meninggalkan shalat. Maka, yang berumur kurang dari sepuluh tahun  hendaknya dilihat (kondisinya). Terkadang, seorang anak kecil yang belum  mencapai usia sepuluh tahun memiliki pemahaman (yang baik), kecerdasan  dan tubuh yang besar (kuat) sehingga bisa menerima pukulan, celaan, dan  pelajaran darinya (maka anak seperti ini boleh dipukul), dan terkadang  ada anak kecil yang tidak seperti itu (maka anak seperti ini tidak boleh  dipukul).”&lt;a href="http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/#_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Cara-cara menghukum anak yang tidak dibenarkan dalam Islam&lt;/b&gt;&lt;a href="http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/#_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di antara cara tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Memukul wajah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ini dilarang oleh Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; dalam sabda beliau, yang artinya, “&lt;i&gt;Jika salah seorang dari kalian memukul&lt;/i&gt;&lt;i&gt;,&lt;/i&gt;&lt;i&gt; maka hendaknya dia menjauhi (memukul) wajah&lt;/i&gt;.”&lt;a href="http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/#_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Memukul yang terlalu keras sehingga berbekas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ini juga dilarang oleh Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; dalam hadits yang shahih.&lt;a href="http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/#_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Memukul dalam keadaan sangat marah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ini juga dilarang karena dikhawatirkan lepas kontrol sehingga memukul secara berlebihan.&lt;br /&gt;Dari Abu Mas’ud al-Badri, dia berkata, “(Suatu hari) aku memukul  budakku (yang masih kecil) dengan cemeti, maka aku mendengar suara  (teguran) dari belakangku, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud!’ Akan tetapi,  aku tidak mengenali suara tersebut karena kemarahan (yang sangat).  Ketika pemilik suara itu mendekat dariku, maka ternyata dia adalah  Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, dan beliau yang  berkata, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud!’  Maka aku pun melempar cemeti dari tanganku, kemudian beliau bersabda, &lt;i&gt;‘Ketahuilah,  wahai Abu Mas’ud! Sesungguhnya Allah lebih mampu untuk (menyiksa) kamu  daripada kamu terhadap budak ini,’ maka aku pun berkata, ‘Aku tidak akan  memukul budak selamanya setelah (hari) ini.&lt;/i&gt;‘”&lt;a href="http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/#_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Bersikap terlalu keras dan kasar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sikap ini jelas bertentangan dengan sifat lemah lembut yang merupakan sebab datangnya kebaikan, sebagaimana sabda Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, “&lt;i&gt;Barangsiapa yang terhalang dari (sifat) lemah lembut&lt;/i&gt;&lt;i&gt;,&lt;/i&gt;&lt;i&gt; maka (sungguh) dia akan terhalang dari (mendapat) kebaikan&lt;/i&gt;.”&lt;a href="http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/#_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. Menampakkan kemarahan yang sangat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ini juga dilarang karena bertentangan dengan petunjuk Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, “&lt;i&gt;Bukanlah  orang yang kuat itu (diukur) dengan (kekuatan) bergulat (berkelahi),&amp;nbsp;  tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.&lt;/i&gt;“&lt;a href="http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/#_ftn15"&gt;[15]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penutup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah bimbingan yang mulia dalam syariat Islam tentang cara  mengatasi penyimpangan akhlak pada anak, dan tentu saja taufik untuk  mencapai keberhasilan dalam amalan mulia ini ada di tangan Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/i&gt;. Oleh karena itu, banyak berdoa dan memohon kepada-Nya merupakan faktor penentu yang paling utama dalam hal ini.&lt;br /&gt;Akhirnya, kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/i&gt;  dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha  sempurna, agar dia senantiasa menganugerahkan kepada kita taufik-Nya  untuk memahami dan mengamalkan petunjuk-Nya dalam mendidik dan membina  keluarga kita, untuk kebaikan hidup kita semua di dunia dan akhirat.  Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.&lt;br /&gt;&lt;div class="arab" style="text-align: right;"&gt;وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين&lt;/div&gt;Kota Kendari, 9 Dzulhijjah 1431 H,&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim, M.A&lt;br /&gt;Artikel &lt;a href="http://www.manisnyaiman.com/"&gt;www.manisnyaiman.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr size="1" /&gt;&lt;a href="http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/#_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Hadits shahih riwayat Al-Bukhari no. 5061, dan Muslim no. 2022. &lt;a href="http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/#_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;  Hadits riwayat At-Tirmidzi no. 2516, Ahmad: 1/293), dan lain-lain;  dinyatakan shahih oleh Imam At-Tirmidzi dan Syekh Al-Albani dalam &lt;i&gt;Shahihul Jami’ish Shagir,&lt;/i&gt; no. 7957.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/#_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Hadits riwayat Abdur Razzaq dalam &lt;i&gt;Al-Mushannaf&lt;/i&gt;: 9/477 dan Ath-Thabrani dalam &lt;i&gt;Al-Mu’jamul Kabir&lt;/i&gt; no. 10671; dinyatakan hasan oleh Al-Haitsami dan Al-Albani dalam &lt;i&gt;Ash-Shahihah,&lt;/i&gt; no. 1447.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/#_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Lihat kitab &lt;i&gt;Nida`un ilal Murabbiyyina wal Murabbiyyat&lt;/i&gt;, hlm. 97.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/#_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Dinukil oleh Imam Al-Munawi dalam kitab &lt;i&gt;Faidhul Qadir&lt;/i&gt;: 4/325.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/#_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Dalam kitab beliau &lt;i&gt;Nida`un ilal Murabbiyyina wal Murabbiyyat&lt;/i&gt;, hlm. 95–97.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/#_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Hadits riwayat Abu Daud, no. 495; dinyatakan shahih oleh Syekh Al-Albani.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/#_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Lihat kitab &lt;i&gt;Tuhfatul Ahwadzi&lt;/i&gt;: 2/370.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/#_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Kitab &lt;i&gt;Majmu’atul As`ilah Tahummul Usratal Muslimah&lt;/i&gt;, hlm. 149–150.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/#_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt; Lihat kitab &lt;i&gt;Nida`un ilal Murabbiyyina wal Murabbiyyat&lt;/i&gt;, hlm. 89–91.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/#_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Hadits riwayat Abu Daud, no. 4493; dinyatakan shahih oleh Syekh Al-Albani.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/#_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Hadits shahih riwayat Muslim, no. 1218.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/#_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt; Hadits shahih riwayat Muslim, no. 1659.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/#_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt; Hadits shahih riwayat Muslim, no. 2529.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/#_ftnref15"&gt;[15]&lt;/a&gt; Hadits shahih riwayat Al-Bukhari no. 5763, dan Muslim no. 2609.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-967949998839175016?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/967949998839175016/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/anak-nakal-bagaimana-mengatasinya-33.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/967949998839175016'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/967949998839175016'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/anak-nakal-bagaimana-mengatasinya-33.html' title='Anak Nakal, Bagaimana Mengatasinya? (3/3): Beberapa Contoh Cara Mendidik Anak yang Nakal'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-2155519898528443090</id><published>2010-12-15T10:05:00.005+07:00</published><updated>2010-12-15T10:05:00.412+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPS'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MuSLiMaH'/><title type='text'>Jangan Jadi "Miss Komplain"</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/stop-complaining.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/stop-complaining.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Pernahkah Anda menghitung berapa kali Anda mengeluh dalam satu hari,  mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Jika dibuat daftarnya, bisa  jadi sepanjang hari itu kita lebih banyak mengeluh dari hal-hal yang  sepele di rumah sampai hal-hal yang berat di tempat kerja atau di  lingkungan tempat kita tinggal. &lt;br /&gt;Suatu hal yang wajar jika sesekali kita mengeluh, karena sudah  menjadi kodrat manusia suka berkelu kesah seperti disebutkan dalam Surat  Al-Ma'arij ayat 19-21, "Sesungguhnya manusia itu diciptakan dengan  sifat suka mengeluh. Apabila ditimpa musibah dia mengeluh dan apabila  ditimpa kesenangan berupa harta ia jadi kikir."  Tapi yang sering  terjadi adalah, tidak ditimpa musibah pun kita kadang sering mengeluh.  Jalanan macet kita mengeluh, padahal kita tahu bahwa kemacetan adalah  pemandangan sehari-hari di kota Jakarta. Pekerjaan rumah tangga menumpuk  karena tidak ada pembantu, kita mengeluh. Anak rewel, kita mengeluh.  Tugas di kantor bertambah, kita mengeluh. Seolah semua hal jadi bahan  keluhan.&lt;br /&gt;Padahal kalau ditelaah, banyak hal-hal yang kita keluhkan hanyalah  urusan dunia, karena ketidakpuasan kita terhadap hal-hal yang bersifat  duniawi. Tapi manusia memang sudah terbiasa banyak mengeluh, hingga  kadang lupa mensyukuri hal-hal yang kita anggap tidak penting padahal  sangat penting.  Sebut saja nikmat sehat. Pernahkah kita bersujud dan  mengucap syukur dengan tulus karena Allah telah memberi nikmat sehat  setiap hari sehingga kita bisa melakukan aktivitas dengan lancar. Jika  pun ada hambatan, seharusnya tidak membuat kita jadi mengeluh tapi  melihatnya sebagai ujian dan tantangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai makhluk yang lemah, setiap manusia tentu saja suatu waktu  pernah mengeluh, sadar atau tidak sadar. Asalkan tidak menjadi kebiasaan  dan akhirnya menjadi karakter yang bakal sulit dihapus dari kepribadian  seseorang. Orang yang memiliki karakter suka mengeluh akan berdampak  pada munculnya suasana yang tidak nyaman bagi lingkungan dan orang di  sekitarnya. Pernahkah Anda berjumpa dengan orang yang tabiatnya suka  mengeluh dan Anda merasakan sangat tidak nyaman bahkan jengkel berada di  dekatnya.&lt;br /&gt;Kita memang harus waspada dengan sifat suka mengeluh ini, jika tidak  ingin sifat buruk ini menjelma menjadi bagian dari karakter. Untuk itu  perlu latihan pengendalian diri agar tidak selalu melontarkan keluhan   Bagaimana caranya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Biasakan menyampaikan keluh kesah pada Allah semata&lt;br /&gt;Ketika kita ditimpa kemalangan atau musibah, lebih baik kita  menyampaikan keluh kesah dan kegundahan hati kita pada Allah Swt. Karena  Dia-lah Yang Mahatahu segala persoalan dan kegundahan dalam jiwa kita.  "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan  kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada  mengetahuinya," (QS Yusuf;86).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kita bisa berkeluh kesah pada orang lain, hanya jika keluh kesah itu merupakan hal yang penting.&lt;br /&gt;Ini mungkin berkaitan dengan upaya Anda untuk mendapatkan hak Anda, atau  hak orang lain yang Anda kenal. Kadang memiliki keluhan dan  menyampaikan keluhan pada orang lain itu penting, asalkan disampaikan  dengan baik-baik dan tidak berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bicarakan solusi yang praktis&lt;br /&gt;Daripada mengeluh tiada akhir, lebih baik memikirkan atau membicarakan  solusi praktis atas permasalahan yang kita hadapi. Tidak ada masalah  yang tidak bisa dicari solusinya. Jika menemui jalan buntu, mohonlah  bantuan pada Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Jangan membesar-besarkan hal yang kecil&lt;br /&gt;Anas bin Malik berkata, "Saya melayani Rasululullah Saw. selama dua  puluh tahun dan beliau tidak pernah mengatakan 'ahh' pada saya. Dan  beliau tidak pernah mengatakan apapun yang tidak saya lakukan, 'mengapa  kamu tidak melakukannya?' atau apapun yang telah saya lakukan, 'mengapa  engkau melakukan itu?'" (HR Muslim). Jadi biarkan saja hal-hal sepele  yang tidak penting itu lenyap dan tidak lagi mengganggu pikiran kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Bicaralah tentang nikmat Allah&lt;br /&gt;Daripada memilih membicarakan segala sesuatu yang salah dalam hidup  Anda, pilihlah topik pembicaraan tentang hal-hal yang menyenangkan dalam  hidup Anda. Dengan bersikap seperti ini,  bukan hanya membantu Anda  menghindar dari keluhan, tapi juga mematuhi perintah Allah untuk selalu  mensyukuri nikmat Allah, "Lalu nikmat Allah manakah yang engkau  dustakan?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Ingatlah mereka yang kurang beruntung&lt;br /&gt;Salah satu cara untuk menyentak kita kembali untuk melihat realitas dan  menghargai berkah yang Allah berikan pada kita adalah mengingat mereka  yang kurang beruntung dari kita.. Bacalah berita-berita tentang orang  lain yang menderita di Asia, Afrika, dan seluruh dunia. Bacalah tentang  kehidupan anak yatim piatu di Palestina, tentang  kehidupan para  tunawisma di lingkungan kita sendiri. Sesekali berinteraksilah dengan  mereka dan jangan menenggelamkan diri dalam rasa putus asa, tetapi  menggunakan cerita mereka sebagai alat untuk bersyukur dan bersyukur  kepada Allah atas apa yang kita miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Kurangi stres dalam hidup Anda&lt;br /&gt;Kita  mungkin mengeluh karena kita mengalami stres yang cukup berat  dalam kehidupan ini.  Anda perlu tempat untuk menyendiri.  Berhentilah  sejenak,  carilah tempat yang tenang  untuk bersantai,  duduk di ruang  yang gelap, tarik napas dalam-dalam  selama beberapa menit,  berjalan-jalan di luar rumah, mendengarkan lagu-lagu nasheed dan membaca  beberapa Al Qur'an akan memberikan ketenangan bagi hati dan pikiran  yang sedang tertekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Bacalah kisah-kisah dalam Sirah, catatlah bagian-bagian yang  penting dan pengalaman para nabi, sahabat nabi dan generasi-generasi  muslim di masa lalu, belajarlah dari pengalaman, sikap dan cara mereka  menghadapi masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Bicarakan masalah-masalah lain yang lebih penting&lt;br /&gt;Misalnya hal-hal baru yang mengundang minat Anda untuk belajar,  proyek-proyek untuk pekerjaan Anda atau pengalaman jalan-jalan melihat  keindahan alam yang membuat Anda merenungkan keindahan ciptaan Yang  Mahakuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Ceritakan pengalaman-pengalaman  lucu yang pernah Anda alami, asal bukan cerita bohong.&lt;br /&gt;Ketika berkumpul bersama teman atau keluarga, akan lebih ceria jika kita  mendengar cerita-cerita lucu daripada mendengar keluhan, yang mereka   sendiri tidak bisa membantu memberikan jalan keluar. Ceritakanlah   hal-hal ringan yang lucu dan berkesan yang pernah Anda alami, ini akan  membuat suasana dan orang di sekeliling Anda lebih menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Kenali sikap suka mengeluh yang jadi kebiasaan&lt;br /&gt;Perhatikanlah selalu perkataan kita dari waktu ke waktu,  apakah kita  merasakan bahwa mengeluh lebih merupakan kebiasaan dari suatu usaha yang  berguna? Mengakui hal itu sebagai kebiasaan adalah langkah pertama yang  penting untuk mulai melawan sikap suka mengeluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Cari lingkungan yang lebih baik&lt;br /&gt;Apakah kita  merasakan lebih banyak mengeluh jika kita berada di sekitar  orang-orang tertentu? Mungkin itu karena kita tidak  memiliki banyak  kesamaan minat dengan orang-orang tersebut, atau karena mereka tidak  tertarik untuk bersikap positif dan berterima kasih. Jika itu terjadi,  maka sudah saatnya kita mencari lingkungan teman  yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Sedikit Bicara&lt;br /&gt;Umumnya, jika kita sudah mencoba segala sesuatu yang kita pikirkan dan  masih menemukan diri kita terlalu banyak mengeluh,  mungkin itu karena  kita sudah terlalu banyak bicara.  Jangan biarkan setan yang mengarahkan  kita untuk bicara hal-hal yang tidak berguna atau berbahaya.  Pertahankanlah kelembaban lidah dengan selalu mengingat Allah.  Bertobatlah kepada-Nya dan bershalawatlah atas nama Rasulullah Saw.  sesering mungkin. (ln/sismagz/eramuslim.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-2155519898528443090?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/2155519898528443090/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/jangan-jadi-miss-komplain.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/2155519898528443090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/2155519898528443090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/jangan-jadi-miss-komplain.html' title='Jangan Jadi &quot;Miss Komplain&quot;'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-2978240678856397443</id><published>2010-12-13T09:37:00.000+07:00</published><updated>2010-12-13T09:37:31.473+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ReNunGaN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Dunia Maya Memesonakannya</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://ragitawulan.files.wordpress.com/2010/10/internet.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="206" src="http://ragitawulan.files.wordpress.com/2010/10/internet.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;Oleh&lt;/em&gt; &lt;b&gt;Anung  Umar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ia seorang ikhwan yang &lt;em&gt;iltizam&lt;/em&gt; terhadap din. Penghafal  Al-Quran yang juga sangat bersemangat dalam mempelajari sunnah Nabi,  mempraktekkannya dan mendakwahkannya dalam kehidupan sehari-hari.  Bolehlah sebut dia sebagai aktivis dakwah. Dengan cahaya ilmu dan amal  yang menghiasi dirinya, maka tak bisa ditampik lagi, berbagai pujian pun  mengalir untuknya. Keluarga, teman-teman dan orang yang mengenalnya  memujinya.  “Saleh” , “zuhud” , “alim” dan berbagai atribut sanjungan  lainnya mereka sematkan untuknya.&lt;br /&gt;Demikianlah keadaannya. Sampai ketika ia telah mengenal internet, di  sinilah perubahan itu bermula. Ia yang walaupun latar belakangnya dari  sekolah umum, namun sejak mengenal dakwah dan tarbiyah sudah mulai  menjaga jarak dari lawan jenis, bahkan terputuslah komunikasi antaranya  dengan lawan jenis, kecuali bila darurat atau ada hajat yang perlu  ditunaikan. Tatkala ia membuka dan menjelajahi dunia maya, terkesiaplah  ia. Ia melihat dunia baru yang belum pernah dikenalnya sebelumnya.&lt;br /&gt;Ia terpana menyaksikan interaksi antara (sebagian) ikhwan dan akhwat  di “dunia baru” ini. Kalau hubungan antara (sebagian) ikhwan dan akhwat  terasa “dingin” di dunia nyata, namun di dunia maya, justru  “kehangatan”lah yang terasa. Sekat yang selama ini membatasi pergaulan  Ikhwan-akhwat dalam dunia nyata, seolah-olah tak teraba di dunia maya.   Para ikhwan yang selama ini  “kaku”, “jaim (jaga image)” di depan  akhwat, begitu juga sebaliknya, namun di dunia maya semua itu seakan  tinggal cerita. Yang ia saksikan justru “keramahan”: saling menyapa,  canda dan curhat mesra. ”Pesona” seperti inilah yang ia saksikan hampir  setiap hari di dunia maya. Terlihat “indah” memang. Namun, baginya  “pesona” itu hanyalah kamuflase atau fatamorgana yang menipu. Ia tak  menghiraukannya. Ia tetap istiqamah dalam ilmu dan amalnya.&lt;br /&gt;Akan tetapi, betapapun jernihnya kaca, bila selalu terkena debu maka  akan kusam pula akhirnya. Meskipun ia mengingkari “pesona” yang ada di  depan matanya, namun ketika “pesona” itu berulang-ulang disaksikannya  sehari-hari, tanpa disadari “pesona” itu meronai benaknya dan bergelayut  di hatinya. Jadilah “pesona” itu seakan magnet yang menariknya untuk  menghampiri dan menyambutnya.  Maka tatkala luapan “pesona” itu telah  tertambat kuat di hatinya dan membuncah di dadanya, tak sanggup lagilah  ia untuk menjauhinya . Ia pun menghampiri blog-blog para akhwat demi  “maslahat dakwah”. Ia buka chatting dengan lawan jenis untuk suatu  tujuan yang namanya “hidayah”.&lt;br /&gt;Tak dinyana, ada “kehangatan” tersendiri baginya ketika itu. Maka ia  pun makin bersemangat memberikan faidah atau nasehat kepada lawan  jenisnya melalui komentar di blog maupun chatting. Demikianlah  seterusnya, nasihat demi nasihat selalu mengalir darinya. Setelah  berlalu beberapa waktu  dilanjutkan dengan “nasihat akrab”: nasihat  dengan sedikit canda agar menghilangkan “kekakuan”. Demikian seterusnya.  Sampai akhirnya ia mengunjungi blog-blog para akhwat dan chatting  dengan mereka hanya sekedar untuk bercanda, mengisi waktu luang dan  mengobati kejenuhan.&lt;br /&gt;Tanpa terasa adab-adab berbicara terhadap lawan jenis makin  dilalaikan. Ilmu dan amal yang selama ini dikerjakan mulai ditinggalkan.  Akhirnya pikirannya dipenuhi dengan “pesona dakwah“ yang dijalankannya.  Di hatinya tersemai rindu untuk bertemu dengan “mad’u”nya. Bila satu  hari saja tidak memberi “nasehat”, kegalauan mengurung hatinya dan  menyesakkan dadanya.&lt;br /&gt;Tak terasa hafalan Al-Qurannya pun terganggu. Kekhusyukannya dalam  membaca dan merenungi kitabullah pun mulai luntur.  Hari demi hari  berlalu terasa makin sulit baginya untuk mentadaburi ayat-ayat Al-Quran  yang dibaca atau didengarnya. Ia tidak bisa lagi mencecap manisnya  menyelami Al-Quran seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;Apa yang salah denganmu, ya akhi? Kenapa hatimu menjadi keras? Mana  air mata yang dulu meleleh di wajahmu tatkala ayat-ayat Allah  dilantunkan? Mana semangat beramalmu yang dulu membara tatkala  hadits  Nabi disebutkan? Apa penyebab semua ini, wahai saudaraku?&lt;br /&gt;Internet! Itulah jawaban dari semua pertanyaan tadi. Kamu telah  menjadi korban internet. Internet, chatting, facebook dan yang  semisalnya telah menjauhkanmu dari cahaya hidayah!&lt;br /&gt;Internet memang merupakan salah satu kenikmatan yang diberikan Allah  kepada kita semua di zaman ini. Namun siapa yang menyangka jika  kenikmatan ini bisa berubah menjadi kebinasaan tatkala melampaui  batas-batas hukum-Nya atau digunakan untuk selain yang diridhai-Nya.&lt;br /&gt;Tak ada yang salah seorang ikhwan ingin mendakwahi atau memberikan  faidah kepada akhwat, begitu juga seorang akhwat ingin mendakwahi atau  memberikan faidah kepada ikhwan. Namun apa faidah yang ingin kamu  sampaikan jika ada “sesuatu”  pada hatimu tatkala menasehatinya? Apa  faidah yang ingin kamu sampaikan jika pikiranmu membayangkan sosoknya?  Apakah kata-kata mesramu itu bisa menunjukkannya pada hidayah? Apakah  candamu itu bisa mendekatkannya kepada Allah?&lt;br /&gt;Betul, di zaman salafus saleh memang ada surat-menyurat antara pria  dan wanita. Melalui surat, mereka saling menegur, menasehati, memenuhi  kebutuhan yang perlu diselesaikan. Akan tetapi, sudahkah kamu menyamai  mereka dari sisi ilmu dan ketakwaan? Apakah kamu telah meneladani mereka  dalam menjaga adab-adab berbicara terhadap lawan jenismu? Apakah  derajat ketakwaanmu telah menyamai mereka sehingga hatimu tak merasakan  “apa-apa” tatkala menasihati “mad’u”mu?&lt;br /&gt;Kalau jawabanmu belum, maka tutuplah “keindahan” dan “kerinduan”   yang telah kamu rasakan ini. Gantilah itu dengan keindahan tangismu  tatkala membaca ayat-ayat Rabbmu. Gantilah itu dengan kebahagiaan hatimu  tatkala mempraktekkan sunnah Nabimu. Gantilah itu dengan kerinduanmu  untuk bertemu dengan-Nya di akhirat kelak.&lt;br /&gt;Kalau kamu merasa kebiasaan barumu itu sebagai sesuatu yang lumrah  dan lazim, apalagi sampai menganggapnya sebagai  sesuatu yang perlu  diperjuangkan dan tidak semestinya dikekang, maka marilah kamu kami  mandikan, kami kafankan, kami shalatkan, lalu kami kuburkan. Karena  hatimu sudah beku, sekarat atau mati, meski masih bergerak jasadmu,  masih menatap matamu,dan masih berbicara lisanmu. innaa lillahi wainnaa  ilaihi raji'un…&lt;br /&gt;Jakarta, 4 Muharram 1432/ 10 Desember 2010&lt;br /&gt;&lt;a href="http://anungumar.wordpress.com/"&gt;anungumar.wordpress.com&lt;/a&gt;/eramuslim.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-2978240678856397443?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/2978240678856397443/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/dunia-maya-memesonakannya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/2978240678856397443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/2978240678856397443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/dunia-maya-memesonakannya.html' title='Dunia Maya Memesonakannya'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-660800321596471488</id><published>2010-12-11T10:05:00.004+07:00</published><updated>2010-12-11T10:05:00.694+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PendidikanAnak'/><title type='text'>Anak Nakal, Bagaimana Mengatasinya? (2/3): Sebab Kenakalan Anak Menurut Syariat Islam</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://farm1.static.flickr.com/34/116811768_ed57f12c16.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://farm1.static.flickr.com/34/116811768_ed57f12c16.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Sebab kenakalan anak menurut syariat Islam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Termasuk sebab utama yang memicu penyimpangan akhlak pada anak,  bahkan pada semua manusia secara umum, adalah godaan setan yang telah  bersumpah di hadapan Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/i&gt; untuk menyesatkan manusia dari jalan-Nya yang lurus. Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/i&gt; berfirman,&lt;br /&gt;&lt;div class="arab" style="text-align: right;"&gt;قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي  لأقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ. ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ  بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ  شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ&lt;/div&gt;“&lt;i&gt;Iblis (setan) berkata, ‘Karena Engkau telah menghukumi saya  tersesat, sungguh saya akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus,  kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang  mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati  kebanyakan mereka bersyukur (taat kepada-Mu).’&lt;/i&gt;” (QS. Al-A’raf: 16-17).&lt;span id="more-289"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam upayanya untuk menyesatkan manusia dari jalan yang benar, setan  berusaha menanamkan benih-benih kesesatan pada diri manusia sejak  pertama kali mereka dilahirkan ke dunia ini, untuk memudahkan usahanya  selanjutnya setelah manusia itu dewasa.&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadits &lt;i&gt;qudsi,&lt;/i&gt; Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/i&gt; berfirman, yang artinya, “&lt;i&gt;Sesungguhnya  Aku menciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dalam keadaan hanif (suci dan  cenderung kepada kebenaran), kemudian setan mendatangi mereka dan  memalingkan mereka dari agama mereka (Islam)&lt;/i&gt;.”&lt;a href="http://manisnyaiman.com/sebab-kenakalan-anak-menurut-syariat-islam/#_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda, “&lt;i&gt;Tangisan seorang bayi ketika (baru) dilahirkan adalah tusukan (godaan untuk menyesatkan) yang berasal dari setan.&lt;/i&gt;“&lt;a href="http://manisnyaiman.com/sebab-kenakalan-anak-menurut-syariat-islam/#_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah hadits yang agung ini! Betapa setan berupaya keras  untuk menyesatkan manusia sejak mereka dilahirkan ke dunia. Padahal,  bayi yang baru lahir tentu belum mengenal nafsu, indahnya dunia, dan  godaan-godaan duniawi lainnya, maka bagaimana keadaannya kalau dia telah  dewasa dan mengenal semua godaan tersebut?&lt;a href="http://manisnyaiman.com/sebab-kenakalan-anak-menurut-syariat-islam/#_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di samping sebab utama di atas, ada faktor-faktor lain yang memicu  dan mempengaruhi penyimpangan akhlak pada anak, berdasarkan keterangan  dari ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertama, pengaruh didikan buruk kedua orangtua&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda, “Semua bayi (manusia) dilahirkan di atas &lt;i&gt;fithrah&lt;/i&gt;  (kecenderungan menerima kebenaran Islam dan tauhid), maka kedua orang  tuanyalah yang menjadikannya (beragama) Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”&lt;a href="http://manisnyaiman.com/sebab-kenakalan-anak-menurut-syariat-islam/#_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini menunjukkan bahwa semua manusia yang dilahirkan di dunia  memiliki hati yang cenderung kepada Islam dan tauhid, sehingga kalau  dibiarkan dan tidak dipengaruhi maka nantinya dia akan menerima  kebenaran Islam. Akan tetapi, kedua orang tuanyalah yang memberikan  pengaruh buruk, bahkan menanamkan kekafiran dan kesyirikan kepadanya.&lt;a href="http://manisnyaiman.com/sebab-kenakalan-anak-menurut-syariat-islam/#_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Syekh Bakr Abu Zaid berkata, “Hadits yang agung ini menjelaskan  sejauh mana pengaruh dari kedua orangtua terhadap (pendidikan) anaknya,  dan (pengaruh mereka dalam) mengubah anak tersebut dalam penyimpangan  dari konseuensi (kesucian) fitrahnya kepada kekafiran dan kefasikan….&lt;br /&gt;(Di antara contoh pengaruh buruk tersebut adalah) jika seorang ibu tidak memakai &lt;i&gt;hijab&lt;/i&gt;  (pakaian yang menutup aurat), tidak menjaga kehormatan dirinya, sering  keluar rumah (tanpa ada alasan yang dibenarkan agama), suka berdandan  dengan menampakkan (kecantikannya di luar rumah), senang bergaul dengan  kaum lelaki yang bukan &lt;i&gt;mahram&lt;/i&gt;&lt;i&gt;-&lt;/i&gt;nya, dan lain  sebagainya, maka ini (secara tidak langsung) merupakan pendidikan (yang  berupa) praktik (nyata) bagi anaknya, untuk (mengarahkannya kepada)  penyimpangan (akhlak) dan memalingkannya dari pendidikan baik yang  membuahkan hasil yang terpuji, berupa (kesadaran untuk) memakai hijab  (pakaian yang menutup aurat), menjaga kehormatan dan kesucian diri,  serta (memiliki) rasa malu. Inilah yang dinamakan ‘pengajaran pada &lt;i&gt;fitrah &lt;/i&gt;(manusia)’.”&lt;a href="http://manisnyaiman.com/sebab-kenakalan-anak-menurut-syariat-islam/#_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kedua, pengaruh lingkungan dan teman bergaul yang buruk&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda, yang artinya, “&lt;i&gt;Perumpamaan  teman duduk (bergaul) yang baik dan teman duduk (bergaul) yang buruk  (adalah) seperti pembawa (penjual) minyak wangi dan peniup al-kiir  (tempat menempa besi). Maka, penjual minyak wangi bisa jadi memberimu  minyak wangi atau kamu membeli (minyak wangi) darinya, atau (minimal)  kamu akan mencium aroma yang harum darinya. Sedangkan peniup al-kiir  (tempat menempa besi), bisa jadi (apinya) akan membakar pakaianmu atau  (minimal) kamu akan mencium aroma yang tidak sedap darinya.&lt;/i&gt;”&lt;a href="http://manisnyaiman.com/sebab-kenakalan-anak-menurut-syariat-islam/#_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang mulia ini menunjukkan keutamaan duduk dan bergaul dengan  orang-orang yang baik akhlak dan tingkah lakunya, karena adanya pengaruh  baik yang ditimbulkan dengan selalu menyertai mereka. Hadits tersebut  sekaligus menunjukkan larangan bergaul dengan orang-orang yang buruk  akhlaknya dan pelaku maksiat karena pengaruh buruk yang ditimbulkan  dengan selalu menyertai mereka.&lt;a href="http://manisnyaiman.com/sebab-kenakalan-anak-menurut-syariat-islam/#_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketiga, sumber bacaan dan tontonan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya, anak-anak mempunyai jiwa yang masih polos, sehingga  sangat mudah terpengaruh dan mengikuti apa pun yang dilihat dan  didengarnya dari sumber bacaan atau berbagai tontonan.&lt;br /&gt;Apalagi, memang kebiasan meniru dan mengikuti orang lain merupakan  salah satu watak bawaan manusia sejak lahir, sebagaimana sabda  Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;,&lt;br /&gt;&lt;div class="arab" style="text-align: right;"&gt;الأرواح جنود مجندة، فما تعارف منها ائتلف وما تناكر اختلف&lt;/div&gt;“&lt;i&gt;Ruh-ruh manusia adalah kelompok yang selalu bersama. Maka, yang  saling bersesuaian di antara mereka akan saling berdekatan, dan yang  tidak bersesuaian akan saling berselisih&lt;/i&gt;.”&lt;a href="http://manisnyaiman.com/sebab-kenakalan-anak-menurut-syariat-islam/#_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, metode pendidikan dengan menampilkan contoh figur  untuk diteladani adalah termasuk salah satu metode pendidikan yang  sangat efektif dan bermanfaat.&lt;br /&gt;Syekh Abdurrahman as-Sa’di berkata ketika menafsirkan firman Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/i&gt;,&lt;br /&gt;&lt;div class="arab" style="text-align: right;"&gt;وَكُلا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ  أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ  الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ&lt;/div&gt;“&lt;i&gt;Dan semua kisah para rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah  kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu, dan dalam surat ini  telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi  orang-orang yang beriman&lt;/i&gt;.” (QS. Hud: 120).&lt;br /&gt;Beliau berkata, “Yaitu, supaya hatimu tenang dan teguh (dalam keimanan), dan (supaya kamu) bersabar seperti sabarnya para rasul &lt;i&gt;‘alaihimus sallam&lt;/i&gt;,  karena jiwa manusia (cenderung) senang meniru dan mengikuti (orang  lain), dan (ini menjadikannya lebih) bersemangat dalam beramal shalih,  serta berlomba dalam mengerjakan kebaikan….”&lt;a href="http://manisnyaiman.com/sebab-kenakalan-anak-menurut-syariat-islam/#_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;-bersambung &lt;i&gt;insya Allah&lt;/i&gt;-&lt;/div&gt;Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, M.A&lt;br /&gt;Artikel &lt;a href="http://www.manisnyaiman.com/"&gt;www.manisnyaiman.com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-660800321596471488?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/660800321596471488/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/anak-nakal-bagaimana-mengatasinya-23.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/660800321596471488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/660800321596471488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/anak-nakal-bagaimana-mengatasinya-23.html' title='Anak Nakal, Bagaimana Mengatasinya? (2/3): Sebab Kenakalan Anak Menurut Syariat Islam'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://farm1.static.flickr.com/34/116811768_ed57f12c16_t.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-5890389792369315525</id><published>2010-12-09T20:41:00.004+07:00</published><updated>2010-12-09T20:41:00.573+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernikahan'/><title type='text'>Pilihlah Karena Agamanya...</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://oz-elizabeth.com/WalimahHome.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://oz-elizabeth.com/WalimahHome.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Perasaan bahagia menyelimuti hati Faizul Haq-bukan nama sebenarnya.  Kebahagiaan yang sulit untuk ia lukiskan. Barangkali, hari itu adalah  hari yang paling bersejarah dalam hidupnya, hari yang penuh suka cita.  Hari dimana ia telah dipertemukan dengan dambaan hati, 'buruan' cinta.  Senyum mengembang di langit wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan air  mata bahagia dan haru menetes mengairi taman hatinya yang rindu akan  belaian cinta dan kasih sayang. Ia telah berani melangkah, demi  menyelamatkan iman, agama dan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesjid  Assalam di Kairo menjadi saksi bisu akad nikah dan walîmatul 'urs Faizul  Haq dengan Sabira Husna-bukan nama sebenarnya. Hari dimana dua makhluk  Allah bertemu dalam cinta kasih yang sah, terikat dalam mîtsâqan  ghalîzhan. Kepada kedua pengantin setangkai bunga do'a dari hati yang  tulus kami persembahkan,&lt;em&gt; "Bâkarakallâhu laka, wabâraka 'alaika, wajama'a bainakumâ fî khairin." &lt;/em&gt;Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah, amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faiz  telah menempuh jalan yang lurus, jalan yang selamat dan diridhai Allah.  Jalan orang-orang yang merindukan kejernihan hati dan ketentraman jiwa.  Berbeda dengan mereka yang menempuh jalan menyimpang. Jalan orang-orang  yang hatinya telah dikotori oleh kotoran setan dan nafsu. Orang-orang  tertipu yang memilih kesenangan sesaat. Jalan laki-laki yang pengecut,  pengumbar hawa nafsu dan jalan wanita-wanita yang bodoh, yang suka  mengobral dan menjual kemuliaan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dipungkiri,  Faizul Haq telah merancang dari jauh hari bagaimana ia menyiapkan hari  yang bersejarah dalam hidupnya. Bagaimana ia menyiapkan segala keperluan  untuk pernikahan. Mulai dari ilmu, mental, finansial, dan kesehatan  fisik. Barangkali keinginan menikah telah menjadi humum Faiz sejak  beberapa tahun kebelakang, sebagaimana yang juga bergejolak dalam hati  banyak anak muda. Kerinduan yang tak lagi tertahankan untuk berjumpa  sang kekasih dambaan jiwa. Kerinduan untuk bisa memadu hati, menumpahkan  segala keluh-kesah dan gelora jiwa.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;Setiap  laki-laki yang soleh mendambakan seorang istri yang solehah. Istri yang  ketika dilihat menyenangkan hati, ketika diperintah ia patuh, ketika  ditinggalkan ia menjaga harta dan dirinya, dan ketika salah ia mau  diingatkan. Istri solihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia  ibarat sebuah madrasah yang kelak didalamnya anak-anak yang lahir akan  dibesarkan, dididik dan dibina. Bijak dan tepat memilih calon istri  sebelum menikah adalah diantara faktor kebahagiaan rumah tangga. Salah  dalam memilih akan berisiko dikemudian hari. Dengan demikian, jangan  tergesa-gesa menentukan pilihan, tapi kalau sudah nampak yang cocok  dengan persepsi dan keinginan hendaknya segera mengajukan lamaran.  Karena biasanya sesuatu yang berharga dan bernilai tinggi menjadi  rebutan banyak orang... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri solehah akan selalu  menjadi sumber kekuatan, tempat bertenang ketika gelisah melanda jiwa,  tempat berbagi ketika resah menghimpit hati. Istri solihah bukanlah tipe  wanita materialistis, yang ketika ada uang, abang disayang, nggak ada  uang abang jangan pulang atau piring melayang. Sabar disaat kesulitan  melanda, qana`ah dengan apa yang ada dan bersyukur ketika mendapat  kelebihan rezki. Bagi seorang istri solihah keridhaan suami adalah  diatas segalanya, walau ia harus melawan keinginannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidupnya  seluruhnya ia abdikan untuk suami dalam rangka beribadah dan ketaatan  pada Allah. Istri solehah adalah ibarat taman indah nan penuh pesona.  Tak lelah mata memandang keindahan budi pekerti dan tingkah lakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri  solehah selalu dirindu dan dikenang. Rindu pada belaian lembutnya,  rindu pada teguran halusnya, rindu akan senyum tulusnya, rindu pada  wajahnya yang teduh, air mukanya yang jernih dan rindu pada kata-katanya  yang mesra. Hati akan resah bila lama tidak berjumpa, bila jarak telah  memisahkan. Hati akan gelisah bila satu hari tidak bertemu. Karena cinta  yang telah tenggelam dalam samudera hati, cinta akan kebaikan dan  kebagusan akhlaknya. Sungguh benar apa yang disampaikan Rasulullah bahwa  memilih wanita solehah akan membahagiakan seseorang di dunia dan di  akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk calon suami, pilihlah seorang calon  istri yang telah dikenal baik akhlak dan agamanya. Utamakanlah itu atas  segalanya. Dan jangan lupa untuk juga mempersiapkan diri menjadi seorang  suami yang soleh. Dan bagi seorang calon istri, bila datang seorang  laki-laki yang Anda kenal baik agama dan akhlaknya dan Anda memang telah  siap untuk menikah, janganlah menolak, tapi terimalah niat baiknya  dengan hati yang terbuka. Dan jangan lupa untuk mempersiapkan diri Anda  menjadi bidadari baginya di dunia dan di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri  solehah adalah harta yang paling berharga dan bernilai tinggi yang  tiada duanya. Sungguh beruntung dan berbahagia seseorang yang dikaruniai  seorang Bidadari Dunia. Hidup akan penuh dengan kebaikan dan ketaatan.  Hidup yang selalu bersemangat, penuh cinta dan cita-cita mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aa  Gym pernah berkata, "Istri solehah adalah sebaik-baik keindahan,  kata-katanya menyejukkan kalbu, ia bagaikan bidadari surga yang hadir di  dunia. Ia adalah istri yang meneguhkan jihad suami, penebar rahmat bagi  rumah tangga, cahaya dunia dan akhirat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa  orang pernah datang kepada saya, curhat tentang keinginan mereka untuk  menikah. Yang datang pun bervariasi, dengan berbagai permasalahan yang  mereka miliki. Setiap yang datang selalu saya berikan dorongan untuk  tidak ragu melangkah ketika melihat diri telah siap. Siap yang tidak  saya artikan sebatas modal kemauan, namun konkritnya ada bekal yang  telah dimiliki untuk membina rumah tangga. Juga melihat kesiapan dengan  kejernihan hati dan pikiran, bukan dengan kacamata nafsu dan setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus ada kesadaran yang penuh ketika merespon dorongan-dorongan yang muncul dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta  telah banyak berbicara, tentang orang-orang yang menikah hanya untuk  melampiaskan hasrat nafsu yang tak lagi bisa ditahan. Apa yang terjadi  adalah, hubungan yang tidak pernah harmonis dan sering terjadi cekcok  antara suami-istri hanya disebabkan permasalahan sepele. Karena masih  didominasi oleh sikap kekanak-kanakan dan sikap yang cenderung egois,  emosian, sentiment dan penuh curiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seseorang  ingin ikut serta dalam sebuah perlombaan, kesiapan yang ia miliki  menjadi tolak ukur kesuksesannya. Jika ia mempersiapkan diri dengan  matang, peluang untuk menang akan terbuka dihadapannya. Tapi ketika  persiapan yang ia miliki apa adanya, maka hasilnyapun akan jauh dari  yang diharapkan. Tidak hanya dalam perlombaan, tapi dalam setiap dimensi  kehidupan yang kita jalani, adanya kesiapan sangat menentukan  kesuksesan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan tidak hanya semata  hubungan biologis, kalau kita memaknai demikian, tentu tidak berbeda  cara pandang kita dengan hewan. Namun dengan menikah ada nilai-nilai  yang ingin kita raih, ada tugas, amanah dan kewajiban yang harus  ditunaikan dan dipertanggung jawabkan. Ibarat kita ingin mendirikan  sebuah gedung diatas sebidang tanah. Ketika pondasi yang dibangun kuat,  pondasi akan tetap kokoh dan gedung tidak akan runtuh. Sedangkan bila  pondasi lemah, besar kemungkinan gedung tidak akan bertahan lama dan  akan cepat roboh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada intinya, kita perlu  mempersiapkan diri, dan itu sudah menjadi keharusan. Siapkan ilmunya,  mental, kesehatan dan finansial. Dan yang paling utama kita harus  memiliki hubungan yang baik dengan Allah. Kita harus terus berupaya  untuk meraih kedudukan taqwa. Dengan ketaqwaan segala kesulitan akan  menemukan jalan keluarnya. Allah. telah menjanjikan, bahwa barang siapa  yang bertaqwa maka Allah. akan memberinya jalan keluar terhadap  kesulitan yang ia hadapi dan memberinya rezki dari arah yang tidak ia  duga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekarang, binalah hubungan yang baik dengan  Allah dan dengan orang lain. Latihlah diri Anda dalam ketaatan, gemar  berbuat kebaikan dan rajin beribadah. Latihlah diri Anda dengan perilaku  yang mulia sehingga ia menjadi kebiasaan Anda. Dan bila diri Anda telah  siap, maka melangkahlah dengan yakin. Adanya kekurangan ekonomi  janganlah jadikan penghalang utama. Anda harus yakin rezki setiap hamba  telah ditentukan kadarnya oleh Allah. Bukankah itu suatu hal yang  menggembirakan. Anda tidak perlu merasa susah, tinggal Anda berusaha  untuk menjemput rezki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan terakhir, jangan  salah pilih, jangan tertipu dengan penampilan luar, pilihlah dengan hati  dan pikiran yang jernih. Jangan memilih dengan landasan nafsu dan  bisikan setan. Utamakanlah agama diatas segalanya, dengan demikian kita  akan bahagia sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jangan tunda lagi kalau Anda sudah siap, bersegeralah ...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;marif_assalman@yahoo.com&lt;br /&gt;(sumber : http://www.eramuslim.com/oase-iman/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-5890389792369315525?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/5890389792369315525/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/pilihlah-karena-agamanya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/5890389792369315525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/5890389792369315525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/pilihlah-karena-agamanya.html' title='Pilihlah Karena Agamanya...'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-1208978532332932047</id><published>2010-12-08T16:51:00.003+07:00</published><updated>2010-12-08T16:51:00.549+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='IsLamDunia'/><title type='text'>Yakub Chisir: 11 Tahun Hafidz Quran dari Negara Yang Terjajah Russia</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/__A_s2h3GuuE/TOzA4WCFLoI/AAAAAAAAAVQ/YFPlPzz5cYA/s320/canvas.png" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="239" src="http://1.bp.blogspot.com/__A_s2h3GuuE/TOzA4WCFLoI/AAAAAAAAAVQ/YFPlPzz5cYA/s320/canvas.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Asia Tengah adalah benteng Islam selama berabad-abad. Tidak seorang  pun membaca sejarah Islam dapat mengabaikan pengaruh kota-kota seperti  Bukhara atau Samarkand, yang menghasilkan para ulama besar Islam.&lt;br /&gt;Tetapi kondisi keimanan rakyat jatuh pada masa-masa sulit, terutama  selama masa invasi Soviet dimana agama tak dianggap oleh Negara komunis  itu dan ateisme disebarkan oleh Soviet. Namun api Islam itu,  bagaimanapun, tetap menyala bahkan di masa yang paling sulit oleh  beberapa penganut yang konsisten.&lt;br /&gt;Di antara mereka adalah keluarga Yakub yang diwakili Chishir  Kazakhstan di yang baru saja menyelesaikan Alquran Internasional Dubai  Award (DIHQA). Chishir adalah peserta termuda dalam perhelatan yang ke-  13 ini. Bocah berusia 11 tahun ini mempunyai suara yang merdu suara, dan  memukau pada setiap tilawah Al-Qur'annya. Ia adalah sedikit bukti  sejarah keluarganya berjuang untuk tetap hidup Islam di Asia Tengah.&lt;br /&gt;Chishir berasal dari sebuah desa kecil 40 km dari Astana, ibukota  Kazakhstan. Ia belajar Al-Quran dari ayahnya, yang bekerja sebagai  petani,selain menjadi guru Islam desa. “Ayah saya hanya mengingat  beberapa bagian dari Al Quran karena ketika ia masih kecil, sangat  berbahaya jika seseorang menghafal Al Quran. Akibatnya ia bersikeras  bahwa saya menghafal seluruh Al Quran karena dia ingin salah satu dari  anak-anaknya untuk menjadi seorang hafiz, "kata Chishir.&lt;br /&gt;Chisir sendiri, fasih berbicara Rusia dan Persia, mulai menghafal  kitab suci dari usia enam tahun. Ia butuh waktu dua tahun untuk  menyelesaikan menghafal seluruh Al Qur'an, kata Omar Mousa, yang  merupakan wali Chishir dan penerjemah di acara itu.&lt;br /&gt;Mousa mengungkapkan bahwa keluarganya juga menderita penganiayaan  karena keyakinan agama mereka selama era Soviet. Mousa yang bekerja  untuk Al-Ihsan Association, sebuah badan amal yang menjalankan  sekolah-sekolah Islam dan masjid-masjid di empat negara Asia Tengah,  diasingkan secara paksa dari tanah kelahirannya Daghestan ke Kazakhstan  karena dia berasal dari keluarga Muslim. Meskipun bahaya bagi kehidupan  mereka, keluarga Mousa bersikeras menerapkan Islam, meskipun secara  rahasia.&lt;br /&gt;"Aku ingat ketika aku masih kecil ayahku akan bangun larut malam  sekitar jam 2 pagi, pergi ke rumah seorang sarjana untuk belajar tentang  Islam. Mereka akan belajar sampai Shubuh, dan setelah itu mereka  kemudian pergi bekerja.&lt;br /&gt;"Bahaya yang mereka hadapi itu sangat besar karena jika mereka telah  ditangkap mereka akan dikirim ke penjara di Siberia, yang berarti  kematian," ia mengenang.&lt;br /&gt;Namun, setelah jatuhnya Uni Soviet, situasi di Kazakhstan membaik  secara dramatis. Larangan tentang praktik agama dicabut dan masjid  berkembang.&lt;br /&gt;"Dewasa ini kita melihat lebih banyak dan lebih banyak orang akan  kembali ke Islam. Masjid pada hari Jumat dipenuhi dengan orang-orang  untuk shalat. Meskipun beberapa dari mereka tidak tahu bagaimana harus  shalat, karena mereka masih belajar, "katanya.&lt;br /&gt;Mousa menunjukkan bahwa ketika mereka membuka sekolah Islam pertama  mereka pada tahun 1998 mereka harus pergi keluar untuk merekrut siswa  dan nyaris kelas tidak pernah diisi. Tapi sekarang jumlah siswa sekolah  luar biasa dan seirng kali tidak dapat mengatasi meningkatnya jumlah  siswa.&lt;br /&gt;Mousa mendesak negara-negara Arab untuk membantu  organisasi-organisasi Islam di Asia Tengah. "Kita perlu membangun lebih  banyak seminari Islam, mesjid dan panti-panti asuhan. Bangsa kita perlu  dididik mengenai warisan Islam mereka yang kaya, "katanya.&lt;br /&gt;sa.arabnews (eramuslim.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-1208978532332932047?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/1208978532332932047/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/yakub-chisir-11-tahun-hafidz-quran-dari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/1208978532332932047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/1208978532332932047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/yakub-chisir-11-tahun-hafidz-quran-dari.html' title='Yakub Chisir: 11 Tahun Hafidz Quran dari Negara Yang Terjajah Russia'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/__A_s2h3GuuE/TOzA4WCFLoI/AAAAAAAAAVQ/YFPlPzz5cYA/s72-c/canvas.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-7298353165309963358</id><published>2010-12-07T09:38:00.001+07:00</published><updated>2010-12-13T09:45:46.323+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Fatwa Ulama Tentang Ucapan Selamat Tahun Baru Hijriyah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.campur-aduk.com/wp-content/uploads/2009/12/bulan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="229" src="http://www.campur-aduk.com/wp-content/uploads/2009/12/bulan.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&amp;nbsp;&lt;em&gt;Oleh&lt;/em&gt; &lt;b&gt;Voice of Al-Islam (voa-islam.com)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah shalawat serta salam semoga tercurah kepada  Nabi Muhammad kepada keluarganya, para sahabatnya dan yang mengikuti  mereka dengan baik hingga hari kiamat. &lt;em&gt;Amma ba’du.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang dirahmati Allah, sebentar lagi kita akan  meninggalkan tahun 1431 Hijriyah dan akan memasuki tahun baru hijriyah  1432, sebagian besar kaum muslimin telah mempersiapkan perayaan untuk  tahun baru islam tersebut, di antaranya dengan bertukar ucapan selamat  satu sama lain maka apa kedudukan ucapan selamat tahun baru hijriyah  dari sisi syar’i?&lt;br /&gt;Di bawah ini kami mengutip beberapa fatwa ulama kibar dalam hal ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;strong&gt;Syeikh Ibnu Bazz&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt; pernah &lt;strong&gt;ditanya&lt;/strong&gt;:&lt;br /&gt;Kami pada permulaan tahun baru hijriyah, dan sebagian orang saling  bertukar ucapan selamat tahun baru hijriyah, mereka mengucapkan: (setiap  tahun semoga kalian dalam kebaikan), maka apa hukum syar’ie terkait  ucapan selamat ini?&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jawaban&lt;/strong&gt;:&lt;br /&gt;Ucapan selamat tahun baru hijriyah kami tidak mengetahui dasarnya  dari para salaful shalih, dan saya tidak mengetahui satupun dalil dari  sunah maupun kitabullah yang menunjukkan pensyariatannya, tetapi siapa  saja yang memulaimu dengan ucapan itu maka tidak mengapa kamu  menjawabnya seperti itu, jika dia mengatakan: setiap tahun semoga anda  dalam kebaikan maka tidak mengapa kamu menjawabnya semoga anda seperti  itu kami memohon kepada Allah bagi kami dan bagimu setiap kebaikan atau  semacamnya, adapun memulainya maka saya tidak mengetahui dasarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;strong&gt;Syeikh Ibnu Utsaimin&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt; pernah ditanya mengenai ucapan selamat tahun baru hijriyah:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertanyaan&lt;/strong&gt;: Syeikh yang mulia! anda membahas tentang  tahun baru, maka apa hukum ucapan selamat tahun baru hijriyah? Dan apa  kewajiban kita terhadap mereka yang mengucapkan selamat?&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Beliau menjawab&lt;/strong&gt;:&lt;br /&gt;Jika seseorang mengucapkan selamat kepadamu maka jawablah, tapi  jangan kamu memulainya, inilah pendapat yang benar dalam masalah ini,  misalnya seandainya seseorang mengucapkan kepadamu: kamu mengucapkan  selamat tahun baru kepadamu, maka dijawab: semoga Allah mengucapkan  selamat kebaikan untukmu dan menjadikannya tahun kebaikan dan  keberkahan. Tetapi jangan kamu memulainya, karena saya tidak mengetahui  adanya riwayat dari para salaful shalih bahwa mereka dahulu mengucapkan  selamat tahun baru hijriyah, bahkan ketahuilah bahwa para salaf belum  menjadikan bulan Muharram sebagai awal tahun baru kecuali pada masa  khilafah Umar bin Khattab &lt;em&gt;radhiyallahu anhu&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;(Pertemuan bulanan ke 44 diakhir tahun 1417 H).&lt;br /&gt;Dan beliau juga pernah &lt;strong&gt;ditanya&lt;/strong&gt;: Syeikh yang mulia, apa pendapat anda mengenai tukar menukar ucapan selamat pada awal tahun baru hijriyah?&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jawaban:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saya berpendapat bahwa memulai ucapan selamat pada awal tahun baru  hijriyah tidak mengapa, namun tidak disyariatkan dalam artian: kami  tidak mengatakan kepada orang: sesungguhnya disunahkan bagi kalian untuk  saling menyampaikan ucapan selamat, tetapi jika mereka melakukannya  tidak mengapa, namun sepatutnya juga apabila dia mengucapkan selamat  tahun baru supaya memohon kepada Allah supaya menjadikannya tahun  kebaikan dan keberkahan, lalu orang lain menjawabnya. Inilah pendapat  kami dalam masalah ini yang merupakan perkara kebiasaan dan bukan  termasukan perkara ibadah.&lt;br /&gt;(pertemuan terbuka ke: 93 hari Khamis tanggal 25 bulan Dzul Hijjah tahun 1415H).&lt;br /&gt;Dan beliau juga pernah &lt;strong&gt;ditanya&lt;/strong&gt;: apakah boleh mengucapkan selamat awal tahun baru?&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Beliau menjawab:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ucapan selamat dengan kedatangan tahun baru hijriyah tidak ada  dasarnya dari perbuatan para salaful shalih, maka kamu jangan  memulainya, tetapi jika seseorang mengucapkan selamat kepadamu jawablah,  karena ini sudah menjadi kebiasaan ditengah-tengah manusia, meskipun  phenomena ini sekarang berkurang, karena Alhamdulillah sebagian orang  sudah memahaminya, padahal sebelumnya mereka saling bertukar kartu  ucapan selamat tahun baru hijriyah.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penanya:&lt;/strong&gt; apa bunyi ucapan yang saling disampaikan manusia?&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Beliau menjawab:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Yaitu mereka mengucapkan selamat atas datannya tahun baru, dan kami  memohon kepada Allah mengampuni yang telah berlalu pada tahun kemarin,  dan supaya memberikan pertolongan kepadamu untuk menghadapi masa depan  atau semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penanya:&lt;/strong&gt; apakah diucapkan: setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan?&lt;br /&gt;Beliau menjawab: tidak, setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan  tidak diucapkan dalam Idul Adha maupun Idul Fitri atau di tahun baru.&lt;br /&gt;(perjumpaan terbuka ke: 202 pada hari Khamis tanggal 6 Muharram tahun 1420H).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;strong&gt;Syeikh Shalih Al-Fauzan&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;hafidhohullah&lt;/em&gt; pernah &lt;strong&gt;ditanya&lt;/strong&gt;:&lt;br /&gt;Syeikh yang mulia semoga Allah memberikan anda taufik, kebanyakan  manusia saling bertukar ucapan selamat tahun baru hijriyah, maka apa  hukum ucapan selamat atas kedatangannya? Diantara ucapan mereka: semoga  menjadi tahun bahagia, atau ucapan mereka: semoga kalian setiap tahun  dalam kebaikan, apakah ini disyariatkan?&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jawaban:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;“ini adalah bid’ah, ini bid’ah dan menyerupai ucapan selamat  orang-orang Nasrani dengan tahun baru masehi, dan ini sesuatu yang tidak  pernah dilakukan para salaf, dan juga tahun baru hijriyah adalah  istilah para sahabat radhiyallahu anhum untuk penaggalan muamalat saja,  mereka tidak menganggapnya hari raya dan mereka mengucapkan selamat  atasnya atau, ini tidak ada dasarnya, para sahabat menjadikannya untuk  penanggalan muamalat dan mengatur muamalat saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Fatwa &lt;strong&gt;Syeikh Abdul Karim Al-Khidhir&lt;/strong&gt; mengenai ucapan selamat tahun baru hijriyah:&lt;br /&gt;Doa kepada seorang muslim dengan doa umum yang lafalnya tidak  diyakini sebagai ibadah dalam beberapa peringatan seperti hari-hari raya  tidak mengapa, apalagi apabila maksud dari ucapan selamat ini untuk  menumbuhkan kasih sayang, menampakkan kegembiraan dan keceriaan pada  wajah muslim lain. Imam Ahmad rahimahullah berkata: saya tidak memulai  ucapan selamat, jika seseorang memulaiku dengan ucapan selamat maka saya  suka menjawabnya karena menjawan ucapan selamat wajib, adapun memulai  ucapan selamat tidak ada sunah yang diperintahkan dan juga bukan  termasuk perkara yang dilarang.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kesimpulan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa fatwa diatas dapat dipahami bawa para ulama kibar  sebagian membolehkan menjawab ucapan selamat saja tidak untuk  memulainya, namun kita tidak menganggapnya perkara bid’ah yang besar  karena hal itu lebih kepada adat kebiasaan bukan diyakini sebagai ibadah  yang disyariatkan.&lt;br /&gt;Tapi sebaiknya kita menjelaskan kepada umat bahwa hal itu tidak ada  dasarnya sehingga mereka tidak berlebih-lebihan dalam ucapan selamat,  karena kuatir terjatuh dalam perkara bid’ah dan menyerupai kaum nasrani  sebagaimana fatwa Syeikh Shalih Al-Fauzan &lt;em&gt;hafidohullah.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Namun kita tidak disyariatkan untuk merayakannya seperti kita  merayakan hari-hari raya karena perayaan sebagai bentuk ibadah dan  ibadah sifatnya &lt;em&gt;tauqifiyah.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wallahu A’lam bishowab.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;(ar/&lt;a href="http://voa-islam.com/"&gt;voa-islam.com&lt;/a&gt;)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-7298353165309963358?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/7298353165309963358/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/fatwa-ulama-tentang-ucapan-selamat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/7298353165309963358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/7298353165309963358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/fatwa-ulama-tentang-ucapan-selamat.html' title='Fatwa Ulama Tentang Ucapan Selamat Tahun Baru Hijriyah'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-8993534699061789146</id><published>2010-12-07T05:16:00.000+07:00</published><updated>2010-12-07T05:16:02.360+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Puasa Asyura dan Bulan Muharram</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/TP1gYFrFU6I/AAAAAAAAAGY/i1ebOLI7KV4/s1600/muharram.gif" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="247" src="http://4.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/TP1gYFrFU6I/AAAAAAAAAGY/i1ebOLI7KV4/s320/muharram.gif" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Sesungguhnya&amp;nbsp;&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; Allah Muharram merupakan bulan yang agung lagi penuh berkah, Muharram adalah awal bulan pada tahun hijriyah dan termasuk salah satu dari bulan-bulan haram, sebagaimana firman Allah سبحانه وتعلى yang artinya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu” (QS. At Taubah :36)&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Adapun maksud dari firman Allah سبحانه وتعلى :Janganlah kamu menganiaya diri kamu&amp;nbsp; yakni, pada bulan-bulan haram karena kesalahan atau dosa yang dikerjakan waktu itu lebih besar dibandingkan dengan kesalahan atau dosa yang dikerjakan pada bulan-bulan selainnya. Berkata Qatadah رحمه الله : “Sesungguhnya kezholiman yang dikerjakan pada bulan-bulan haram lebih besar dosanya dibandingkan jika dikerjakan di luar bulan-bulan haram, walaupun sebenarnya kezholiman di dalam segala hal dan keadaan merupakan dosa besar akan tetapi Allah سبحانه وتعلى senantiasa mengagungkan dan memuliakan beberapa perkara/urusan menurut kehendakNya”. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir surat At Taubah: 36).&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Abu Bakrah , Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda : &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;...&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;السَّــنَةُ اثْــنَا عَشَرَ شَـهْرًا مِنْـهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَــاتٌ ذُو الْـقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَـيْنَ جُمَادَى وَشَعْـبَانَ رواه البخاري&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“…Setahun terdiri dari dua belas bulan di dalamnya terdapat empat bulan haram, tiga diantaranya berurutan, yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan&amp;nbsp; keempat adalah Rajab yang diantarai oleh Jumadil (awal dan tsani) dan Sya’ban” (HR. Bukhari) &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Dinamakan Muharram karena tergolong bulan haram dan sebagai penekanan akan keharamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keutamaan Memperbanyak Puasa Sunnah Pada Bulan Muharram :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu ia telah berkata, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda : &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;أَفْضَلُ الصّـِيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ&amp;nbsp; رواه مسلم&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah bulan Allah Muharram” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Lafadz "شهر الله" (Bulan Allah), penyandaran “Bulan” kepada “Allah” dimaksudkan sebagai bentuk pengagungan-Nya kepada bulan tersebut. Imam Alqari رحمه الله berkata: Nampaknya maksud dari hadits tersebut adalah berpuasa pada seluruh bulan Muharram”.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Akan tetapi telah diriwayatkan, bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم tidaklah berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan saja, jadi hadits ini hanya menunjukkan keutamaan memperbanyak puasa pada bulan Muharram, bukan berpuasa dengan sebulan penuh.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Dan telah diriwayatkan juga bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم senantiasa memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban, hal ini mungkin dikarenakan belum turunnya wahyu kepada beliau yang menjelaskan tentang keutamaan bulan Muharram kecuali pada akhir hayatnya sebelum beliau sempat berpuasa pada bulan tersebut. (Lihat Syarh Shohih Muslim oleh An Nawawi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; Sejarah ‘Asyura :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما telah berkata:&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;قَدِمَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ : مَا هَذَا ؟ قَالُوا : "هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى" قَالَ&amp;nbsp; فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْـكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ&amp;nbsp; رواه البخاري&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Setelah Nabi صلى الله عليه وسلم tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura, beliau bekata: “apakah ini?”, mereka menjawab: “Ini adalah hari yang baik dimana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh-musuhnya hingga Musa berpuasa pada hari itu”, selanjutnya beliau berkata: “Saya lebih berhak atas Musa dari kalian”, maka beliau berpuasa dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa pada hari itu (HR. Bukhari).&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Sebenarnya puasa ‘Asyura telah dikenal pada zaman jahiliyah sebelum datangnya zaman nubuwwah, dari Aisyah رضي الله عنها ia telah berkata: &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;أَنَّ قُرَيــْشًا كَانَتْ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ ( رواه البخاري&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; “Sesungguhnya orang-orang jahiliyah juga berpuasa pada hari itu…”. (HR. Bukhari) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Qurthubi رحمه الله berkata: “Mungkin orang-orang Quraisy waktu itu masih berpegang dengan syariat sebelumnya seperti syariat Nabi Ibrahim Alaihissalam, dan juga telah diriwayatkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم berpuasa ‘Asyura di Makkah sebelum hijrah ke Madinah dan setibanya di Madinah beliau kemudian menemukan orang-orang Yahudi merayakan hari itu, maka Nabi menanyakan hal tersebut dan mereka berkata sebagaimana telah disebutkan di dalam hadits yang lalu, lalu beliau memerintahkan sahabatnya untuk me-nyelisihi kebiasaan mereka yang menjadikan ‘Asyura sebagai hari raya, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Abu Musa Radhiyallahu Anhu :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَ تَـتَّخِذُهُ عِيدًا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم&amp;nbsp; صُومُوهُ أَنْـتُمْ , رواه مسل&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;م&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; “‘Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan mereka menganggapnya sebagai hari raya” Maka Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Berpuasalah kalian pada hari itu” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keutamaan Puasa ‘Asyura :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما telah berkata: &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَـتَحَرَّى صِيَامَ يـَوْمٍ فَضَّــلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلاَّ هَذَا الْيـَـوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّـهْرَ يَعْنِي شَـهْرَ رَمَضَانَ رواه البخاري&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; “Saya tidak melihat Nabi صلى الله عليه وسلم memperhatikan satu hari untuk berpuasa yang beliau utamakan dari selainnya, kecuali pada hari ini yakni hari ‘Asyura dan bulan ini yakni bulan Ramadhan” (HR. Bukhari). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Qadah Radhiyallahu Anhu, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;صِيَامُ يـَوْمِ عَاشُورَاءَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّــنَةَ الَّتِي قَــبْلَهُ رواه الترمذي&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; “Puasa hari ‘Asyura, Aku berharap kepada Allah untuk menghapus dosa pada satu tahun sebelumnya.” (HR. Tirmidzi) &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sangat jelas merupakan keutamaan Allah bagi kita yang menghapus dosa setahun hanya dengan berpuasa sehari saja, sesungguhnya Allahlah Pemilik keutamaan yang agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; Apakah Hari ‘Asyura Itu? &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Imam Nawawi رحمه الله berkata: ‘Asyura dan tasu’a adalah dua nama yang sudah masyhur (terkenal) di dalam buku-buku bahasa (arab), ‘ulama mazhab kami berkata: ‘Asyura adalah hari kesepuluh pada bulan Muharram dan Tasu’a adalah hari kesembilan pada bulan tersebut, sebagaimana menurut pendapat kebanyakan ‘ulama.Penamaan itu dapat diketahui berdasarkan lafazhnya dan keumuman hadits-haditsnya, dan pendapat inilah yang terkenal dikalangan ahli bahasa".&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Ibnu Qudamah رحمه الله&amp;nbsp; berkata: ‘Asyura adalah hari kesepuluh pada bulan Muharram, ini adalah pendapat Sa’id bin Al Musayyab dan Al Hasan, hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, bahwasanya ia telah berkata: &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;أَمَرَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِصَوْمِ عَاشُورَاءَ يَوْمُ الْعَاشِرِ, رواه الترمذي&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; “Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan berpuasa pada hari ‘Asyura, yaitu hari kesepuluh (dari bulan Muharram)”.(HHR. Tirmidzi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; Disunnahkan Berpuasa Tasu’a Sebelum ‘Asyura :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما telah berkata: &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;حِينَ صَامَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا :"يـَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالـنَّصَارَى" فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ) فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ ( قَالَ "فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم " رواه مسلم&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa, mereka berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya ‘Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Pada tahun mendatang Insya Allah kita juga akan berpuasa pada hari kesembilan” dia (Ibnu Abbas) berkata: “akan tetapi beliau&amp;nbsp; صلى الله عليه وسلم telah wafat sebelum tahun depan” (HR. Muslim). &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Imam Syafi’i, Ahmad, Ishak dan lainnya berkata : Disunnahkannya berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh, karena Nabi صلى الله عليه وسلم berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat berpuasa pada hari kesembilan.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Maka dari itu puasa ‘Asyura bertingkat-tingkat : (pertama): hanya berpuasa pada hari kesepuluhnya saja, (kedua): berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh dan (ketiga) dengan memperbanyak puasa pada bulan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; Hikmah Disunnahkannya Puasa Tasu’a :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Imam Nawawi&amp;nbsp; رحمه الله berkata: “Sebagian ‘ulama dari shahabat kami dan lainnya menyebutkan beberapa pendapat tentang hikmah disunnahkannya puasa Tasu’a, diantaranya adalah untuk menyelisihi Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; Dosa Apakah Yang Dihapus Pada Puasa ‘Asyura :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Imam Nawawi رحمه الله berkata: “Yang dihapus adalah semua dosa kecil dan tidak termasuk dosa besar”, (Lihat Al Majmu’ Syarhul Muhadzdzab juz 6 tentang puasa hari Arafah).&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata: “Bersuci, sholat, puasa Ramadhan, puasa hari Arafah dan ‘Asyura hanya dapat menghapus dosa-dosa kecil” (Lihat Al Fatawa Al Kubra juz 5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; Bid’ah – Bid’ah ‘Asyura &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam رحمه الله pernah ditanya tentang apa yang dilakukan oleh sebagian orang pada hari ‘Asyura, seperti memakai celak mata, mandi, mengolesi badan dengan daun pacar, saling berjabat tangan, memasak kacang-kacangan, menampakkan perasaan gembira, dan lain sebagainya, apakah kebiasaan-kebiasaan ini memiliki dasar di dalam agama atau tidak?&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Beliau menjawab : ”Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, sesungguhnya hal yang demikian itu sama sekali tidak disebutkan di dalam hadits-hadits nabi yang shohih dan juga tidak pernah dinukil dari para shahabat juga tabi’in, dan para ulama kaum muslimin termasuk Imam yang empat tidak mengangapnya sebagai sesuatu yang baik, dan tidak ada satu hadits pun baik yang shohih atau yang lemah berbicara mengenai hal itu, akan tetapi sebagian orang belakangan meriwayatkannya dari beberapa hadits seperti hadits yang berbunyi: “Barang siapa yang memakai celak pada hari ‘Asyura maka ia tidak akan tertimpa bencana pada tahun itu” dan semisalnya. Telah diriwayatkan di dalam hadits maudhu (palsu) lagi dusta yang disandarkan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم : “Barang siapa yang melapangkan keluarganya (dalam nafkah belanja dsb) pada hari ‘Asyura maka Allah akan meluaskan baginya sepanjang tahun”.Riwayat-riwayat seperti ini adalah bentuk kedustaan terhadap Nabi صلى الله عليه وسلم&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Kemudian beliau رحمه الله menyebutkan secara ringkas apa yang terjadi pada umat terdahulu berupa fitnah, peristiwa-peristiwa dan kisah tentang pembunuhan Husain Radhiyallahu Anhu serta apa yang dilakukan oleh sebagian firqah setelah kejadian-kejadian itu, kemudian selanjutnya beliau berkata: “Maka firqah tersebut menjadi sesat dan zholim, di antara mereka ada yang kufur, munafik dan ada yang termasuk orang yang disesatkan. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Di antara penyimpangannya antara lain mereka mencintai beliau (Husain) dan Ahlul Bait secara berlebihan, menjadikan hari ‘As-yura adalah hari berduka cita dan meratap, meraka menampakkan kebiasan-kebiasaan jahiliyah seperti menampar pipi, merobek-robek pakaian, saling memanggil dengan panggilan jahiliyah dan memperdengarkan syair-syair yang menyedihkan, padahal berita-berita tersebut kebanyakan dusta sehingga apa yang mereka perbuat hanya menambah dan melahirkan kesedihan, sikap fanatik, menyulut api peperangan dan menyebarnya fitnah diantara kaum muslimin serta merendahkan generasi terdahulu, sehingga keburukan dan bahaya mereka sampai-sampai tidak lagi dapat dihitung dan disebutkan oleh orang yang fasih. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Karena itu muncullah beberapa kaum yang menyimpang yang sebagian mereka adalah orang-orang&amp;nbsp; fanatik terhadap Husein رضي الله عنه dan keluarganya sedangkan lainnya ada-lah orang-orang jahil yang membalas keru-sakan dengan kerusakan, dusta dengan dusta, kejelekan dengan kejelekan, bid’ah dengan bid’ah. Mereka banyak memalsukan riwayat-riwayat sebagai dalil disyariatkannya bergembira pada hari ‘Asyura seperti mema-kai celak dan mencat kuku, pemberian nafkah kepada keluarganya, memasak makanan yang istimewa dan lainnya sebagaimana yang dilakukan pada hari raya. Mereka menjadikan Hari ‘Asyura sebagai suatu musim seperti layaknya hari raya dan waktu bersedih dan bergembira. Kedua kelompok tersebut menyimpang dan keluar dari sunnah.(Lihat Al Fatawa Al Kubra).&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Ibnu Al Hajjaj رحمه الله&amp;nbsp; menyebutkan bahwa diantara bid’ah ‘Asyura adalah menyengaja untuk mengeluarkan zakat, sama saja jika mengeluarkannya di awal atau di akhir waktu, mengkhususkam memotong ayam ketika itu dan memakai daun pacar bagi wanita. (Lihat Al Madkhal juz 1 tentang hari ‘Asyura).&lt;br /&gt;&lt;em&gt; -Abu Muhammad-&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[wahdah.or.id] &lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-8993534699061789146?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/8993534699061789146/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/puasa-asyura-dan-bulan-muharram.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/8993534699061789146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/8993534699061789146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/puasa-asyura-dan-bulan-muharram.html' title='Puasa Asyura dan Bulan Muharram'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/TP1gYFrFU6I/AAAAAAAAAGY/i1ebOLI7KV4/s72-c/muharram.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-7384991771869511159</id><published>2010-12-06T05:00:00.002+07:00</published><updated>2010-12-07T04:49:28.214+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Kekeliruan dalam Menyambut Awal Tahun Baru Hijriyah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRZAki5fb8L3qiS_RMTLf8mZyvtb4GTCjzAkSLjfs13L6R79fkhBg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRZAki5fb8L3qiS_RMTLf8mZyvtb4GTCjzAkSLjfs13L6R79fkhBg" width="256" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Sebentar lagi kita akan memasuki tanggal 1 Muharram 1432 H. Seperti  kita ketahui bahwa perhitungan awal tahun hijriyah dimulai dari  hijrahnya Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;Lalu bagaimanakah pandangan Islam mengenai awal tahun yang dimulai  dengan bulan Muharram? Ketahuilah bulan Muharram adalah bulan yang  teramat mulia, yang mungkin banyak di antara kita tidak mengetahuinya.  Namun banyak di antara kaum muslimin yang salah kaprah dalam menyambut  bulan Muharram atau awal tahun. Silakan simak pembahasan berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="more-3422"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bulan Muharram Termasuk Bulan Haram&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam agama ini, bulan Muharram (dikenal oleh orang Jawa dengan bulan  Suro), merupakan salah satu di antara empat bulan yang dinamakan bulan  haram. Lihatlah firman Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt; berikut.&lt;br /&gt;&lt;div dir="rtl"&gt;إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ  شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ  مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا  فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ&lt;/div&gt;”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan,  dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di  antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus,  maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.”  (QS. At Taubah: 36)&lt;br /&gt;Ibnu Rajab mengatakan, ”Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak  penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan  berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang  lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ  muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan  satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu  tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perputaran dan munculnya  bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang  dilakukan oleh Ahli Kitab.”&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html#_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Dari Abu Bakroh, Nabi &lt;i&gt;shallallahu ’alaihi wa sallam &lt;/i&gt;bersabda,&lt;br /&gt;&lt;div dir="rtl"&gt;الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ  السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا  أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو  الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى  وَشَعْبَانَ&lt;/div&gt;”&lt;i&gt;Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Di  antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut  yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah)  Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban&lt;/i&gt;.”&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html#_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah (1) Dzulqo’dah; (2)  Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab. &amp;nbsp;Oleh karena itu bulan Muharram  termasuk bulan haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Di Balik Bulan Haram&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan &lt;i&gt;haram&lt;/i&gt;? Al Qodhi Abu Ya’la &lt;i&gt;rahimahullah &lt;/i&gt;mengatakan, ”Dinamakan bulan &lt;i&gt;haram&lt;/i&gt; karena dua makna.&lt;br /&gt;Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.&lt;br /&gt;Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram  lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan  tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan  amalan ketaatan.”&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html#_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan  ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa  pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram,  aku sangat senang berpuasa di dalamnya.”&lt;br /&gt;Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut  sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada  bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang  dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.”&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html#_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bulan Muharram adalah Syahrullah (Bulan Allah)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Suri tauladan dan panutan kita, Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ’alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda,&lt;br /&gt;&lt;div dir="rtl"&gt;أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ&lt;/div&gt;”&lt;i&gt;Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa  pada syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharram. Sementara shalat yang  paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam&lt;/i&gt;.”&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html#_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bulan Muharram betul-betul istimewa karena disebut syahrullah yaitu bulan Allah, dengan disandarkan pada lafazh &lt;i&gt;jalalah&lt;/i&gt; Allah. Karena disandarkannya bulan ini pada lafazh &lt;i&gt;jalalah&lt;/i&gt; Allah, inilah yang menunjukkan keagungan dan keistimewaannya.&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html#_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perkataan yang sangat bagus dari As Zamakhsyari, kami nukil dari Faidhul Qodir (2/53), beliau &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; mengatakan, ”Bulan Muharram ini disebut syahrullah (bulan Allah), disandarkan pada lafazh &lt;i&gt;jalalah&lt;/i&gt;  ’Allah’ untuk menunjukkan mulia dan agungnya bulan tersebut,  sebagaimana pula kita menyebut ’Baitullah’ (rumah Allah) atau ’Alullah’  (keluarga Allah) ketika menyebut Quraisy. Penyandaran yang khusus di  sini dan tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya, ini menunjukkan  adanya keutamaan pada bulan tersebut. Bulan Muharram inilah yang  menggunakan nama Islami. Nama bulan ini sebelumnya adalah &lt;b&gt;Shofar Al Awwal&lt;/b&gt;.  Bulan lainnya masih menggunakan nama Jahiliyah, sedangkan bulan inilah  yang memakai nama islami dan disebut Muharram. Bulan ini adalah  seutama-utamanya bulan untuk berpuasa penuh setelah bulan Ramadhan.  Adapun melakukan puasa &lt;i&gt;tathowwu’&lt;/i&gt; (puasa sunnah) pada sebagian  bulan, maka itu masih lebih utama daripada melakukan puasa sunnah pada  sebagian hari seperti pada hari Arofah dan 10 Dzulhijah. Inilah yang  disebutkan oleh Ibnu Rojab. Bulan Muharram memiliki keistimewaan  demikian karena bulan ini adalah bulan pertama dalam setahun dan pembuka  tahun.”&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html#_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Al Hafizh Abul Fadhl Al ’Iroqiy mengatakan dalam Syarh Tirmidzi, ”Apa  hikmah bulan Muharram disebut dengan syahrullah (bulan Allah), padahal  semua bulan adalah milik Allah?”&lt;br /&gt;Beliau rahimahullah menjawab, ”Disebut demikian karena di bulan  Muharram ini diharamkan pembunuhan. Juga bulan Muharram adalah bulan  pertama dalam setahun. Bulan ini disandarkan pada Allah (sehingga  disebut syahrullah atau bulan Allah, pen) untuk menunjukkan istimewanya  bulan ini. Dan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sendiri tidak pernah  menyandarkan bulan lain pada Allah Ta’ala kecuali bulan Allah (yaitu  Muharram).&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html#_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dengan melihat penjelasan Az Zamakhsyari dan Abul Fadhl Al ’Iroqiy di  atas, jelaslah bahwa bulan Muharram adalah bulan yang sangat utama dan  istimewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menyambut Tahun Baru Hijriyah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam menghadapi tahun baru hijriyah atau bulan Muharram, sebagian  kaum muslimin salah dalam menyikapinya. Bila tahun baru Masehi disambut  begitu megah dan meriah, maka mengapa kita selaku umat Islam tidak  menyambut tahun baru Islam semeriah tahun baru masehi dengan perayaan  atau pun amalan?&lt;br /&gt;Satu hal yang mesti diingat bahwa sudah semestinya kita mencukupkan  diri dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya. Jika mereka tidak melakukan  amalan tertentu dalam menyambut tahun baru Hijriyah, maka sudah  seharusnya kita pun mengikuti mereka dalam hal ini. Bukankah para ulama  Ahlus Sunnah seringkali menguatarakan sebuah kalimat,&lt;br /&gt;&lt;div dir="rtl"&gt;لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ&lt;/div&gt;“&lt;i&gt;Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita melakukannya&lt;/i&gt;.”&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html#_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt;  Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang  tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan  semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu  kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya.&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html#_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sejauh yang kami tahu, tidak ada amalan tertentu yang dikhususkan  untuk menyambut tahun baru hijriyah. Dan kadang amalan yang dilakukan  oleh sebagian kaum muslimin dalam menyambut tahun baru Hijriyah adalah  amalan yang tidak ada tuntunannya karena sama sekali tidak berdasarkan  dalil atau jika ada dalil, dalilnya pun lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Amalan Keliru dalam Menyambut Awal Tahun Hijriyah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Amalan Pertama&lt;/b&gt;&lt;b&gt;: Do’a awal dan akhir tahun&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Amalan seperti ini sebenarnya tidak ada tuntunannya sama sekali. Amalan ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;,  para sahabat, tabi’in dan ulama-ulama besar lainnya. Amalan ini juga  tidak kita temui pada kitab-kitab hadits atau musnad. Bahkan amalan do’a  ini hanyalah karangan para ahli ibadah yang tidak mengerti hadits.&lt;br /&gt;Yang lebih parah lagi, fadhilah atau keutamaan do’a ini sebenarnya  tidak berasal dari wahyu sama sekali, bahkan yang membuat-buat hadits  tersebut telah berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;Jadi mana mungkin amalan seperti ini diamalkan.&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html#_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Amalan kedua&lt;/b&gt;&lt;b&gt;: Puasa awal dan akhir tahun&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang ada yang mengkhsuskan puasa dalam di akhir bulan  Dzulhijah dan awal tahun Hijriyah. Inilah puasa yang dikenal dengan  puasa awal dan akhir tahun. Dalil yang digunakan adalah berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;div dir="rtl"&gt;مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الحِجَّةِ ، وَأَوَّلِ  يَوْمٍ مِنَ المُحَرَّمِ فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ المَاضِيَةَ بِصَوْمٍ ،  وَافْتَتَحَ السَّنَةُ المُسْتَقْبِلَةُ بِصَوْمٍ ، جَعَلَ اللهُ لَهُ  كَفَارَةٌ خَمْسِيْنَ سَنَةً&lt;/div&gt;“Barang siapa yang berpuasa sehari pada akhir dari bulan Dzuhijjah  dan puasa sehari pada awal dari bulan Muharrom, maka ia sungguh-sungguh  telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan  datang dengan puasa. Dan Allah ta’ala menjadikan kaffarot/tertutup  dosanya selama 50 tahun.”&lt;br /&gt;Lalu bagaimana penilaian ulama pakar hadits mengenai riwayat di atas:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Adz Dzahabi dalam &lt;i&gt;Tartib Al Mawdhu’at&lt;/i&gt; (181) &amp;nbsp;mengatakan bahwa Al Juwaibari dan gurunya –Wahb bin Wahb- yang meriwayatkan hadits ini termasuk pemalsu hadits.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Asy Syaukani dalam &lt;i&gt;Al Fawa-id Al Majmu’ah&lt;/i&gt; (96) mengatan bahwa ada dua perowi yang pendusta yang meriwayatkan hadits ini.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ibnul Jauzi dalam &lt;i&gt;Mawdhu’at&lt;/i&gt; (2/566) mengatakan bahwa Al Juwaibari dan Wahb yang meriwayatkan hadits ini adalah seorang pendusta dan pemalsu hadits.&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html#_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Kesimpulannya hadits yang menceritakan keutamaan puasa awal dan akhir  tahun adalah hadits yang lemah yang tidak bisa dijadikan dalil dalam  amalan. Sehingga tidak perlu mengkhususkan puasa pada awal dan akhir  tahun karena haditsnya jelas-jelas lemah.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Amalan Ketiga&lt;/b&gt;&lt;b&gt;: Memeriahkan Tahun Baru Hijriyah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Merayakan tahun baru hijriyah dengan pesta kembang api, mengkhususkan  dzikir jama’i, mengkhususkan shalat tasbih, mengkhususkan pengajian  tertentu dalam rangka memperingati tahun baru hijriyah, menyalakan  lilin, atau &amp;nbsp;membuat pesta makan, jelas adalah sesuatu yang tidak ada  tuntunannya. Karena penyambutan tahun hijriyah semacam ini tidak pernah  dicontohkan oleh Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, Abu Bakr,  ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, para sahabat lainnya, para tabi’in dan para ulama  sesudahnya. Yang memeriahkan tahun baru hijriyah sebenarnya hanya ingin  menandingi tahun baru masehi yang dirayakan oleh Nashrani. Padahal  perbuatan semacam ini jelas-jelas telah menyerupai mereka (orang kafir).  Secara gamblang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;div dir="rtl"&gt;مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ&lt;/div&gt;&lt;i&gt;”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html#_ftn13"&gt;&lt;b&gt;[13]&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penutup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Menyambut tahun baru hijriyah bukanlah dengan memperingatinya dan  memeriahkannya. Namun yang harus kita ingat adalah dengan bertambahnya  waktu, maka semakin dekat pula kematian.&lt;br /&gt;Sungguh hidup di dunia hanyalah sesaat dan semakin bertambahnya waktu kematian pun semakin dekat. Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/i&gt;bersabda,&lt;br /&gt;&lt;div dir="rtl"&gt;مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا&lt;/div&gt;“&lt;i&gt;Aku tidaklah mencintai dunia dan tidak pula mengharap-harap  darinya. Adapun aku tinggal di dunia tidak lain seperti pengendara yang  berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu meninggalkannya.&lt;/i&gt;”&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html#_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hasan Al Bashri mengatakan, “&lt;i&gt;Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanya memiliki beberapa hari. Tatkala satu hari hilang, akan hilang pula sebagian darimu&lt;/i&gt;.”&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html#_ftn15"&gt;[15]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Semoga Allah memberi kekuatan di tengah keterasingan. Segala puji  bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, ST&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html" title="Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat"&gt;http://rumaysho.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html#_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Latho-if Al Ma’arif&lt;/i&gt;, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 217, Tahqiq: Yasin Muhammad As&amp;nbsp; Sawas, Dar Ibnu Katsir, cetakan kelima, 1420 H.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html#_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679&lt;br /&gt;&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html#_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, tafsir surat At Taubah ayat 36, 3/173, Mawqi’ At Tafasir.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html#_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Kedua perkataan ini dinukil dari Latho-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html#_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt; HR. Muslim no. 2812&lt;br /&gt;&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html#_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Lihat &lt;i&gt;Tuhfatul&amp;nbsp; Ahwadzi&lt;/i&gt;, Al Mubarakfuri, 3/368, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html#_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Lihat &lt;i&gt;Faidul Qodir&lt;/i&gt;, Al Munawi, 2/53, Mawqi’ Ya’sub.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html#_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Syarh Suyuthi li Sunan An Nasa’i&lt;/i&gt;, Abul Fadhl As Suyuthi, 3/206, Al Maktab Al Mathbu’at Al Islami, cetakan kedua, tahun 1406 H.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html#_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt; T&lt;i&gt;afsir Al Qur’an Al ‘Azhim&lt;/i&gt;, Ibnu Katsir, tafsir surat Al Ahqof: 11, 7/278-279, Dar Thoyibah, cetakan kedua, tahun 1420 H.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html#_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt; Idem&lt;br /&gt;&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html#_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Lihat Majalah Qiblati edisi 4/III.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html#_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Hasil penelusuran di &lt;a href="http://dorar.net/"&gt;http://dorar.net&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html#_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt;  HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ (1/269)  mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani  mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no.  1269&lt;br /&gt;&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html#_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt; HR. Tirmidzi no. 2551. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi&lt;br /&gt;&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html#_ftnref15"&gt;[15]&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Hilyatul Awliya’&lt;/i&gt;, 2/148, Darul Kutub Al ‘Arobi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-7384991771869511159?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/7384991771869511159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/7384991771869511159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/7384991771869511159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun.html' title='Kekeliruan dalam Menyambut Awal Tahun Baru Hijriyah'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-3537883448725290044</id><published>2010-12-05T09:25:00.005+07:00</published><updated>2010-12-09T13:24:14.581+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AL-QuR&apos;aN'/><title type='text'>Tafsir Isti'adzah</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;big&gt;&lt;big&gt;&lt;big&gt; اعوذ بالله من الشيطان الرجيم &lt;/big&gt;&lt;/big&gt;&lt;/big&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;"Aku memohon perlindungan kepada Allah dari Syetan yang terkutuk"&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_OPZ4FmLT6E4/SpLL9LGfEKI/AAAAAAAAAFk/M4Wpadsk1gI/s320/shahro_ramadan_by_islamicwallpers.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_OPZ4FmLT6E4/SpLL9LGfEKI/AAAAAAAAAFk/M4Wpadsk1gI/s320/shahro_ramadan_by_islamicwallpers.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;Makna Al Isti'adzah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Al Isti'adzah adalah kembali kepada Allah dan bergantung di sisiNya dari  segala bentuk kejahatan. Dengan demikian, maka kalimat 'A'udzu billahi  minasyaithani-rrajim' dapat diuraikan maknanya dengan : "Aku memohon  perlindungan kepada Allah dari Syetan yang terkutuk agar ia tidak  mencelakakanku dalam urusan agama dan duniaku, atau agar ia tidak  menghalangiku untuk mengerjakan apa yang diperintahkan kepadaku, atau  agar ia tidak mendorongku untuk melakukan apa yang dilarang".&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;Perbedaan Antara Syetan Manusia dan Syetan Jin&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Apa yang diungkapkan oleh seorang muslim dalam kalimat isti'adzah  tersebut secara khusus ditujukan untuk menghadapi syetan yang tidak  nampak wujudnya, atau yang sering dikenal dengan syetan dari kalangan  jin. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan 'siasat' dalam menghadapi  syetan dari kalangan manusia dan syetan dari kalangan jin. Bila terhadap syetan berwujud manusia kita diperintahkan untuk melakukan  kebaikan demi membujuknya agar kembali ke tabi'atnya yang lurus dan  tidak mengganggu kita lagi. Namun terhadap syetan yang berasal dari  kalangan jin, kita diperintahkan untuk beristi'adzah karena mereka tidak  bisa menerima suap dan hati mereka tidak tergugah dengan sikap dan  perlakuan baik kita, sebab pada dasarnya tabiat asal mereka adalah  tabiat jahat, dan tidak ada yang bisa melindungi kita dari mereka selain  Yang menciptakan mereka ; Allah Azza wa Jalla. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Prinsip ini dijelaskan dengan sangat jelas dalam tiga bagian ayat-ayat Al Qur'an, yaitu : &lt;br /&gt;1. Firman Allah Ta'ala :&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt; خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ إِمَّا  يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ  سَمِيعٌ عَلِيمٌ&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jadilah engkau pema`af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma`ruf, serta  berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh. Dan jika kamu ditimpa  sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya  Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.." (Al A'raf : 199-200) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;2. Firman Allah Ta'ala : &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt; وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ  أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ  حَمِيمٌ وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا  إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ  فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu)  dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan  antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat  setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada  orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada  orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Dan jika syaitan  mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada  Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."  (Fushshilat : 34-36) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;3. Allah Ta'ala berfirman : &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt; ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا  يَصِفُون َ. وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِين.  وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih  mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakanlah: "Ya Tuhanku aku  berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku  berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka  kepadaku." (Al Mu'minun : 96-98) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Perhatikanlah ketiga kelompok ayat ini ! Ketiganya menunjukkan bagaimana  Allah Ta'ala memberikan petunjuk perlakuan yang berbeda dalam  menghadapi syetan dari kalangan jin dan manusia seperti yang telah  dijelaskan sebelumnya. Maka semoga kita termasuk orang yang memahami dan  mengamalkan petunjuk tersebut.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;Tentang Syaitan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kata Syaitan dalam bahasa Arab kemungkinan berasal dari salah satu dari  dua kata : Pertama, ia berasal dari kata Syathana ; sebuah kata kerja yang berarti  telah menjauh. Berdasarkan ini, maka Syaitan itu adalah makhluq yang  telah jauh menyimpang dari tabi'at kemanusiaan dan dengan kedurhakaan  dan kefasikannya telah jauh dari segala kebaikan. Kedua, Bisa juga Syaitan berasal dari dari bentukan kata Syaatha yang  menunjukkan bahwa ia tercipta dari api. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Para ulama berbeda pandangan dalam hal ini. Walaupun sebagian ulama  berpandangan bahwa kedua asal kata itu semuanya benar, namun yang paling  tepat adalah asal kata yang pertama yaitu bahwa kata Syaitan berasal  dari syathana yang berarti menjauh dan menyimpang dari yang seharusnya.  Itulah sebabnya –dalam bahasa Arab- makhluk manapun apakah ia berupa  jin, manusia atau binatang yang membangkang disebut sebagai syaitan. &lt;br /&gt;Tentang adanya syaitan dari kalangan jin dan manusia, Allah Ta'ala mengatakan :&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt; وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ  وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا  وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu  syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian  mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang  indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya  mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang  mereka ada-adakan." (Al An'am : 112)&lt;br /&gt;Sedangkan tentang syaitan dari kalangan manusia secara khusus,  Rasulullah saw juga pernah berpesan kepada sahabat Abu Dzar –radhiallahu  'anhu- : "Wahai Abu Dzar, memohon perlindunganlah engkau kepada Allah  dari syaitan-syaitan manusia dan jin." Maka Abu Dzar berkata : "Apakah  pada bangsa manusia juga terdapat syaitan ?", beliau menjawab : "Iya."  (HR. Ahmad)&lt;br /&gt;Adapun tentang syaitan dari kalangan makhluq lain (binatang), maka  Rasulullah saw juga pernah mengatakan : "Shalat (seseorang) itu terputus  (disebabkan oleh lewatnya) wanita, keledai dan anjing hitam (di  depannya saat ia shalat-pen)." Sahabat Abu Dzar bertanya : "Wahai  Rasulullah, mengapa (hanya) anjing hitam (saja), tidak yang merah dan  kuning ?" Maka beliau saw menjawab : "Anjing hitam itu adalah syaitan".  (HR. Muslim)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;Makna 'Ar Rajiim'&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kata Ar Rajiim bermakna yang dilempar dan dijauhkan dari segala kebaikan. Allah Ta'ala mengatakan :&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt; وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا  رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan  bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar  syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala."  (Al Mulk : 5) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Allah Ta'ala juga berfirman : &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt; وَلَقَدْ جَعَلْنَا فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَزَيَّنَّاهَا لِلنَّاظِرِينَ .وَحَفِظْنَاهَا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di  langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang  memandang (nya), dan Kami menjaganya dari tiap-tiap syaitan yang  terkutuk (tertolak dari segala kebaikan)" (Al Hijr : 16-17) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Namun ada pula sebagian ulama yang mengatakan bahwa makna Ar Rajiim itu  adalah yang melempar dan merajam, sebab syaitan itu selalu melemparkan  berbagai bentuk was-was, bisikan dan keraguan kepada manusia. Namun  pendapat pertamalah yang nampaknya lebih mendekati kebenaran dan masyhur  di kalangan para ulama. Wallahu a'lam.&lt;br /&gt;[wahdah.or.id] &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-3537883448725290044?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/3537883448725290044/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/tafsir-istiadzah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/3537883448725290044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/3537883448725290044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/tafsir-istiadzah.html' title='Tafsir Isti&apos;adzah'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_OPZ4FmLT6E4/SpLL9LGfEKI/AAAAAAAAAFk/M4Wpadsk1gI/s72-c/shahro_ramadan_by_islamicwallpers.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-7237057020732884277</id><published>2010-12-04T08:29:00.004+07:00</published><updated>2010-12-04T08:29:00.289+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PendidikanAnak'/><title type='text'>Anak Nakal, Bagaimana Mengatasinya? (1/3)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://images.paraorkut.com/img/pics/glitters/h/hands-9041.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://images.paraorkut.com/img/pics/glitters/h/hands-9041.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Mendidik anak merupakan perkara yang mulia tapi gampang-gampang susah  dilakukan, karena di satu sisi, setiap orang tua tentu menginginkan  anaknya tumbuh dengan akhlak dan tingkah laku terpuji, tapi di sisi  lain, mayoritas orang tua terlalu dikuasai rasa tidak tega untuk tidak  menuruti semua keinginan sang anak, sampai pun dalam hal-hal yang akan  merusak pembinaan akhlaknya.&lt;span id="more-275"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang yang beriman kepada Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/i&gt;, kita meyakini bahwa sebaik-baik nasihat untuk kebaikan hidup kita dan keluarga adalah petunjuk yang diturunkan oleh Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/i&gt; dalam al-Qur-an dan sabda-sabda nabi-Nya &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;. Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/i&gt; berfirman,&lt;br /&gt;&lt;div class="arab" style="text-align: right;"&gt;يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ  جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ  وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ. قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ  فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ&lt;/div&gt;“&lt;i&gt;Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu nasihat dari Rabb&lt;/i&gt;&lt;i&gt;-&lt;/i&gt;&lt;i&gt;mu  (Allah Subhanahu wa Ta’ala), penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam  dada (hati manusia) dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang  beriman. Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah  dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu adalah lebih  baik dari perhiasan duniawi yang dikumpulkan oleh manusia.’&lt;/i&gt;” (QS. Yunus: 57-58).&lt;br /&gt;Dalam hal yang berhubungan dengan pendidikan anak, secara khusus Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/i&gt; mengingatkan orang-orang yang beriman akan besarnya &lt;i&gt;fitnah&lt;/i&gt; yang ditimbulkan karena kecintaan yang melampaui batas terhadap mereka. Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/i&gt; berfirman,&lt;br /&gt;&lt;div class="arab" style="text-align: right;"&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوّاً لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ&lt;/div&gt;“&lt;i&gt;Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara  istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka  berhati-hatilah kamu terhadap mereka…”&lt;/i&gt; (QS. at-Taghabun: 14).&lt;br /&gt;Makna “&lt;i&gt;menjadi musuh bagimu&lt;/i&gt;” dalam firman-Nya adalah  “melalaikan kamu dari melakuakan amal shalih dan bisa menjerumuskanmu ke  dalam perbuatan maksiat kepada Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/i&gt;.”&lt;a href="http://manisnyaiman.com/fenomena-anak-nakal/#_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “…Karena jiwa manusia memiliki &lt;i&gt;fitrah&lt;/i&gt; untuk cinta kepada istri dan anak-anak, maka (dalam ayat ini) Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/i&gt;  memperingatkan hamba-hamba-Nya agar (jangan sampai) kecintaan ini  menjadikan mereka menuruti semua keinginan istri dan anak-anak mereka  dalam hal-hal yang dilarang dalam syariat. Dan Dia memotivasi  hamba-hamba-Nya untuk (selalu) melaksanakan perintah-perintah-Nya dan  mendahulukan keridhaan-Nya….”&lt;a href="http://manisnyaiman.com/fenomena-anak-nakal/#_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Fenomena kenakalan anak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Fenomena ini merupakan perkara besar yang cukup memusingkan dan  menjadi beban pikiran para orangtua dan pendidik, karena fenomena ini  cukup merata dan dikeluhkan oleh mayoritas masyarakat, tidak terkecuali  kaum muslimin.&lt;br /&gt;Padahal, syariat Islam yang sempurna telah mengajarkan segala sesuatu  kepada umat Islam, sampai dalam masalah yang sekecil-kecilnya, apalagi  masalah besar dan penting seperti pendidikan anak. Sahabat yang mulia,  Salman Al-Farisi &lt;i&gt;radhiallahu ‘anhu&lt;/i&gt; pernah ditanya oleh seorang &lt;i&gt;musyrik&lt;/i&gt;, “Sungguhkah Nabi kalian (Nabi Muhammad &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;) telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai (masalah) adab buang air besar?” Salman menjawab, “&lt;i&gt;Benar.  Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami menghadap ke kiblat  ketika buang air besar atau ketika buang air kecil….&lt;/i&gt;”&lt;a href="http://manisnyaiman.com/fenomena-anak-nakal/#_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bukankah Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/i&gt; yang mensyariatkan agama  ini Dialah yang menciptakan alam semesta beserta isinya dan Dialah yang  maha mengetahui kondisi semua makhluk-Nya serta cara untuk memperbaiki  keadaan mereka? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;div class="arab" style="text-align: right;"&gt;أَلا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ&lt;/div&gt;“&lt;i&gt;Bukankah Allah yang menciptakan (alam&amp;nbsp; semesta besrta isinya)  Maha Mengetahui (keadaan mereka)?, dan Dia Maha Halus lagi Maha  Mengetahui (segala sesuatu dengan terperinci).”&lt;/i&gt; (QS. al-Mulk: 14).&lt;br /&gt;Akan tetapi, kenyataan pahit yang terjadi adalah, untuk mengatasi  fenomena buruk tersebut, mayoritas kaum muslimin justru lebih percaya  dan kagum terhadap teori-teori/ metode pendidikan anak yang diajarkan  oleh orang-orang barat, yang &lt;i&gt;notabene &lt;/i&gt;kafir dan tidak mengenal keagungan Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/i&gt;,  sehingga mereka rela mencurahkan waktu, tenaga dan biaya besar untuk  mengaplikasikan teori-teori tersebut kepada anak-anak mereka.&lt;br /&gt;Mereka lupa bahwa orang-orang kafir tersebut sendiri tidak mengetahui  dan mengusahakan kebaikan untuk diri mereka sendiri, karena mereka  sangat jauh berpaling dan lalai dari mengenal kebesaran Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; yang menciptakan mereka, sehingga Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/i&gt; menjadikan mereka lupa kepada segala kebaikan dan kemuliaan untuk diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/i&gt; berfirman,&lt;br /&gt;&lt;div class="arab" style="text-align: right;"&gt;وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ&lt;/div&gt;“&lt;i&gt;Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa (lalai) kepada  Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri,  mereka itulah orang-orang yang fasik.”&lt;/i&gt; (QS. al-Hasyr: 19)&lt;br /&gt;Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata, “Renungkanlah ayat (yang  mulia) ini, maka kamu akan menemukan suatu makna yang agung dan mulia di  dalamnya, yaitu barangsiapa yang lupa kepada Allah, maka Allah akan  menjadikan dia lupa kepada dirinya sendiri, sehingga dia tidak  mengetahui hakikat dan kebaikan-kebaikan untuk dirinya sendiri. Bahkan,  dia melupakan jalan untuk kebaikan dan keberuntungan dirinya di dunia  dan akhirat. Dikarena dia telah berpaling dari &lt;i&gt;fitrah&lt;/i&gt; yang  Allah jadikan bagi dirinya, lalu dia lupa kepada Allah, maka Allah  menjadikannya lupa kepada diri dan perilakunya sendiri, juga kepada  kesempurnaan, kesucian dan kebahagiaan dirinya di dunia dan akhirat.  Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/i&gt; berfirman,&lt;br /&gt;&lt;div class="arab" style="text-align: right;"&gt;وَلا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطاً&lt;/div&gt;“&lt;i&gt;Dan janganlah kamu mengikuti orang yang telah kami lalaikan  hatinya dari mengingat Kami, serta menuruti hawa (nafsu)nya, dan  keadaannya itu melampaui batas.”&lt;/i&gt; (QS. al-Kahfi: 28).&lt;br /&gt;Dikarenakan dia lalai dari mengingat Allah, maka keadaan dan hatinya  pun melampaui batas (menjadi rusak), sehingga dia tidak memperhatikan  sedikit pun kebaikan, kesempurnaan serta kesucian jiwa dan hatinya.  Bahkan, (kondisi) hatinya (menjadi) tak menentu dan tidak terarah,  keadaannya melampaui batas, kebingungan serta tidak mendapatkan petunjuk  ke jalan (yang benar).”&lt;a href="http://manisnyaiman.com/fenomena-anak-nakal/#_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Maka orang yang keadaannya seperti ini, apakah bisa diharapkan  memberikan bimbingan kebaikan untuk orang lain, sedangkan untuk dirinya  sendiri saja kebaikan tersebut tidak bisa diusahakannya? Mungkinkah  orang yang seperti ini keadaannya akan merumuskan metode pendidikan anak  yang baik dan benar dengan pikirannya, padahal pikiran mereka jauh dari  petunjuk Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/i&gt; dan memahami kebenaran yang hakiki? Adakah yang mau mengambil pelajaran dari semua ini?&lt;br /&gt;-bersambung &lt;i&gt;insya Allah&lt;/i&gt;-&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, M.A&lt;br /&gt;Artikel &lt;a href="http://www.manisnyaiman.com/"&gt;www.manisnyaiman.com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-7237057020732884277?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/7237057020732884277/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/anak-nakal-bagaimana-mengatasinya-13.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/7237057020732884277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/7237057020732884277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/anak-nakal-bagaimana-mengatasinya-13.html' title='Anak Nakal, Bagaimana Mengatasinya? (1/3)'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-4664683316335211125</id><published>2010-12-03T07:57:00.008+07:00</published><updated>2010-12-03T07:57:00.865+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Hukum-Hukum Seputar Sholat Jumat</title><content type='html'>&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: Traditional Arabic;"&gt;&lt;span style="font-size: 20pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: Traditional Arabic;"&gt;&lt;span style="font-size: 20pt;"&gt;بسم الله الرحمن الرحيم&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://ustadzrofii.files.wordpress.com/2010/09/kekeliruan-sholat-jumat1.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://ustadzrofii.files.wordpress.com/2010/09/kekeliruan-sholat-jumat1.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas Nabi kita Muhammad &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;/i&gt; juga atas keluarga, para shahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik hingga akhir zaman. Amma ba’du:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Hukum Sholat Jum’at&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sholat Jum’at hukumnya wajib atas setiap  Muslimin yang telah terkena beban syari’at (mukallaf), karena Allah  Ta’ala telah memerintahkan hal tersebut di dalam Al-Qur’an. Allah &lt;i&gt;subhanahu wata’ala&lt;/i&gt; berfirman :&lt;span id="more-199"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="direction: rtl; margin: 6px 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: Traditional Arabic;"&gt; &lt;span style="font-size: 20pt;"&gt; يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan Sholat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah”&lt;/i&gt; &lt;b&gt;[QS. Al-Jumu’ah : 9]&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun kewajiban ini tidak berlaku atas 4  golongan yaitu: hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang sakit.  Hal in berdasarkan sabda Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;/i&gt;:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“Sholat Jum’at adalah wajib atas setiap muslim, kecuali empat &lt;/i&gt;golongan&lt;i&gt; : hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang sakit.” &lt;/i&gt;&lt;b&gt;[Hadits shohih riwayat Abu Daud dari Thoriq Bin Shihab]&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Bilangan Jama’ah Sholat Jum’at &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sholat Jum’at sah dilakukan oleh dua  orang yaitu satu imam dan satu ma’mum dengan alasan bahwa Sholat Jum’at  adalah salah satu jenis Sholat dari jenis-jenis Sholat yang ada, dimana  untuk menetapkan syarat bilangan jama’ah demi sahnya Sholat membutuhkan  dalil. Dan tidak ada dalil shohih yang bisa dijadikan dasar pijakan  untuk menunjukkan adanya batasan tersebut. apabila disuatu tempat hanya  ada dua orang lelaki, lalu salah seorang berdiri untuk Khutbah dan yang  satunya menyimak, kemudian keduanya berdiri untuk Sholat Jum’at secara  berjama’ah, maka keduanya telah sah melakukan Sholat Jum’at.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam As-Suyuti berkata : &lt;i&gt;“Tidak ada hadits yang menetapkan ketentun bilangan yang khusus (di dalam sholat Jum’at).”&lt;/i&gt; Demikian juga pendapat Imam Ath-Thobrani, Abu Dawud An-Nakho’if dan Ibnu Hazm.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Hukum Mandi Jum’at&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mandi Jum’at sebelum melaksanakan sholat Jum’at hukumnya WAJIB, berdasarkan sabda Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;/i&gt;:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;”Mandi pada hari Jum’at adalah wajib atas setiap Muslim yang telah baligh.” &lt;/i&gt;&lt;b&gt;[HR. Al-Bukhori dan Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudriy]&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Juga sabda beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;/i&gt;:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“Apabila salah seorang diantara kalian hendak melaksanakan sholat Jum’at maka hendaknya dia mandi.”&lt;/i&gt; &lt;b&gt;[HR. Al-Bukhori dan Muslim dari Ibnu ‘Umar]&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari hadits ini dipahami bahwasanya  kewajiban mandi Jum’at ini hanya berlaku bagi orang yang hendak  melaksanakan sholat Jum’at, dan tidak disyari’atkan bagi orang yang  tidak akan menghadiri (melaksanakan) sholat Jum’at.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun cara mandi Jum’at ini sama dengan  mandi wajib lainnya, seperti mandi janabat (junub)  atau mandi selepas  haidh. Yaitu minimal melaksanakan 2 rukun mandi : berniat dan meratakan  air keseluruh tubuh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Adzan Jum’at&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam Az-Zuhri &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; berkata: &lt;i&gt;“Sa’ib  bin Yazib mengabari saya bahwasanya adzan pada awalnya adalah ketika  imam duduk di atas mimbar pada hari Jum’at di masa Nabi&lt;/i&gt; &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Abu Bakar &lt;/i&gt; &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu dan Umar radhiyallahu ‘anhu.&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Pada  saat pemerintahan Utsman radhiyallahu ‘anhu jumlah penduduk semakin  banyak dan rumah-rumah berjauhan, maka Utsman memerintahkan pada hari  Jum’at adzan ketiga&lt;/i&gt; (dalam sebuah riwayat disebutkan : &lt;i&gt;“Adzan pertama”,&lt;/i&gt; dan dalam riwayat lain : &lt;i&gt;“adzan kedua”.&lt;/i&gt;) &lt;i&gt;pada  sebuah ruangan milik beliau dipasar yang bernama ‘Zawra’ . Lalu  dikumandangkanlah adzan di Zawra’, sehingga perkara itu menjadi  demikian….” &lt;/i&gt;&lt;b&gt;[HR. Albukhori dan Abu Dawud]&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hadits ini menerangkan bahwa penyebab adanya dua adzan yang dilakukan oleh ‘Utsman &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt;  yaitu karena banyaknya jumlah penduduk dan jauhnya rumah mereka dari  masjid, sehingga suara adzan tidak sampai kepada mereka. Dan maksud  adzan pertama yang dilakukan oleh ‘Utsman ini adalah sebagai  pemberitahuan kepada orang-orang yang jauh bahwa waktu sholat Jum’at  telah tiba, agar mereka bersiap-siap menghadiri khutbah Jum’at.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun di zaman sekarang penyebab ini  hampir tidak ada, sehingga dengan demikian berarti memberlakukan adzan  ‘Utsman termasuk kategori mengupayakan sesuatu yang sudah dicapai, dan  ini tidak boleh dilakukan; terlebih lagi didalamnya terdapat penambahan  terhadap syari’at Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;/i&gt; tanpa sebab yantg dibenarkan. Oleh karena itu Ali Bin Abi Tholib saat berada di Kufah mencukupkan dengan sunnah Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;/i&gt; (satu kali adzan –pent.) dan tidak memberlakukan adzan tambahan “Utsman. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Qurthubi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibnu ‘Umar &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhum&lt;/i&gt;a berkata : &lt;i&gt;“Adalah Nabi&lt;/i&gt; &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;/i&gt; &lt;i&gt;jika naik mimbar maka Bilal adzan, dan bila Nabi&lt;/i&gt; &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;/i&gt; &lt;i&gt;telah selesai berkhutbah beliau langsung sholat. Adapun adzan yang pertama (adzan ‘Utsman –&lt;/i&gt;pent&lt;i&gt;.) adalah bid’ah.”&lt;/i&gt; &lt;b&gt;[Diriwayatkan oleh Abu Thohir Al-Mukhlis dalam “Al-Fawa’id”]&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam Asy-Syafi’iy di dalam kitab “Al-Umm” berkata : &lt;i&gt;“Aku  menyukai adzan pada hari Jum’at ketika imam masuk masjid dan duduk di  atas mimbar. Apabila imam telah melakukan hal tersebut, maka muadzin  mulai adzan. Apabila adzan selesai dikumandangkan, maka imam berdiri dan  berkhutbah tanpa menambahinya &lt;/i&gt;(dengan adzan yang lain –pent.)&lt;i&gt;.”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Hukum Khutbah Jum’at&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Allah &lt;i&gt;subhanahu wata’ala&lt;/i&gt; berfirman :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“Hai orang-orang yang beriman,  apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari Jum’at, maka  bersegeralah kalian kepada mengingat Allah.”&lt;/i&gt; &lt;b&gt;[QS. Al-Jumu’ah : 9]&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Allah ta’ala telah memerintahkan didalam ayat ini untuk segera mengingat Allah &lt;i&gt;‘azza wa jalla&lt;/i&gt;,  dan khutbah termasuk mengingat Allah. Maka perintah di atas mencakup  perintah untuk melakukan khutbah, sehingga dapat disimpulkan bahwa ayat  ini menunjukkan wajibnya khutbah Jum’at. Hal ini juga dikuatkan dengan  perbuatan Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;/i&gt; dimana beliau secara kontinyu (terus-menerus) melaksanakan khutbah Jum’at.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Haram Berbicara Ketika Khotib Berkhutbah&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat  bahwa wajib diam dan haram hukumnya berbicara disaat khotib sedang  berkhutbah, sekalipun dalam rangka amar ma’ruf (menyuruh kepada yang  baik) dan nahi mungkar (melarang dari yang jelek). Sebab Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;/i&gt; telah bersabda :&lt;i&gt;”Siapa  saja yang berbicara pada hari Jum’at dalam keadaan imam berkhutbah,  maka dia seperti keledai yang membawa kitab. Dan orang yang mengatakan  kepadanya “diamlah” , maka tidak ada Jum’at baginya.” &lt;/i&gt;&lt;b&gt;[HR. Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Al-Bazzar dan Ath-Thobraniy]&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;/i&gt; juga bersabda :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“Kalau kamu mengatakan kepada  temanmu “diamlah” dalam keadaan imam berkhutbah, maka sungguh kamu telah  melakukan perbuatan sia-sia.”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Kapan Seseorang  Dianggap mendapatkan Sholat Jum’at&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;/i&gt; bersabda :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“Siapa yang mendapatkan satu rakaat sholat Jum’at, maka dia telah mendapatkan sholat Jum’at.”&lt;/i&gt; &lt;b&gt;[Hadits shohih riwayat An-Nasa’i dari Abi Hurairah]&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka orang yang mendapatkan satu rakaat  sholat Jum’at berarti dia telah mendapatkan sholat Jum’at sehingga dia  tinggal menyempurnakan satu rakaat yang luput. Imam Ash-Shon’aniy di  dalam kitab Subulus Salam berkata : &lt;i&gt;“Hadits ini merupakan bantahan  terhadap orang-orang yang mengatakan bahwa mendapatkan khutbah Jum’at  merupakan syarat sahnya sholat Jum’at.”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Orang yang Luput Sholat Jum’at&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sholat Jum’at adalah kewajiban yang  telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala atas hamba-hamba-Nya. Apabila seorang  hamba luput (tidak melaksanakan) sholat Jum’at karena udzur, maka dia  wajib melaksanakan sholat Zhuhur.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalilnya adalah hadits Ibnu Mas’ud &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt;, dia berkata : &lt;i&gt;“Barang  siapa yang mendapatkan satu rakaat sholat Jum’at maka dia telah  mendapatkan sholat Jum’at, dan barang siapa yang luput (tidak  mendapatkan) sholat Jum’at maka hendaklah dia sholat empat rakaat  (sholat Zhuhur –&lt;/i&gt;pent&lt;i&gt;.).”&lt;/i&gt; &lt;b&gt;[diriwayatkan oleh Abdurrozzaq, Ibnu Abi Syaibah dan Al-Baihaqi dengan sanad yang shohih]&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Adakah Sholat Sunat Qobliyah Jum’at&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sholat sunat Qobliyah jum’at (sholat  sunat sebelum shalat Jum’at yang dilaksanakan setelah adzan –pent.)  tidak ada dasarnya di dalam sunnah yang shohih. Tidak diriwayatkan dari  Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;/i&gt; bahwa beliau pernah sholat  sunat Qobliyah Jum’at, karena pada saat beliau masuk ke masjid untuk  sholat Jum’at, Bilal langsung adzan lalu beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;/i&gt; berkhutbah tanpa didahului sholat sunat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibnu Qoyyim &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; berkata di dalam kitabnya Zaadul Ma’ad Fi Hadyi Khairil ‘Ibad : &lt;i&gt;“Siapa yang beranggapan bahwa apabila &lt;/i&gt;Bilal&lt;i&gt;  selesai adzan maka para sahabat berdiri lalu mengerjakan sholat dua  rakaat, maka dia adalah orang yang paling bodoh tentang sunnah.”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Merupakan pendapat madzhab Maliki,  Syafi’i dan mayoritas pengikutnya serta pendapat yang mahsyur dikalangan  madzhab imam Ahmad bahwa &lt;i&gt;“Tidak ada sholat sunat Qobliyah Jum’at.”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akan tetapi hal ini tidak menafikan  adanya sholat sunat yang disebut “sholat sunat muthlaq” yang dilakukan  sebelum sholat Jum’at (bukan Qobliyah Jum’at) berdasarkan hadits Salman,  dia berkata : &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;/i&gt; bersabda :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“Tidaklah seseorang mandi pada hari  Jum’at, lalu bersuci sesuai dengan kemampuannya, dan dia memakai minyak  rambut atau memakai parfum di rumahnya kemudian dia keluar lalu tidak  memisahkan antara dua orang kemudian dia mengerjakan sholat sesuai  dengan apa yang Allah tetapkan untuknya, dan dia diam apabila imam  berkhutbah, kecuali akan diampuni dosa-dosanya antara Jum’at itu dengan  Jum’at berikutnya.”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada hadits ini terdapat keterangan  tentang amalan tatkala masuk masjid di hari Jum’at, yaitu sholat sunat  semampunya sampai imam berkhutbah, dan ini disebut “sholat sunat  muthlaq”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibnul Mundzir berkata sebagaimana dinukil dalam kitab Zaadul Ma’ad : &lt;i&gt;“Kami  meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar bahwa ia sholat sunat muthlaq dua belas  rakaat, dan dari Ibnu ‘Abbas bahwa ia sholat delapan rakaat.”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Hukum Sholat Jum’at pada 2 Hari Raya (Idul Fithri dan Idul Adha)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Zaid Bin Arqom meriwayatkan hadits yang artinya :&lt;i&gt;”Sesungguhnya Nabi&lt;/i&gt; &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;/i&gt; sholat Id (pada hari Jum’at  –pent.), kemudian beliau memberi keringanan didalam sholat Jum’at; beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;/i&gt; bersabda :&lt;i&gt;”Barang siapa ingin sholat (Jum’at ) maka silahkan sholat.”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut imam Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i  dan Ibnu Majah hadits ini menunjukkan bahwa sholat Jum’at setelah  sholat Id menjadi rukhshoh (keringanan/boleh tidak dikerjakan) bagi  orang yang telah sholat Id. Bila semua orang yang telah sholat Id  meninggalkan sholat Jum’at tersebut maka mereka telah mengambil  rukhshoh, dan bila ada yang melaksanakannya maka ia mendapat pahala.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan bagi orang yang mengambil rukhshoh  (tidak sholat Jum’at) maka ia tidak harus sholat zhuhur. Hal ini  berdasakan Atsar Atho’ tentang kisah Ibnuz Zubair, Atho’ berkata : &lt;i&gt;“Ibnuz  Zubair sholat Id bersama kami pada awal siang hari Jum’at, kemudian  kami beristirahat hingga hingga waktu sholat Jum’at namun dia tidak  keluar, maka kami sholat Jum’at tanpa Ibnuz Zubair. Pada waktu itu Ibnu  ‘Abbas berada di Tho’if, ketika bertemu dengannya kami ceritakan  perbuatan Ibnuz Zubair tersebut. &lt;/i&gt;Ibnu ‘Abbas berkata&lt;i&gt; &lt;/i&gt;: &lt;i&gt;“Ibnuz Zubair mencocoki sunnah”. &lt;/i&gt;Lalu berita itu sampai kepada Ibnuz Zubair , maka dia berkata : &lt;i&gt;“Saya melihat ‘Umar Bin Khotthob apabila berkumpul dua Id maka beliau melakukan yang seperti itu.” &lt;/i&gt;&lt;b&gt;[Shohih, riwayat Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah]&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam riwayat lain yang juga dari Atho’, dia berkata : &lt;i&gt;“Ibnu Zubair sholat Idul Fithri dua rakaat pada pagi hari Jum’at kemudian dia tidak sholat lagi sampai sholat Ashor.”&lt;/i&gt; &lt;b&gt;[Hasan, riwayat Abdurrozzaq dan Abu Dawud secara ringkas]&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam Asy-Syaukani dalam Naizul Author berkata : &lt;i&gt;“Zhohir hadits tersebut menunjukkan bahwasanya Ibnuz Zubair &lt;/i&gt;tidak&lt;i&gt;  sholat zhuhur, dan didalamnya menunjukkan bahwasanya jika seseorang  tidak mengerjakan sholat Jum’at karena suatu sebab (rukhshoh) yang  membolehkan untuk tidak sholat Jum’at, maka tidak wajib atasnya untuk  mengerjakan sholat zhuhur.”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun, yang lebih afdhol dan selamat dari perselisihan adalah menghadiri sholat Jum’at.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="direction: rtl; margin: 6px 0cm; text-align: center; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: Traditional Arabic;"&gt; &lt;span style="font-size: 20pt;"&gt; وَالله ُتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعٰلَمِيْنَ &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Maroji (&lt;i&gt;Kitab Rujukan&lt;/i&gt;)&lt;/b&gt; :&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Kitab Al Ajwiba An-Naafi’ah ‘an As-‘ilati Lajnah masjid Al Jaami’ah penulis Muhammad Nasiruddin Al Albani&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kitab shohih Fiqus Sunnah oleh Abu Malik Kamal Bin Sayyid Saalim&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;(salafykendari.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-4664683316335211125?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/4664683316335211125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/hukum-hukum-seputar-sholat-jumat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/4664683316335211125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/4664683316335211125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/hukum-hukum-seputar-sholat-jumat.html' title='Hukum-Hukum Seputar Sholat Jumat'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-5018824608412072680</id><published>2010-12-02T10:41:00.002+07:00</published><updated>2010-12-02T10:41:00.143+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernikahan'/><title type='text'>Dimana Jodohku?</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSKV4pvKY0_L1SRApCyVc3Wxl8WjYR-Lp_9wm7DJXavbuNMAUbl" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="256" src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSKV4pvKY0_L1SRApCyVc3Wxl8WjYR-Lp_9wm7DJXavbuNMAUbl" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Bukankah Allah telah menciptakan hidup ini berpasang-pasangan? Bukankah  manusia, ada laki-laki dan ada wanita, dan keduanya hidup berpasangan?  Bukankah jodoh seseorang telah ditetapkan oleh Allah? Jawaban darinya  adalah memang demikian, namun pertanyaan selanjutnya, tetapi mengapa aku  sulit jodoh? Umur semakin tua, usaha dan ikhtiar telah dilakukan, tapi  mengapa jodoh kok masih sulit? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit jodoh, memang sebuah problem, tetapi perlu disadari bahwa  segala problem pasti memiliki jalan keluar dan bahwa seorang muslim atau  muslimah tidak patut berputus asa dari rahmat Allah. Sebagaimana setiap  problem pasti memiliki pemicunya, cobalah, sebelum mencari jalan  keluarnya, untuk mencari sebab pemicunya, karena dari sinilah problem  tersebut lahir, kalau pemicunya tidak ada, maka problemnya juga tidak  ada bukan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sebab seseorang sulit jodoh, bisa dari diri Anda sendiri,  misalnya Anda sangat selektif, pilih-pilih, banyak kriteria, harus ini,  harus itu dan seabrek syarat lainnya, Anda ingin meraih pasangan yang  sempurna atau mendekati sempurna, akibatnya calon dengan kriteria yang  Anda patok jarang ditemukan, selanjutnya peluang jodoh pun menyempit dan  Anda pun jadi sulit jodoh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa juga karena faktor keluarga yang belum kunjung menyetujui  dengan berbagai alasan, misalnya harus membantu keluarga dulu, harus  menyekolahkan adik-adik, harus menunggu kakak yang belum laku dan  sebagainya, sehingga hal itu memperlambat hadirnya pasangan bagi Anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa juga kembali kepada fisik, jujur kita harus mengakui, secara  umum masyarakat, anak-anak muda, para gadis dan para pemuda, masih  menjadikan kecantikan dan ketampanan sebagai standar utama, padahal  mungkin menurut Anda, kecantikan atau ketampanan tidak berpihak kepada  Anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa juga kembali kepada faktor kemapanan alias kekayaan, bila  seseorang, lebih-lebih anak muda, sudah terlihat mapan, pekerjaannya  menjanjikan duit gede, kantongnya tebal, ditunjang dengan kendaraan dan  lainnya, maka daya jualnya semakin tinggi, peluang jodohnya lebar.  Kepintaran juga bisa menjadi sebab dalam masalah ini, karena dalam  batas-batas tertentu bisa dimaklumi, yang namanya bodoh tidak disukai  oleh banyak orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, cobalah menengok kepada diri Anda, barang kali salah satu  sebab di atas ada pada diri Anda, bila ada, maka cobalah untuk  mengatasinya terlebih dulu, karena sumber api harus dipadamkan bila Anda  ingin api itu mati, jendela harus ditutup rapat bila Anda tidak ingin  angin itu masuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Anda terlalu selektif, pilih-pilih, maka cobalah ngalah  sedikit, menurunkan standar, jangan tinggi-tinggi-lah, biar peluangnya  terbuka lebih lebar, bukankah Agama mengajarkan untuk mengedepankan  agama dibandingkan dengan kriteria lainnya? Ini satu sisi. Sisi lainnya,  bila Anda mematok kriteria tinggi, maka cobalah untuk ngaca, melihat  diri sendiri, pantaskah Anda menuntut kriteria itu? Dalam arti apakah  Anda juga selevel? Kalau Anda menuntut kecantikan atau ketampanan,  sementara Anda miskin di bidang kecantikan atau ketampanan, bukankah  dengan itu Anda memposisikan diri sebagai pangeran kodok yang ingin  mempersunting putri raja? Tahu diri sedikit lah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kendalanya adalah keluarga, maka atasilah kendala ini, coba  berbicara kepada mereka, berusaha meyakinkan mereka, dan secara umum  Anda lebih tahu situasi dan keadaan keluarga Anda, maka mestinya Anda  lebih tahu bagaimana cara menghadapinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kendala penampilan, kurang cantik atau kurang tampan, maka  tidak perlu berkecil hati, karena tidak semua orang berpandangan  demikian, di samping itu kecantikan atau ketampanan adalah relatif,  percaya diri saja, tidak perlu berkecil hati karena ini, karena  masing-masing telah diberi kadar oleh Allah dan itulah yang terbaik,  tidak ada salahnya bila Anda berupaya menutup ‘kekurangan’ di sisi ini  dengan kelebihan di sisi lain, boleh jadi penampilan Anda kurang  menarik, tetapi ketika misalnya Anda pandai, pintar atau memiliki sisi  lain yang positif, tentu kekurangan tersebut akan tertutpi bukan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kendalanya adalah kemapanan, maka percayalah bahwa rizki ada di  tangan Allah, Anda cukup bersuaha semaksimal mungkin sebatas yang Anda  mampu, selebihnya biar Allah yang mengatur, siapa tahu Allah  menggantungkan kelapangan rizki Anda dengan menikah? Tidak sedikit orang  yang rizkinya sempit sebelum menikah, tetapi yang terjadi adalah  sebaliknya begitu dia menikah. Intinya tiada masalah yang tidak ada  solusinya, termasuk masalah di mana jodoh Anda? Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;(Alsofwah.or.id)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-5018824608412072680?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/5018824608412072680/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/dimana-jodohku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/5018824608412072680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/5018824608412072680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/dimana-jodohku.html' title='Dimana Jodohku?'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-5537560432550971314</id><published>2010-12-01T11:43:00.000+07:00</published><updated>2010-12-01T11:43:37.356+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kegiatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='unit kaderisasi'/><title type='text'>Stadium General &amp; Workshop Untuk Muslimah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs608.ash2/156081_1471198780987_1264147007_31051053_5586957_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs608.ash2/156081_1471198780987_1264147007_31051053_5586957_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Lembaga Muslimah Wahdah Islamiyah Bandung, insyaAllah akan menyelenggarakan Stadium General &amp;amp; Workshop khusus untuk muslimah. &lt;br /&gt;Acara ini mengusung tema : Meraih Indahnya Islam dan Lezatnya Iman&lt;br /&gt;Akan diselenggarakan pada :&lt;br /&gt;Hari / Tanggal : Selasa / 07 Desember 2010&lt;br /&gt;Waktu : 08.00 - 11.30 WIB&lt;br /&gt;Tempat : Masjid Al Furqan Kampus UPI ( di atas lantai utama)&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Universitas Pendidikan Indonesia, Jalan Setiabudi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Infaq Acara : Rp.10.000,-&lt;br /&gt;Fasilitas : Handout, Suvenir, Snack, &amp;amp; Sertifikat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Info &amp;amp; Pendaftaran :&lt;br /&gt;081221793450 &amp;amp; 085656085777&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So.. Buruan Daftar!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-5537560432550971314?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/5537560432550971314/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/stadium-general-workshop-untuk-muslimah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/5537560432550971314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/5537560432550971314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/stadium-general-workshop-untuk-muslimah.html' title='Stadium General &amp; Workshop Untuk Muslimah'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-8120725757866456330</id><published>2010-12-01T07:01:00.003+07:00</published><updated>2010-12-01T07:33:15.927+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kegiatan'/><title type='text'>Wahdah Bandung Sukses Gelar Tabligh Akbar</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.wahdah.or.id/wis/images/stories/cabang/bandung/Tablik%20Akbar%20bandung.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://www.wahdah.or.id/wis/images/stories/cabang/bandung/Tablik%20Akbar%20bandung.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Bandung,&lt;/b&gt; Dewan Pimpinan Cabang Wahdah Islamiyah Bandung sukses menggelar "Tabligh Akbar" pada hari Ahad, 28 November 2010 pkl. 09.00-12.00 WIB bertempat di ruang utama Mesjid Nur Madinah, Kompleks Markaz Wahdah Islamiyah Bandung, Jl. Asri Ciparungpung Padasuka-Cicaheum Kab. Bandung.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadir sebagai pembicara, Ust. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc, MA (Ketua Umum  DPP Wahdah Islamiyah), dengan mengambil tema "Dengan semangat berqurban  kita tingkatkan mujahadah dalam pembangunan ummat." Dalam ceramahnya,  beliau menyampaikan 3 pelajaran penting bagi kaum muslimin dalam ibadah  qurban, yakni meneguhkan tauhid, meningkatkan semangat beribadah, dan  semangat berkorban. Untuk itu, beliau mengajak kaum muslimin untuk  senantiasa memperkuat tauhid yang menjadi pondasi, meningkatkan semangat  beribadah tidak hanya di bulan tertentu saja, serta berani berkorban  dalam bentuk harta dan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, acara juga diselingi penampilan siswa-siswa SMK ICT Nur  Madinah yang memperdengarkan hafalan Al-Qur'an (tasmi') serta pidato  bahasa arab.&lt;br /&gt;Sesuai dengan rencana sebelumnya, bahwa kegiatan "Tabligh Akbar" ini  diadakan sebagai tindak lanjut dari program "Tebar Hewan Qurban" 1431 H  Wahdah Islamiyah Bandung yang berlangsung 17 November 2010 silam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara tersebut dihadiri sekitar 200 peserta ikhwan-akhwat perwakilan  DKM / Lembaga yang mendistribusikan hewan qurban, daerah binaan  Cianjur, Lembang, kader, simpatisan, serta masyarakat sekitar. Panitia  berharap, akan terjalin silaturahmi dan kerjasama yang baik dengan DKM/  Lembaga tersebut pada acara-acara yang lainnya.(bud)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-8120725757866456330?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/8120725757866456330/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/dpc-bandung-sukses-gelar-tabligh-akbar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/8120725757866456330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/8120725757866456330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/12/dpc-bandung-sukses-gelar-tabligh-akbar.html' title='Wahdah Bandung Sukses Gelar Tabligh Akbar'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-6262963812024606119</id><published>2010-11-30T09:19:00.000+07:00</published><updated>2010-11-30T09:19:55.825+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPS'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AL-QuR&apos;aN'/><title type='text'>Metode Sederhana Menghafal Al Qur'an Bagi Orang-Orang Sibuk</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://ummuzaidtaqy.files.wordpress.com/2010/03/kisah.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="256" src="http://ummuzaidtaqy.files.wordpress.com/2010/03/kisah.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;Bismillah Ar-Rahmaan Ar-Rahiym.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Assalaamu 'alaykum warahmatullaahi wabarakaatuhu.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Alhamdulillah, Washshalatu wassalaamu 'alaa Nabiyyinaa Muhammadin wa 'alaa aalihi wa ash-haabihi ajma'iyn. Ammaa ba'du.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;Ikhwan  dan Akhwat rahiymakumullahu jamiy'an, banyak hadits yang menyebutkan  tentang keutamaan menghapal Al-Qur'an, dan sepantasnya di hati setiap  orang yang beriman memiliki keinginan yang kuat untuk menghafalkannya,  dan senantiasa memiliki kecemburuan terhadap para penghafalnya, namun  kecemburuan yang kami maksud bukanlah kecemburuan negatif yang  menghendaki hilangnya suatu nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah  'Azza wa Jalla kepada saudaranya dan kemudian nikmat tersebut beralih  kepadanya, bukan itu Ikhwan dan Akhwat sekalian, akan tetapi yang kami  maksud di sini adalah kecemburuan positif di mana kita pun menginginkan  nikmat yang sama tanpa ada keinginan agar nikmat tersebut hilang dari  saudara kita, sehingga kitapun saling berpacu bahkan saling tolong  menolong dalam menggapai kebaikan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwan dan  Akhwat rahiymakumullahu jamiy'an, sebelum kami masuk ke pembahasan  metode maka terlebih dahulu kami ingin melampirkan beberapa dalil  tentang keutamaan menghafal Al-Qur'an, dengan harapan ini semua akan  lebih memacu kita semua untuk berusaha dan terus berusaha menghafalkan  Al-Qur'an tersebut tanpa ada kata menyerah hingga KETETAPAN ALLAH datang  menghampiri kita semua, Insyaa Allah, Allahu Akbar...!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Hati seorang individu Muslim tidak kosong dari sesuatu bagian dari kitab Allah 'Azza wa Jalla.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas secara marfu:&lt;br /&gt;"Orang yang tidak mempunyai hafalan Al Quran sedikitpun adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh". (&lt;em&gt;Hadits diriwayatkan oleh Tirmizi dari Ibnu Abbas (2914), ia berkata hadits ini hasan sahih&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Memperoleh penghormatan dari Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;Dari  Abi Hurairah Radiyallahu 'anhu. ia berkata: Rasulullah Shallallahu  'alayhi wasallam mengutus satu utusan yang terdiri dari beberapa orang.  Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam mengecek kemampuan  membaca dan hafalan Al Qur'an mereka: setiap laki-laki dari mereka  ditanyakan sejauh mana hafalan Al-Qur'an-nya. Kemudian seseorang yang  paling muda ditanya oleh Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam  :"Berapa banyak Al Quran yang telah engkau hafal, hai Fulan?" ia  menjawab: aku telah menghafal surah ini dan surah ini, serta surah  Al-Baqarah. Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam kembali bertanya:  "Apakah engkau hafal surah Al-Baqarah?" Ia menjawab: Betul. Rasulullah  Shallallahu 'alayhi wasallam bersabda:"Pergilah, dan engkau menjadi  ketua rombongan itu!". Salah seorang dari kalangan mereka yang terhormat  berkata: Demi Allah, aku tidak mempelajari dan menghafal surah  Al-Baqarah semata karena takut aku tidak dapat menjalankan isinya.  Mendengar komentar itu, Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam  bersabda: "Pelajarilah Al Qur'an dan bacalah, karena perumpamaan orang  mempelajari Al Quran&amp;nbsp; dan membacanya, adalah seperti tempat bekal  perjalanan yang diisi dengan minyak misik, wanginya menyebar ke  mana-mana. Sementara orang yang mempelajarinya kemudian dia tidur -dan  dalam dirinya terdapat hafalan Al Qur'an- adalah seperti tempat bekal  perjalanan yang disambungkan dengan minyak misik" &lt;em&gt;(Hadits  diriwayatkan oleh Tirmizi dan ia menilainya hadits hasan (2879), dan  lafazh itu darinya. Serta oleh Ibnu Majah secara ringkas (217), Ibnu  Khuzaimah (1509), Ibnu Hibban dalam sahihnya (Al Ihsaam 2126), dan dalam  sanadnya ada 'Atha, Maula, Abi Ahmad, yang tidak dinilai terpecaya  kecuali Ibnu Hibban).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Penghafal Al Qur'an akan memakai mahkota kehormatan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dari  Abi Hurairah Radiyallahu 'anhu. bahwa Rasulullah Shallallahu 'alayhi  wasallam bersabda: :"Penghafal Al Qur'an akan datang pada hari kiamat,  kemudian Al Qur'an akan berkata: Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia,  kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), Al Qur'an  kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang itu diapakaikan  jubah karamah. Kemudian Al Qur'an memohon lagi: Wahai Tuhanku ridhailah  dia, maka Allah meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu: bacalah  dan teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allah menambahkan dari  setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan" (&lt;em&gt;Hadits  diriwayatkan oleh Tirmizi dan ia menilainya hadits hasan (2916), Ibnu  Khuzaimah, al hakim, ia meninalinya hadits sahih, serta disetujui oleh  Adz Dzahabi(1/533).&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Dapat membahagiakan kedua orang tua, sebab orang tua yang memiliki anak penghapal Al Qur'an memperoleh pahala khusus.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sabda Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam:&lt;br /&gt;"Dari  &amp;nbsp;Buraidah Al Aslami Radiyallahu 'anhu, ia berkata bahawasanya ia  mendengar Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam bersabda: "Pada hari  kiamat nanti, Al Qur'an akan menemui penghafalnya ketika penghafal itu  keluar dari kuburnya. Al Qur'an akan berwujud seseorang dan ia bertanya  kepada penghafalnya: "Apakah anda mengenalku?". Penghafal tadi menjawab;  "saya tidak mengenal kamu." Al Qur'an berkata; "saya adalah kawanmu, Al  Qur'an yang membuatmu kehausan di tengah hari yang panas dan membuatmu  tidak tidur pada malam hari. Sesungguhnya setiap pedagang akan mendapat  keuntungan di belakang dagangannya dan kamu pada hari ini di belakang  semua dagangan. Maka penghafal Al Qur'an tadi diberi kekuasaan di tangan  kanannya dan diberi kekekalan ditangan kirinya, serta di atas kepalanya  dipasang mahkota perkasa. Sedang kedua orang tuanya diberi dua pakaian  baru lagi bagus yang harganya tidak dapat di bayar oleh penghuni dunia  keseluruhannya. Kedua orang tua itu lalu bertanya: "kenapa kami di beri  dengan pakaian begini?". Kemudian di jawab, "kerana anakmu hafal Al  Qur'an. "Kemudian kepada penghafal Al Quran tadi di perintahkan,  "bacalah dan naiklah ketingkat-tingkat syurga dan kamar-kamarnya." Maka  ia pun terus naik selagi ia tetap membaca, baik bacaan itu cepat atau  perlahan (tartil). &lt;em&gt;(diriwayatkan oleh Ahmd dalam Musnadnya (21872) dan Ad Darimi dalam Sunannya (3257).&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah  Shallallahu 'alayhi wasallam bersabda: "Siapa yang membaca Al Qur'an,  mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikanlah mahkota dari  cahaya pada hari kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang  tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di  dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini: dijawab:  "Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al  Qur'an" (&lt;em&gt;Hadits diriwayatkan oleh Al Hakim dan ia menilainya sahih berdasarkan syarat Muslim (1/568), dan disetujui oleh Adz Dzahabi)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5. Akan menempati tingkatan yang tinggi di Surga Allah 'Azza wa Jalla.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sabda rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam:&lt;br /&gt;"Dari  &amp;nbsp;Sisyah Radhiyallahu 'anhu ia berkata, bahawasanya Rasulullah  Shallallahu 'alayhi wasallam bersabda; jumlah tingkatan-tingkatan surga  sama dengan jumlah ayat-ayat Al Qur'an. Maka tingkatan surga yang di  masuki oleh penghafal Al Qur'an adalah tingkatan yang paling atas,  dimana tidak ada tingkatan lagi sesudah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;6. Penghafal Al Qur'an adalah keluarga Allah 'Azza wa Jalla.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sabda Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam:&lt;br /&gt;"Dari  Anas Radhiyallahu 'anhu Ia berkata bahawa Rasulullah Shallallahu  'alayhi wasallam bersabda, "Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga  yang terdiri dari manusia." Kemudian Anas berkata lagi, lalu Rasulullah  Shallallahu 'alayhi wasallam bertanya: "Siapakah mereka itu wahai  Rasulullah. Baginda menjawab: "Ia itu ahli Qur'an (orang yang membaca  atau menghafal Al- Qur'an dan mengamalkan isinya).Mereka adalah keluarga  Allah dan orang-orang yang istimewa bagi Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;7. Menjadi orang yang arif di surga Allah 'Azza wa Jalla.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sabda  Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam "Dari &amp;nbsp;Anas Radhiyallahu 'anhu  Bahawasanya Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam bersabda; "Para  pembaca Al Qur'an itu adalah orang-orang yang arif di antara penghuni  surga,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;8. Memperoleh penghormatan dari manusia.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sabda  Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam&amp;nbsp; "Dari &amp;nbsp;Abu Musa Al Asya'ari  Radhiyallahu 'anhu Ia berkata bahawasanya Rasulullah Shallallahu 'alayhi  wasallam bersabda: "Diantara perbuatan mengagungkan Allah adalah  menghormati Orang Islam yang sudah tua, menghormati orang yang menghafal  Al-Qur'an yang tidak berlebih-lebihan dalam mengamalkan isinya dan  tidak membiarkan Al-Qur'an tidak di amalkan, serta menghormati kepada  penguasa yang adil."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;9. Hatinya terbebas dari siksa Allah 'Azza wa Jalla.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sabda Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam&lt;br /&gt;"  Dari Abdullah Bin Mas'ud Radhiyallahu 'anhu Dari&amp;nbsp; Nabi Shallallahu  'alayhi wasallam Baginda bersabda: " bacalah Al Qur'an kerana Allah  tidak akan menyiksa hati orang yang hafal Al Qur'an. Sesungguhanya Al  Qur'an ini adalah hidangan Allah, siapa yang memasukkunya ia akan aman.  Dan barangsiapa yang mencintai Al Qur'an maka hendaklah ia bergembira."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;10. Mereka (bagi kaum pria) lebih berhak menjadi Imam dalam shalat.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sabda Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam :&lt;br /&gt;"Dari  Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'anhu Dari Rasulullah Shallallahu 'alayhi  wasallam beliau bersabda; "yang menjadi imam dalam solat suatu kaum  hendaknya yang paling pandai membaca (hafalan) Al Qur'an."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;11. Disayangi oleh Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sabda Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam:&lt;br /&gt;"Dari  &amp;nbsp;Jabir Bin Abdullah Radhiyallahu 'anhu Bahawa Nabi Shallallahu 'alayhi  wasallam menyatukan dua orang dari &amp;nbsp;orang-orang yang gugur dalam perang  uhud dalam satu liang lahad. Kemudian nabi Shallallahu 'alayhi wasallam  bertanya, "dari mereka berdua siapakah paling banyak hafal Al Qur'an?"  apabila ada orang yang dapat menunjukkan kepada salah satunya, maka Nabi  Shallallahu 'alayhi wasallam memasukkan mayat itu terlebih dahulu ke  liang lahad."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;12. Dapat memberi syafa'at kepada keluarga.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sabda Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam:&lt;br /&gt;"Dari  &amp;nbsp;Ali Bin Abi Thalib Karramallahu Wajhahu: "Barangsiapamembaca Al Qur'an  dan menghafalnya, maka Allah akan memasukkannya kedalam surga dan  memberikannya hak syafaat untuk sepuluh anggota keluarganya di mana  mereka semuanya telah di tetapkan untuk masuk neraka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;13. Merupakan bekal-bekal yang terbaik.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sabda Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam:&lt;br /&gt;"Dari&amp;nbsp;  Jabir bin Nufair, katanya Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam  bersabda; "Sesungguhnya kamu tidak akan kembali menghadap Allah dengan  membawa sesuatu yang paling baik daripada sesuatu yang berasal dari-Nya  yaitu Al Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwan dan Akhwat rahiymakumullahu  jamiy'an, semoga setelah menyimak beberapa keutamaan menghafal Al Qur'an  tadi antum sekalian sudah memberanikan diri untuk Bersumpah bagi diri  kita masing-masing bahwa DEMI ALLAH selama kita masih diberi kesempatan  dan kesehatan oleh Allah 'Azza wa Jalla, maka selama itu pula kita akan  terus berupaya untuk menghafalkan kitab termulia tersebut yakni Al  Qur'an meski sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah Ikhwan dan  Akhwat rahiymakumullah, menghafal Al Qur'an bukanlah perkara yang mudah,  dibutuhkan keinginan yang kuat, keistiqamahan, kesabaran, dan disertai  dengan UPAYA NYATA yakni mau memulai dan terus berusaha tanpa kenal  lelah apalagi kata "MENYERAH", namun menghafal Al Qur'an juga bukanlah  amalan yang mustahil untuk dikerjakan OLEH SIAPA PUN, sampai kepada kita  yang memiliki seabrek kesibukan lainnya, namun perlu kami ingatkan  sekali lagi, bahwa harus SABAR dan ISTIQAMAH...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana metode menghafal bagi orang-orang yang memiliki kesibukan...?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwan  dan Akhwat rahiymakumullahu jamiy'an, antum jangan berfikiran bahwa  dengan metode ini antum akan menghafal Al Qur'an dalam waktu setahun  atau dua tahun, tidak Ikhwan dan Akhwat sekalian, bahkan metode ini  membutuhkan waktu 15 hingga 30 tahun, TERLALU LAMA...? terserah  penilaian antum bagai mana, namun setidaknya INI MASIH LEBIH BAIK DARI  PADA TIDAK HAPAL SAMA SEKALI, mungkin antum khawatir akan diwafatkan  terlebih dahulu sebelum menyelesaikan hafalan...? Maka kami sampaikan  bahwa SETIDAKNYA KITA BISA BERBAHAGIA KARENA MENINGGAL DALAM KONDISI  MEMBAWA NIAT YANG MULIA YANG DIBENARKAN OLEH AMALAN YANG TENGAH KITA  LAKUKAN, dan juga antum jangan berfikiran bahwa ini adalah pekerjaan  yang mudah untuk dikerjakan tanpa kesabaran, keistiqamahan, dan tindakan  nyata, sebab tanpa semua itu berarti antum hanyalah BERANGAN-ANGAN...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Syarat yang WAJIB untuk antum penuhi sebelum melaksanakan metode ini adalah:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Niat karena mengharap Keridhaan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Mampu membaca Al Qur'an dengan tartil (tajwid yang benar), atau  setidaknya antum terus berusaha untuk memperbaiki kualitas bacaan Al  Qur'an antum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berikut adalah metode yang Alhamdulillah telah kami buktikan sendiri dalam kurun waktu yang belum genap setahun ini:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mulailah menghafal dari Juz 30 atau juz 29 atau juz 28, setelah itu silahkan mulai dari Juz 1 dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Gunakan Mushaf Al Qur'an Huffadzh, yakni Al Qur'an cetakan standard  international, di mana setiap juz-nya rata-rata terdiri dari +/- 10  lembar (20 halaman; di mana setiap halaman maksimal terdiri dari 15  baris), usahakan istiqamah dengan satu mushaf, tapi bukanlah alasan  untuk tidak menghafal ketika suatu ketika antum lupa membawa mushaf  antum, tetaplah menghafal meski dengan mushaf yang berbeda, ini hanya  untuk lebih memudahkan antum dengan sebuah kebiasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Persiapkan diri dengan mengatur 5 waktu khusus untuk menghafal dalam  sehari, dan kami sangat menyarankan bahwa waktu tersebut adalah setiap  antum selesai menunaikan shalat fardhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Setiap waktu  tersebut, hafalkanlah 1 baris, jika hal tersebut masih terlalu berat  bagi antum maka cukup hafal setengah baris saja setiap selesai shalat  fadhu, dan jika setengah baris ini masih memberatkan bagi antum, maka  'afwan karena kami hanya mampu menyarankan kepada antum PERBANYAKLAH  ISTIGHFAR...!!! (Ikhwan dan Akhwan sekalian, dengan menghafal 1 baris  setiap selesai shalat fardhu, berarti insyaa Allah dengan kesabaran  dengan keistiqamahan, antum akan Menghafal seluruh Al Qur'an dalam waktu  15 tahun, dan jika antum hanya sangguf menghafal setengah baris setiap  waktu yang telah ditentukan tersebut, maka insyaa Allah dengan kesabaran  dan keistiqamahan, maka antum akan menghafal seluruh Al Qur'an dalam  waktu 30 tahun, sekedar mengingatkan bahwa setidaknya INI MASIH LEBIH  BAIK DARI PADA TIDAK HAPAL SAMA SEKALI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Jika  memungkinkan, cobalah antum mencari sahabat atau teman yang bisa ikut  menghafal bersama antum, sebab hal tersebut akan lebih menguatkan bagi  antum, boleh dari saudara, teman, istri, atau suami, namun jika tak ada  satu pun maka sendiri juga insyaa Allah tidak mengapa, ANTUM PASTI  BISA...!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Jika antum memiliki media yang memungkinkan  untuk membantu antum seperti HP, MP3/MP4 Player, atau apa saja yang  dilengkapi dengan fasilitas recorder &amp;amp; playback maka gunakanlah  media tersebut, rekam suara (bacaan) antum pada media tersebut agar  antum bisa mendengarnya di setiap kesempatan sebelum tiba waktu  selanjutnya, kegiatan ini sebagai media muraja'ah dengan pendengaran  sekaligus melatih telinga kita untuk terbiasa tidak mendengar hal-hal  yang sia-sia seperti lagu dan musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Banyak-banyak  berdo'a kepada Allah 'Azza wa Jalla agar dimudahkan, diistiqamahkan  untuk menghafal Al Qur'an, juga agar diberi usia, kesehatan, dan  kesempatan untuk menyelesaikan cita-cita mulia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Gunakan kesempatan Qiyam Al Layl sebagai waktu tambahan untuk memuraja'ah hafalan-hafalan antum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MANAJEMEN KEGIATAN MENGHAFAL:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Target hafalan adalah 1 halaman terhafal dengan lancar setiap pekannya  (bagi yang sanggup untuk menghafal 1 baris setiap waktunya), atau  setengah halaman terhafal dengan lancar setiap pekannya (bagi yang  menghafal setengah baris setiap waktunya), cara mencapainya:&lt;br /&gt;- Ba'da Subuh mulai hafal 1 Baris / setengah baris (pilih salah satunya sesuai kesanggupan, kemudian istiqamah-lah!!!).&lt;br /&gt;- Ba'da Dzhuhur tambah hafal 1 Baris / setengah baris.&lt;br /&gt;- Ba'da Ashar tambah hafalan 1 Baris / setengah baris.&lt;br /&gt;- Ba'da Maghrib tambah hafalan 1 Baris / setengah baris.&lt;br /&gt;-  Ba'da 'Isyaa' tidak perlu tambah hafalan, khususkan waktu ini untuk  memuraja'ah (mengulang-ulang) semua hafalan yang telah di hafal hari  itu, jangan lupa di antara waktu shalat fardu, manfaatkanlah media yang  antum miliki untuk memuraja'ah hafalan antum melalui pendengaran.&lt;br /&gt;-  Lakukan hal di atas selama 4 hari berturut-turut (hingga antum  menyelesaikan target antum dalam sepekan yakni 1 atau setengah halaman).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Dalam sepekan terdiri dari 7 hari, namun dengan metode ini insyaa Allah  maksimal dalam 4 hari antum telah menyelesaikan target hafalan antum  untuk sepekan, berarti masih tersisa 3 hari dalam sepekan tersebut,  GUNAKANLAH 3 hari tersebut untuk memuraja'ah hafalan antum pada pekan  tersebut, INGAT...!!! jangan terburu-buru untuk pindah ke hafalan  selanjutnya, tetaplah istiqamah dengan target antum yakni 1 atau  setengah halaman setiap pekannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dalam sebulan,  terdiri dari 4 pekan, berarti dengan metode ini antum akan menghafal 2  lembar setiap bulannya (bagi yang menghafal 1 baris setiap waktunya),  atau 1 lembar setiap bulannya (bagi yang menghafal setengah baris setiap  waktunya). Dari sini bisa kita ketahui bahwa dengan metode ini kita  bisa menghafal 2 juz dalam waktu 10 bulan bagi yang menghafal 1 baris  setiap waktunya, atau 1 Juz dalam waktu 10 bulan bagi yang menghafal  setengah baris setiap waktunya, sebab 1 Juz = 10 lembar Al Qur'an,  Ikhwan dan Akhwat rahiymakumullah, ini berarti dalam setahun tersebut  ada waktu 2 bulan tersisa yang lagi-lagi bisa kita manfaatkan untuk  KHUSUS memperlancar hafalan kita tersebut. Sekali lagi kami ingatkan,  bahwa JANGAN menambah hafalan antum di waktu-waktu yang telah kita  khususkan untuk muraja'ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KESIMPULAN DARI PENERAPAN METODE INI:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Jika antum menghafal 1 baris setiap waktunya, berarti antum akan  menjadi seorang penghafal Al Qur'an dalam waktu 15 tahun, dengan kata  lain "TIADA TAHUN KECUALI HAFALAN ANTUM BERTAMBAH SEBANYAK 2 JUZ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Jika antum menghafal setengah baris setiap waktunya, berarti antum akan  menjadi seorang penghafal Al Qur'an dalam waktu 30 tahun, dengan kata  lain "TIADA TAHUN KECUALI HAFALAN ANTUM BERTAMBAH SEBANYAK 1 JUZ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KELAMAAN IKHWAN DAN AKHWAT SEKALIAN...???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKALI LAGI... INGATLAH PESAN KAMI INI:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;IKHWAN... SETIDAKNYA INI MASIH LEBIH BAIK DARI PADA TIDAK HAFAL SAMA SEKALI...!!!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;AKHWAT... SETIDAKNYA INI MASIH LEBIH BAIK DARI PADA TIDAK HAFAL SAMA SEKALI...!!!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika  suatu ketika antum futhur (lesuh semangat) dalam menggapai cita-cita  mulia ini, maka ingatlah (bacalah) kembali hadits-hadits Rasulullah  Shallallahu 'alayhi wasallam tentang keutamaan dan kemualiaan para  penghafal Al Qur'an, dan ingatlah kedua ibu bapak antum yang pastinya  ingin untuk dipakaikan Pakaian Kemuliaan beserta Mahkota kemuliaan di  Akhirat kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah 'Azza wa Jalla senantiasa  melindungi kita dari kefuhuran, dan menjadikan kita semua sebagai  hamba-hambanya yang hafal Al Qur'an, mengamalkan, dan mendakwahkannya,  serta mematikan kita semua dalam kondisi dada yang menyimpan Al Qur'an  beserta kemuliaannya. Aamiyn Yaa Rabbal 'Aalamiyn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat, Salam dan do'aku untuk antum semua wahai saudara-saudariku seiman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SUBHANAKALLAHUMMA WABIHAMDIKA, ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLAA ANTA, ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAYKA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Washallallahu  'alaa Nabiyyinaa Muhammadin wa 'alaa aalihi wa ash-haabihi ajma'iyn, wa  aakhiru da'waanaa 'anilhamdulillahi Rabbil'aalamiyn.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;AKHUKUM FILLAH, &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;-Imam Auliya-&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Makassar, Rabu Masaa' 27 Syawwal 1431 H / 6 Oktober 2010 M.&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-6262963812024606119?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/6262963812024606119/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/metode-sederhana-menghafal-al-quran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/6262963812024606119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/6262963812024606119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/metode-sederhana-menghafal-al-quran.html' title='Metode Sederhana Menghafal Al Qur&apos;an Bagi Orang-Orang Sibuk'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-1489966874490815382</id><published>2010-11-29T16:50:00.000+07:00</published><updated>2010-11-29T16:50:32.789+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='IsLamDunia'/><title type='text'>Hafidz Cilik Pertama Negeri Samurai</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://nininananunu.files.wordpress.com/2010/11/jepang.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://nininananunu.files.wordpress.com/2010/11/jepang.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;Oleh&lt;/em&gt; &lt;b&gt;LIzsa Anggraeny&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Kono tabi, hajimete no Qur`an zen-ankisha (danshi 11-sai) ga tanjoushimashita" &lt;/em&gt; "Telah 'lahir,' seorang hafidz Qur`an pertama di Jepang (anak laki-laki 11 tahun)."Begitu kira-kira terjemahan kalimat di atas.&lt;br /&gt;Sebuah  berita yang saya terima melalui e-mail dari salah satu Masjid  di  Jepang. Tentu, membaca berita tersebut, sontak mata terbelalak.&lt;br /&gt;Antara  gembira, terharu dan tak percaya. 11 tahun? Anak laki-laki?  Hafidz  cilik pertama di Jepang? Allahu Akbar! Ada kebanggaan tersendiri   meyelusup di hati.  Ingatan saya lalu mulai berjalan pada seorang anak   laki-laki berkaca mata. Sama dengan anak-anak sebaya lainnya, Ia polos   dan kadang penuh dengan ulah.&lt;br /&gt;Saya biasa bertemu dengan lelaki  cilik tersebut di tangga masjid.  Dengan santainya ia duduk, kadang  menyapa saya, sambil sesekali mulutnya  komat-kamit. Iseng sering saya  tanya "Lagi ngapain? Sudah sampai mana  hapalannya?"  Dengan santai ia  akan menjawab ala kadarnya "Wakaranai...  !" (Ngga tahu)  Kalau  akhirnya, laki-laki cilik tersebut menjadi seorang  hafidz di usianya  yang masih belia. Tentu betapa gembiranya saya, yang  selalu bertemu  dengannya di tangga masjid.&lt;br /&gt;Saya membayangkan kedua orang tua  laki-laki cilik tersebut. Melebihi  saya, sudah tentu mereka memiliki  kebanggaan dan kebahagiaan yang  berlipat-lipat dari saya.Tinggal di  Jepang, mencetak anak menjadi  seorang penghapal Qur'an? &lt;br /&gt;Tentu  bukan perjuangan yang mudah. Di mana lingkungan kadang tidak  mendukung,  kendala menggunung dan rintangan menggulung.Belum lagi  tarikan kuat  teman-teman Jepang yang kadang mengalahkan niatan.&lt;br /&gt;Selain lelaki  cilik berkacamata yang saya kenal, ada juga beberapa  anak usia belia  lainnya yang kini tengah mengikuti program kelas hafidz  hafidzah di  masjid tersebut.&lt;br /&gt;Kadang, ada perasaan kasihan melihat mereka yang  masih belia, datang  di sore menuju kelas hafidz Qur`an. Tentu mereka  lelah, sedari pagi dan  siang berada di sekolah umum Jepang, dan sorenya  pergi ke kelas Qur`an  di masjid. Perjalanan yang mereka tempuhpun  tidaklah dekat. Turun naik  bus ataupun kereta harus dijalani.  Namun,  tak ada sedikitpun keluhan  yang pernah saya dengar dari mereka.&lt;br /&gt;Di usia belia, sepertinya mereka menikmati "&lt;em&gt;adventure&lt;/em&gt;"   perjalanan menuju kelas Qur`an. Tetap ceria, penuh polah dan lincah   berlari-lari. Bertemu dengan teman sebaya sesama muslim - bagi mereka   yang tinggal di lingkungan Jepang non muslim- sepertinya menjadi sesuatu   yang dinanti dan memiliki daya tarik tersendiri. Layaknya bertemu   sahabat lama, mereka akan langsung saling bercerita dengan penuh   semangat.&lt;br /&gt;Bergugurlah konsep-konsep "kasihan" saya yang selama  ini kadang tak  sengaja muncul di benak. Batapa naifnya saya. Bukankah  sebuah kebanggaan  jika anak-anak tersebut nantinya yang akan  menancapkan peradaban Islam  Jepang? &lt;br /&gt;Bukankah merupakan sebuah  aset berharga jika nantinya banyak hafidz  hafidz cilik menggaungkan  kalimat Allah di negeri samurai? Untuk  mewujudkan itu semua tidak akan  mungkin bisa tanpa mengkondusifkan  anak-anak dalam suasana qur`ani,  bukan?&lt;br /&gt;Saya teringat si kecil yang kini genap berusia 2 tahun?  Akan saya  jadikan apa si kecil yang menjadi amanah saya saat ini? Akan  saya  wariskan apa padanya untuk menapaki kehidupan? Akan saya hadiahkan  apa  padanya yang dapat membuatnya bahagia dunia akhirat? Mampukah saya   mencetaknya menjadi generasi qurani? Menjadi barisan generasi hafidz  di  negeri samurai ini?&lt;br /&gt;Betapa bahagianya jika suatu saat nanti  si kecil mendapatkan hadiah  berupa "Tajul Karamah." Hadiah dari Allah  berupa "Mahkota Kemuliaan"  yang diberikan bagi mereka para penghapal Al  Qur`an. &lt;br /&gt;Dan betapa bahagianya saya jika di akhirat kelak  mendapatkan "Tajan  min Nur." Hadiah berupa "Mahkota Bercahaya"yang  cahayanya lebih gemerlap  dari cahaya mataharibagi orang tua yang telah  mencetak si buah hati  menjadi generasi Qur`ani.&lt;br /&gt;Subhanallah....  Betapa luar biasanya balasan yang disediakan oleh  Allah Ta`ala.  Saya  percaya, setiap orang tua menginginkan yang terbaik  untuk anaknya. Dan  saya percaya tentu banyak orang tua yang menginginkan  tajul karamah  bagi si buah hati dan tajan min nur bagi dirinya.  Menggiring diri, buah  hati dan suami menuju jalan ke surga-Nya. Meski  mungkin jalan untuk  mewujudkan impian tersebut tidaklah semudah yang  dipikirkan.&lt;br /&gt;Terutama  bagi keluarga muslim di negeri samurai khususnya, dan negeri  minoritas  secara umum, yang dimana lingkungan kadang tidak mendukung.   Tapi saya  lebih percaya jika niat membentuk generasi qurani sudah  tertanam,  Allah akan memudahkan segalanya. &lt;em&gt;Faidza azamta fa tawakal alallah&lt;/em&gt;   "Ketika sudah bertekad, bertawakallah kepada Allah"  Suatu karunia   paling berharga jika suatu saat negeri samurai akan penuh dengan tabuhan   genderang, suara-suara indah para hafidz hafidzah dari negerinya   sendiri.&lt;br /&gt;Allahu Akbar!  Barang siapa belajar Al-Qur’an,  mengajarkan dan  mengamalkannya, kelak akan dikenakan padanya mahkota  yang bercahaya di  hari kiamat. Sinarnya menyamai terang matahari dan  kedua orang tuanya  pun diberi dua pakaian yang tidak dapat dibandingi  dengan gemerlap  dunia.&lt;br /&gt;Mereka berdua kemudian bertanya  keheranan: “Karena amalan apakah kami  berdua berhak diberi pakaian ini?  lalu dikatakan: “Karena buah hati  kalian telah belajar, mengajar dan  mengamalkan Al-Qur’an” (HR. Al-Hakim)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wallahu`alam bishowab&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepenggal catatan aishliz et multiply.com&lt;br /&gt;http://www.eramuslim.com.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-1489966874490815382?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/1489966874490815382/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/hafidz-cilik-pertama-negeri-samurai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/1489966874490815382'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/1489966874490815382'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/hafidz-cilik-pertama-negeri-samurai.html' title='Hafidz Cilik Pertama Negeri Samurai'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-1353199909716324120</id><published>2010-11-29T07:34:00.006+07:00</published><updated>2010-12-01T07:51:30.461+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='IsLamDunia'/><title type='text'>FUUI Temukan 90 Titik Pemurtadan di Bandung</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://pusdai.com/wp-content/uploads/2010/11/ilustrasi_101128191819-300x216.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://pusdai.com/wp-content/uploads/2010/11/ilustrasi_101128191819-300x216.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="right" style="color: magenta;"&gt;&lt;td class="tr-caption"&gt;ilustrasi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Forum Ulama Ummat Indonesia menemukan  sebanyak 90 titik praktik  pemurtadan di Bandung. Kebanyakan praktik  tersebut ditemukan dalam  bentuk pendirian rumah peribadatan atau gereja  yang terkesan dipaksakan,  alasannya untuk mendapatkan izin dari warga,  digunakan cara-cara  penipuan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Mereka menggunakan banyak cara dalam  melakukan  pemurtadan,” kata Ketua FUUI, KH Athian Ali, dalam acara  Diklat  Antisipasi Pemurtadan Tahap I, Gelombang V, di Kantor FUUI  Bandung, Ahad  (28/11).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penipuan yang dimaksud dalam bentuk  tanda tangan yang  dimintakan kepada warga melalui kegiatan tertentu.  Dia mencontohkan,  adanya misionaris mengadakan acara dan mengundang  warga. Saat itu  disediakan tandatangan kehadiran warga. “Ternyata  tandatangan itu diatur  menjadi izin pembangunan tempat peribadatan,”  jelasnya.&lt;span id="more-328"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Praktik  pemurtadan di Kabupaten Bandung di antaranya di Kecamatan  Arjasari,  Cimenyan, dan Kecamatan Soreang. Bahkan, Athian mengaku, apa  yang  ditemukannya kerapkali melanggar Surat Peraturan Bersama Dua  Menteri.  Misalnya, penyebaran agama terhadap warga yang sudah beragama.  Hal itu,  mestinya tidak dilakukan, sebab di SPB Dua Menteri itu sudah  dijelaskan  bahwa penyebaran agama tidak dilakukan terhadap orang yang  sudah  beragama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain itu, kata Athian, adalah  pemaksaan proses  pendirian tempat peribadatan. Meskipun, di kawasan  yang hendak didirikan  itu hanya ada warga non-Muslim, tetapi tetap  dipaksakan mendirikan  gereja. “Aturannya kan baru bisa mendirikan kalau  sudah ada 60 orang,”  lanjutnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun, dari 90 pelanggaran yang terbagi  50 di  Kabupaten Bandung dan 40 di Kota Bandung tersebut, kesemuanya  sudah  ditangani FUUI. Organisasi Massa Islam tersebut mendesak agar  pihak  gereja mengurungkan niatnya dengan membuat surat kesepakatan  kedua belah  pihak. “Mereka juga banyak mengakui kalau tindakan mereka  melanggar SPB  Dua Menteri, makanya semuanya mau menandatangani dan  berjanji tidak  akan mengulangi lagi,” tegasnya menuturkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dikatakan Athian,  untuk pemurtadan di  Jawa Barat sendiri dipastikan bisa mencapai ratusan.  Sebab, di Cianjur  saja, sudah dijadikan pusat pemurtadan. Dalam satu  kelurahan saja di  Ciranjang, Kabupaten Cianjur terdapat tujuh gereja.  Sedangkan di Garut  Selatan ditemukan 5 titik. “Di Cianjur itu ada pusat  pemurtadan yang  disebut Lembah Karmil.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekretaris Jenderal FUUI,  Hedi  Muhammad, mengatakan bahwa Diklat Antisipasi Pemurtadan (DAP) kali  ini  sudah merupakan tahun ketiga diadakan. Dalam satu tahun, DAP  diadakan  dua kali, dengan peserta dari DKM dan da’I Jakarta dan Jawa  Barat.  “Kali ini pesertanya sekitar 400 orang. Paling banyak dari  Bandung  sendiri,” kata Hedi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tujuan DAP sendiri, kata Hedi, agar   peserta nantinya bisa ikut berperan dan membantu menyalamatkan   saudara-saudaranya umat Islam dari missionaris. Hal itu bisa dilakukan   dengan melaporkan langsung ke FUUI atau mengantisipasi misi tersebut.   “Dalam pelatihan ini diajarkan bagaimana mereka bisa memahami adanya   gerakan-gerakan itu dan bagaimana antisipasinya,” jelas Hedia.   Antisipasi yang dimaksudnya, bukanlah menghakimi sendiri, tetapi diatasi   secara bijaksana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh karenanya, Athian mengimbau agar  semua  umat Islam merasa terpanggil dan berpikir bahwa keimanan adalah  sesuatu  yang termahal dalam hidup. “Kita lebih siap kehilangan apapun,  asalkan  jangan keimanan,” ungkapnya. Wujud kecintaan ke sesama Muslim  tidak  boleh membiarkan umat islam lainnya dirampas keimanannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;sumber : www.republika.co.id&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-1353199909716324120?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/1353199909716324120/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/fuui-temukan-90-titik-pemurtadan-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/1353199909716324120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/1353199909716324120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/fuui-temukan-90-titik-pemurtadan-di.html' title='FUUI Temukan 90 Titik Pemurtadan di Bandung'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-2778555240358912774</id><published>2010-11-27T14:15:00.003+07:00</published><updated>2010-11-27T14:46:29.341+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kegiatan'/><title type='text'>Ketua Umum Isi Tabligh Akbar DPC Bandung</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs994.snc4/76735_1466930234276_1264147007_31043261_2157523_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs994.snc4/76735_1466930234276_1264147007_31043261_2157523_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;BANDUNG&lt;/b&gt;, Sebagai tindak lanjut dari  program kerjasama Tebar Hewan Qurban beberapa hari lalu, maka DPC Wahdah  Islamiyah Bandung berencana  menggelar Tabligh Akbar, yang mengundang  DKM / Lembaga yang mengajukan  permohonan bantuan hewan qurban.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Insya  Allah acara tersebut akan  diadakan pada hari ahad 28 November 2010 Pkl.  09.00-12.00 wib bertempat  di Markaz Wahdah Islamiyah Bandung Jl. Asri  Ciparungpung RT.07/07  Padasuka Cicaheum Kab. Bandung, dengan pembicara  Ust. Muh. Zaitun  Rasmin, Lc, MA (Ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah).  Adapun tema yang akan  diusung “Dengan semangat berqurban kita  tingkatkan mujahadah dalam  pembangunan ummat.” (bud)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-2778555240358912774?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/2778555240358912774/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/ketua-umum-isi-tabligh-akbar-dpc.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/2778555240358912774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/2778555240358912774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/ketua-umum-isi-tabligh-akbar-dpc.html' title='Ketua Umum Isi Tabligh Akbar DPC Bandung'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-3478352623867163364</id><published>2010-11-27T13:53:00.006+07:00</published><updated>2010-11-27T14:22:01.629+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kegiatan'/><title type='text'>Wahdah Bandung Tebar Hewan Qurban</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs994.snc4/76735_1466930234276_1264147007_31043261_2157523_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.wahdah.or.id/wis/images/stories/cabang/bandung/Bandung%20Kurban.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://www.wahdah.or.id/wis/images/stories/cabang/bandung/Bandung%20Kurban.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;BANDUNG&lt;/b&gt;, DPC Wahdah Islamiyah Bandung bekerja sama dengan Ma’had Aly Ar-Raayah  menyalurkan 206 ekor hewan qurban pada program “Tebar Hewan Qurban” 1431  H yang diselenggarakan rabu, 17 November 2010 berpusat di Markaz Wahdah  Islamiyah Bandung Jl. Asri Ciparungpung RT.07/07 Padasuka Cicaheum Kab.  Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hewan qurban tersebut didistribusikan ke berbagai DKM/  Lembaga yang mengajukan permohonan bantuan hewan qurban di Kota Bandung,  Kab. Bandung, Cimahi, Kab. Bandung Barat, Garut, Sumedang, Ciamis.  Selain itu, para kader dan simpatisan, masyarakat sekitar markaz, turut  ambil bagian dalam pendistribusian. (bud)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-3478352623867163364?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/3478352623867163364/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/tebar-hewan-qurban-wahdah-bandung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/3478352623867163364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/3478352623867163364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/tebar-hewan-qurban-wahdah-bandung.html' title='Wahdah Bandung Tebar Hewan Qurban'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-7216506383784696205</id><published>2010-11-26T06:05:00.005+07:00</published><updated>2010-11-26T06:05:01.041+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SUnNaH_RaSuL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Adab Pada Hari Jumat Sesuai Sunnah Nabi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://img.allvoices.com/thumbs/event/598/486/36409545-sholat-jumat.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="260" src="http://img.allvoices.com/thumbs/event/598/486/36409545-sholat-jumat.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;big&gt;H&lt;/big&gt;ari  Jumat adalah hari yang mulia, dan kaum muslimin di seluruh penjuru  dunia memuliakannya. Keutamaan yang besar tersebut menuntut umat Islam  untuk mempelajari petunjuk Rasulullah dan sahabatnya, bagaimana  seharusnya msenyambut hari tersebut agar amal kita tidak sia-sia dan  mendapatkan pahala dari Allah ta’ala. Berikut ini beberapa adab yang  harus diperhatikan bagi setiap muslim yang ingin menghidupkan syariat  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Jumat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Memperbanyak Sholawat Nabi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,  “Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka  perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan  ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan  kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda:  ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.”  (Shohih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Mandi Jumat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandi pada hari Jumat wajib hukumnya bagi setiap muslim yang balig  berdasarkan hadits Abu Sa’id Al Khudri, di mana Rasulullah bersabda yang  artinya, “Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang  baligh.” (HR. Bukhori dan Muslim). Mandi Jumat ini diwajibkan bagi  setiap muslim pria yang telah baligh, tetapi tidak wajib bagi anak-anak,  wanita, orang sakit dan musafir. Sedangkan waktunya adalah sebelum  berangkat sholat Jumat. Adapun tata cara mandi Jumat ini seperti halnya  mandi janabah biasa. Rasulullah bersabda yang artinya, “Barang siapa  mandi Jumat seperti mandi janabah.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Menggunakan Minyak Wangi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barang siapa  mandi pada hari Jumat dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak rambut  atau minyak wangi kemudian berangkat ke masjid dan tidak memisahkan  antara dua orang, lalu sholat sesuai yang ditentukan baginya dan ketika  imam memulai khotbah, ia diam dan mendengarkannya maka akan diampuni  dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya.” (HR. Bukhari dan  Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Bersegera Untuk Berangkat ke Masjid&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas bin Malik berkata, “Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur  siang setelah sholat Jumat.” (HR. Bukhari). Al Hafidz Ibnu Hajar  berkata, “Makna hadits ini yaitu para sahabat memulai sholat Jumat pada  awal waktu sebelum mereka tidur siang, berbeda dengan kebiasaan mereka  pada sholat zuhur ketika panas, sesungguhnya para sahabat tidur terlebih  dahulu, kemudian sholat ketika matahari telah rendah panasnya.” (Lihat  Fathul Bari II/388)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. Sholat Sunnah Ketika Menunggu Imam atau Khatib&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mandi kemudian  datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam  mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka  akan diampuni dosanya mulai jum’at ini sampai jum’at berikutnya ditambah  tiga hari.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. Tidak Duduk dengan Memeluk Lutut Ketika Khatib Berkhotbah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sahl bin Mu’ad bin Anas mengatakan bahwa Rasulullah melarang Al Habwah  (duduk sambil memegang lutut) pada saat sholat Jumat ketika imam sedang  berkhotbah.” (Hasan. HR. Abu Dawud, Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;7. Sholat Sunnah Setelah Sholat Jumat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda yang artinya, “Apabila kalian telah selesai  mengerjakan sholat Jumat, maka sholatlah empat rakaat.” Amr menambahkan  dalam riwayatnya dari jalan Ibnu Idris, bahwa Suhail berkata, “Apabila  engkau tergesa-gesa karena sesuatu, maka sholatlah dua rakaat di masjid  dan dua rakaat apabila engkau pulang.” (HR. Muslim, Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;8. Membaca Surat Al Kahfi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi bersabda yang artinya, “Barang siapa yang membaca surat Al Kahfi  pada hari Jumat maka Allah akan meneranginya di antara dua Jumat.” (HR.  Imam Hakim dalam Mustadrok, dan beliau menshahihkannya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sekelumit etika yang seharusnya diperhatikan bagi setiap  muslim yang hendak menghidupkan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi  wa sallam ketika di hari Jumat. Semoga kita menjadi hamba-Nya yang  senantiasa di atas sunnah Nabi-Nya dan selalu istiqomah di atas  jalan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Disarikan dari majalah Al Furqon edisi 8 tahun II oleh Abu Abdirrohman Bambang Wahono)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Abu Abdirrohman Bambang Wahono&lt;br /&gt;Artikel &lt;a href="http://www.muslim.or.id/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;www.muslim.or.id&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-7216506383784696205?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/7216506383784696205/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/adab-pada-hari-jumat-sesuai-sunnah-nabi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/7216506383784696205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/7216506383784696205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/adab-pada-hari-jumat-sesuai-sunnah-nabi.html' title='Adab Pada Hari Jumat Sesuai Sunnah Nabi'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-5763742112486247844</id><published>2010-11-25T05:56:00.005+07:00</published><updated>2010-11-25T05:56:00.053+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PendidikanAnak'/><title type='text'>Menjadi Pendidik Idaman (Bagian 2)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://rushthecourt.net/mag/wp-content/uploads/2010/03/sunflower-showdown.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="211" src="http://rushthecourt.net/mag/wp-content/uploads/2010/03/sunflower-showdown.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;b. Ruang Lingkup  Pengajaran&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Aqidah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Menumbuhkan dalam diri anak-anak tentang pengagungan terhadap Allah &lt;i&gt;subhanahu  wa ta’ala&lt;/i&gt;  , mencintai-Nya dan mentauhidkan-Nya, dan peringatkanlah mereka   tentang kesalahan aqidah yang mereka lihat serta peringatkanlah mereka  agar  tidak terjatuh ke dalamnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengajarkan pokok-pokok ajaran tentang &lt;a href="http://muslimah.or.id/tag/rukun-iman"&gt;rukun iman&lt;/a&gt; dan rukun islam.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menanamkan muraqabah pada diri anak, dengan memperdalam pelajaran iman, islam, dan ihsan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;2. Ibadah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Memperhatikan dengan benar tentang &lt;a href="http://muslimah.or.id/tag/shalat"&gt;shalat&lt;/a&gt;  wajib dan shalat nafilah (shalat sunnah). Shalat adalah kewajiban yang  sangat agung  dan inti yang kedua dari kewajiban agama. Shalat pun  merupakan amalan yang  pertama kali dihisab. Maka berikanlah pendidikan  pada anak agar tahu penting  dan agungnya kedudukan shalat.Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; telah bersabda,&lt;i&gt;“Ajarkanlah  shalat pada anak kalian pada usia tujuh tahun, pukullah mereka  jika  mereka enggan pada usia sepuluh tahun, pisahkan antara tempat tidur anak  laki-laki  dan perempuan.” &lt;/i&gt;(HR. Ahmad, Abu Dawud dan  lainnya)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengajarkan fiqh praktis sehari-hari,  seperti tata cara wudhu dan shalat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membiasakan anak dengan dzikir dan do’a yang bersumber dari Qur’an dan Hadits.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;3. Akhlaq&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Membiasakan dengan etiket umum yang harus dilakukan dalam pergaulannya sehari-hari.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menumbuhkan sifat kejantanan dalam diri anak laki-laki dan sifat malu lagi menjaga  kesucian dalam diri anak perempuan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mempraktekkan adab-adab yang telah dipelajari.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memberikan suri tauladan akhlaq Nabi Muhammad &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; dan As Salaf Ash Shalih &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhum ajma’in&lt;/i&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menjaga hak milik yang khusus dan bagian-bagian pribadi di antara  anak-anak,  serta bersikaplah adil terhadap mereka dalam pergaulan dan  pemberian serta  perhatian dalam pendidikan mereka.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;4. &lt;b&gt;Al-Qur’an dan Al-Hadits&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pengajaran Al-Qur’an&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Al Qur’an adalah jalan lurus yang tak  mengandung suatu kebatilan  apapun. Maka amat baik jika anak dibiasakan membaca  Al-Qur’an dengan  benar, diajar mengenai &lt;i&gt;asbab an nuzul&lt;/i&gt; (sebab-sebab  turunnya ayat, ed) dan tafsir Al-Qur’an, dan diupayakan semaksimal mungkin agar  menghafal Al-Qur’an.&lt;br /&gt;Menghafal Al-Qur’an juga memperkuat penguasaan bahasa Arab dan  membiasakan anak  dengan susunan bahasa Al-Qur’an, serta membuat anak  memiliki pedoman beragama. Para orang tua harus  memperhatikan bahwa  jangan sampai anak hanya hafal tanpa mengetahui makna ayat  yang  dihafal. Untuk itulah orang tua  hendaknya menerangkan makna dan  kandungan ayat sesuai dengan tingkat pemahaman  anak, sehingga anak  tidak sekadar menghafal tanpa tahu makna dan kandungannya. Banyak   sekali metode yang dapat dilakukan orangtua agar anak cinta Al-Qur’an.  Di antara  metodenya adalah: menceritakan kisah-kisah dalam Al-Qur’an,  memutar murattal  versi anak, mengadakan perlombaan yang berhubungan  dengan Al-Qur’an, membuat  permainan atau kuis yang berhubungan dengan  Al-Qur’an dsb.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pengajaran Al-Hadits&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Memberikan motivasi pada anak agar menghafal  hadits dengan berbagai metode yang ada.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menceritakan sirah nabawiyyah dan mutiara kisah As-Salaf Ash-Shalih yang terdapat  pada Hadits.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menceritakan kisah-kisah dari hadits yang mengandung hikmah.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;5. Kejiwaan dan kepribadian&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Menekankan pentingnya ikhlas dalam niat dan perbuatan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memotivasi anak agar mencapai cita-cita mulia dan tinggi untuk masuk  ke surga Al-Firdaus Al A’la dan bertemu wajah Allah &amp;nbsp;di surga.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membentuk sisi sosial anak.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Melatih mental anak untuk selalu percaya diri dan bertanggung jawab.  Anak-anak  sekarang ini adalah pemimpin hari esok, sehingga harus  dipersiapkan dan dilatih  mengemban tanggung jawab dan melaksanakan  tugas yang nantinya akan mereka  lakukan.Hal itu bisa terwujud melalui  pembinaan rasa percaya diri, penghargaan jati dirinya,  pemberian  kesempatan kepada anak untuk menyampaikan yang terbetik dalam  pikirannya,  dan dorongan agar mengerjakan urusannya sendiri. Anak juga  harus dibiasakan  mengerjakan tugas rumah tangga yang sesuai untuknya.  Misalnya, disuruh untuk  membeli beberapa keperluan rumah dari warung  terdekat; anak perempuan diberi  tugas mencuci piring dan gelas atau  mengasuh adik. Pemberian tugas kepada anak  dilakukan secara bertahap  sehingga mereka terbiasa mengemban tanggung jawab dan  melaksanakan  tugas yang sesuai bagi mereka.Termasuk pemberian tanggung jawab kepada  anak, ia harus menanggung resiko perbuatan  yang dilakukannya. Maka  ajarkanlah kepada anak bahwa ia harus bertanggung jawab  atas kesalahan  yang dilakukannya serta dituntut untuk memperbaiki apa yang  telah  dirusaknya dan meminta maaf atas kesalahannya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menceritakan masa kegemilangan dan kejayaan Islam.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menumbuhkan sifat kejantanan dalam diri anak laki-laki dan sifat malu lagi menjaga  kesucian dalam diri anak  perempuan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membuka forum diskusi dan musyawarah dengan anak. Dengan adanya  pembiasaan  musyawarah dan diskusi, anak dilatih untuk ikut berpikir  kritis terhadap  masalah yang ada, bijaksana dalam mengambil keputusan,  serta mencari solusi  yang paling baik dalam penyelesaian masalah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengembangkan nilai estetika pada anak.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Anak perlu dilatih mengembangkan apresiasi estetika yang mencakup  keindahan, kerapihan,  dan kebersihan. Untuk itulah anak perlu  dibiasakan membersihkan kamar,  merapikan barang-barangnya sendiri, dan  mengeksplorasi kreativitas seni yang  dimiliki.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memilihkan teman yang baik bagi  anak&lt;br /&gt;Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda,&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya maka hendaklah seseorang memperhatikan  siapa teman dekatnya.” &lt;/i&gt;(HR. Ahmad dan  At-Tirmidzi (Beliau menghasankannya), Al-Hakim (Beliau menshahihkannya dan  disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;6. Kecerdasan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Mengembangkan kecerdasan bahasa, baik bahasa lokal maupun asing, terutama bahasa  Arab.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Melatih perkembangan logika anak&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memotivasi gemar membaca dan cinta terhadap ilmu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membekali anak dengan kemampuan kognitif yang baik.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menemukan titik keunggulan anak dan mengembangkannya sesuai potensi bakat dan minat yang dimiliki.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Allah &lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt; memberi  anugrah potensi yang  berbeda pada tiap individu. Hal ini menyebabkan beragamnya  keunikan dan  keunggulan pada tiap manusia. Berikut akan sedikit dipaparkan   bentuk-bentuk keunggulan multidimensi, agar memudahkan klasifikasi bakat   keistimewaan yang dimiliki sang anak.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Keistimewaan dalam aspek ibadah&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan istimewa melaksanakan aspek-aspek ibadah (memiliki kemampuan  di atas  rata-rata dalam memahami ruh ibadah, melaksanakannya dengan  pemahaman yang baik,  dan merasakan segi positifnya).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Keistimewaan dalam aspek akhlaq&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan yang istimewa untuk berlaku dengan akhlak yang baik dan mulia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Kecerdasan antarpersonal&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan untuk mampu memahami dan menanggapi oranglain, baik dari segi  suasana  hati; temperamen; motivasi, dan hasrat orang lain.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Kecerdasan interpersonal&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan untuk mengelola perkembangan dirinya sendiri (kemampuan korelatif  tetapi terarah ke dalam diri sendiri)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Kecerdasan olah tubuh/kinestetik&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan dalam penguasaan fisik dan gerak motorik.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Kecerdasan linguistik (bahasa dan sastra).&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan dalam berbahasa dan berkomunikasi secara verbal.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Kecerdasan logis matematis.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan untuk memahami ilmu-ilmu rasional dan pasti.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Kecerdasan dalam apresiasi seni dan estetika.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan untuk memiliki kepekaan khusus dalam mengembangkan sense estetika  dan jiwa seni.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Kecerdasan visual spasial.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan untuk peka terhadap ilmu bangun ruang dan warna.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Kecerdasan naturalis.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan untuk memiliki kepekaan terhadap lingkungan alami (suasana alam dan bahan-bahan alami)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;7. Fisik dan kesehatan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Membiasakan melakukan senam badan yang ringan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengadakan permainan olahraga&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membekali anak dengan &lt;i&gt;physic motoric life skill&lt;/i&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mempraktekkan ruqyah syar’iyyah sebelum tidur dan ketika sakit.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memperhatikan gizi makanan dan kesehatan anak.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;***&lt;br /&gt;Artikel &lt;a href="http://muslimah.or.id/pendidikan-anak/menjadi-pendidik-idaman-bagian-2.html"&gt;Muslimah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Fatihdaya Khoirani&lt;br /&gt;Murajaah: Ust Abu Rumaysho Muhammad Abduh&lt;br /&gt;Rujukan:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt; Goleman, Daniel. 2000. &lt;i&gt;Emotional Intelligence&lt;/i&gt;. Cetakan ke-10. Gramedia Pustaka  Utama. Jakarta.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Ats Tsuwaini, Dr. Muhammad Fahd. 2007. &lt;i&gt;Mengantar  Orangtua ke Surga&lt;/i&gt;. Cetakan Pertama. Daar An Naba’. Surakarta.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Ahmad Sulaiman, Abu Amr. 2006. &lt;i&gt;Pendidikan Anak Muslim Usia  Prasekolah&lt;/i&gt;. Cetakan ke-7. Daarul Haaq. Jakarta.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Istadi, Irawati. 2007. 30 &lt;i&gt;Cara Kreatif Belajar Asyik Gembira&lt;/i&gt;.  Cetakan Pertama. Pustaka Inti. Bekasi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Al Asymuni, Ummi Mahmud. 2006. &lt;i&gt;Etika Menjadi Ibu Guru&lt;/i&gt;. Cetakan  Pertama. Pustaka Elba. Surabaya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Abdul Mu’thi, Abdulloh Muhammad. 2008. &lt;i&gt;Be A Genius  Teacher&lt;/i&gt;. Cetakan Pertama. Pustaka Elba. Surabaya.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;[muslimah.or.id]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-5763742112486247844?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/5763742112486247844/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/menjadi-pendidik-idaman-bagian-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/5763742112486247844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/5763742112486247844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/menjadi-pendidik-idaman-bagian-2.html' title='Menjadi Pendidik Idaman (Bagian 2)'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-173616154370403211</id><published>2010-11-24T05:36:00.004+07:00</published><updated>2010-11-25T05:51:13.101+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HaDiTs'/><title type='text'>Sebab Perbedaan Riwayat Dalam Satu Hadits</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRlpJBr-lpO0_QWaMrH-aYJerz8HFEsieHqKF5DxgAGNYcY_Jr4" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRlpJBr-lpO0_QWaMrH-aYJerz8HFEsieHqKF5DxgAGNYcY_Jr4" /&gt;&lt;/a&gt;Sebab-sebab berbedanya lafazh hadits adalah sebagai berikut, di antaranya: &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;Berbilang/bermacam-macamnya kejadian&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ibnu Hazm &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; berkata di dalam kitab &lt;i&gt;&lt;b&gt;”Al-Ihkam”&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; (1/134):&lt;i&gt;  ”Berbeda-bedanya redaksi dalam satu hadits bukanlah suatu aib/cela  dalam sebuah hadits apabila maknanya satu, karena telah shahih riwayat  dari Nabi &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; bahwa apabila beliau  berbicara beliau mengulang-ulang tiga kali. Maka masing-masing orang  (Sahabat) yang mendengar hadits itu menyampaikan kepada orang lain  sesuai dengan apa yang dia dengar. Maka perbedaan dalam riwayat seperti  ini tidak melemahkan hadits, apabila maknanya satu. Selesai perkataan  Ibnu Hazm rahimahullah&lt;/i&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;Riwayat dengan makna bukan dengan lafazhnya&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan hal ini adalah sebab yang paling sering  menjadikan perbedaan riwayat dalam satu hadits. Karena sesungguhnya yang  paling penting dalam menyampaikan hadits adalah menyampaikan kandungan  dan isinya, adapun lafazh atau redaksinya tidak &lt;i&gt;ta’abudi&lt;/i&gt; (membacanya bukanlah ibadah, maksudnya tidak memiliki pahala khusus dengan membacanya), sebagaimana al-Qur’an yang &lt;i&gt;ta’abudi&lt;/i&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Contohnya adalah hadits:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;&lt;br /&gt;( إنما الأعمال بالنيات ) &lt;/div&gt;”Sesungguhnya amalan-amalan (ibadah) itu membutuhkan niat-niat.” &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Diriwayatkan pula dengan lafazh:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;&lt;br /&gt;( العمل بالنية ) &lt;/div&gt;”Amalan (ibadah) dengan niat.” &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Juga dengan lafazh:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;&lt;br /&gt;( إنما الأعمال بالنية ) &lt;/div&gt;”Sesungguhnya amalan-amalan (ibadah) itu membutuhkan niat.” &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan juga dalam lafazh yang lain:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;&lt;br /&gt;( الأعمال بالنية ) &lt;/div&gt;”Amalan-amalan (ibadah) itu membutuhkan niat.” &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan pertbdaan lafazh/redaksi ini sebabnya adalah  meriwayatkan hadits dengan makna, karena sesungguhnya perawi hadits ini  satu, yaitu: Yahya bin Sa’id dari Muhammad bin Ibrahim at-Taimi dari  ‘Alqamah dari ‘Umar &lt;i&gt;radhiyallahu 'anhu&lt;/i&gt;. Dan yang diperhatikan di  sini adalah bahwa makna yang dipahami dari kalimat-kalimat di atas  adalah satu, maka kerusakan apa yang timbul dari banyaknya riwayat yang  seperti ini?!!! &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan supaya para Ulama lebih tenang  bahwasanya perawi (orang yang menukil hadits) telah menukil makna shahih  (yang benar) dari sebuah hadits, maka mereka tidak menerima hadits yang  diriwayatkan dengan makna kecuali dari orang yang paham dengan bahasa  Arab, kemudian membandingkan riwayatnya dengan riwayat selainnya dari  kalangan perawi yang tsiqah (terpercaya). Maka jelaslah bagi mereka  kesalahan  dalam menukilnya, seandainya ada.Dan contoh untuk hal ini  banyak danbukan di sini tempat pemaparannya.  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;Meringkas hadits&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Yaitu, ada seorang perawi yang hafal hadits  secara sempurna, akan tetapi dia mencukupkan dengan menyebutkan sepotong  dari hadits tersebut pada suatu kesempatan, dan menyebutkannya secara  lengkap pada kesempatan yang lain. Contohnya adalah riwayat hadits Abu  Hurairah &lt;i&gt;radhiyallahu 'anhu&lt;/i&gt; tentang kisah lupanya Nabi &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt;  dua raka’at dalam shalat Dzuhur, dan semuanya (riwayat-riwayat itu)  datang dari Abu Hurairah, dan itu adalah satu kisah. Hal itu menunjukkan  bahwa perbedaan riwayat-riwayat itu, sebabnya adalah sebgian perawi  yang meringkas hadits. Lihat Shahih al-Bukhari (714), (715), dan(1229) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;Kesalahan&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Yaitu, seorang perawi kadang salah, lalu dia  meriwayatkan hadits tidak sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh   perawi lain. Dan mungkin untuk mengetahui kesalahan ini adalah dengan  saling membandingkan di antara riwayat-riwayat tersebut. Dan itulah yang  dilakukan oleh kalangan Ulama di dalam kitab-kitab Suna dan kitab  Takhrij.  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; berkata dalam kitab &lt;i&gt;&lt;b&gt;”al-Jawab ash-Shahih”&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; (3/39):”&lt;i&gt;Dan akan tetapi ummat ini Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; menjaga untuk mereka apa yang Dia turunkan, Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; berfirman:&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" dir="rtl"&gt;&lt;br /&gt;( إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ ) الحجر/9  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;”Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang menjaganya.”&lt;/i&gt;(QS. Al-Hijr: 9) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;Maka apa saja kekeliruan yang ada dalam tafsir al-Quran dan penukilan hadits, maka Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt;  akan membangkitkan dari kalangan ummat ini orang yang akan  menjelaskannya (kekeliruan itu), dan menyebutkan bukti akan kekeliruan  pelakunya dan kedustaan para pendustanya. Karena ummat ini tidak akan  bersepakat di atas kesesatan, dan senantiasa di antara mereka ada  sekelompok orang yang berada jelas di atas kebenaran sampai datang hari  kiamat, karena mereka adalah ummat terakhir, tidak ada Nabi lagi setelah  Nabi mereka, tidak ada kitablagi setelahkitab Nabi mereka. Dan adalah  ummat-ummat sebelum mereka, apabila mereka mengganti dan merubah (kitab  mereka) Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; akan mengutus Nabi-Nya yang menjelaskan kepada mereka, memerintah mereka dan melarang mereka. Dan tidak ada setelah Muhammad &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; Nabi lagi.Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; telah menjamin bahwa Dia akan menjaga apa yang Dia turunkan berupa Dzikir (al-Qur’an dan Hadits).”&lt;/i&gt; selesai perkataan Ibnu Taimiyah &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;.        &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan Sunnah -sesuai dengan bentuk yang saya  sebutkan di awal, yaitu sebagai wahyu dari Allah- menjelaskan  (memperinci) kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka di dalam  al-Qur’an, dan mengajari mereka hukum-hukum yang mereka butuhkan dalan  agama mereka. Dan seandainya perinciannya atau asalnya ada dalam  al-Qur’an, maka kita katakan bahwa Sunnah dalam bentuk yang seperti ini  adalah kekhususan Nubuwah, dan ini adalah salah satu tugas dari Nabi &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt;.  Maka manusia senantiasa memandang Sunnah dalam bentuk seperti ini,  dengan apa yang terkandung dalam kitab-kitab hadits, atau  riwayat-riwayat secara lisan berupa perbedaan sebagian lafazh (redaksi).  Dan hal tersebut tidak membuat mereka (kaum muslimin) ragu terhadap  kedudukannya, atau mereka merasa pusing dalam menghafalnya, atau  ragu-ragu terhadap kehujahaanya (kedudukannya sebagai dalil), atau  membuat mereka ragu terhadap kebutuhan manusia terhadapnya.&lt;/div&gt;(&lt;b&gt;Sumber : سبب تعدد الروايات" " &lt;/b&gt; dari &lt;b&gt; موقع الإسلام سؤال&lt;/b&gt;. diterjemahkan oleh Abu Yusuf Sujono)&lt;br /&gt;[alsofwah.or.id]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-173616154370403211?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/173616154370403211/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/sebab-perbedaan-riwayat-dalam-satu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/173616154370403211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/173616154370403211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/sebab-perbedaan-riwayat-dalam-satu.html' title='Sebab Perbedaan Riwayat Dalam Satu Hadits'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-531347602956471780</id><published>2010-11-23T05:26:00.005+07:00</published><updated>2010-11-25T05:49:51.572+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Shahabiyah'/><title type='text'>Su’airah; Wanita Penghuni Surga</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://muhtalifun.files.wordpress.com/2009/06/anggrek41.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="288" src="http://muhtalifun.files.wordpress.com/2009/06/anggrek41.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Dia adalah  seorang &lt;a href="http://muslimah.or.id/tag/shahabiyah"&gt;shahabiyyat&lt;/a&gt; bernama &lt;b&gt;Su’airah al-Asadiyyah&lt;/b&gt; atau yang dikenal dengan Ummu  Zufar &lt;i&gt;radhiyallohu’anha&lt;/i&gt;.  Walau para ahli sejarah tak menulis perjalanan  kehidupannya secara  rinci, karena hampir semua kitab-kitab sejarah hanya  mencantumkan  sebuah &lt;a href="http://muslimah.or.id/tag/hadits"&gt;hadits&lt;/a&gt; dalam  biografinya, namun dengan keterangan yang  sedikit itu kita dapat  memetik banyak faedah, pelajaran, serta teladan yang  agung dari &lt;a href="http://muslimah.or.id/tag/wanita"&gt;wanita&lt;/a&gt; shalihah ini.&lt;br /&gt;Su’airah  al-Asadiyyah berasal dari Habsyah atau yang dikenal  sekarang ini dengan Ethiopia.  Seorang wanita yang berkulit hitam, yang  beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan  penuh ketulusan. Ia adalah  perumpamaan cahaya dan bukti nyata dalam kesabaran,  keyakinan dan  keridhaan terhadap apa yang telah ditakdirkan Allah, Rabb  Pencipta Alam  semesta ini. Dia adalah wanita yang datang dan berbicara langsung   dengan pemimpin orang-orang yang ditimpa &lt;a href="http://muslimah.or.id/tag/musibah"&gt;musibah&lt;/a&gt; dan imam bagi orang-orang yang  sabar, Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu’alaihi wasallam&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;Dialog mereka  berdua telah dimaktub dan dinukilkan di dalam kitab  sunnah yang mulia. Telah  diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab  shahihnya dengan sanadnya dari ‘Atha’  bin Abi Rabah ia berkata, Ibnu  Abbas berkata kepadaku, “Inginkah engkau aku  tunjukkan seorang wanita  penghuni &lt;a href="http://muslimah.or.id/tag/surga"&gt;surga&lt;/a&gt;?” Aku pun menjawab, “Tentu saja.”&lt;br /&gt;Ia berkata, ”Wanita  berkulit hitam ini (orangnya). Ia telah datang menemui Nabi &lt;i&gt;shallallahu’alaihi  wasallam&lt;/i&gt; lalu berkata:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya  aku berpenyakit ayan (epilepsi), yang bila kambuh maka  tanpa disadari auratku  terbuka. Do’akanlah supaya aku sembuh.”  Rasululloh &lt;i&gt;shallallahu’alaihi  wasallam &lt;/i&gt;bersabda:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Jika engkau  kuat bersabar, engkau akan memperoleh surga. Namun  jika engkau ingin, aku akan  berdoa kepada Allah agar Dia  menyembuhkanmu.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Maka ia  berkata:”&lt;b&gt;Aku akan bersabar&lt;/b&gt;.” Kemudian ia berkata:”&lt;b&gt;Sesungguhnya aku  (bila kambuh maka tanpa disadari auratku) terbuka, maka mintakanlah kepada  Allah supaya auratku tidak terbuka&lt;/b&gt;.” Maka Beliau &lt;i&gt;shallallahu ’alaihi  wasallam&lt;/i&gt; pun mendo’akannya. (HR Al-Bukhari 5652)&lt;br /&gt;Perhatikanlah … betapa tingginya keimanan wanita ini. Ia berusaha   menjaga hak-hak Allah dalam dirinya. Tak lupa pula mempelajari ilmu  agama-Nya.  Meski ditimpa penyakit, ia tidak putus asa akan rahmat Allah  dan bersabar  terhadap musibah yang menimpanya. Sebab ia mengetahui itu  adalah sesuatu yang  diwajibkan oleh Allah. Bahwasanya tak ada suatu  musibah apapun yang diberikan kepada seorang  mukmin yang sabar kecuali  akan menjadi timbangan kebaikan baginya pada hari  kiamat nanti.&lt;br /&gt;&lt;div class="arab"&gt;إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ  بِغَيْرِ حِسَابٍ&lt;/div&gt;&lt;i&gt;“  Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang akan diberi pahala tanpa  batas.”&lt;/i&gt; (QS Az-Zumar :10)&lt;br /&gt;Di dalam musibah atau cobaan yang diberikan Allah kepada manusia   terkandung hikmah yang agung, yang dengannya Allah ingin membersihkan  hambanya  dari dosa. Dengan keyakinan itulah Su’airah lebih mengutamakan  akhirat daripada  dunia, kerana apa yang ada disisi Allah lebih baik  dan kekal. Dan Ketika  diberikan pilihan kepadanya antara surga dan  kesembuhan, maka ia lebih memilih  surga yang abadi. Akan tetapi di  samping itu, ia meminta kepada Rasululloh &lt;i&gt;shallallahu  ’alaihi wasallam&lt;/i&gt;  untuk mendoakan agar auratnya tidak terbuka bila  penyakitnya kambuh,  karena ia adalah waniya yang telah terdidik dalam madrasah &lt;i&gt;‘iffah&lt;/i&gt; (penjagaan diri) dan kesucian, hasil didikan Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ’alaihi  wasallam&lt;/i&gt;, dan menjaga hak Allah yang telah memerintahkan wanita muslimah  untuk menjaga kehormatan dirinya dengan menutup aurat. Allah &lt;i&gt;subhanahu wa ta’alla&lt;/i&gt; berfirman:&lt;br /&gt;&lt;div class="arab"&gt;وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ&lt;/div&gt;&lt;i&gt;“Dan hendaklah  mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya&lt;/i&gt;.” (Qs An-Nur: 31)&lt;br /&gt;Su’airah telah memberikan pelajaran penting bagi para wanita yang   membuka auratnya, bahwa hendaknya mereka bersyukur kepada Allah &lt;i&gt;ta’alla&lt;/i&gt;  atas nikmat kesehatan yang telah dilimpahkan kepada mereka. Berpegang  dengan  hijab yang syar’i adalah jalan satu-satunya untuk menuju  kemuliaan dan  kemenangan hakiki, karena ia adalah mahkota  kehormatannya. Dalam permintaannya, &lt;b&gt;Su’airah hanya meminta agar  penyakit yang membuatnya kehilangan kesadarannya  itu tidak menjadi  sebab terbukanya auratnya, padahal dalam keadaan itu pena  telah  diangkat darinya!&lt;/b&gt; Akan tetapi, ia tetap berpegang dengan hijab dan  rasa malunya!&lt;br /&gt;Betapa jauhnya perbandingan antara wanita yang pemalu dan penyabar   ini dengan mereka yang telanjang yang tampil dilayar-layar kaca dan   terpampang di koran dan majalah-majalah. Tak perlu kita mengambil contoh   terlalu jauh sampai ke negara-negara barat sana. Cukuplah kita  perhatikan di negara kita  tercinta ini saja, banyak kita temukan  wanita-wanita telanjang berlalu lalang  dengan santainya di setiap  lorong dan sudut kota, bahkan di kampung-kampung tanpa rasa  malu  sedikitpun. Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ’alaihi wasallam&lt;/i&gt; telah sebutkan  perihal mereka ini dengan sabdanya:&lt;br /&gt;&lt;div class="arab"&gt;صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ  النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ  مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ  يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ  وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ  مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ  كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ  الْجَنَّةَ وَلَا  يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ  كَذَا  وَكَذَا&lt;/div&gt;&lt;i&gt;“ Ada dua golongan penduduk neraka yang aku belum pernah melihat  mereka:  satu kaum yang memiliki cemeti seperti ekor sapi dimana mereka  memecut manusia  dengannya, dan kaum wanita yang berpakaian akan tetapi  telanjang, genit dan  menggoda, (rambut) kepala mereka seperti punuk  onta yang miring. Sungguh mereka tidak akan masuk surga bahkan tidak  akan mendapati  baunya, padahal bau surga bisa didapati dari jarak  perjalanan sekian dan sekian  (jauhnya).”&lt;/i&gt; (HR Muslim 5704)&lt;br /&gt;Mereka tak ubahnya seperti binatang yang kemana-mana tak berpakaian   karena mereka memang tidak berakal! Keluarnya mereka telah merusak  pandangan  orang-orang yang berakal. Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ’alaihi wasallam&lt;/i&gt; juga bersabda tentang  mereka:&lt;br /&gt;&lt;div class="arab"&gt;الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ  فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَان&lt;/div&gt;&lt;i&gt;“Seorang  wanita itu (seluruhnya) aurat. Apabila ia keluar  (rumah) maka setan akan membuat mereka nampak indah di hadapan   orang-orang yang memandanginya.”&lt;/i&gt; (HR Tirmidzi 1206, dishahihkan al-Albani dalam &lt;i&gt;Shahihul Jami’&lt;/i&gt; no 6690)&lt;br /&gt;Dan sungguh  semua itu bertolak belakang dengan fitrah manusia. Allah &lt;i&gt;ta’ala&lt;/i&gt; berfirman:&lt;br /&gt;&lt;div class="arab"&gt;وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ   وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا  يُبْصِرُونَ  بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ  كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ  أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (١٧٩)&lt;/div&gt;&lt;i&gt;“  Sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan  dari jin dan  manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak  dipergunakannya untuk memahami  (ayat-ayat Allah). Dan mereka mempunyai  mata (tetapi) tidak dipergunakannya  untuk melihat (tanda-tanda  kekuasaan Allah). Dan mereka memiliki telinga  (tetapi) tidak  dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka  seperti  binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah   orang-orang yang lalai.&lt;/i&gt; (Qs Al A’raf :179)&lt;br /&gt;Demikianlah sosok Su’airah al-Asadiyyah &lt;i&gt;radhiyallahu’anha&lt;/i&gt;,  wanita yang dipuji Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ’alaihi wasallam&lt;/i&gt;  akan kesabaran  dan ‘iffah (penjagaan diri)nya. Semoga pelajaran agung  yang telah diwariskannya  dapat menjadi acuan bagi wanita muslimah  menuju keridhaan Allah &lt;i&gt;subhanahu wa  ta’alla&lt;/i&gt;, dan menjadikan kita penghuni surga sebagaimana Su’airah, Aamiin.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;a href="http://muslimah.or.id/kisah/suairah-wanita-penghuni-syurga.html"&gt;Muslimah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dikutip dari majalah Mawaddah Edisi 7 tahun ke-3&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-531347602956471780?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/531347602956471780/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/suairah-wanita-penghuni-surga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/531347602956471780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/531347602956471780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/suairah-wanita-penghuni-surga.html' title='Su’airah; Wanita Penghuni Surga'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-6202076078158308241</id><published>2010-11-22T05:25:00.000+07:00</published><updated>2010-11-22T05:25:24.226+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PendidikanAnak'/><title type='text'>Menjadi Pendidik Idaman (Bagian 1)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_asKuj2Wmihc/Sz7x3sBzP7I/AAAAAAAAAIw/LvHnidi-oLQ/s400/sun.flower.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_asKuj2Wmihc/Sz7x3sBzP7I/AAAAAAAAAIw/LvHnidi-oLQ/s400/sun.flower.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://muslimah.or.id/tag/anak"&gt;Anak&lt;/a&gt; merupakan amanah yang diberikan oleh  Allah kepada orang tua. Setiap  &lt;a href="http://muslimah.or.id/tag/parenting"&gt;orang&amp;nbsp; tua&lt;/a&gt;  memiliki kewajiban yang meliputi merawat, mengasuh, membimbing,   menjaga, dan mendidik anak-anaknya sebagai bentuk pertanggung jawaban  terhadap amanah yang telah Allah  berikan. Di tangan kedua orangtuanya  lah, seorang  anak akan ditempa dan dibentuk menjadi figur generasi masa  depan yang unggul  sekaligus berkompeten, dalam segala kompleksitas  multi dimensi yang ada,  meliputi kompetensi kecerdasan spiritual,  intelektual, dan emosional.&lt;br /&gt;Dari Ibnu ‘Umar &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhuma&lt;/em&gt;, ia berkata, “Saya mendengar  Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/em&gt;bersabda,&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Setiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanyakan tentang  kepemimpinannya.  Imam adalah pemimpin dan akan ditanyakan tentang  kepemimpinannya. Seorang suami adalah pemimpin di tengah keluarganya dan  akan ditanya tentang kepemimpinannya. Istri adalah pemimpin di rumah  suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Budak adalah   pemimpin dalam harta majikannya dan akan ditanyakan tentang  kepemimpinannya. Setiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanyakan  tentang kepemimpinannya.” &lt;/em&gt;(HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;Sejalan dengan kedudukannya sebagai pendidik utama dan pertama dalam  fase perkembangan anak, orangtua harus terlebih dahulu membentuk dirinya  menjadi sosok pendidik rabbani, yang meletakkan asas pendidikan di  bawah naungan pancaran cahaya Kitabillah dan Sunnah Nabawiyyah.  Senantiasa membekali diri dengan ilmu dan selalu berupaya untuk  mengaplikasikan berbagai ketentuan hukum syari’at pada setiap sendi  kehidupan yang ada.&lt;br /&gt;Dalam rangka menuju terwujudnya realisasi visi dan misi pendidikan  anak, ada beberapa point yang perlu diperhatikan para orangtua untuk  bisa menjadi  pendidik yang handal dan sukses, di antaranya adalah  sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;a. Karakteristik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tidak dapat dielakkan lagi, bahwa salah satu  aspek yang penting  sebagai penunjang keberhasilan pendidikan orangtua terhadap anak-anaknya  adalah karakteristik pendidik itu sendiri. Banyak kendala, hambatan dan  kegagalan &lt;em&gt;-qadarullah wa maa sya’a, fa’al-&lt;/em&gt; salah satunya  disebabkan karena para  orangtua belum mengerti atau bahkan belum  menyadari, apa sajakah karakter yang  diperlukan untuk menjadi seorang  pendidik yang berdaya guna dan bermutu tinggi. Oleh  karena itu, penulis  ingin menguraikan sedikit tentang pribadi inti yang sudah sepantasnya  dimiliki oleh para orangtua sebagai pendidik. Seorang pendidik yang  baik, adalah:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pribadi yang Menjaga Keikhlasan Niat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya keikhlasan niat merupakan kunci utama untuk membuka  segala pintu amal kebajikan dan dengan niat yang ikhlas inilah baru akan  terpenuhi salah satu dari dua syarat diterimanya suatu amalan.&lt;br /&gt;Allah &lt;em&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/em&gt; berfirman,&lt;br /&gt;&lt;div class="arab"&gt;وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ  مُخْلِصِينَ  لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا  الزَّكَاةَ  وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ&lt;/div&gt;“&lt;em&gt;Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah  dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang  lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan  yang demikian itulah agama yang lurus.” &lt;/em&gt;(QS. Al Bayyinah: 5)&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Allah &lt;em&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/em&gt; berfirman,&lt;br /&gt;&lt;div class="arab"&gt;فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ  عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا&lt;/div&gt;&lt;em&gt;“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah  ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan  seorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya.” &lt;/em&gt;(QS. Al-Kahfi:  110)&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;br /&gt;&lt;div class="arab"&gt;إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ  وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى&lt;/div&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya perbuatan itu tergantung pada  niatnya, dan setiap orang mendapatkan seperti yang dia niatkan.” &lt;/em&gt;( HR. Bukhari 1/1527 dan  Muslim 1907)&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu perbuatan kecuali yang diikhlaskan semata untuk mencari ridhaNya.” &lt;/em&gt;(HR. An-Nasa’i  2/59, sanadnya dinyatakan hasan)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pribadi yang berilmu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Allah &lt;em&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/em&gt; berfirman,&lt;br /&gt;&lt;div class="arab"&gt;قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ  وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ&lt;/div&gt;&lt;em&gt;“Katakanlah, adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan  orang-orang yang tidak mengetahui?” &lt;/em&gt;(QS. Az-Zumar: 9)&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Di antara hal yang tidak diperselisihkan oleh siapapun adalah  bahwa seorang pendidik harus memiliki pengetahuan tentang asas-asas  pendidikan yang dibawa oleh syari’at Islam. Dia juga harus menguasai  permasalahan halal dan haram, mengetahui masalah-masalah dasar akhlak  dan memahami peraturan-peraturan Islam dan dasar-dasar syari’at. Karena  ilmu-ilmu tersebut akan menjadikan pengajar tersebut menjadi ‘alim yang  bijaksana, yang menempatkan sesuatu pada tempatnya. Ia akan mendidik  anak di atas landasan dan tuntunan syari’at. Ia akan berjalandi atas  jalan perbaikan dan pendidikan dengan landasan yang kuat dari ajaran  Al-Qur’an dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,, juga  dari keteladanan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa  sallamdan orang yang mengikuti mereka.” &lt;/em&gt;( Kitab &lt;em&gt;Tarbiyatul Aulad&lt;/em&gt;, 2/540, dikutip  dari buku &lt;em&gt;Etika Menjadi Ibu Guru&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;Dengan bekal ilmu syar’i yang benar, diharapkan pihak orangtua dan  anak sama-sama bisa mengaplikasikan ilmu tersebut dalam bentuk amalan,  sebagaimana&lt;br /&gt;perkataan seorang penyair,&lt;br /&gt;&lt;div class="arab"&gt;اَلْعِلْمُ بِلاَ عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلاَ ثَمَرٍ&lt;/div&gt;yang artinya, “Ilmu tanpa amalan, bagaikan pohon tanpa buah.”&lt;br /&gt;Ada penggalan  ucapan salah seorang ustadz yang senantiasa saya ingat, &lt;em&gt;-Semoga Allah selalu memberikan perlindungan kepada Beliau-&lt;/em&gt; yang berbunyi,&lt;br /&gt;&lt;div class="arab"&gt;اَلْعِلْمُ وَسِيْلَةٌ وَالعَمَلُ بِهِ غَايَةٌ&lt;/div&gt;yang artinya, “Ilmu adalah sebuah media  (perantara), sedangkan beramal dengan ilmu tersebut adalah puncaknya.”&lt;br /&gt;Pada uraian di atas sempat disinggung sedikit tentang “ilmu syar’i  yang benar”.  Lalu seperti apakah indikasi ilmu syar’i yang benar itu? &lt;strong&gt;Ilmu syar’i yang  benar&lt;/strong&gt; adalah ilmu tentang syari’at yang timbangannya adalah Qur’an dan  Sunnah sebagaimana yang Allah kehendaki dalam Kitab&lt;span&gt;-Nya yang Agung dan disampaikan lewat lisan  Rasul&lt;span&gt;-Nya  yang mulia, ilmu yang selaras dengan jalan hidup serta pemahaman yang ditempuh  Nabi Muhammad&lt;em&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;, para Shahabat &lt;em&gt;radhiyallahu  ‘anhum ajma’in&lt;/em&gt;, dan para pengikutnya hingga akhir zaman nanti &lt;strong&gt;(singkat:  As Salaf Ash-Shalih).&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan beragamnya corak bidang  keilmuan yang harus  diajarkan, hendaknya para orangtua menentukan skala prioritas disiplin  ilmu yang akan&lt;br /&gt;diajarkan. Suatu cabang ilmu yang paling urgent dan menempati rating  pertama untuk disampaikan pada anak-anak, adalah ilmu akidah yang  mencakup prinsip  pokok Rukun Iman yang 6. Satu hal yang tidak boleh  dilupakan dalam pengajaran ilmu tersebut, yakni cara penyampaiannya  harus disesuaikan dengan tingkat berpikir dan jenjang usia anak.&lt;br /&gt;Allah &lt;em&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/em&gt; berfirman,&lt;br /&gt;&lt;div class="arab"&gt;فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ   وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ  يَعْلَمُ  مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ&lt;/div&gt;&lt;em&gt;“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Sesembahan (Yang  berhak  disembah) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan  bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah  mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.” &lt;/em&gt;(Qs. Muhammad: 19)&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;Sisi pendalilan dari ayat ini:&lt;br /&gt;Adanya kewajiban mengilmui tauhid terlebih dahulu sebelum melakukan  suatu  amalan (yakni beristighfar). Dari ayat ini pula, timbul  konsekuensi wajibnya mengilmui sesuatu sebelum mengamalkannya.&lt;br /&gt;Mengingat akan pentingnya ilmu sebelum beramal, sampai-sampai Imam Bukhari &lt;em&gt;rahimahullahu &lt;/em&gt; pun membuat satu  bab dalam kitab Shahihnya yang berjudul&lt;br /&gt;&lt;div class="arab"&gt;اَلْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ&lt;/div&gt;yang artinya “Ilmu Sebelum Perkataan dan Perbuatan”&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pribadi yang Bertakwa dan Berakhlak Baik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ketakwaan bersemayam di  dalam dada. Dengan ketakwaan inilah hati  akan terisi dengan cahaya keimanan, kemudian cahayanya akan terpancar  dan terefleksikan dalam bentuk amal kebajikan.&lt;br /&gt;Allah &lt;em&gt;’Azza wa Jalla&lt;/em&gt; berfirman,&lt;br /&gt;&lt;div class="arab"&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ  حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ&lt;/div&gt;&lt;em&gt;“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah  sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati  melainkan dalam keadaan  beragama Islam.” &lt;/em&gt;(QS. Ali ‘Imran: 102)&lt;br /&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Takwa itu di sini tempatnya! Beliau katakan hal ini dengan menunjuk ke  dadanya sebanyak tiga kali.” &lt;/em&gt;(HR. Muslim)&lt;br /&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging, apabila ia  baik maka seluruh tubuh akan baik, dan apabila ia rusak maka seluruh  tubuh akan rusak. Ketahuilah, itu adalah hati.” &lt;/em&gt;(HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;Orang tua berperan aktif dalam menorehkan warna  pada kanvas  kehidupan sang anak. Oleh karena itu, seorang pendidik haruslah mewarnai  hidup anak  dengan akhlak yang baik, yakni akhlak yang dicontohkan oleh  qudwah (suri tauladan) kita Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu’alaihi wa sallam&lt;/em&gt;.  Betapa banyak petuah hikmah ditinggalkan anak ketika  mereka melihat  kurang baiknya akhlak kita, dan betapa banyak petuah hikmah yang  dilaksanakan ketika mereka melihat bagusnya akhlak kita. Mengapa? Karena  anak cepat menyerap lalu meniru segala tindak tanduk kita, dan  menjadikan kita sebagai panutan dalam hidup mereka.&lt;br /&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;br /&gt;&lt;em&gt;” Sesungguhnya aku diutus untuk  menyempurnakan kemuliaan akhlak.” &lt;/em&gt;(Hadits hasan riwayat  At-Tirmidzi 2019)&lt;br /&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;br /&gt;&lt;div class="arab"&gt;إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ  وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا&lt;/div&gt;&lt;em&gt; ”  Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat  tempat duduknya denganku pada Hari Kiamat adalah orang yangpalung baik  akhlaknya.” &lt;/em&gt;(Hadits hasan riwayat At-Tirmidzi 2019)&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Artikel &lt;a href="http://muslimah.or.id/pendidikan-anak/menjadi-pendidik-idaman.html"&gt;Muslimah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Fatihdaya Khoirani&lt;br /&gt;Murajaah: Ust Abu Rumaysho Muhammad Abduh&lt;br /&gt;Rujukan:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt; Goleman, Daniel. 2000. &lt;em&gt;Emotional Intelligence&lt;/em&gt;. Cetakan ke-10. Gramedia Pustaka  Utama. Jakarta.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Ats Tsuwaini, Dr. Muhammad Fahd. 2007. &lt;em&gt;Mengantar  Orangtua ke Surga&lt;/em&gt;. Cetakan Pertama. Daar An Naba’. Surakarta.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Ahmad Sulaiman, Abu Amr. 2006. &lt;em&gt;Pendidikan Anak Muslim Usia  Prasekolah&lt;/em&gt;. Cetakan ke-7. Daarul Haaq. Jakarta.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Istadi, Irawati. 2007. 30 &lt;em&gt;Cara Kreatif Belajar Asyik Gembira&lt;/em&gt;.  Cetakan Pertama. Pustaka Inti. Bekasi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Al Asymuni, Ummi Mahmud. 2006. &lt;em&gt;Etika Menjadi Ibu Guru&lt;/em&gt;. Cetakan  Pertama. Pustaka Elba. Surabaya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Abdul Mu’thi, Abdulloh Muhammad. 2008. &lt;em&gt;Be A Genius  Teacher&lt;/em&gt;. Cetakan Pertama. Pustaka Elba. Surabaya.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;[muslimah.or.id]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-6202076078158308241?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/6202076078158308241/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/menjadi-pendidik-idaman-bagian-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/6202076078158308241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/6202076078158308241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/menjadi-pendidik-idaman-bagian-1.html' title='Menjadi Pendidik Idaman (Bagian 1)'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_asKuj2Wmihc/Sz7x3sBzP7I/AAAAAAAAAIw/LvHnidi-oLQ/s72-c/sun.flower.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-494199862467102617</id><published>2010-11-22T05:11:00.000+07:00</published><updated>2010-11-22T05:11:44.944+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPS'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AL-QuR&apos;aN'/><title type='text'>Agar kita Cinta Al-Qur’an</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://wimakassar.org/wp/wp-content/uploads/2010/11/cinta-al-quran.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="257" src="http://wimakassar.org/wp/wp-content/uploads/2010/11/cinta-al-quran.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;Kondisi Kaum Muslimin &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita memperhatikan keadaan kita saat ini, maka akan di dapati  bahwa masih banyak di antara kaum Muslimin yang amat jauh dari  Al-Qur’an, bahkan begitu sangat jauhnya mereka dari petunjuk dan  pengajaran yang ada di dalam Al-Qur’an.&lt;br /&gt;Di antara mereka ada yang tidak mau atau malas membaca Al-Qur’an,  sebagian lagi ada yang hanya membacanya hanya ketika waktu shalat saja  atau membacanya ketika ada acara-acara perlombaan saja. Ada pula yang  membacanya hanya ketika dalam kondisi terjepit dan kesulitan. Ada juga  yang sekedar membaca Al-Qur’an, namun tidak mau mentadabburinya&amp;nbsp;  (memperhatikan arti, maksud dan isinya), atau membacanya tapi tidak mau  mangamalkannya. Bahkan, yang paling parah adalah ada orang yang menolak  sebagian ayat-ayat-Nya dan selalu mempermasalahkannya. &lt;span id="more-1183"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Diantara Sebab Utamanya &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mengapa demikian? Apa sebabnya?&lt;br /&gt;Penyebab utamanya adalah tidak adanya kecintaan kepada Al-Qur’an. Rasa  cinta kepada Al-Qur’an itu telah redup dan menghilang atau bahkan rasa  cinta itu telah mati.&lt;br /&gt;Sesungguhnya jika hati ini cinta kepada sesuatu, maka dia akan  tertambat dan bergantung kepadanya, selalu merasakan kesenangan  bersamanya dan&amp;nbsp; kerinduan ingin bertemu dengannya serta tidak ingin  berpisah dan jauh-jauh darinya.&lt;br /&gt;Begitu juga terhadap Al-Qur’an. Jika hati seseorang sudah  mencintainya, maka dia akan merasakan kenikmatan ketika membacanya,  merasa senang dan gembira saat bersamanya. Dia akan berusaha untuk  mengetahui, memahami dan menyelami arti dan makna yang terkandung di  dalamnya.&amp;nbsp; Sebaliknya, jika tidak ada kecintaan, maka hati ini akan  sulit menerima Al-Qur’an, terasa berat untuk&amp;nbsp; tunduk taat kepada  Al-Qur’an.&lt;br /&gt;Kenyataan menunjukkan benarnya pernyataan ini. Sebagai contoh;  seorang pelajar yang memiliki semangat, kesukaan, dan kecintaan pada  suatu pelajaran tertentu, maka ia akan cepat menguasai apa yang telah  diajarkannya, dia dengan segera dapat menyelesaikan tugas dan  kewajibannya dalam waktu yang singkat.&amp;nbsp; Sebaliknya, siswa yang tidak  suka pelajaran tersebut, maka ia tidak akan bisa menguasi pelajaran yang  sudah disampaikan kecuali setelah mengulang-ulangnya berkali-kali. Dia  menghabiskan banyak waktu untuk mempelajarinya, dan tidak bisa  menyelesaikan tugas dan kewajibannya dengan baik.&lt;br /&gt;Bagaimanakah cara menumbuhkan rasa cinta ini terhadap Al-Qur’an?&lt;br /&gt;Sebelum dijawab, ada baiknya kita mengetahui tanda-tanda jika hati itu cinta kepada Al-Qur’an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tanda-Tanda Kecintaan Hati kepada Al-Qur’an&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kecintaan hati kepada Al-Qur’an mempunyai beberapa tanda, di antaranya :&lt;br /&gt;1- Sebagaimana cintanya seseorang kepada sesuatu, cinta pada Al-Qur’an  pun ditandai dengan kesukaannya ketika bersua (berjumpa) dengannya&lt;br /&gt;2- Tidak&amp;nbsp; merasa jenuh dan bosan ketika duduk-duduk bersama dan membacanya dalam waktu yang cukup lama&lt;br /&gt;3- Jika jauh darinya, maka ia akan selalu merindukannya dan berharap bisa segera bertemu dengannya&lt;br /&gt;4- Banyak berdialog dengannya dan meyakini petunjuk dan arahannya serta  kembali kepadanya ketika menghadapi berbagai persoalan hidup, baik kecil  maupun besar&lt;br /&gt;5- Mentaatinya, baik dalam perintah maupun larangan&lt;br /&gt;Inilah tanda-tanda terpenting dan utama akan adanya rasa kecintaan  seseorang kepada Al-Qur’an. Jika salah satunya tidak ada, kecintaan  itupun ikut berkurang. Maka, ukurlah diri kita dengan tanda-tanda utama  tersebut di atas.&lt;br /&gt;Pertanyaannya sekarang adalah; “Apakah saya mencintai Al-Qur’an?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cara Agar Hati Mencintai Al-Qur’an&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1.&amp;nbsp; Berdo’a dan Bertawakkal hanya kepada Allah &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Persoalan cinta adalah persoalan (qalbu) hati. Semantara kita tidak  sanggup menguasai hati kita sendiri. Hati seseorang terletak di tangan  Allah. Dia membuka dan menutup hati seseorang kapan saja Dia  menghendaki, dengan hikmahNya, serta ilmuNya. Allah &lt;em&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/em&gt; berfirman;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara  manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya lah kamu akan  dikumpulkan”. (Al-Anfal: 24).&lt;br /&gt;…“Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka,  (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan  di telinga mereka…”(Al-Kahfi: 57).&lt;/blockquote&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Sesungguhnya hati semua anak cucu Adam itu berada di  antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah  Subhanahhu wa Ta’ala akan memalingkan hati manusia menurut  kehendak-Nya.”&lt;br /&gt;(HR. Muslim).&lt;/blockquote&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt; bersabda;&lt;br /&gt;&lt;h2 style="text-align: right;"&gt;إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ  إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ  حَيْثُ يَشَاءُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ&lt;/h2&gt;&lt;blockquote&gt;“Sesungguhnya hati semua anak cucu Adam itu berada di  antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah  Subhanahhu wa Ta’ala akan memalingkan hati manusia menurut  kehendak-Nya.”&lt;br /&gt;(HR. Muslim).&lt;/blockquote&gt;Oleh karena cinta letaknya di hati, dan hati berada di dalam  genggaman Allah, maka memohonlah bantuan kepada Allah dan berdo’alah&amp;nbsp;  kepadaNya agar Dia memberikan karunia kecintaan kepada Al-Qur’an agar  kita bisa mencintainya.&lt;br /&gt;Hendaknya berdo’a dengan tulus, penuh ketundukan, memohon dengan  mendesak dan memohon dengan belas kasihan serta sangat berharap untuk  segera diberi.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2.&amp;nbsp; Berilmu; yaitu berusaha Mempelajari dan Memahami  Keagungan dan Keutamaan Al-Qur’an dan Keutamaan orang-orang yang  mempelajarinya, menghafalnya dan mengamalkannya. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Diantara Keutamaan Al-Qur’an dan Keutamaan orang yang mempelajarinya;&lt;br /&gt;a.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan yang mengajarkannya” (HR. Al-Bukhari).&lt;/blockquote&gt;b.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari  rumah-rumah Allah, mereka membaca Al-Qur’an dan saling mempelajari  diantara mereka, kecuali turun kepada mereka ketentraman, mereka  diliputi rahmat, malaikat menaungi mereka dan Allah menyebut-nyebut  kebaikan mereka dihadapan makhluk yang mulia yang ada di sisi-Nya” (HR.  Muslim).&lt;/blockquote&gt;c.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Dari Ibnu Mas’ud bahwasanya Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an, maka  ia akan mendapatkan satu kebaikan yang dilipatgandakan sepuluh kali  lipat.&amp;nbsp; Nabi melanjutkan:” Aku tidak mengatakan bahwa Alif laam miim itu  adalah satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim  satu huruf” (HR. At-Tirmidzi).&lt;/blockquote&gt;d.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Dikisahkan oleh ’Aisyah &lt;em&gt;radhiyallahu ’anha&lt;/em&gt;, bahwa Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; pernah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia pandai maka ia  bersama para malaikat pembawa kitab yang mulia dan baik. Orang yang  membaca Al-Qur’an terbata-bata dan kesulitan maka ia mendapat dua  pahala” (HR. At-Tirmidzi).&lt;/blockquote&gt;e.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Umar bin Khatthab meriwayatkan bahwa Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; pernah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan  Al-Qur’an dan merendahkannya juga dengan kitab ini (Al-Qur’an)” (HR.  Muslim).&lt;/blockquote&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Bergaul dengan orang-orang Shalih.&lt;br /&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; pernah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Perumpamaan teman yang shaleh ibarat penjual minyak  wangi. Bila dia tidak memberimu minyak wangi, kamu akan mencium bau  keharumannya. Sedangkan perumpamaan teman yang buruk ibarat tukang  pandai besi. Bila kamu tidak terjilat apinya, kamu akan terkena bau  asapnya”. (HR. Bukhari).&lt;br /&gt;“Seseorang adalah sejalan dan sealiran dengan teman akrabnya, maka  hendaklah kamu berhati-hati dalam memilih teman pendamping” (HR. Ahmad).&lt;/blockquote&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Bersabar; yaitu bersabar dalam ketiga hal di atas.&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wata’ala berfirman;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan  (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah  beserta orang-orang yang sabar”. (Al-Baqarah: 153).&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah  kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan  bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”. (Ali Imran: 200)&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami  mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan  agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu”. (Muhammad: 31).&lt;br /&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; pernah bersabda:&lt;br /&gt;“Tidak ada suatu rezeki yang Allah berikan kepada seorang hamba yang lebih luas baginya daripada sabar”. (HR. Al Hakim)&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang menjaga diri dari meminta-minta kepada orang lain,  maka akan diberi rezeki kepuasan oleh Allah. Dan barangsiapa yang merasa  dirinya cukup, maka akan diberi kekayaan (hati dan jiwa) oleh Allah.  Dan barangsiapa yang berlaku sabar, maka akan dikurnia kesabaran oleh  Allah. Tiada seorangpun yang dikaruniai suatu pemberian yang lebih baik  serta lebih luas (manfaatnya) daripada kurnia kesabaran itu.” (Muttafaq  ‘alaih).&lt;/blockquote&gt;&lt;em&gt;Wallahu ta’ala a’lam.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Disadur dari; Kunci-Kunci Tadabbur Al-Qur’an, DR. Khalid al-Laahim dengan sedikit tambahan.&lt;br /&gt;[wimakassar.org]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-494199862467102617?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/494199862467102617/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/agar-kita-cinta-al-quran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/494199862467102617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/494199862467102617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/agar-kita-cinta-al-quran.html' title='Agar kita Cinta Al-Qur’an'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-8680009988636261350</id><published>2010-11-15T06:13:00.000+07:00</published><updated>2010-11-15T06:13:22.210+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Panduan Iedul Qurban</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://ponpesgama.files.wordpress.com/2010/05/qurban11.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="208" src="http://ponpesgama.files.wordpress.com/2010/05/qurban11.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;‘Iedul Qurban adalah salah satu hari raya di antara dua hari raya kaum muslimin, dan merupakan rahmat Allah shubhaana wa ta'ala bagi ummat Muhammad shallallahu 'alahi wa sallam . Hal ini diterangkan dalam hadits Anas radhiyallahu 'anhu, beliau&amp;nbsp; berkata: Nabi shallallahu 'alahi wa sallam&amp;nbsp; datang, sedangkan penduduk Madinah di masa jahiliyyah memiliki dua hari raya yang mereka bersuka ria padanya (tahun baru dan hari pemuda /aunul mabud), maka (beliau) bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Aku datang kepada kalian, sedangkan kalian memiliki dua hari raya yang kalian bersuka ria padanya di masa jahiliyyah, kemudian Allah menggantikan untuk kalian du a hari raya yang lebih baik dari keduanya; hari ‘Iedul Qurban dan hari ‘Iedul Fitri.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dan Al-Baghawi, shahih, lihat Ahkamul Iedain hal. 8).&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, pada Hari Raya Qurban terdapat ibadah yang besar pahalanya di sisi Allah Shubhaanahu wa ta'ala&amp;nbsp; , yaitu shalat ‘Ied dan menyembelih hewan kurban.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ta’rif (pengertian) Udhiyah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Udhiyah atau Dhahiyyah adalah nama atau istilah yang diberikan kepada hewan sembelihan (unta, sapi atau kambing) pada hari ‘Iedul Adha dan pada hari-hari Tasyrik&amp;nbsp; (11, 12, 13 Dzulhijjah) dalam rangka ibadah dan bertaqarrub kepada Allah Shubhaanahu wa ta'ala .&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dalil-dalil Disyariatkannya berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;a. Dalil Al Qur’an&lt;br /&gt;Firman Allah Shubhaanahu wa ta'ala&amp;nbsp;&amp;nbsp; :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah” (QS. Al Kautsar : 2)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Berkata sebahagian ahli tafsir yang dimaksud dengan berqurban dalam ayat ini adalah menyembelih udhiyah (hewan kurban) yang dilakukan sesudah shalat ‘Ied (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4:505 dan Al Mughni 13:360)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Dalil As Sunnah&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu 'anhu ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Nabi shallallahu 'alahi wa sallam&amp;nbsp; berkurban dengan dua ekor domba jantan yang keduanya berwarna putih bercampur hitam dan bertanduk. Beliau shallallahu 'alahi wa sallam&amp;nbsp; menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri sambil membaca basmalah dan bertakbir” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;c. Dalil Ijma’&lt;br /&gt;Seluruh kaum muslimin telah bersepakat tentang disyariatkannya (Lihat Al Mughni 13:360)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fadhilah (Keutamaan)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Telah diriwayatkan oleh imam Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Aisyah radhiyallahu 'anha, Bahwa Nabi shallallahu 'alahi wa sallam&amp;nbsp; bersabda bahwa menyembelih ( udhiyah)&amp;nbsp; adalah amalan yang paling dicintai oleh Allah&amp;nbsp; shubhaana wa ta'ala  dari anak Adam (manusia) pada hari itu dan sangat cepat diterima oleh-Nya sampai diibaratkan, sebelum darah hewan sembelihan menyentuh tanah, namun riwayat ini lemah karena pada sanadnya ada Abu Al Mutsanna Sulaiman bin Yazid dan dia telah dilemahkan olah ulama-ulama hadits) (Lihat Takhrij Misyatul Al Mashobin 1:462)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun demikian ulama telah bersepakat bahwa berkurban adalah ibadah yang paling utama (afdhal) dikerjakan pada hari itu dan dia lebih utama dari pada sekedar berinfaq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata : “Nabi shallallahu 'alahi wa sallam&amp;nbsp; telah melakukan udhiyah,demikian pula para khalifah sesudah beliau. Seandainya bersede-kah biasa lebih afdhal tentu mereka telah melakukannya”. Dan beliau berkata lagi : “Mangutamakan sedekah atas udhiyah akan mengakibatkan ditinggalkannya sunnah Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam&amp;nbsp; ”. ( Al Mughni 13:362)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hukummya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hukum Udhiyah adalah Sunnah Muakkadah (sangat ditekankan) bahkan sebagian ulama mewajibkan bagi yang mampu, namun pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan sunnah muakkadah dan dimakruhkan meninggalkannya bagi orang yang sanggup mengerjakannya – Wallahu A’lam-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata :&lt;br /&gt;“Tidak ada khabar yang shahih yang menunjukkan bahwa salah seorang dari shahabat memandang hukumnya wajib”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum sunnah ini bisa menjadi wajib oleh satu dari dua sebab berikut:&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;-Jika seseorang bernadzar untuk berkurban.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;-Jika ia telah mengatakan ketika membeli (memiliki) hewan tersebut: “Ini adalah hewan udhiyah (kurban)” atau dengan perkataan yang semakna dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hikmah Qurban&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;-Taqarrub (pendekatan) kepada Allah shubhaana wa ta'ala&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;-Menghidupkan sunnah Ibrahim&amp;nbsp; dan semangat pengorbanannya&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;-Berbagi suka kepada keluarga, kerabat, sahaya dan fakir miskin&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;-Tanda kesyukuran kepada Allah shubhaana wa ta'ala atas karunia-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam&amp;nbsp; bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Hari-hari ini adalah hari makan dan minum serta berdzikir kepada Allah shubhaana wa ta'ala&amp;nbsp; ”&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (HR. Muslim)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Syarat Hewan yang dijadikan Udhiyah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Udhiyah tidak sah kecuali pada unta, sapi dan kambing :&lt;br /&gt;1. Unta minimal 5 tahun&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;2. Sapi minimal 2 tahun&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;3. Domba minimal 6 bulan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;4. Kambing biasa minimal 1 tahun&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidak mengapa menyembelih hewan yang telah dikebiri, sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Abu Rafi radhiyallahu 'anhu&amp;nbsp; bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam&amp;nbsp; menyembelih dua ekor domba yang berwarna putih bercampur hitam yang sudah dikebiri (HR. Ahmad).Apalagi hewan yang telah dikebiri lebih baik dan lebih lezat.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hewan Yang Tidak Sah Dijadikan Udhiyah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Merupakan syarat dari udhiyah adalah bebas dari aib/ cacat. Karenanya tidak boleh menyembelih hewan yang memiliki cacat, diantaranya :&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;1.Yang sakit dan tampak sakitnya&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;2.Yang buta sebelah dan tampak pecaknya&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;3.Yang pincang dan tampak kepincangannya&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;4.Yang sangat kurus sehingga tidak bersumsum lagi&lt;br /&gt;5.Yang hilang sebahagian besar tanduk atau telinganya&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;6.Dan yang termasuk tidak pantas untuk dijadikan udhiyah adalah yang pecah&amp;nbsp; atau tanggal gigi depannya, yang pecah selaput tanduknya, yang buta, yang mengitari padang rumput namun tidak merumput dan yang banyak kudisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Waktu Penyembelihan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penyembelihan dimulai seusai shalat ‘Iedul Adha hingga akhir&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; hari-hari tasyrik yaitu sebelum terbenam matahari pada tanggal 13 Dzulhijjah. Dan sebagian ulama memandang waktu terakhir berkurban adalah terbenamnya matahari pada tanggal 12 Dzulhijjah -Wallahu A’lam-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Al Baro’ bin Azib radhiyallahu 'anhu , Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam bersabda yang artinya : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya yang pertama kali dilakukan pada hari (‘Iedul Adha) ini adalah shalat, kemudian kita pulang lalu menyembelih (udhiyah). Barangsiapa yang melakukan seperti ini maka telah sesuai dengan sunnah kami dan barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat maka sembelihan itu hanyalah daging untuk keluarganya dan tidak termasuk nusuk (ibadah)” (HR. Bukhari dan Muslim) &lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Do’a yang dibaca Saat Menyembelih&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt; “ Bismillahi Allahu Akbar” (Dengan nama Allah, Allah Yang Maha Besar)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt; Dan boleh ditambah :&lt;br /&gt;&lt;em&gt; “Allahumma Hadza Minka Walaka Allahumma Hadza An.......”&lt;br /&gt;Ya Allah, sembelihan ini dari-Mu dan bagi-Mu. Ya Allah sembelihan ini atas nama ……(menyebutkan nama yang berkurban)” (HSR. Abu Daud)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; Urutan Udhiyah yang afdhal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. Seekor unta dari satu orang&lt;br /&gt;2. Seekor sapi dari satu orang&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;3. Seekor domba dari satu orang&lt;br /&gt;4. Seekor kambing biasa dari satu orang&lt;br /&gt;5. Gabungan 7 orang untuk seekor unta&lt;br /&gt;6. Gabungan 7 orang untuk seekor sapi&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; Beberapa Hal Yang Berkenaan Dengan Udhiyah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt; - Jika seseorang menyembelih udhiyah maka amalan itu telah mencakup pula seluruh anggota keluarganya (R. Tirmidzi dan Malik dengan sanad yang hasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Boleh bergabung tujuh orang pada satu udhiyah yang berupa unta atau sapi (HR. Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Disunnahkan untuk membagi udhiyah menjadi tiga bagian : Sepertiga buat yang berkurban, sepertiga dihadiahkan dan sepertiga disedekahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Dibolehkan memindahkan hewan kurban ketempat atau negeri lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tidak boleh menjual kulit dan daging sembelihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tidak boleh memberikan kepada penjagal (tukang sembelih) upah dengan daging tersebut dan hendaknya upah dari selainnya (R. Muslim dari Ali radhiyallahu 'anhu )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Disunnahkan juga bagi yang mampu untuk menyembelih sendiri hewan kurbannya .&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Barang siapa yang bermaksud untuk berkurban maka dilarang baginya memotong kuku dan rambutnya atau bulu yang melekat dibadannya sejak masuk tanggal 1 Dzulhijjah&amp;nbsp; (HR. Muslim). Namun jika ia memotongnya, maka tidak ada kaffarah (tebusan) baginya namun hendaknya ia beristigfar kepada Allah shubhaana wa ta'ala, dan hal ini tidak menghalanginya untuk berkurban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Hendaknya menyembelih dengan pisau, parang (atau sejenisnya) yang tajam agar tidak menyiksa hewan sembelihan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Seorang wanita boleh menyembelih hewan kurban&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Barang siapa yang tidak sanggup untuk berkurban maka ia mendapat pahala –Insya Allah- karena Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam telah berkurban atas namanya dan atas nama kaum muslimin yang tidak mampu untuk berkurban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’:&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;1. Fiqh As Sunnah, Asy Syekh Sayyid Sabiq&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;2. Al mughni, Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisy&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;3. Ahkamul ‘Iedain, Asy Syekh Ali Hasan Ali Abdul Hamid Al Atsary &amp;nbsp;(wahdah.or.id)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-8680009988636261350?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/8680009988636261350/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/panduan-iedul-qurban.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/8680009988636261350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/8680009988636261350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/panduan-iedul-qurban.html' title='Panduan Iedul Qurban'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-2655941729581109704</id><published>2010-11-11T08:02:00.004+07:00</published><updated>2010-12-04T05:42:13.148+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MuSLiMaH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Fatwa-Fatwa Seputar Pergaulan Pria Dan Wanita</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_hnp8znrz8xs/Rl2NwfcbhFI/AAAAAAAAAAU/o3mFe5GMvuA/s320/cartoon3.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_hnp8znrz8xs/Rl2NwfcbhFI/AAAAAAAAAAU/o3mFe5GMvuA/s320/cartoon3.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="konten"&gt;&lt;/div&gt;Di  bawah ini terdapat sejumlah fatwa ulama besar yang berkedudukan di  Saudi Arabia tentang berbagai masalah penting yang sangat dibutuhkan  oleh setiap muslim dan muslimah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Alasan Diharamkannya Berjabat Tangan dengan Wanita Bukan Mahram&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tanya:&lt;/b&gt; Mengapa Islam mengharamkan laki-laki berjabatan tangan  dengan wanita bukan mahram? Batalkah wudhu seorang laki-laki yang  berjabat tangan dengan wanita tanpa syahwat? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jawab:&lt;/b&gt; Islam mengharamkan hal itu karena termasuk salah satu  fitnah yang paling besar. Jangan sampai seorang laki-laki menyentuh  kulit wanita yang bukan mahram atau seluruh perkara yang memancing  timbulnya fitnah. Karena itu, Allah &lt;i&gt;Subhanahu Wata'ala&lt;/i&gt;   memerintahkan menundukkan pandangan untuk mencegah mafsadat (kerusakan)  ini. Ada pun orang yang menyentuh istrinya, maka wudhunya tidak batal,  sekali pun hal itu dilakukan karena syahwat. Kecuali jika sampai  mengeluarkan madzi atau mani. Jika ia sampai mengeluarkan mani, maka  harus mandi dan jika yang dikeluarkan adalah madzi, maka ia harus  berwudhu dan mencuci dzakarnya. (Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Hukum Seorang Laki-laki Berjabat Tangan dengan Saudara Ipar Perempuan&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tanya :&lt;/b&gt; Bolehkah seorang laki-laki berjabat tangan dengan  saudara ipar perempuan, jika itu dilakukan tanpa khalwat, di hadapan  sanak saudara dan orang tua, yang sering kali terjadi dalam  kesempatan-kesempatan seperti hari raya dan sebagainya ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jawab :&lt;/b&gt; Tidak boleh seorang laki-laki berjabat tangan dengan  istri saudaranya atau istri pamannya, sebagaimana larangan berjabat  tangan dengan wanita-wanita ajnabiyyah (asing bukan mahram) yang lain.  Sebab, seorang laki-laki bukanlah mahram bagi istri saudaranya, dan  begitu juga paman dari pihak ayah bukan mahram bagi istri keponakannya  dan paman dari pihak ibu juga bukan mahram bagi isteri keponakannya. Dan  begitu juga anak-anak paman bukan mahram bagi istri-istri sepupunya.  Hal itu berdasarkan sabda Nabi &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt;, “Sesungguhnya, aku tidak berjabat tangan dengan wanita.” Aisyah &lt;i&gt;radhiyallahu 'anha&lt;/i&gt;  berkata, “Demi Allah, tangan Rasulullah&lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt;  tidak pernah menyentuh tangan wanita. Beliau tidak membai’at kaum wanita, kecuali dengan ucapan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, karena berjabat tangan dengan wanita yang bukan  mahram bisa menjadi penyebab timbulnya fitnah, misalnya memandang atau  yang lebih berbahaya dari itu. Adapun dengan orang-orang yang memiliki  hubungan mahram, maka tidak mengapa berjabat tangan. Wallahu waliyyut  taufiq. (Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Hukum Berjabat Tangan dengan Wanita Ajnabiyyah Jika Memakai Penutup&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tanya :&lt;/b&gt; Bolehkah saya berjabat tangan dengan wanita ajnabiyah  jika ia mengenakan kain penutup di tangannya ? Apakah hukum wanita yang  telah berusia lanjut sama dengan hukum wanita yang masih muda ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jawab :&lt;/b&gt; Seorang pria tidak boleh berjabat tangan dengan  wanita ajnabiyah yang tidak memiliki hubungan mahram, baik jabat tangan  itu dilaksanakan secara langsung maupun dengan menggunakan penutup  tangan, karena hal itu merupakan salah satu bentuk fitnah. Sedangkan  Allah &lt;i&gt;Subhanahu Wata'ala&lt;/i&gt;  telah berfirman, artinya, &lt;i&gt;“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.”&lt;/i&gt; (al-Isra’ : 32). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini menunjukkan bahwa kita berkewajiban untuk meninggalkan  segala sesuatu yang menghantarkan kepada perzinaan, baik berupa zina  kemaluan yang merupakan zina yang paling besar atau lainnya. Tidak  diragukan bahwa persentuhan antara tangan seorang pria dengan tangan  seorang wanita ajnabiyyah bisa membangkitkan syahwat, apalagi terdapat  hadits-hadits yang melarang keras tindakan tersebut dan yang menyatakan  ancaman keras terhadap siapa saja yang berjabat tangan dengan wanita  yang bukan mahramnya. Dalam hal itu, tidak ada perbedaan antara wanita  yang masih muda maupun yang sudah tua. Kita harus berhati-hati karena  setiap barang bergeletakan pasti ada pemungutnya. Di samping itu,  persepsi orang sering berbeda mengenai batasan wanita yang masih muda  dan yang sudah tua. Bisa jadi seseorang menganggap wanita anu sudah tua,  tetapi yang lain menganggap ia masih muda. (Syaikh Muhammad  al-Utsaimin) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4.Berduaan dengan Wanita Ajnabiyyah adalah Haram&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tanya :&lt;/b&gt; Sebagian orang ada yang menganggap remeh masalah  perbincangan antara seorang laki-laki dengan wanita ajnabiyyah.  Misalnya, jika seseorang datang ke rumah sahabatnya, tetapi ternyata  sahabatnya itu tidak ada, maka istrinya akan menemuinya dan  berbincang-bincang dengannya. Ia membuka majelis serta menghidangkan  kopi atau teh kepadanya. Apakah tindakan ini dibolehkan, mengingat bahwa  ketika itu tidak ada seorang pun yang berada di rumah selain istri  orang tersebut ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jawab :&lt;/b&gt; Seorang wanita tidak dibolehkan mengizinkan pria  bukan mahram memasuki rumah suaminya, ketika suaminya bepergian,  meskipun orang tersebut adalah kawan akrab suaminya dan sekalipun ia  seorang yang dapat dipercaya, sebab tindakan ini merupakan khalwat  (menyendiri) antara seorang pria dengan seorang wanita ajnabiyyah.  Padahal disebutkan di dalam hadits, &lt;i&gt;“Sungguh tidaklah seorang laki-laki menyendiri dengan seorang wanita, kecuali syetan akan menjadi pihak yang ke tiga.”&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, seseorang diharamkan meminta kepada istri sahabatnya  agar mengizinkannya masuk rumahnya dan memperlakukannya sebagai tamu,  meski ia yakin akan mampu menjaga sifat amanat dan ketaatan kepada  agama, di dalam dirinya; Karena dikhawatirkan setan akan menggodanya dan  mempengaruhi kedua-keduanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang suami juga berkewajiban untuk mengingatkan istrinya agar tidak  memasukkan laki-laki ajnabi ke rumah, sekalipun ia kerabat si suami  sendiri. Karena Nabi &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt;   bersabda, &lt;i&gt;“Janganlah  kamu sekalian masuk ke rumah kaum wanita!” Para sahabat bertanya, “Ya  Rasulullah, bagaimana dengan al-hamwu´(ipar)? Beliau menjawab, “Al-hamwu  itu maut.”&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-hamwu adalah saudara atau kerabat suami. Jika al-hamwu dilarang  masuk ke rumah wanita, maka apalagi selainnya. (Syaikh Abdur Rahman  al-Jibrin) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5.Hukum Hubungan Sebelum Pernikahan (Pacaran)&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tanya :&lt;/b&gt;Bagaimana hukum tentang hubungan sebelum pernikahan ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jawab :&lt;/b&gt; Jika yang dimaksud penanya dengan “sebelum  pernikahan” adalah sebelum resepsi pernikahan, tetapi setelah akad nikah  (ijab), maka ini tidaklah berdosa. Sebab, dengan berlangsungnya akad  nikah, maka seorang wanita telah sah menjadi istri, sekalipun belum  diadakan resepsi pernikahan. Adapun jika hubungan tersebut dilakukan  sebelum akad nikah, yaitu selama masa pinangan atau sebelumnya, maka  diharamkan. Seorang pria tidak boleh bersenang-senang dengan bukan  mahram, baik dengan berbincang-bincang, memandang atau berduaan. Nabi &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt;  bersabda, &lt;i&gt;“Jangan  sekali-kali seorang pria berdua dengan seorang wanita kecuali jika  wanita itu bersama mahramnya dan janganlah seorang wanita bepergian  jauh, kecuali bersama mahramnya.”&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jika hubungan ini dilakukan setelah akad, maka tidak berdosa,  tapi jika dilakukan sebelum akad, walaupun setelah diterimanya pinangan,  maka tidak dibolehkan. Pria tadi diharamkan untuk menjalin hubungan  dengan wanita calon istrinya, karena ia tetap berstatus sebagai wanita  ajnabiyyah sampai akad nikah keduanya dilangsungkan.(Syaikh Muhammad  al-Utsaimin) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. Hukum Wanita Bekerja di Tempat yang Bercampur antara Pria dan Wanita&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tanya :&lt;/b&gt; Bolehkah seorang wanita bekerja di suatu tempat yang  di dalamnya berbaur antara wanita dengan pria semata-mata karena dia  tahu bahwa di tempat itu terdapat pekerja-pekerja wanita lain selain  dirinya ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jawab :&lt;/b&gt; Saya berpendapat bahwa tidak boleh kaum pria  bercampur baur dengan kaum wanita baik ketika bekerja sebagai pegawai  pemerintah maupun swasta, juga di sekolah-sekolah negri maupun swasta.  Sesungguhnya, bercampur-baurnya kaum pria dengan kaum wanita itu bisa  menimbulkan berbagai mafsadat, paling tidak akan hilang perasaan malu  dari kaum wanita dan akan hilang kewibawaan dari kaum pria. Sebab, jika  pria dan wanita telah berbaur dalam suatu tempat, tidak ada lagi wibawa  laki-laki di hadapan wanita dan tidak ada lagi rasa malu wanita kepada  pria. Dan ini (berbaurnya kaum pria dan wanita) bertentangan dengan  Syariah Islam dan kebiasaan kaum Salafush shalih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah anda mengetahui, bahwa Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt;  menetapkan tempat khusus bagi kaum wanita jika mereka keluar ke  mushalla tempat dilaksanakannya shalat Ied. Mereka tidak bercampur baur  dengan kaum pria. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih, bahwa  seusai berkhutbah di hadapan kaum pria, beliau turun dari mimbar dan  pergi ke tempat berkumpulnya kaum wanita. Beliau menyampaikan ta’lim dan  taushiyah kepada mereka. Ini menunjukkan, bahwa mereka tidak mendengar  khutbah Nabi&lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt;, atau andaikata mendengar, mereka belum memahami apa yang mereka dengar dari Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt;  &lt;br /&gt;. &lt;br /&gt;Selain itu, bukankah anda mengetahui bahwa Nabi&lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; bersabda, &lt;i&gt;“Sebaik-baik  shaf wanita adalah yang paling akhir dan seburuk-buruknya adalah yang  paling depan, sedangkan sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang paling  depan dan seburuk-buruknya yang paling belakang.”&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu tidak lain karena shaf wanita yang paling depan itu berdekatan  dengan shaf laki-laki, maka merupakan seburuk-buruk shaf dan shaf wanita  yang paling akhir itu jauh dari shaf laki-laki, maka merupakan  sebaik-baik shaf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada ketentuan semacam ini di dalam ibadah yang dilaksanakan  secara bersama-sama, maka bagaimana pula pendapat anda jika hal ini  terjadi di luar ibadah? Merupakan hal yang dimaklumi bahwa ketika  beribadah manusia berada dalam keadaan yang paling jauh dari keterkaitan  dengan nafsu seksual. Bagaimana jika campur-baur itu terjadi di luar  ibadah? Sesungguhnya syetan itu mengalir di dalam tubuh anak Adam  sebagaimana aliran darah, maka tidak mustahil jika terjadi fitnah dan  keburukan besar disebabkan oleh pencampurbauran antara pria dan wanita  ini. Saya himbau kepada saudara-saudara kami agar mereka menghindari  ikhtilath (bercampur baur pria dan wanita yang bukan mahram). Hendaklah  mereka mengetahui, bahwa hal itu merupakan salah satu hal yang sangat  berbahaya bagi kaum pria. Sebagaimana sabda Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt;, “Aku tidak meninggalkan sesudahku, suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi pria dibanding dengan fitnah wanita.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, kita kaum muslim mempunyai ciri khas tersendiri yang  membedakan kita dari golongan selain kita. Kita harus memuji Allah &lt;i&gt;Subhanahu Wata'ala&lt;/i&gt;  yang telah mengaruniakan ciri khas tersebut kepada kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus mengetahui, bahwa kita mengikuti syari’ah Allah &lt;i&gt;Subhanahu Wata'ala&lt;/i&gt;  Yang Maha Bijaksana, yang Mengetahui apa yang baik bagi para hamba dan  bagi suatu negri. Kita juga harus mengetahui, bahwa barang siapa lari  dari jalan Allah dan dari syariah Allah, maka mereka itu berada dalam  kesesatan dan akhirnya mereka akan menjumpai kebinasaan. Kita memohon  kepada Allah agar melindungi negri kita dan negri-negri kaum muslimin  dari segala keburukan dan fitnah. (Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sumber : Buletin “Fatawa an-Nazhar wa al-Khalwah” Lembaga fatwa dan Riset Arab Saudi. (Zaenal Abidin Lc.)&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-2655941729581109704?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/2655941729581109704/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/fatwa-fatwa-seputar-pergaulan-pria-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/2655941729581109704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/2655941729581109704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/fatwa-fatwa-seputar-pergaulan-pria-dan.html' title='Fatwa-Fatwa Seputar Pergaulan Pria Dan Wanita'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_hnp8znrz8xs/Rl2NwfcbhFI/AAAAAAAAAAU/o3mFe5GMvuA/s72-c/cartoon3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-2218294794109856874</id><published>2010-11-11T07:19:00.000+07:00</published><updated>2010-11-11T07:19:13.780+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PendidikanAnak'/><title type='text'>Delapan Kunci “Menjaga” Anak</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.growingagreenfamily.com/wp-content/uploads/2010/04/148621_kids_hand_07.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://www.growingagreenfamily.com/wp-content/uploads/2010/04/148621_kids_hand_07.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Selain delapan “kunci”, hendaknya para orangtua tampil menjadi teladan bagi buah hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak merupakan amanah dari Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta’ala.&lt;/i&gt; Karena amanah, maka kelak Dia akan meminta pertanggungjawaban kepada kita atas amanah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika  anak-anak tumbuh menjadi shalih dan shalihah, tentu akan membawa  keuntungan dunia dan akhirat bagi orangtuanya. Sebaliknya, jika orangtua  lalai dalam mengajar dan mendidik, keberadaannya akan membawa bencana  dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan satu dua kali kita dikejutkan dengan  pemberitaan akibat ulah anak-anak kita. Seorang siswa yang sopan,  tiba-tiba bisa bunuh diri. Seorang mahasiswa yang ketika di rumah kalem,  tiba-tiba bisa menjadi perampok bahkan memperkosa atau membunuh teman  dekatnya. Yang tak kalah mengejutkan, berita terbaru dari Jawa Timur,  seorang gadis belia, sudah mampu menjadi bos mucikari dan agen  pelacuran. Sungguh mengagetkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada apa yang salah dengan kita, para orangtua? Bukankah kita semua ini, adalah para sarjana dan orang-orang terdidik?&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Akidah yang Benar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya,  agama kita (Islam) telah menetapkan banyak hal, termasuk masalah  pendidikan pada anak. Ini hal yang sangat penting. Jika anak-anak  memiliki akidah yang benar, maka itu lahan subur bagi tumbuhnya  kebaikan-kebaikan. Tidak ada kebaikan pada diri anak yang akidahnya  melenceng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/i&gt;bersabda,&lt;i&gt;  “Wahai anak, aku akan ajarkan padamu beberapa kalimat: Jagalah Allah  pasti engkau akan dapati Allah di hadapanmu. Jika engkau meminta, maka  mintalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa jika seluruh umat berkumpul  untuk menolongmu, mereka tidak bisa menolongmu dengan sesuatu kecuali  atas hal yang telah Allah takdirkan. Ketahuilah bahwa jika seluruh umat  berkumpul untuk mencelakaimu, mereka tidak bisa mencelakaimu dengan  sesuatu kecuali atas yang telah Allah takdirkan, pena-pena telah  diangkat dan catatan-catatan telah kering.”&lt;/i&gt; (Riwayat Ahmad dan Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Memohon Pahala&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda, &lt;i&gt;“Jika seseorang menafkahkan hartanya kepada keluarganya dengan mengharap pahala, maka baginya adalah pahala sedekah.”&lt;/i&gt; (Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Mas’ud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Diingatkan Shalat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat merupakan kewajiban paling utama seorang hamba terhadap Allah. Rasulullah menegaskan, &lt;i&gt;“Perintahkan  anakmu untuk shalat saat usia tujuh tahun dan pukullah mereka (jika  meninggalkan shalat) saat usia sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat  tidur mereka.”&lt;/i&gt; (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Hakim, Baihaqi, dan lain-lain)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menuntun Berakhlak Baik dan Memperbaiki Kesalahan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Abu Salamah&lt;i&gt; Radhiyallahu ‘anhu &lt;/i&gt;saat masih kecil dalam asuhan Rasulullah, tangannya ke sana ke mari di atas makanan. Dia bersabda,&lt;i&gt; “Wahai anak, bacalah ‘Bismillah’, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang dekat darimu.”&lt;/i&gt; (Riwayat Bukhari dan Muslim dari Umar bin Abu Salamah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Memisahkan Tempat Tidur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki  usia sepuluh tahun, pisahkanlah tempat tidurnya. Anak-anak pada usia  ini sudah terhitung dewasa dan mendekati masa baligh (puber), gairahnya  mulai muncul. Maka memisahkan tidur mereka akan mencegah petaka yang  tidak diinginkan. Rasulullah bersabda, &lt;i&gt;“…pisahkanlah tempat tidur mereka.” &lt;/i&gt;(Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Al-Hakim, Baihaqi, dan lain-lain)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Berlaku Adil&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak  bijak bila membeda-bedakan anak dalam berinteraksi dan menafkahi.  Perlakuan pilih kasih kerap membawa permusuhan di antara saudara. Hal  itu merupakan bentuk kezhaliman terhadap anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda,&lt;i&gt; ”Aku tidak akan bersaksi atas suatu kejahatan, takutlah kamu kepada Allah dan berbuat adillah kepada anak-anakmu.” &lt;/i&gt;(Riwayat Bukhari dan Muslim dari Nu’man bin Basyir)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Lemah Lembut, Bermain, dan Mencium&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah  tidak segan mengajak anak-anak untuk bermain, berlaku lemah lembut,  serta mendekati dan mencium mereka. Simaklah bagaimana cara Rasulullah  memanggil mereka, “Wahai anakku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tegas Saat Diperlukan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak  yang tidak pernah mendapat hukuman (saat diperlukan) akan mempunyai  tabiat yang kurang bagus. Hendaklah orangtua bisa menunjukkan kepada  anak-anak dan keluarganya bahwa dia adalah orang yang tegas dan keras  saat kondisi mengharuskan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah pernah bersabda, &lt;i&gt;“…pukullah mereka (jika meninggalkan shalat) saat usia sepuluh tahun.”&lt;/i&gt; (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga,&lt;i&gt; “Gantunglah cambuk di tempat yang bisa dilihat oleh anggota keluargamu, karena hal itu akan menjadi sebuah pelajaran.”&lt;/i&gt; (Riwayat Bukhari dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain  yang terurai di atas, hendaknya para orangtua tampil menjadi teladan  bagi buah hatinya, lalu mengajari ilmu yang membawa kemanfaatan dunia  dan akhirat, serta tidak mendoakan yang buruk kepada mereka (anak-anak).  [&lt;b&gt;Ali Athwa&lt;/b&gt;, &lt;i&gt;berbagai sumber&lt;/i&gt;/&lt;b&gt;hidayatullah.com&lt;/b&gt;]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-2218294794109856874?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/2218294794109856874/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/delapan-kunci-menjaga-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/2218294794109856874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/2218294794109856874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/delapan-kunci-menjaga-anak.html' title='Delapan Kunci “Menjaga” Anak'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-7876160628658681303</id><published>2010-11-10T18:21:00.001+07:00</published><updated>2010-11-10T18:21:44.551+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kegiatan'/><title type='text'>MABIT (Malam Bina Tahfidz)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs489.ash2/76255_1445561980083_1264147007_31009941_2477610_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs489.ash2/76255_1445561980083_1264147007_31009941_2477610_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Sulit Menghafal Al Qur'an? &lt;br /&gt;Ini Solusinya... Ikutan MABIT yuK!&lt;br /&gt;Datang aja rame-rame ke MALAM BINA TAHFIDZ NUR MADINAH (MABIT di Nur Madinah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#Waktu&lt;br /&gt;Bermalam setiap Sabtu-Ahad&lt;br /&gt;Jam 6 Sore sampai Jam 6 Pagi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#Program&lt;br /&gt;*Tambahan Hafalan 1/2 - 1 juz/ Triwulan&lt;br /&gt;*Kajian Ke-Islaman&lt;br /&gt;*Qiyamul Lail (Tahajjud Bersama)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#Syarat&lt;br /&gt;*Ikhwan/Akhwat/Keluarga Muslim&lt;br /&gt;*Lancar baca Al Qur'an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#Info &amp;amp; Pendaftaran&lt;br /&gt;Daftar aja langsung ke :&lt;br /&gt;Masjid Nur Madinah, Jalan Asri No.02 Rt.07/07 Padasuka, Cimenyan, Bandung&lt;br /&gt;Contact Person :&lt;br /&gt;Ust.Wawan Kurniawan (0813 5507 9420)&lt;br /&gt;Rahmat Tena (022 9289 9396)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-7876160628658681303?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/7876160628658681303/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/mabit-malam-bina-tahfidz.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/7876160628658681303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/7876160628658681303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/mabit-malam-bina-tahfidz.html' title='MABIT (Malam Bina Tahfidz)'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-1437473058847344709</id><published>2010-11-09T13:01:00.000+07:00</published><updated>2010-11-09T13:01:05.939+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://img101.imageshack.us/img101/6659/normalramadan205hh2.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://img101.imageshack.us/img101/6659/normalramadan205hh2.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Segala puji bagi Allah &lt;strong&gt;سبحانه وتعلى&lt;/strong&gt;, salam dan salawat kepada Rasulullah &lt;strong&gt;صلى الله عليه وسلم&lt;/strong&gt; serta shahabat-shahabat beliau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil tentang keutamaan 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;1. Firman Allah &lt;strong&gt;سبحانه وتعلى&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;وَالْفَجْر&amp;nbsp; وَلَيَالٍ عَشْر&amp;nbsp; الفجر&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Demi fajar dan malam yang sepuluh” (QS. Al Fajr :1-2)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebahagian besar ahli tafsir menafsirkan bahwa makna “Malam yang sepuluh”&amp;nbsp; adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Dan sumpah Allah &lt;strong&gt;سبحانه وتعلى&lt;/strong&gt; atas waktu tersebut menunjukkan keagungan dan keutamaannnya (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4:535 dan Zaadul Maad 1:56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Diriwayatkan dari shahabat Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah &lt;strong&gt;صلى الله عليه وسلم&lt;/strong&gt; bersabda : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Tidak ada hari-hari yang di dalamnya amalan yang paling dicintai oleh Allah kecuali hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah” Para shahabat bertanya “Wahai Rasulullah, apakah amal-amal shalih pada hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah dari pada jihad fii sabilillah ?” Nabi &lt;/em&gt;&lt;strong&gt;صلى الله عليه وسلم&lt;/strong&gt;&lt;em&gt; bersabda : ”Ya, kecuali seseorang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak kembali dari jihad tersebut dengan sesuatu apapun” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;3. Dan diriwayatkan dari Imam Ahmad&amp;nbsp; -rahimahullah- dari Ibnu Umar dari Rasulullah&amp;nbsp; &lt;strong&gt;صلى الله عليه وسلم&lt;/strong&gt; bersabda : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada hari-hari yang lebih agung dan amal shalih yang lebih dicintai oleh Allah padanya, melebihi sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, maka perbanyaklah pada hari itu tahlil&amp;nbsp; لا إله إلا الله, Takbir الله أكبر dan Tahmid&amp;nbsp; الحمد لله&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Qurath Radhiyallahu Anhu beliau berkata, Rasulullah &lt;strong&gt;صلى الله عليه وسلم&lt;/strong&gt; bersabda : ”Hari yang paling afdhal / utama (dalam setahun) adalah hari raya qurban (10 Dzuulhijjah)”&amp;nbsp; (HSR. Ibnu Hibban)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Jika seseorang bertanya :”Yang manakah yang lebih afdhal sepuluh terakhir di bulan Ramadhan ataukah sepuluh awal bulan Dzulhijjah ?” Imam Ibnul Qayyim –rahimahullah- berkata “Jika dilihat pada waktu malamnya,&amp;nbsp;&amp;nbsp; maka&amp;nbsp;&amp;nbsp; sepuluh&amp;nbsp;&amp;nbsp; terakhir bulan Ramadhan lebih utama dan jika dilihat waktu siangnya, maka sepuluh awal bulan Dzulhijjah lebih utama” (Lihat Zaadul Ma’ad 1:57)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;&lt;strong&gt; Amalan Yang Disyariatkan Pada Hari-hari Tersebut&lt;/strong&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;1. Melaksanakan ibadah haji dan umrah. Kedua ibadah inilah yang paling utama dilaksanakan pada hari-hari tersebut, sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits, Rasulullah &lt;strong&gt;صلى الله عليه وسلم&lt;/strong&gt; bersabda : ”Umrah yang satu ke umrah yang lainnya merupakan kaffarat (penghapus dosa-dosa) diantara keduanya, sedang haji mabrur, tidak ada balasan baginya kecuali Syurga” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Berpuasa pada hari-hari tersebut atau beberapa hari diantaranya (sesuai kesanggupan) terutama pada hari Arafah (9 Dzulhijjah). Tidak diragukan lagi bahwa ibadah puasa merupakan salah satu amalan yang paling afdhal dan salah satu amalan yang dilebihkan oleh Allah &lt;strong&gt;سبحانه وتعلى&lt;/strong&gt; dari amalan-amalan shalih lainnya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Rasululllah &lt;strong&gt;صلى الله عليه وسلم&lt;/strong&gt; bersabda : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidaklah seseorang berpuasa satu hari di jalan Allah melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya dari Neraka (karena puasanya) sejauh 70 tahun perjalanan” (HR. Bukhari dan Muslim) Khusus tentang puasa Arafah, diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah&amp;nbsp; &lt;strong&gt;صلى الله عليه وسلم&lt;/strong&gt; bersabda” Berpuasa di hari Arafah ( 9 Dzulhijjah ) menghapuskan dosa tahun lalu dan dosa tahun yang akan datang”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Memperbanyak takbir dan dzikir pada hari-hari tersebut. Sebagaimana firman Allah &lt;strong&gt;سبحانه وتعلى&lt;/strong&gt; :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;…&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt; “…Supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan..” (QS. Al Hajj: 28)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tafsiran dari “Hari-hari yang telah ditentukan” adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah . Oleh kerena itu para ulama kita menyunnahkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut. Dan penafsiran itu dikuatkan pula dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas secara marfu’ : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“…maka perbanyaklah tahlil, takbir dan tahmid pada hari-hari tersebut” (HSR. Ath Thabrany)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan diriwayatkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radiyallahu Anhu ketika keduanya keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah mereka berdua berakbir, maka orang-orang pun ikut berakbir sebagaimana takbir mereka berdua (R. Bukhari) Dan Ishaq bin Rahowaih –rahimahullah- meriwayatkan dari para ahli fiqh dari kalangan tabi’in bahwa mereka –rahimahumullah- mengucapkan pada hari-hari tersebut :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ َاللهُ أَكْبَرْ وَللهِ الْحَمْدُ&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Disunnahkan mengangkat suara saat bertakbir, baik ketika di pasar, rumah, jalan, masjid dan tempat-tempat lainnya, Allah &lt;strong&gt;سبحانه وتعلى&lt;/strong&gt; berfirman :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&amp;nbsp;…&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ...&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt; “…Dan hendaklah kalian mengagungkan Allah (dengan berakbir kepadaNya) atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu…” (QS. Al Baqarah :185).&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Namun perlu diperhatikan bahwa takbir tidak boleh dilakukan secara berjama’ah yaitu&amp;nbsp; berkumpul-kumpul lalu bertakbir secara serempak, karena hal tersebut tidak pernah dikerjakan oleh para ulama salaf, namun hendaknya setiap orang bertakbir, bertahmid dan bertasbih dengan apa saja yang mudah&amp;nbsp; baginya secara sendiri-sediri. Dan cara seperti ini berlaku pula pada seluruh jenis dzikir dan do’a. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bertaubat dan menjauhi kemaksiatan serta seluruh dosa agar mendapatkan maghfirah dan rahmat dari Allah &lt;strong&gt;سبحانه وتعلى&lt;/strong&gt;. Hal ini penting dilakukan karena kemaksiatan merupakan penyebab ditolaknya dan jauhnya seseorang dari rahmat Allah &lt;strong&gt;سبحانه وتعلى&lt;/strong&gt;, sebaliknya ketaatan merupakan sebab kedekatan dan kecintaan Allah &lt;strong&gt;سبحانه وتعلى &lt;/strong&gt;kepada seseorang. Rasulullah &lt;strong&gt;صلى الله عليه وسلم&lt;/strong&gt; bersabda : ”Sungguh Allah itu cemburu dan kecemburuan Allah apabila seseorang melakukan apa yang Allah haramkan atasnya” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Memperbanyak amalan-amalan shalih berupa ibadah-ibadah sunnat seperti shalat, jihad, membaca Al Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan yang semacamnya. Karena amalan tersebut akan dilipatgandakan pahalanya jika dilakukan pada hari-hari tersebut, hingga ibadah yang kecil pun jika dilakukan pada hari-hari tersebut akan&amp;nbsp; lebih&amp;nbsp; utama&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; lebih dicintai oleh Allah &lt;strong&gt;سبحانه وتعلى&lt;/strong&gt; dari pada ibadah yang besar yang dilakukan pada waktu yang lain. Contohnya, jihad, yang merupakan seutama-utama amal, namun akan dikalahkan oleh amal-amal shalih yang dilakukan pada sepuluh hari pertama bulah Dzulhijjah, kecuali orang yang mendapat syahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Disyariatkan pada hari-hari tersebut bertakbir di setiap waktu, baik itu siang maupun malam, terutama ketika selesai shalat berjama’ah di masjid. Takbir ini dimulai sejak Shubuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji, sedang bagi jama’ah haji maka dimulai sejak Zhuhur hari penyembelihan (10 Dzulhijjah) Adapun akhir dari waktu bertakbir adalah pada hari terakhir dari hari-hari Tasyrik (13 Dzulhijjah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Memotong hewan qurban (Udhiyah) bagi yang mampu pada hari raya qurban (10 Dzulhijjah) dan hari-hari Tasyrik (11-13 Dzulhijjah). Hal ini merupakan sunnah bapak kita Ibrahim Alaihissalam&amp;nbsp; ketika Allah &lt;strong&gt;سبحانه وتعلى&lt;/strong&gt; mengganti anak beliau dengan seekor sembelihan yang besar. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Nabi&amp;nbsp; &lt;strong&gt;صلى الله عليه وسلم&lt;/strong&gt; berqurban dengan dua komba jantan yang keduanya berwarna putih bercampur hitam dan bertanduk, Beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri sambil membaca basmalah dan bertakbir &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Bagi orang yang berniat untuk berqurban hendaknya tidak memotong rambut dan kukunya sampai&amp;nbsp; dia&amp;nbsp; berqurban,&amp;nbsp; diriwayatkan dari Umu Salamah, Rasulullah&amp;nbsp; bersabda: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt; “Jika kalian telah melihat awal bulan Dzulhijjah dan salah seorang diantara kalian berniat untuk menuyembelih hewan qurban maka hendaknya dia menahan rambut dan kukunya” Diriwayat lain disebutkan:”Maka janganlah dia (memotong) rambut dan kuku-kukunya sehingga dia berqurban”&lt;/em&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinan larangan tersebut untuk menyerupai orang yang menggiring (membawa) qurban sembelihan saat melakukan ibadah haji, sebagaimana firman Allah &lt;strong&gt;سبحانه وتعلى&lt;/strong&gt; : &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;...&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;وَلاَ تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ ...&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt; “…Dan janganlah kamu mencukur kepalamu sebaelum qurban sampai di termpat penyembelihannya…” (QS. Al Baqarah :196). &lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian tidak mengapa bagi orang yang akan berqurban untuk mencuci atau menggosok rambutnya meskipun terjatuh sehelai atau beberapa helai dari rambutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Melaksanakan shalat ‘Ied berjama’ah sekaligus mendengarkan khutbah dan mengabil manfaat darinya, yaitu sebagai hari kesyukuran dan untuk mengamalkan kebaikan. Karenanya janganlah seseorang menjadikan hari ‘Ied untuk berbuat kejahatan dan kesombongan. Serta jangan pula menjadikannya sebagai kesempatan untuk bermaksiat kepada Allah &lt;strong&gt;سبحانه وتعلى&lt;/strong&gt; dengan mendengarkan nyanyian-nyanyian, alat-alat yang melalaikan(seperti alat-alat musik) minuman keras dan yang semacamnya. Karena perbuatan-perbuatan seperti itu&amp;nbsp; bisa menjadi penyebab terhapusnya amal-amal shalih yang telah dikerjakan pada sepuluh hari pertama bulan tersebut .&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Dari seluruh yang telah dipaparkan dan dijelaskan di atas maka sudah sepantasnya bagi setiap muslim dan muslimat untuk memanfaatkan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini dengan penuh ketaatan kepada Allah &lt;strong&gt;سبحانه وتعلى&lt;/strong&gt; memperbanyak dzikir dan syukur kepadaNya, melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menjauhi seluruh larangan serta memanfaatkan musim-musim ini untuk menyambut segala pemberian Allah &lt;strong&gt;سبحانه وتعلى&lt;/strong&gt; yang dengannya kita meraih keridhaan-Nya. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Semoga Allah &lt;strong&gt;سبحانه وتعلى&lt;/strong&gt; senantiasa menujuki kita kepada jalan yang lurus dan memberikan taufiq agar kita termasuk orang-orang yang memanfaatkan kesempatan emas seperi ini dengan baik, Amin yaa Rabbal ‘Alamin &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Muh. Yusran Anshar, Lc-&lt;br /&gt;Maraji’ : Risalah Fadhlu Ayyam Al’Asyr Min Dzilhijjah, Asy Syekh Abdulllah&amp;nbsp; bin Abdirrahman Al Jibrin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-1437473058847344709?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/1437473058847344709/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/keutamaan-10-hari-pertama-bulan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/1437473058847344709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/1437473058847344709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/keutamaan-10-hari-pertama-bulan.html' title='Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-9134924815025941510</id><published>2010-11-09T11:28:00.000+07:00</published><updated>2010-11-09T11:28:03.686+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ReNunGaN'/><title type='text'>Antara Dosa dan Bencana Alam [2]</title><content type='html'>Pelajaran dari Umat-umat Terdahulu&lt;br /&gt;Karena maksiatlah, Allah  menumpahkan air dari langit, memuntahkannya ke bumi, hingga mereka, umat  Nabi Nuh Alaihissalam nyang kafir dan durhaka itu ditenggelamkan dan  binasa (lihat QS. Al A’râf: 63-64).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena maksiatlah, Allah menghancurkan kaum Nabi Hud Alaihissalam. Ditumpas habis tanpa sisa (lihat QS. Asy-Syu'arâ': 139).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bukan karena maksiat, kaum Tsamud tidak akan menelan mentah-mentah adzab yang sangat pedih (ihat QS. Al A'râf: 77-78).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena  maksiat pulalah, kaum Nabi Luth Alaihissalam beserta tujuh kotanya  hancur berkeping-keping. Kota mereka diangkat setinggi-tingginya ke atas  langit dengan cepat, lantas dibenturkan ke bumi dalam keadaan yang di  atas ke bawah (dibalik) lalu dihujani bebatuan dari sijjîl (lihat QS.  Hud: 82-83).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri Fir'aun dilanda topan kencang, hama  belalang, tersebarnya kutu, merajalelanya kodok dan menyebarnya darah;  pun karena maksiat. Lalu karena mereka tidak mengubah sikapnya, Allah  Subhaanahu Wata’ala menenggelamkan mereka di lautan (lihat QS. Al A'râf:  133-136).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Yahudi bertubi-tubi mendapatkan laknat dan  adzab. Mereka menyakiti, bahkan membunuh beberapa nabi mereka, maka  pantas sekali kalau Allah mengubah mereka menjadi binatang yang paling  keji di dunia, mereka diubah menjadi kera dan babi, karena tabiat mereka  memang seperti kera dan babi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum-kaum terdahulu Allah  hancurkan dan luluhlantakkan disebabkan oleh satu dua jenis kemungkaran  yang dikepalai oleh dosa kesyirikan. Sekarang, bagaimana dengan kita?  Apa yang kita saksikan dan alami sekarang ini di tempat kita, di  lingkungan kita, di kota kita, dan bahkan di seantero negeri kita?  Kesyirikan yang merupakan biang malapetaka dunia dan akhirat kini seolah  telah menjadi kebutuhan. Berapa banyak kita dapati media massa yang  menjajakan kesyirikan, ulama-ulama sesat menyeru umat kepada perbuatan  syirik dengan dibungkus sedemikian rupa untuk menyesatkan umat. Demikian  pula dengan  bid'ah dan maksiat, terjadi di mana-mana.&lt;br /&gt;Bencana, Untuk Semua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muncul  pertanyaan, "Mengapa harus daerah ini, atau kota ini, atau negara ini  yang ditimpa musibah, padahal masih banyak daerah-daerah lain yang lebih  pantas untuk diadzab oleh Allah? Bukankah di sana ada orang-orang  shaleh dan anak-anak kecil yang tidak berdosa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya: Allah  Subhaanahu Wata’ala telah mengingatkan bahwa adzab-Nya tidak khusus  menimpa orang-orang zhalim di antara kita. Allah Subhaanahu Wata’ala  berfirman, artinya, "Dan peliharalah dirimu dari siksa yang tidak khusus  menimpa orang-orang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa  Allah amat keras siksa-Nya." (QS. Al Anfâl: 25).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu  Salamah—radhiyallahu 'anha—menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu  ‘Alaihi Wasallam bersabda, "Jika timbul maksiat pada umatku, maka Allah  akan menyebarkan adzab kepada mereka. Aku berkata, "Wahai Rasulullah!  Apakah tidak ada waktu itu orang-orang shaleh?" Beliau menjawab, "Ada."  Aku bertanya lagi, "Apa yang Allah akan perbuat kepada mereka?" Beliau  menjawab, "Allah akan menimpakan kepada mereka adzab sebagaimana  ditimpakan kepada orang-orang yang melakukan maksiat, kemudian mereka  akan mendapatkan ampunan dan keridhaan dari Rabb-nya." (HR. Ahmad, Al  Haitsami mengatakan bahwa semua perawi hadits ini terpercaya).&lt;br /&gt;Ke Mana Mengadu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang  musyrik pada zaman dulu yang terkenal dengan pembangkangan mereka  kepada Allah, ketika ditimpa suatu musibah, maka mereka memurnikan  ketaatan mereka kepada Allah Subhaanahu Wata’ala. Meskipun ketika  musibah tersebut berlalu, mereka kembali ingkar dan kembali kepada  kesyirikan mereka. Sebagaimana digambarkan oleh Allah Subhaanahu  Wata’ala, artinya, "Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada  Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, maka tatkala Allah  menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali)  menyekutukan (Allah)." (QS. Al 'Ankabût: 65).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu kondisi  orang-orang jaihiliyah tempo dulu. Bandingkan dengan keadaan manusia  "modern" sekarang ini, ketika mereka merasa akan ditimpa suatu bencana,  maka bukannya mengikhlaskan ketaatan kepada Allah Subhaanahu Wata’ala,  justru mereka semakin tenggelam dalam kesyirikan dengan meminta bantuan  kepada para pawang, dukun-dukun, makhluk-makhluk halus,  penunggu-penunggu tempat keramat dan benda-benda lain yang disakralkan.  Sejatinya bertobat dan meminta perlindungan kepada Allah Subhaanahu  Wata’ala, malah meminta kepada makhluk yang untuk menolong diri mereka  sendiri pun, mereka tidak mampu.&lt;br /&gt;Wallâhul Musta'ân wa ilaihil musytaka ( Al Fikrah No.20 Tahun XI/20 Dzulqa'dah 1431 H)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-9134924815025941510?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/9134924815025941510/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/antara-dosa-dan-bencana-alam-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/9134924815025941510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/9134924815025941510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/antara-dosa-dan-bencana-alam-2.html' title='Antara Dosa dan Bencana Alam [2]'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-2203295252685939382</id><published>2010-11-08T10:29:00.002+07:00</published><updated>2010-11-09T11:23:42.877+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ReNunGaN'/><title type='text'>Antara Dosa dan Bencana Alam [1]</title><content type='html'>Seolah tak ada habisnya, berbagai bencana terus melanda negeri ini,  banjir,tanah longsor, gempa bumi dan tsunami, atau pun letusan gunung  berapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggapan manusia pun bermacam-macam. Para  pakar geologi mengatakan hal ini adalah fenomena alam. Paranormal  mengambinghitamkan makhluk-makhluk halus penunggu tempat-tempat yang  dilanda bencana. Dan sangat sedikit yang mengaitkannya dengan dosa-dosa  manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena Alam atau Teguran?&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu Wata’ala  berfirman, artinya, "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut  disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada  mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke  jalan yang benar)." (QS. Ar-Rûm: 41).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan Allah telah membuat  suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dulunya aman lagi  tenteram, rezekinya datang melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi  (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah  merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa  yang selalu mereka perbuat." (QS. An-Nahl: 112).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah bersabda, "Wahai, Kaum Muhajirin!  Sesungguhnya ada lima perkara  yang aku berlindung kepada Allah agar  kalian tidak menemuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Tidaklah muncul perbuatan keji  (zina) pada suatu kaum hingga mereka melakukannya secara  terang-terangan, kecuali Allah akan menimpakan kepada mereka wabah dan  pelbagai penyakit (thâ'ûn) yang belum pernah menimpa kepada orang-orang  sebelum mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Tidaklah suatu kaum mengurangi takaran dan  timbangannya, kecuali niscaya mereka akan ditimpa dengan tandusnya  tanah, paceklik sepanjang tahun, serta berkuasanya penguasa-penguasa  yang zhalim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Dan tidaklah suatu kaum enggan mengeluarkan  zakat hartanya, kecuali Allah akan menimpakan kepada mereka bencana  dengan tidak diturunkannya hujan dari atas langit kepada mereka. Dan  kalaulah bukan karena binatang ternak, niscaya Allah akan menahan  turunnya hujan selama-lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Dan tidaklah suatu kaum  mengingkari janji antara mereka dengan Allah dan Rasul-Nya, melainkan  Allah akan mendatangkan musuh-musuh yang bukan dari golongan mereka,  lalu merampas sebagian harta yang ada di tangan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) Dan  selama pemimpin-pemimpin mereka tidak berhukum dengan Kitabullah dan  tidak memilih yang terbaik dari apa yang Allah turunkan kecuali Allah  turunkan kepada mereka kesengsaraan (perpecahan) di antara mereka." (HR.  Ibnu Majah, no. 4019, dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan  orang memandang pelbagai macam musibah yang menimpa manusia hanya  dengan logika berpikir yang bersifat rasional, terlepas dari tuntutan  Wahyu Ilahi. Sehingga solusi yang diberikan tidak mengarah pada  penghilangan sebab-sebab utama, yaitu kemaksiatan umat manusia kepada  Allah Subhaanahu Wata’ala Sang Pencipta Jagat Raya, yang di  tangan-Nyalah seluruh kebaikan, dan kepada-Nyalah dikembalikan segala  urusan.&lt;br /&gt;Antara Ketaatan dan Berkah Alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila penduduk  suatu negeri taat kepada Allah Subhaanahu Wata’ala, maka keberkahan akan  melimpah kepada mereka. Misalnya pada jaman Rasulullah Shallallahu  ‘alaihi Wasallam, alam begitu bersahabat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi  Wasallam dan para sahabat, sehingga gunung-gunung sangat mencintai  mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda ketika melihat  bukit Uhud seraya menunjuk padanya, "Bukit ini mencintai kami dan kami  pun mencintainya. "  (HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan makanan  yang dinikmati oleh para sahabat ikut bertasbih sebagaimana yang  dikatakan oleh Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, "Kami pernah mendengarkan  tasbih dari makanan yang sedang dimakan."  (HR. Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  riwayat Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu juga disebutkan bahwa para sahabat  mendengarkan tasbih batu-batu kerikil di tangan Nabi Shallallahu ‘alaihi  Wasallam. Demikian pula dengan batang kayu yang pernah dijadikan mimbar  oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menangis ketika Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi Wasallam meninggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah  beberapa contoh respon yang diberikan oleh alam kepada orang-orang yang  taat kepada Allah Subhaanahu Wata’ala. Sangat berbeda dengan perlakuan  yang diberikan kepada orang-orang yang durhaka. Allah Subhaanahu  Wata’ala berfirman, artinya, "Maka langit dan bumi tidak menangisi  (kepergian) mereka dan mereka pun tidak diberi tangguh." (QS. Ad-Dukhân:  29).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, kata Ibnu Abbas—رضي الله عنهما, orang mukmin  kepergiannya ditangisi oleh langit dan bumi. Ditangisi oleh langit,  karena orang yang melakukan amal shaleh, maka amalannya akan naik ke  langit dan akan diterima oleh langit. Sebagaimana   bumi pun menangis  ketika ditinggalkan oleh orang-orang yang shaleh karena tidak dipijak  lagi untuk melakukan ketaatan. (lihat Tafsir Ibnu Katsir)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, kaum Muslimin memberikan  suasana bersahabat dengan alam, maka alam pun memberikan sikap yang  sama, memberikan rahmat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam  dan kepada para sahabatnya. Sebaliknya, jika penduduk suatu negeri tidak  taat kepada Allah, maka alam ini bisa menjadi tentara-tentara Allah  untuk membinasakan penduduknya. Sebagaimana pada zaman Fir'aun, kutu,  katak, bahkan hewan-hewan lemah pun bisa menjadi sebab untuk hancurnya  pengikut-pengikut Fir'aun.&lt;br /&gt;Jangan Merasa Aman!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah  Subhaanahu Wata’ala berfirman, Artinya, "Maka apakah penduduk  negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka  di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk  negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka  di waktu dhuha ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa  aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa  aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi." (QS. Al A'râf:  97-99).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah peringatan bagi mereka yang masih terus  bergelimang dengan kemaksiatan, yang tidak lagi memiliki rasa malu  bahkan bangga dengan dosa-dosanya, yang membusungkan dada menantang  datangnya adzab Allah, bahwasanya tak seorang pun di antara kita yang  patut merasa aman dari adzab Allah yang teramat pedih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-2203295252685939382?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/2203295252685939382/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/antara-dosa-dan-bencana-alam-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/2203295252685939382'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/2203295252685939382'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/antara-dosa-dan-bencana-alam-1.html' title='Antara Dosa dan Bencana Alam [1]'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-6434393137669052857</id><published>2010-11-01T10:31:00.000+07:00</published><updated>2010-11-09T10:40:00.442+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kegiatan'/><title type='text'>Wahdah Bandung Sukses Gelar Seminar Internasional</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.wahdah.or.id/wis/images/stories/cabang/bandung/Bandung%20Pelatihan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="185" src="http://www.wahdah.or.id/wis/images/stories/cabang/bandung/Bandung%20Pelatihan.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span&gt;Bandung, DPC Wahdah Islamiyah Bandung bekerja sama dengan SD IT Al-Amanah Lembang sukses menggelar Seminar Internasional Sabtu-Ahad, 30-31 Oktober 2010 di Villa Teratai Cikole-Lembang Kab.Bandung Barat. Acara yang bertema "Successfull Teacher" itu diikuti 106 peserta, masing-masing 59 ikhwan dan 47 akhwat, yang sebagian besar adalah guru, akademisi, dan praktisi pendidikan.&lt;/span&gt;  &lt;span&gt;Pemateri adalah Syaikh Dr. Khaleel As-Sahly, trainer dari Saudi Arabia, yang menekuni bidang pendidikan. Dalam pemaparannya, syaikh menjelaskan bagaimana menjadi guru yang sukses itu, diantaranya mampu mempersiapkan bahan pembelajaran, tujuan materi, penguasaan terhadap materi, serta metode dan teknik dalam penyampaian materi. Beliau cukup atraktif dalam menyampaikan materi, sehingga para peserta terlihat antusias, meskipun kegiatan cukup padat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Selain itu, pada hari pertama, digelar pula Studium General yang diisi Ust. Abu Yahya (Pembina Wahdah Bandung) serta talk show tentang "Sosok guru dalam berbagai perspektif" yang menghadirkan pembicara dari kalangan siswa, orang tua siswa, dan guru.(bdm)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;i&gt;&lt;a href="http://www.wahdah.or.id/wis/images/stories/cabang/bandung/DOKUMENTASI%20DAUROH.pdf"&gt;Lihat dokumentasi&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-6434393137669052857?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/6434393137669052857/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/wahdah-bandung-sukses-gelar-seminar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/6434393137669052857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/6434393137669052857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/11/wahdah-bandung-sukses-gelar-seminar.html' title='Wahdah Bandung Sukses Gelar Seminar Internasional'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-3299940868426854593</id><published>2010-09-20T11:00:00.000+07:00</published><updated>2010-09-20T11:00:22.905+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SUnNaH_RaSuL'/><title type='text'>Jangan Makan atau Minum Sambil Berdiri!</title><content type='html'>&lt;div style="background-color: #741b47; color: #ffd966; text-align: center;"&gt;Dari Anas dan Qatadah, Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya beliau  melarang seseorang minum sambil berdiri, Qotadah berkata:”Bagaimana  dengan makan?” beliau menjawab: “Itu kebih buruk lagi”. (HR.Muslim dan  Turmidzi)&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: #c27ba0; text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="color: #741b47;"&gt;Bersabda Nabi dari Abu Hurairah,”Jangan kalian minum  sambil berdiri ! Apabila kalian lupa, maka hendaknya ia muntahkan !”  (HR. Muslim)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: #c27ba0; color: #741b47; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://islamarket.files.wordpress.com/2009/07/jangan-makan-atau-minum-sambil-berdiri1.jpg?w=402&amp;amp;h=667" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://islamarket.files.wordpress.com/2009/07/jangan-makan-atau-minum-sambil-berdiri1.jpg?w=402&amp;amp;h=667" width="192" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;strong&gt;Rahasia Medis&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dr. Abdurrazzaq  Al-Kailani berkata: “Minum dan makan sambil duduk, lebih sehat,lebih  selamat, dan lebih sopan, karena apa yang diminum atau dimakan oleh  seseorang akan berjalan pada dinding usus dengan perlahan dan lembut.  Adapun minum sambil berdiri, maka ia akan menyebabkan jatuhnya cairan  dengan keras ke dasar usus, menabraknya dengan keras, jika hal ini  terjadi berulang-ulang dalam waktu lama maka akan menyebabkan melar dan  jatuhnya usus, yang kemudian menyebabkan pernah sekali minum sambil  disfungsi pencernaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Begitu pula makan sambil berjalan, sama  sekali tidak sehat, tidak sopan, tidak etis dan tidak pernah dikenal  dalam Islam dan kaum muslimin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dr. brahim Al-Rawi melihat bahwa  manusia pada saat berdiri, ia dalam keadaan tegang, organ keseimbangan  dalam pusat saraf sedang bekerja keras, supaya mampu mempertahankan  semua otot pada tubuhnya, sehingga bisa berdiri stabil dan dengan  sempurna. Ini merupkan kerja yang sangat teliti yang melibatkan semua  susunan syaraf dan otot secara bersamaan, yang menjadikan manusia tidak  bisa mencapai ketenangan yang merupakan syarat tepenting pada saat makan  dan minum.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketenangan ini bisa dihasilkan pada saat duduk, dimana  syaraf berada dalam keadaan tenang dan tidak tegang, sehingga sistem  pencernaan dalam keadaan siap untuk menerima makanan dan minum dengan  cara cepat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dr. Al-rawi menekankan bahwa makanan dan minuman yang  disantap pada saat berdiri, bisa berdampak pada refleksi saraf yang  dilakukan oleh reaksi saraf kelana (saraf otak kesepuluh) yang banyak  tersebar pada lapisan endotel yang mengelilingi usus.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Refleksi ini  apabila terjadi secara keras dan tiba-tiba, bisa menyebabkan tidak  berfungsinya saraf (Vagal Inhibition) yang parah, untuk menghantarkan  detak mematikan bagi jantung, sehingga menyebabkan pingsan atau mati  mendadak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Begitu pula makan dan minum berdiri secara terus menerus  terbilang membahayakan dinding usus dan memungkinkan terjadinya luka  pada lambung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Para dokter melihat bahwa luka pada lambung 95%  terjadi pada tempat-tempat yang biasa bebenturan dengan makanan atau  minuman yang masuk.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Air yang masuk dengan cara duduk akan disaring  oleh sfringer. Sfringer adalah suatu struktur maskuler (berotot) yang  bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup. Setiap air  yang kita minum akan disalurkan pada ‘pos-pos’ penyaringan yang berada  di ginjal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nah. Jika kita minum berdiri air yang kita minum tanpa disaring lagi. Langsung menuju kandung kemih.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika  langsung menuju kandung kemih, maka terjadi pengendapan disaluran  ureter. Karena banyak limbah-limbah yang menyisa di ureter. Inilah yang  bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal. Salah satu penyakit ginjal  yang berbahaya. Susah kencing itu penyebabnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagaimana kondisi  keseimbangan pada saat berdiri disertai pengerutan otot pada  tenggorokan yang menghalangi jalannya makanan ke usus secara mudah, dan  terkadang menyebabkan rasa sakit yang sangat yang mengganggu fungsi  pencernaan, dan seseorang bisa kehilangan rasa nyaman saat makan dan  minum.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sumber: Qiblati edisi 04 tahun II, Hal 16 &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-3299940868426854593?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/3299940868426854593/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/09/jangan-makan-atau-minum-sambil-berdiri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/3299940868426854593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/3299940868426854593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/09/jangan-makan-atau-minum-sambil-berdiri.html' title='Jangan Makan atau Minum Sambil Berdiri!'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-1934099867565413489</id><published>2010-09-20T09:15:00.000+07:00</published><updated>2010-09-20T09:15:48.043+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPS'/><title type='text'>Agar Imanmu Selalu Fit</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.hadud.cz.cc/muzfikri/allah1.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://www.hadud.cz.cc/muzfikri/allah1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;Iman adalah sumber kekuatan seorang Muslim. Kalau iman kuat maka seorang Muslim akan kuat. Sebaliknya jika iman lemah maka ia pun akan lemah. Karena itu merawat iman adalah agenda harian seorang Muslim. Seorang Muslim tidak melewatkan hari-harinya kecuali di sana ada aktifitas merawat iman. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pembaca budiman berikut ini beberapa kiat bagaimana agar iman kita selalu fit&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Pertama, Selalu Menyimak al-Qur’an&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an adalah penerang kegelapan bahkan obat bagi semua penyakit. Dengan menyimak bacaannya iman akan kuat dan selalu dalam keadaan fit. Dan inilah yang dilakukan oleh Rasulullah. Beliau menyimak al-Qur’an dan membacanya berulang kali, tatkala beliau sedang shalat malam. Sehingga pada suatu malam ketika shalat, beliau pernah mengulang-ulang satu ayat saja, dan tidak beralih dari ayat tersebut sampai masuk waktu fajar. Yaitu firman Allah:“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sungguh mereka adalah hamba-hambaMu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sungguh Engkau Maha Perkasa lagi maha Bijaksana”.&amp;nbsp; (al-Maidah: 188)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Para shahabat beliau juga seperti itu. Mereka membaca, menyimak dan merenungkan bacaan al-Qur’an sampai mereka menangis tersedu-sedu. Al-Imam Ibnu Katsir menyebutkan sebuah riwayat dalam kitab tafsirnya, bahwa Abu Bakar as-Shiddiq adalah orang yang lembut, belas kasih dan hatinya mudah tersentuh jika mengimami jamaah shalat. Bisa dipastikan khalifah Rasulullah ini menangis bila ia berdiri menjadi imam. Begitu pula Umar bin Khatthab. Bahkan shahabat yang bergelar al-Faruq ini pernah sakit beberapa waktu lamanya karena firman Allah, “Sesungguhnya adzab Rabbmu pasti terjadi, tak seorang pun yang dapat menolaknya” .&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Merenungkan Keagungan Allah ‘Azza waJalla&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Banyak ayat dalam al-Qur’an begitu juga hadits-hadit Rasululah tentang keagungan Allah. Jika seorang muslim memperhatikan nas-nas tersebut, maka tentu hatinya akan bergetar dan jiwanya akan tunduk dan khusyu’ pada Dzat yang Maha Agung. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketika Nabi Musa meminta pada Allah agar ia bisa melihatNya. Ia berkata kepada Musa melalui firmanNya:“Kamu sekali-kali tidak akan bisa melihatku, tapi lihatlah gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya maka kamu dapat melihatku. Tatkala Allah menampakkan dirinya pada gunung tersebut maka hancurlah gunung itu dan Musa pun jatuh pingsan.” (al-A’raf: 143)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saat menafsirkan hadits ini Rasulullah bersabda, sambil memberi isyarat dengan tangan beliau dan berkata, “Seperti ini” sambil meletakkan ujung ibu jarinya pada sendi jari kelingkingnya yang atas lalu beliau berkata, “lalu gunung itu pun tenggelam”. Maksudnya, gunung itu tidak tampak lagi kecuali seukuran yang diisyaratkan oleh beliau.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda, “Allah menggenggam bumi pada hari kiamat dan melipat langit dengan tangan kananNya lalu berfirman, Aku adalah raja, mana raja-raja bumi ” (HR. Bukhari).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Nash-nash tentang masalah ini sangat banyak. Tujuannya membangkitkan perasaaan agung akan kekuasaan Allah dan dengan itu hati menjadi lembut. Jika hati lembut maka ia mudah menerima hidayah dari Allah. Dengan itu pula ia peka dengan berbagaio kemungkaran yang terjadi di sekitarnya. Dengan begitu ia bersemangat melakukan ketaatan dan sedih dengan berbagai penyimpangan-penyimpangan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Mencari ilmu Syar’i&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Ilmu syar’i yang kita inginkan di sini adalah ilmu yang membangkitkan rasa takut pada Allah dan menambah bobot iman sebagaimana firman Allah:“Sesungguhnya yang takut pada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah orang-orang yang berilmu” (Qs. Faathir: 28).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitannya dengan iman ini, orang yang mengetahui tidak bisa disamakan dengan orang yang tidak mengetahui. Bagaimana mungkin orang yang mengetahui perkara-perkara syari’at, makna syahadat disamakan dengan orang-orang yang tidak mengetahuinya? Bagaimana mungkin menyamakan orang yang mengetahui kejadian sesudah mati, alam barzakh, padang mahsyar, siksa neraka, nikmat surga, hikmah di balik syari’at, hal-hal yang halal dan haram, dipersamakan dengan orang-orang yang tidak mengetahui semua itu? “Samakah orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Qs.az-Zumar: 9).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian jelas ilmu syar’i di antara hal yang dapat menambah dan menguatkan iman. Betapa tidak dengan inilah&amp;nbsp; seorang Muslim diantar mengenal Allah dengan sebenar-benar pengenalan. Dari sinilah lahir rasa takut, harap dan cinta pada Allah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Keempat, Menggiatkan Berbagai Bentuk Ibadah.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Di antara rahmat Allah pada kita semua adalah Dia mensyari’atkan pada kita berbagai macam ibadah. Di antaranya ada ibadah fisik seperti shalat, ada ibadah lisan seperti dzikirdan do’a, apa ibadah hati seperti tawakkal, redha, khauf, dan raja’ bahkan ada ibadah yang memadukan ketiga-tiganya seperti ibadah haji. Ditinjau dari sifatnya ada ibadah yang wajib, sunnah dan anjuran. Yang wajib pun dibagi lagi dalam beberapa jenis; wajib kifayah dan wajib ’aini .Begitupun yang sunnah. Shalat misalnya, ada yang rawatib sebanyak dua belas rakaat sebelum dan sesudah shalat fardhu. Ada yang lebih sedikit bobotnya seperti empat rakaat sebelum Ashar dan dua rakaat sebelum shubuh. Ada juga shalat yang lebih tinggi bobotnya dari itu yaitu shalat lail. Dari ragam pelaksanaannya, ada yang dikerjakan dengan dua-dua rakaat atau empat-empat rakaat setelah itu ditutup dengan witir; satu, tiga, lima, tujuh, atau sembilan rakaat dengan satu tasyahud.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dengan begitu, setiap orang bisa melihat kondisinya. Jika kondisi iman lagi fit maka ia bisa mengerjakan banyak macam ibadah beserta berbagai ragam pelaksanaannya. Jika ia merasa dirinya lagi futur (letih dan tidak semangat) maka ia bisa memilih jenis ibadah yang ringan. Ini semua ada hikmah Allah di balik semua itu agar kita senantiasa dalam kondisi ibadah dan ibadah itu sesederhana bagaimana pun pasti akan memberi pengaruh pada iman.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Kelima, Banyak Mengingat Mati.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kematian adalah pintu perpindahan alam yang pasti dilalui oleh setiap manusia. Setiap kita tidak ada yang tahu bagaimana kelanjutan nasibnya di alam yang baru itu. Di sana ada huru hara, ada fitnah, ada pertanyaan yang dihadapkan kepada setiap kita. Itulah sebabnya Rasulullah bersabda, ”Perbanyaklah mengingat penghalau kelezatan, yaitu kematian”.(HSR. Tirmidzi)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mengingat mati bisa mendorong seseorang menghindari berbagai kedurhakaan. Tidaklah seseorang mengingat mati melainkan akan membuat hatinya semakin lapang. Begitu pula dengan mengingat mati hati seseorang akan menjadi lembut. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menganjurkan kita untuk berziarah kuburan setelah sebelumnya beliau melarangnya. Beliau bersabada, ”Dulu saya melarang kalian ziarah kuburan, adapun sekarang ziarahilah karena itu bisa melembutkan hati, membuat mata menangis, mengingatkan akhirat... ”(HR. Hakim).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam ziarah kubur, seorang muslim hendaknya menghadirkan kesadaran, mengambil pejajaran dari orang yang telah terbujur kaku dalam liang lahad itu. Hendaknya ia mengamati keadaan si mayit yang telah meninggalkan teman-teman sejawatnya, keluarganya tercinta, harta benda yang ditumpuknya. Saat ini teman sejawat dan kelaurga tercinta tak satu pun yang dapat menolongnya. Harta yang banyak tidak berguna lagi, bahkan mungkin menjadi rebutan ahli waris. Tidak ada yang bisa menyelamatkan simayit kecuali dirinya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Begitulah seterusnya, semua perenungan itu akan membawa seorang muslim pada tiga faidah; penyegaran taubat, kelembutan hati, dan semangat menjalankan ibadah.sedangkan mereka yang melupakan kematian ia akan menunda-nunda taubat, tidak pernah puas dengan dunia, dan malas ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lagi sarana yang bisa menambah kekuatan iman kita, namun lima hal ini mendesak untuk dilakukan. Semuanya agar iman agar kita tetap fit. Wallahu ta’ala a’lam.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal yang Melemahkan Iman&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;Menjauh Dari Suasana Keislaman dalam waktu yang lama&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;Enggan Mempelaajari Ilmu syar’i&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;Betah dengan lingkungan yang banyak maksiatnya.&lt;br /&gt;4.&amp;nbsp;Tenggelam dengan kesibukan duniawi sehingga hatinya jadi mati.&lt;br /&gt;5.&amp;nbsp;Berangan-angan yang serba muluk-muluk.&lt;br /&gt;6.&amp;nbsp;Berlebih-lebihan dalam makan, bicara, tidur, dan istirahat &lt;br /&gt;7.&amp;nbsp;Sibuk Mengurus Istri, harta, dan anak-anak&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;[wahdah.or.id] &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-1934099867565413489?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/1934099867565413489/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/09/agar-imanmu-selalu-fit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/1934099867565413489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/1934099867565413489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/09/agar-imanmu-selalu-fit.html' title='Agar Imanmu Selalu Fit'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-1985602935505333653</id><published>2010-09-17T13:33:00.000+07:00</published><updated>2010-09-17T13:33:26.726+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DaPuR_MuSLiMaH'/><title type='text'>Pesmol Cumi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs223.snc4/38501_140964529258155_100000338253432_281597_5002666_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs223.snc4/38501_140964529258155_100000338253432_281597_5002666_n.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Bahan : &lt;br /&gt;- 500 gr ukuran sedang&lt;br /&gt;- kunyit bubuk 1 sdm&lt;br /&gt;- 1 sdm garam&lt;br /&gt;- 3 sdm minyak goreng&lt;br /&gt;- 4 buah cabe merah iris&lt;br /&gt;- 2 buah tomat, belah 4&lt;br /&gt;- 20 gr cabe rawit utuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuah :&lt;br /&gt;- 7 butir kemiri&lt;br /&gt;- 4 cm kunyit&lt;br /&gt;- 4 cm jahe&lt;br /&gt;- 6 butir bawang merah&lt;br /&gt;- 3 siung bawang putih&lt;br /&gt;- 1 sdt garam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Membuat&lt;br /&gt;1.  Panaskan oven pd suhu 180'c, bersihkan cumi kupas kulit liat cumi  sampai bersih, cabut tulang punggunya berupa 'pedang' transparan dr dalam  badannya, Cuci tiriskan. Bersihkan bagian kepalanya, buang kantung  tinta. Masukkan bagian kepala tadi ke dalam badan cumi, sematkan dengan  lidi agar tidak keluar.&lt;br /&gt;2. Olesi cumi dengan kunyit Dan garam. Diamkan selama 10 menit&lt;br /&gt;3. Susun cumi dalam pinggang tahan panas, panggang selama 5 menit hingga berubah warna setengah masak.&lt;br /&gt;4.  Panaskan minyak goreng, Tumis bumbu halus hingga harum. Masukkan irisan  cabe, tomat Dan cabe rawit utuh,&amp;nbsp; tuangi air, bubuhkan gula pasir.  Masak hingga mengental &lt;br /&gt;5. Tuang bumbu ke dalam pinggang di atas cumi, panggang kembali cumi -+ 15 menit..&lt;br /&gt;6.Angkat, siap untuk dinikmati &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiriman dari Ummu Ahmad (Salwa Fattah)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-1985602935505333653?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/1985602935505333653/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/09/pesmol-cumi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/1985602935505333653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/1985602935505333653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/09/pesmol-cumi.html' title='Pesmol Cumi'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-6894213846330885038</id><published>2010-09-17T12:10:00.000+07:00</published><updated>2010-09-17T12:10:02.970+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AL-QuR&apos;aN'/><title type='text'>Bingkisan Istimewa untuk Saudariku yang Berkeinginan dan Berusaha Menjadi Pecinta Kitabullah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs430.snc4/47301_1599402542160_1148928767_1716104_2274353_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs430.snc4/47301_1599402542160_1148928767_1716104_2274353_n.jpg" width="280" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Penyusun: Ummu Rumman&lt;br /&gt;Muraja’ah: Ustadz Abu Salman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kembalilah pada Kitabullah, Al Qur’an Al-Karim&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, &lt;em&gt;“Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk pada (jalan) yang lebih lurus.”&lt;/em&gt; (QS. Al Isra’ 9)&lt;br /&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda, &lt;em&gt;“Sesungguhnya  aku tinggalkan pada kalian Kitabullah, yang jika kalian berpegang teguh  dengannya, maka kalian tidak akan tersesat.”&lt;/em&gt; (HR. Muslim dan At-Turmudzi)&lt;br /&gt;Allah telah menurunkan Al-Qur’an untuk diimani, dipelajari, dibaca,  ditadabburi, diamalkan, dijadikan sandaran hukum, dijadikan rujukan dan  untuk dijadikan obat dari berbagai penyakit dan kotoran hati serta untuk  hikmah-hikmah lain yang Allah kehendaki dari penurunannya. Ukhty,  pahamilah hal ini…&lt;br /&gt;&lt;span id="more-95"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selamatkanlah dirimu dengan bertaqwa kepada Allah. Tanamkanlah  kemauan yang keras untuk mengambil manfaat dari Al Qur’an dalam segala  hal yang memungkinkan. Demi Allah, semakin engkau berusaha mendekatinya,  merenungi dan men-tadabburi, maka semakin banyak kebaikan yang akan  engkau dapatkan.&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perbaguslah dan Perbanyaklah dalam Membacanya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Adapun membacanya, maka itu disyari’atkan dan disunnahkan  memperbanyak membacanya serta mengkhatamkannya sebulan sekali, namun ini  tidak wajib. Seandainya engkau bisa mengkhatamkannya kurang dari  sebulan lakukanlah karena itu lebih bagus, akan tetapi jangan sampai  kurang dari 3 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ukhty, Tidakkah Engkau Menginginkan Pahala yang Banyak dari Rabbmu ?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda, &lt;em&gt;“Orang  yang membaca Al Qur’an sementara dia mahir, maka dia bersama malaikat  para penulis, yang mulia lagi berbakti, dan orang yang membaca Al Qur’an  dan terbata-bata membacanya karena hal itu sulit baginya, maka dia  mendapat dua pahala.”&lt;/em&gt; (Muttafaq ‘alaih)&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengangkat derajat banyak kaum dengan  Al Qur’an dan menghinakan yang lain dengannya pula. Maka apa yang sudah  kita usahakan agar derajat kita terangkat di sisi Allah. Menginginkan  suatu hal takkan ada artinya kecuali kita bangkit dan bertindak untuk  mencapai yang kita inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Raihlah Derajat Tinggi di Surga dengan Menghafalnya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Abu Sa’id Al-Khudri &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt; meriwayatkan bahwa Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda, &lt;em&gt;“Akan  dikatakan kepada penghafal Al-Qur’an jika dia telah memasuki surga:  ‘Baca dan naiklah.’ Kemudian dia membaca dan naik bersama setiap ayat  satu tingkatan. Sampai dia membaca ayat terakhir yang ia hafal.”&lt;/em&gt; (HR. Imam Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al-Baihaqi dan Al-Hakim)&lt;br /&gt;Dalam lafadz Tirmidzi, &lt;em&gt;akan dikatakan pada para penghafal  Al-Qur’an: “Bacalah, naiklah, dan bacalah dengan tartil sebagaimana  ketika di dunia kau selalu baca dengan tartil. Maka sesungguhnya  tingkatan derajatmu pada ayat yang terakhir engkau baca.”&lt;/em&gt; (HR Tirmidzi)&lt;br /&gt;Ummu Darda’ &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anha&lt;/em&gt; berkata, “Aku pernah bertanya  kepada Aisyah rodhiyallahu ‘anha tentang penghafal Al Qur’an yang  memasuki surga, apa keutamaannya jika dibandingkan dengan orang yang  tidak menghafalnya. Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab, &lt;em&gt;“Sesungguhnya  tingkatan surganya adalah sejumlah ayat-ayat Al Qur’an. Maka tidak ada  seorangpun yang melampaui derajat penghafal Al Qur’an di dalam surga.”&lt;/em&gt; (HR. Al-Baihaqi, Ibnu Abi Syaibah, dan Al Baghawi)&lt;br /&gt;Ya ukhty, cobalah menghafal beberapa ayat Al Qur’an dan rasakan  bagaimana iman akan mengalir di dalam kalbu. Nikmatilah ketenangan yang  kau dapatkan setiap kali mengulangi bacaan tersebut. Betapa rindunya  hati ini untuk mendengar lantunan ayat-ayat mengenai keindahan surga…  dan kekerasan hati menjadi luluh ketika mendengar ayat akan kengerian  neraka.&lt;br /&gt;Sesungguhnya dengan menghafal Al-Qur’an, kita bisa menghitung derajat  kita di dalam surga. Sesungguhnya dengan satu ayat kita akan bisa  menaiki satu derajat. Maka, tidakkah kita ingin mencapai tingkat surga  yang setinggi-tingginya. Janganlah memuaskan diri dengan ingin masuk  surga derajat terendah. Berharaplah dan kejarlah surga derajat  tertinggi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bingkisan Istimewa untuk Saudariku yang Berkeinginan dan Berusaha Menjadi Penghafal Al Qur’an&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ya ukhty, kini telah hadir keinginan untuk menghafalkan Kitabullah.  Kita telah menanamkan semangat yang kuat, tapi seiiring berjalannya  waktu kejemuan mulai melanda, kesibukan-kesibukan lain menghadang,  menghafal Al Qur’an menjadi terasa sulit… maka bacalah sabda Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam ini&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;“Jagalah  (hafalan) Al-Qur’an, demi Dzat yang jiwa saya ada tangan-Nya,  sesungguhnya Al-Qur’an itu sangat cepat terlepas melebihi (lepasnya)  unta dari ikatannya.”&lt;/em&gt; (Diriwayatkan Al-Bukhari dari hadits Abu Musa &lt;em&gt;Radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt; no. 5033, kitab Fadha’il Al-Qur’an bab 23, dan Imam Muslim juga dari Abu Musa no. 1/23-(791), kitab &lt;em&gt;Shalat Al-Musafirin&lt;/em&gt; bab 33)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagaimanakah agar Ikatan Unta Tidak Terlepas ?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tentulah dengan mengikatnya dengan kuat kemudian menjaganya. Ukhty,  Al-Qur’an membutuhkan banyak-banyak mengulang dan membaca. Bila engkau  telah hafal satu surat, maka seringlah membaca dan mengulang-ngulangnya  sampai mantap dan kuat, jangan pindah ke surat lain, kecuali bila engkau  sudah menghafalnya dengan mantap.&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, &lt;em&gt;“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk dijadikan pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran ?”&lt;/em&gt; (QS. Al-Qamar: 17)&lt;br /&gt;Dan yang menentukan adalah kemauan orang dan ketulusan niatnya. Bila  dia memiliki kemauan yang tulus dan keseriusan terhadap Al-Qur’an, maka  Allah akan memudahkan dia untuk menghafalnya dan menjadikan Al-Qur’an  itu mudah untuk dihafal.&lt;br /&gt;Engkau bisa menambah hafalan di pagi hari setelah sholat Shubuh atau  di waktu lain engkau lebih bisa berkonsentrasi. Lalu engkau bisa  mengulangnya pada hari itu. Perlukah waktu khusus ukhty ? Tidak. Engkau  bisa mengulanginya ketika engkau sholat, berjalan menuju kampus, atau  ketika menunggu kedatangan temanmu. Engkau bisa membacanya di berbagai  tempat dan waktu, asal engkau tetap menjaga adab-adabnya.&lt;br /&gt;Ukhty, semoga Allah meluruskan niatku dan niatmu. Mohonlah kemudahan  dari Allah. Katakanlah pada dirimu, sesungguhnya besarnya pahala  sebanding dengan kesulitan yang dihadapi. Katakanlah, dagangan Allah itu  teramat mahal. Takkan bisa kita dapatkan kecuali dengan kesungguhan,  kerja keras dan kesabaran. Katakanlah, tak ada lagi kesulitan setelah  masuk surga, dan tak ada kebahagiaan secuil pun di dalam neraka. Dan  bukankah yang kita tuju adalah kebahagiaan abadi di dalam surga-Nya  serta kenikmatan melihat wajah-Nya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ukhty Muslimah, Didiklah Anak-Anakmu untuk mencintai Al-Qur’an, serta Memperbanyak Membaca dan Menghafalnya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ya ukhty, bingkisan terakhir untukmu… sesungguhnya orang yang  menunjukkan kepada seseorang kebaikan maka akan mendapatkan pahala  seperti pahala orang yang mengerjakannya. Maka didik dan doronglah  anak-anakmu untuk membaca, mentadabburi, serta menghafal Al Qur’an.  Ketika engkau merasa jemu atau lelah dalam mengajar mereka, bayangkan  balasan yang akan engkau dapatkan setiap kali anak-anakmu membaca  Al-Qur’an. Semoga semua usahamu untuk mendidik mereka mendapat balasan  yang lebih baik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;Kita memohon pada Allah agar ditolong dan dimudahkan dalam membaca,  mempelajari dan menghafal, serta mengamalkan kandungan Kitabullah.  Semoga Al Qur’an bisa menjadi pemberi syafa’at dan menolong kita di  akhirat kelak. Dan kita berharap agar Allah tidak menjadikan Al Qur’an  menjadi hujjah yang justru akan mencelakan kita di akhirat. Aamiin…&lt;br /&gt;Sebuah nasehat terutama untuk diriku dan saudariku…&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Alhamdullilaahiladzi bini’ matihi tatimmush shalihaat&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Maraji’:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;70 Fatwa Tentang Al-Qur’an (Abu Anas Ali bin Husain Abu Luz)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berbenah Diri untuk Penghafal Al-Qur’an (Dr. Anis Ahmad Kurzun), Majalah As Sunnah, edisi Ramadhan 06-07/ Tahun XI/ 1428H/ 2007M&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bersanding dengan Bidadari di Surga (Dr. Muhammad bin Ibrahim An-Naim)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hukum Musik dan Lagu, Rasa’ilut Taujihaat Al Islamiyyah, 1/ 514 – 516 (Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kiat Mengatasi Kendala Membaca dan Menghafal Al-Qur’an (Haya Ar-Rasyid)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;[www.muslimah.or.id]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-6894213846330885038?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/6894213846330885038/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/09/bingkisan-istimewa-untuk-saudariku-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/6894213846330885038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/6894213846330885038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/09/bingkisan-istimewa-untuk-saudariku-yang.html' title='Bingkisan Istimewa untuk Saudariku yang Berkeinginan dan Berusaha Menjadi Pecinta Kitabullah'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-1348738929648038598</id><published>2010-09-13T10:16:00.000+07:00</published><updated>2010-09-13T10:16:05.470+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Keutamaan Puasa Enam Hari Syawal</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt; &lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.lovely0smile.com/lovely/vcard/images/213.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="203" src="http://www.lovely0smile.com/lovely/vcard/images/213.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Abu Ayyub al-Anshari radhiallaahu 'anhu meriwayatkan, Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun." (HR. Muslim).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; Imam Ahmad dan an-Nasa'i, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Puasa Ramadhan ganjarannya sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) dua bulan, maka bagaikan berpuasa selama setahun penuh." (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hubban dalam "Shahih" mereka)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhallaahu 'anhu, Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa berpuasa Ramadhan lantas disambung dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia bagaikan telah berpuasa selama setahun." (HR. al-Bazzar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahala puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal menyamai pahala puasa enam hari penuh, karena setiap hasanah (kebaikan) diganjar sepuluh kali kelipatannya, sebagaimana telah disinggung dalam hadits Tsauban di muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membiasakan puasa setelah Ramadhan memiliki banyak manfa'at, di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap  dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Puasa Syawal dan Sya'ban bagaikan shalat sunnah rawathib, berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah Ta'ala menerima amal seseorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan, "Pahala amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya." Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan sesuatu kebaikan lalu diikuti dengan yang buruk, maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Ramadhan -sebagaimana disebutkan di muka- dapat mendatangkan maghfirah atas dosa-dosa masa lalu. Orang yang berpuasa Ramadhan akan mendapatkan pahalanya pada hari Raya Iedul Fithri yang merupakan hari pembagian hadiah, maka membiasakan puasa setelah Iedul Fithri merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat ini. Dan sungguh tak ada nikmat yang lebih agung dari pengampunan dosa-dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh karena itu termasuk sebagian ungkapan rasa syukur seorang hamba atas pertolongan dan ampuan yang telah dianugerahkan kepadanya adalah dengan berpuasa setelah Ramadhan. Tetapi jika ia justru mengggantinya dengan perbuatan maksiat, maka ia termasuk kelompok orang yang membalas kenikmatan dengan kekufuran. Apabila ia berniat pada saat melakukan puasa untuk kembali melakukan maksiat lagi, maka puasanya tidak akan terkabul, ia bagaikan orang yang membangun sebuah bangunan megah lantas menghancurkannya kembali. Allah Ta'ala berfirman, "Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai lagi." (QS. an-Nahl: 92)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Dan di antara manfa'at puasa enam hari di bulan Syawal adalah amal-amal yang dikerjakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya pada bulan Ramadhan tidak terputus dengan berlalunya bulan mulia ini, selama ia masih hidup. Orang yang setelah Ramadhan berpuasa bagaikan orang yang cepat-cepat kembali dari pelariannya, yakni orang yang baru lari dari peperangan fi sabilillah lantas kembali lagi. Sebab tidak sedikit manusia yang berbahagia dengan berlalunya Ramadhan, sebab mereka merasa berat, jenuh dan lama berpuasa Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang mereka demikian maka sulit baginya untuk bersegera kembali melaksanakan puasa, padahal orang yang bersegera kembali melaksanakan puasa setelah Iedul Fithri merupakan bukti kecintaannya terhadap ibadah puasa, ia tidak merasa bosan dan berat apalagi benci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ulama Salaf ditanya tentang kaum yang bersungguh-sungguh dalam ibadahnya di bulan Ramadhan tetapi jika Ramadhan berlalu mereka tidak bersungguh-sungguh lagi, beliau berkomentar, "Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal Allah Ta'ala secara benar kecuali di bulan Ramadhan saja, padahal orang shalih adalah yang beribadah dengan sungguh-sungguh di sepanjang tahun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu sebaiknya orang yang memiliki hutang puasa Ramadhan memulai membayarnya di bulan Syawal, karena hal itu akan mempercepat proses pembebasan dirinya dari tanggungan hutangnya. Kemudian dilanjutkan dengan enam hari puasa Syawal. Dengan demikian telah melakukan puasa Ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah amal perbuatan seorang mukmin itu tidak ada batasnya hingga maut menjemputnya. Allah Ta.a'a berfirman, "Dan sembahlah Tuhan-mu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)." (QS. al-Hijr: 99)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan perlu diingat pula bahwa shalat-shalat dan puasa serta shadaqah yang dipergunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala pada bulan Ramadhan adalah disyari'atkan sepanjang tahun, karena hal itu mengandung berbagai macam manfaat, diantaranya; ia sebagai pelengkap dari kekuarangan yang terdapat pada fardhu, merupakan salah satu faktor yang mendatangkan mahabbah (kecintaan) Allah kepada Hamba-Nya, sebab terkabulnya doa, demikian pula sebagai sebab dihapuskannya dosa dan dilipatgandakannya pahala kebaikan dan ditinggikannya kedudukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan, shalawat dan salam semoga tercurahkan selalu keharibaan Nabi, segenap keluar dan sahabat beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sumber&lt;/strong&gt;: Risalah Ramadhan, Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim al-Jarullah.[alsofwah.or.id/wahdah.or.id]&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-1348738929648038598?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/1348738929648038598/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/09/keutamaan-puasa-enam-hari-syawal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/1348738929648038598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/1348738929648038598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/09/keutamaan-puasa-enam-hari-syawal.html' title='Keutamaan Puasa Enam Hari Syawal'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-1586228918167676664</id><published>2010-09-13T09:55:00.003+07:00</published><updated>2010-09-13T10:10:53.584+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Apa Sesudah Ramadhan?</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs432.snc4/47508_1384583815667_1264147007_30892238_1433043_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="321" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs432.snc4/47508_1384583815667_1264147007_30892238_1433043_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;Kita telah berpisah dengan bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Berpisah dengan siangnya yang begitu indah dan malamnya yang begitu harum semerbak. Kita berpisah dengan bulan Qur’an, bulan ketakwaan, kesabaran, Jihad, magfirah dan bulan pembebasan dari api neraka. Maka faedah apa yang sudah kita raih dari sekian banyak buah-buah Ramadhan yang begitu agung dan naungan-Nya yang begitu luas?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Apakah dalam jiwa kita telah terwujud ketakwaan sehingga kita keluar dari madrasah Ramadhan dengan predikat orang-orang yang bertaqwa? Dan apakah kita senantiasa sabar dalam ketaatan dan menjauhi ma’siat? Apakah kita telah mentarbiyah (mendidik) jiwa kita untuk melakukan berbagai bentuk jihad? Apakah kita telah berjihad melawan hawa nafsu dan mampu mengalahkannya ? Ataukah kita berhasil dikalahkan oleh kebiasaan-kebiasaan dan prilaku-prilaku buruk? Apakah kita telah berusaha sekuat tenaga untuk meraih rahmat, Magfirah-Nya dan pembebasan-Nya dari api neraka? Apakah….Apakah….Apakah…? Begitu banyak pertanyaan yang menyelimuti hati seorang muslim sejati yang senantiasa mengoreksi dirinya dan menjawabnya dengan jujur dan terus terang.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ramadhan adalah madrasah imaniyah tempat persinggahan ruh untuk mempersiapkan bekal di sisa –sisa kehidupan kita di dunia. Maka kapan lagi seseorang akan mengambil bimbingan, pelajaran dan manfaat, untuk merubah kehidupannya jika ia tidak melakukannya pada bulan suci ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bulan Ramadhan merupakan madrasah untuk mengadakan perubahan amalan, perilaku, kebiasaan dan akhlaq yang bertentangan dengan syariat Allah Azza Wa Jalla. Allah berfirman:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;إِنَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ الرعد :92&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar Ra’du : 92)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku yang tercinta ….. Saudariku muslimah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jika anda termasuk orang-orang yang mampu meraih faedah-faedah Ramadhan dan anda mewujudkan ketakwaan pada diri anda, berpuasa dengan benar, mengerjakan qiamullail dengan khusyu’ dan bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu maka hal tersebut dapat kita syukuri serta kita memohon kepada Allah Azza Wa Jalla agar sikap tersebut konsisten sampai kembalinya ruh kehadirat-Nya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maka hati-hatilah dan jangan sekali-kali termasuk orang-orang yang dimaksud dalam surat An Nahl ayat 92, Allah&amp;nbsp; Azza Wa Jalla berfirman :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;وَلاَ تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا&amp;nbsp; النحل :92&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya  yang sudah di pintal”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apakah anda telah melihat seorang wanita yang memintal benang untuk dibuat sebuah baju kemudian ketika ia senang melihat baju tersebut ia menguraikan kembali pintalan-pintalan tersebut tanpa sebab! Maka apa komentar orang-orang terhadap perbuatan tersebut ?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Seperti inilah halnya seseorang yang kembali ke jalan kemaksiatan, kefasikan, kesesatan, kegelapan dan melepaskan ketaatannya kepada Allah serta tidak lagi beramal sholeh setelah selesainya Ramadhan setelah ia merasakan nikmatnya letaatan dan ketakwaan, nikmatnya berdo’a kepada-Nya ia kembali pada pahitnya dan sengsaranya kemaksiatan dan kegelapan !! &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Berkata Syekh Shalih Fauzan “Sesungguhnya kebanyakan dari manusia waktu-waktunya berlalu dengan sia-sia sesudah ied dengan begadang, tarian-tarian daerah, bermain yang melalaikan, sehingga mungkin saja mereka meninggalkan shalat-shalat pada waktunya atau shalat berjama’ah, seakan-akan mereka dengan perbuatan itu ingin menghapuskan pengaruh Ramadhan pada jiwa-jiwa mereka jika mempunyai pengaruh, lalu memperbarui kehidupannya bersama syaithan yang jarang bermuamalah dengannya pada bulan Ramadhan”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maka alangkah nistanya sekelompok manusia yang mengenal Allah hanya di bulan Ramadhan. Imam Wuhabi bin Al Ward pernah melewati sekelompok manusia yang sedang asyik bermain pada hari ied, kemudian ia berkata kepada mereka :”Sungguh mengherankan kalian itu, kalau memang Allah telah menerima puasa kalian apakah semacam ini cara kalian bersyukur dan jika Allah tak menerima amalan puasa kalian apakah semacam ini cara kalian takut”&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Saudara-saudaraku tercinta…&lt;br /&gt;Ada&amp;nbsp; beberapa indikasi yang menunjukkan terjerumusnya manusia dalam hal tersebut diantaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Orang-orang sudah tidak lagi memperhatikan shalat berjamaah yang bisa kita lihat pada hari pertama di hari raya dimana pada saat Ramadhan masjid dan mushalla selalu padat dengan para jama’ah shalat tarawih yang itu hukumnya sunnah tetapi setelah itu jama’ah mulai berkurang pada shalat lima waktu yang hukumnya wajib dan hal ini bisa menjadikan orang menjadi kafir jika meninggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menyebarnya kembali nyanyian, film-film, berhias dan menyingkap wajah (bagi wanita) dan bercampurnya pria dan wanita (bukan mahram) di tempat-tempat rekreasi serta pergi ke tempat-tempat hiburan pria dan wanita untuk pacaran dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Melancong ke beberapa negara untuk kemaksiatan dimana orang-orang baik secara kolegial maupun individu berbondong-bondong mendatangi biro-biro perjalanan untuk memperoleh tiket ke luar negeri dengan tujuan negara-negara non Islam yang penuh dengan kekufuran, kemaksiatan, kerusakan moral dan lainnya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ini merupakan salah satu tanda tidak diterimanya amal –naudzubillahi- karena hakekat seseorang berpuasa adalah ia bahagia di hari ‘Iedul fitri, bertahmid dan bersyukur kepada Allah atas kesempurnaan puasanya. Di waktu yang sama ia menangis karena khawatir Allah tidak menerima ibadah puasanya. Sebagaimana dulu para salafus shalih menangis selama 6 bulan setelah Ramadhan untuk memohon kepada Allah Azza Wa Jalla supaya ibadah puasanya diterima di sisi-Nya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Diantara indikasi diterimanya amalan ibadah seorang hamba adalah keadaannya menjadi lebih baik dari sebelumnya dalam hal ketaatan dan ketundukannya terhadap syari’at-syari’at Islam. Allah berfirman :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;وَإِذْ تـَأَذَّنَ رَبـُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ َلأَزِيدَنــَّكُمْ&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; إبراهيم :7&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu” (QS. Ibrahim :7)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Artinya bertambahnya kebaikan baik zhohir maupun batin yang berupa bertambahnya keimanan dan amal sholeh. Oleh karena itu seandainya seorang hamba memiliki kesungguhan dalam mensyukuri nikmat-nikmat Allah maka kebaikan dan ketaatannya terhadap syariat-syariat-Nya akan meningkat dan mampu menjauhi kemaksiatan. Sebagaimana telah di katakan oleh para salafusshaleh : ”Syukur adalah meninggalkan kemaksiatan”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setiap seorang hamba harus senantiasa taat kepada Allah Azza Wa Jalla dan komitmen dengan syari’at-syari’at-Nya serta istiqomah dengan agama-Nya. Allah berfirman :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ&amp;nbsp;&amp;nbsp; الحجر :99&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)” (QS.  Al Hijr:99)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jangan bersikap seperti rubah yang beribadah kepada Allah Azza Wa JAlla sebulan kemudian bermaksiat di bulan yang lain atau beribadah kepada-Nya di suatu tempat tapi bermaksiat di tempat yang lain atau ! Namun hendaknya ia memahami bahwa Tuhan Pemilik Ramadhan adalah juga Tuhan Pemilik bulan-bulan lain dan Ia Pemilik semua waktu dan tempat, agar senantiasa berada di jalan-Nya yang lurus sampai ia kembali kehadirat-Nya dalam keadaan diridhai oleh-Nya. Allah Azza Wa Jalla berfirman :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&amp;nbsp; &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;فَاسْتَقِيْمُوْا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ&amp;nbsp; فصلت : 6&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampunan kepada-Nya”(QS. Fushshilat :6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Katakan aku beriman kepada Allah kemudian beristiqomahlah” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kalau seandainya puasa Ramadhan telah selesai masih ada puasa-puasa sunnah lainnya seperti puasa enam hari di bulan Syawwal, puasa hari Senin dan Kamis, puasa di tengah bulan (tanggal 13,14 dan 15 bulan hijriyah), puasa ‘Asyuro dan Arofah dan lainnya. Kalau qiyamur Ramadhan sudah berakhir maka masih ada qiyamullail yang disyariatkan dilakukan setiap malam.Dan seandainya shodaqoh dan zakat fitri di bulan Ramadhan sudah ditunaikan, masih ada zakat wajib lainnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Demikianlah hakekat amalan sholeh yang bisa dilakukan sepanjang masa. Untuk itulah bersungguh-sungguhlah wahai Saudaraku&amp;nbsp; seiman untuk senantiasa taat kepada Allah Azza Wa Jalla dan jauhilah kemalasan dan kelesuan dan jika anda enggan melaksanakan amalan-amalan sunnah maka jangan sekali-kali meninggalkan dan melalaikan kewajibanmu seperti shalat lima waktu yang harus dilakukan tepat pada waktunya dan dengan berjama’ah dan jangan sekali-kali terjerumus kepada kemaksiatan dengan berkata-kata, makan, minum, melihat dan mendengarkan hal-hal yang diharamkan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Demi Allah beristiqamahlah dan qomitmenlah pada agama-Nya di sepanjang masa karena engkau tidak tahu kedatangan malaikat maut. Jangan sampai ia datang dan engkau dalam keadaan maksiat kepada Allah Azza Wa Jalla. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&amp;nbsp; &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبـــِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;“Ya Allah, Pembolak-balik hati, tetapkanlah hatiku pada agamamu”(HR. Ahmad)-Al Fikrah-&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;-Mustafa Ahmad-&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;Maraji’: Madza ba’da Ramadhan, Riyadh bin Abdurrahman Al Haqiil [wahdah.or.id]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2637908178026462199-1586228918167676664?l=muslimahwahdahbandung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/feeds/1586228918167676664/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/09/apa-sesudah-ramadhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/1586228918167676664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2637908178026462199/posts/default/1586228918167676664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muslimahwahdahbandung.blogspot.com/2010/09/apa-sesudah-ramadhan.html' title='Apa Sesudah Ramadhan?'/><author><name>Lembaga Muslimah DPC Wahdah Islamiyah Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16821566350855214644</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_cPZ3JuU6GI4/S4MpmW1wENI/AAAAAAAAABM/w9C8RtBShKY/S220/lambang-wahdah-islamiyah1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2637908178026462199.post-8651347807891082133</id><published>2010-09-11T14:07:00.002+07:00</published><updated>2010-09-17T14:54:00.414+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='IsLamDunia'/><title type='text'>Misteri Dibalik Tragedi 11 September ???</title><content type='html'>Afghanistan dan Irak dirudal atas nama perang melawan terorisme.   Sedangkan kita tahu, Pemerintah Taliban sampai detik-detik terakhir   tembakan salvo mesin perang Amerika tetap bersikukuh tidak tahu-menahu   soal Tragedi WTC.Rezim Saddam Hussain pun tidak memiliki senjata   pemusnah massal seperti dituduhkan Washington. Bahkan, Kepala  Tim Inspeksi Senjata Nuklir Mayjen Keith Dayton yang  dikirim oleh  Pentagon dengan 1.400 pakar nuklir juga tak menemukan  secuil molukel  atom di Irak. Jadi, gempuran ke Kabul dan Baghdad  menyisakan misteri  tersendiri. Hal ini sama misterinya dengan Peristiwa  11 September 2001  itu sendiri. Ada sejumlah pertanyaan yang sangat  layak diajukan:  benarkah Gedung WTC di New York hancur akibat hantaman  pesawat?&lt;br /&gt;Apakah  mungkin gedung yang disangga baja itu meleleh hanya karena  api? Mengapa  jet-jet tempur AS tidak mengudara? Siapa sesungguhnya  dalang di balik  Tragedi 11 September? Apa kepentingan Washington dan  Pentagon? Apa  kaitannya dengan kepentingan energi di beberapa dekade  mendatang.  Bagaimana nasib dunia Islam? Mengapa Pakistan tidak memihak  Taliban,  tetapi AS?&lt;br /&gt;Jika selama ini opini dunia seolah digiring oleh  pemerintahan Bush  untuk meyakini Tragedi WTC didalangi oleh Osama, maka  ada sisi lain  yang tentu pantas untuk disimak. Ini setidaknya pendapat  banyak  kalangan, mengapa misteri Tragedi 11 September perlu kembali   diperbincangkan? Ada empat hal penting yang mendasarinya.&lt;br /&gt;Pertama,  Prof Dr Morgan Reymonds (guru besar pada Texas University,  USA)  menyatakan ”Belum ada bangunan…baja…ambruk hanya… oleh kobaran  api”.&lt;br /&gt;Kedua,  Michael Meacher (mantan Menteri Lingkungan Inggris, 1997 –  2003)  berpendapat ”…perang melawan terorisme… dijadikan…tabir  kebohongan guna  mencapai tujuan-tujuan strategis geopolitik AS”.&lt;br /&gt;Ketiga,Prof Dr  Steven E Jones (guru besar fisika pada Birgham Young  University, USA)  membeberkan hasil risetnya ”…bahan-bahan peledak telah  diletakkan…di  bangunan WTC”.&lt;br /&gt;Profesor Steven E. Jones dari Brigham  Young University, Utah, yang  melakukan penelitian dari sudut teori  fisika mengatakan bahwa  kehancuran dahsyat seperti yang dialami Twin  Tow
